بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Himah Hari-hari (Hari Ahad – Sabtu) – Muhyiidiin Ibn ‘Arabi

Hikmah Hari Ahad, Hari Pertama Allah Mencipta

“Jika harimu adalah Ahad, maka Idris as. adalah temanmu, maka kenalilah ia!”

Bahasa Arab dari hari Minggu adalah al-Ahad, yang juga merupakan nama Allah.

Qs. 112 : 1

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ [١١٢:١]

“Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Ahad’.”

Al-Ahad memiliki pengertian ‘Tunggal’, ‘Satu’, unit yang tak dapat dibagi-bagi. Merupakan hari Pertama Allah Mencipta. Dan tentunya, juga merupakan hari yang pertama diciptakan. Entitas yang ada di dunia ini telah lama ada dalam Pengetahuan (‘Ilm) Allah; dan melalui pra-eksistensi, mereka memperoleh nama paling mendasar dari Allah, yaitu ‘Pendengaran (Sami’)’. Jadi, pergerakan hari Ahad diciptakan dari nama ‘Pendengaran (Sami’)’-Nya; karena itulah mengapa apa-apa yang ada di dunia lalu mendengar perintah “Kun!”.

Qs. 36 : 82

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [٣٦:٨٢]

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah (kun)!’, maka terjadilah ia.”

Karena itu Allah mencipta dengan perintah ‘Kun’ kepada segala sesuatunya, bahkan sebelum mereka memunculkan eksistensi sebenar mereka. Ibnu ‘Arabi begitu sangat hati-hati membedakan nama ‘Perkataan’ (Qawl) dengan ‘Berkata’ (Kalaam), dimana dengan ‘Perkataan’ (Qawl), maka non-eksisten pun ‘mendengar’ (Sami’).

Qs. 16 : 40

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [١٦:٤٠]

“Sesungguhnya perkataan (qawl) Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, ‘kun (jadilah)’, maka jadilah ia.”

Dan dengan ‘Berkata’ (Kalaam), maka eksistensi mendengar.

Qs. 4 : 164

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا [٤:١٦٤]

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berkata (kallama) kepada Musa dengan langsung.”

Pergerakan dari Lintasan Isotropik (hanya dibedakan oleh satu Hari, dimana satu putarannya dimulai pada batas terbawah al-‘Arsy. Dikarenakan al-‘Arsy berada di atas Lintasan Isotropik, dan tanpa penanda (batas) apapun, maka panjang hari yang sebenarnya tidak dapat diketahui. Meskipun kita yang di bumi ini tampak dengan tepat mengukur hari dengan jam demi jam dan menit demi menit atau dari waktu pergerakan bumi itu sendiri, tapi itu tidak lebih dari sekedar hukum yang dibuat oleh manusia. Hanya Allah yang sebenar tahu panjang sebenar hari.

Hari Minggu (hari pertama atau hari dari Maha Esa, Al-Ahad) dipasangkan dengan Nabi Idris as., yang berhubungan dengan Matahari. Matahari terletak pada langit keempat dan dalam ruang fisik merupakan pusat dari tujuh planet, sehingga rahasia-rahasia dari Nabi Idris as. pun tersingkap, dinamakan dengan “penyebab dari segala sesuatu sebelum kehadiran/ muncul akibat”; menunjukkan posisi istimewa sebagai Quthb Langit. Pada saat yang sama, Nabi Idris as merupakan awal dari perputaran suatu lingkaran, “penemu kebijaksanaan-kebijaksanaa

n”; sebagaimana beliau as telah disebutkan dalam Futuuhaat al-Makkiyya, berhubungan kuat dengan prinsip ahadiyyah (keunikan). Ada beberapa kalimat yang relevan dalam tulisan-tulisan Ibn ‘Arabi, tentang penyatuan (tawhiid). Bagaimanapun, untuk menghindarkan pelbagai hal dari kebingungan karena kesamaran maknanya, maka Ibn ‘Arabi menekankan bahwa hal tersebut bukan hanya sekedar misteri-misteri yang terbuka dari setiap nabi, namun juga untuk memberitahu kita tentang apa yang sebaiknya kita lakukan atau tidak pada hari-hari tertentu.

Matahari dan lentasan langitnya diciptakan pada hari Ahad. Hal itu dikarenakan Matahari menyerupai ar-Ruuh; dan Ruhul Quds merupakan pemunculan pertama dari al-Haqq dalam setiap diri ciptaan, sehingga dengan pergerakan aktif dari hari Pertama (al-Ahad), maka ‘titik’ (nukta) atau dimensi – 0 lantas dapat ditentukan. Matahari merupakan sentral, langit keempat dari Bumi, dan langit ini diciptakan dengan Nama Illaahi ‘Cahaya (al-Nuur)’.

Matahari merupakan qalb dari dunia dan qalb dari tujuh langit. Allah menciptakannya pada hari Ahad, dan menjadi tempat bagi Quthb manusia ruh, ‘Idris as. Dan Allah menyebut langitnya sebagai ‘sebuah Tempat Tinggi’ karena qalb nya, meskipun masih ada lagi langit di atasnya. Tetapi Allah bermaksud untuk meninggikan status (makaana) nya, sehingga tempat (makaan) nya menjadi tinggi dikarenakan statusnya, dan Allah menciptakannya dalam al-Simaak (merupakan sentral, fase ke-14 dari 28 fase atau lintasan Bulan (manzilah), dan diciptakanlah planet dan lintasannya, dan huruf Nun berada di luarnya.

Hari Pertama, Ahad, berhubungan dengan Nabi Idris as. yang melekat padanya sebuah rahasia tentang penyebab segala sesuatu sebelum terjadinya suatu akibat.

Setiap pengetahuan yang berada dalam hari Pertama, al-Ahad ini, berasal dari hal ihwal ‘Idris as. Dan setiap akibat yang muncul pada hari Ahad yang memiliki elemen udara dan api berasal dari lintas gerak Matahari dan pengawasannya yang dipercayakan dan diserahkan Allah ta’ala kepada ‘Idris as. Apapun akibat yang disebabkan oleh elemen air dan bumi yang terjadi pada hari Ahad, hal itu berasal dari gerakan lintasan keempat (Matahari). Iklim ke-4 merupakan tempat dari manusia spiritual (badal) berada dimana kehadirannya memberikan pengaruh kepada iklim-iklim lain. Jadi, apa yang telah dihasilkan di antara pengetahuan-pengetahuan (‘ilm) manusia spiritual (abdaal) pada langit ke-4 ini, adalah pengetahuan tentang rahasia dari entitas ruuhaaniyyaah, pengetahuan tentang cahaya dan kilauannya, pengetahuan tentang petir dan sinar (dari cahayanya), dan pengetahuan tentang kilau tubuh material – mengapa bisa menjadi berkilau, apa yang membedakan pembentukannya sehingga menjadikannya berkilau.

Dalam bab 46 buku al-Tanazzulaat al-Mawsiliyya, Ibnu ‘Arabi banyak menyebutkan rahasia hari Ahad, secara detil, berikut kunjungan beliau ke Quthb semua ruh, Nabi ‘Idris as. dalam orbitnya yaitu Matahari. Bab 46 al-Tanazzulaat al-Mawsiliyya memiliki kaitan erat dengan bab 15 dan 198 buku Futuuhat al-Makkiyyah.

Hikmah Hari Senin, Hari Kedua Allah Mencipta

Lintasan hari Senin diciptakan dari Nama Allah al-Hayy (Yang Maha Hidup), dan melaluinya kehidupan manifest di dunia, sehingga segala sesuatunya menjadi hidup. Bulan, diciptakan pada hari Senin, merupakan benda langit pertama yang berada di atas bumi.

Pada hari inilah, Nama Allah al-Mubiin (Yang Maha Penjelas) dibawa terus-menerus menuju langit pertama (langit terendah dari 7 lelangit) dan planetnya (bulan) ke dalam ikhliil (susunan hari-hari selama sebulan), dan pergerakan dalam lintasannya menghasilkan huruuf Daal.

Bulan merupakan planet dengan gerakan tercepat, bergerak setiap hari melalui satu lintasan, dengan 28 kali lintasan dalam satu bulannya. Melalui 28 kali lintasan itulah 28 huruuf hijaiyyah lahir dengan bunyi yang berbeda. Nabi Adam as, merupakan profil dari hari ini.

Bulan, yang berhubungan dengan profil Nabi Adam as., mirip dengan nafs (jiwa), yang memiliki struktur murni ruhani seperti malaikat. Melalui hari Senin lah, ruang dan 6 waktu (hari-hari) lainnya mulai bergerak…

Hikmah Hari Selasa, Hari Ketiga Allah Mencipta

“Jika harimu adalah Selasa, maka Harun as. dan Yahya as. merupakan temanmu, tempat melekat Petunjuk Yang Haqq. ”

Hari Selasa diciptakan dari asma-Nya ‘Melihat’ (Bashaar): karena itu tiadalah bagian apapun di dunia ini yang sungguh tidak melihat Sang Pencipta – dalam hubungannya secara hakikat, bukan Zat-Nya, karena Zat Allah tidak mungkin bisa dilihat. Dia terlihat melalui manifestasi dari asma-asma-Nya melalui insan kamil.

Asma ‘Pemaksa’ (al-Qaahar) dibawa ke langit ketiga (ketiga dari Bumi); sehingga Dia telah menyebabkan kemunculan haqq, bersama dengan planet Mars (al-Marriikh) dan langitnya. Dan Nabi Harun as. yang Nabi Yahya as. menempati langit ini. Wujuud palnet dan pergerakannya berada dalam manzilah ‘Awwa (yang merupakan fase ke-13 dari 28 fase Bulan). Huruuf LAAM muncul dari pergerakan langit ke-3.

Bola langit ke-4 (Matahari), dengan sifatnya yang panas dan kering, pada hari Selasa (yang juga bersifat panas dan kering) ikut membantu jiwa dengan seluruh kekuatannya. Hal itu membantu jiwa untuk menaikkan (su’uud) spiritualitasnya dengan ¼ kali dari kekuatan bola langit ke-4 dengan berbagai caranya. Dengan kata lain, Planet Merkurius (dengan elemen api, air, udara, tanah) membantu mengeringkan dan meningkatkan panas hari Selasa yang sudah panas.

Selasa, hari ketiga, mengekspresikan prinsip-prinsip dari angka 3, angka ganjil pertama atau angka-angka tunggal, dan hubungan antara Nabi dan ketunggalan dijelaskan pada Bab Nabi Muhammad saw. dalam Buku Fushuus al-Hikam:

Hikmah dari nama “Muhammad” adalah ketunggalan (fardhiyya), karena ia merupakan gambaran eksistensi yang paling sempurna dari seorang manusia, dan Aturan dimulai darinya dan berakhir darinya. Elemen Adam as terdiri antara air dan tanah liat, sementara elemen Nabi Muhammad saw. adalah tanah, dan merupakan Segel dari para Nabi. Angka tunggal pertama adalah tiga, darinya semua angka-angka tunggal diturunkan. Jadi Nabi Muhammad saw merupakan simbol terbesar dari Tuhan, sebagaimana kepada beliau saw. telah diberikan seluruh Kata-kata (jawaami’ al-kalim), yang berisi nama-nama (yang Tuhan telah mengajarkan pada) Adam as.

Hikmah Hari Rabu, Hari Keempat Allah Mencipta

Hari Rabu berhubungan dengan nabi Isa as. yang melekat padanya sebuah rahasia tentang akhir dari setiap maqom, bagaimana manusia disegel/ dicap dan oleh “siapa”.

Jika hari lahirmu adalah Rabu, maka Isa as. adalah temanmu, jadi bersegeralah kepada kehidupan yang suci melalui penderitaan di gurun pasir.

Dalam Futuuhaat al-Makiyyah, Ibnu ‘Arabi menyebut hari Rabu sebagai hari Cahaya (al-yawm an-nuur), merupakan hari keempat dari ketujuh hari, pusat dari seminggu; menempati posisi sentral di antara planet-planet yang lain dalam seminggu, analog dengan kedudukan sentral Matahari pada hari Ahad (Fut. I : 1155). Sementara hari Sabtu Malam merupakan “matahari” malam pertama, berhubungan dengan Hari Rabu sebagai sebuah hari “keterpisahan”.

Tiap hari Rabu, Allah mencampur jiwa dengan persenyawaan (dari Merkurius) dan mengatur realitas spiritual dari bola-bola langit untuk secara kuat membantu jiwa dengan menambah kekuatan spiritual pada hari Rabu. Tiada satu jiwa pun yang tidak diberikan bantuan, dan bantuan tersebut merupakan dasar dari kelahiran pengetahuan yang banyak.

Hikmah Hari Kamis, Hari Kelima Allah Mencipta

Pergerakan hari Kamis berasal dari kehadiran asma Illaahi al-Qudrah (Berkuasa), sehingga tiada satu eksisten pun yang tidak mengucapkan “Alhamdulillaah”.

Planet Jupiter (al-mushtarii) merupakan langit ke-6 dari Bumi, dan Jupiter beserta orbitnya berjalan menuju kedekatan asma al-‘Aliim (Mengetahui). Allah menciptakan langit ke-6 pada hari ke-5 penciptaan alam semesta. Huruuf Dhood terdapat di dalam fase bulannya dari konstelasi Sirfa yang merupakan fase ke-12 dari 28 fasenya. Nabi Musa as menempati langit ke-6 ini yang melekat padanya as. sebuah rahasia tentang perintah-perintah agama dan misteri dari kedekatan kepada Allah.

Hikmah Hari ‘Berjama’ah’ (al-jum’ah = Jum’at), Makna dan Keistimewaannya, Hari Keenam Allah Mencipta

Hari Jum’at merupakan hari istimewa bagi umat Muslim, khususnya bagi Ibn ‘Arabi sendiri yang mengatakan bahwa hari Jumat merupakan Hari bagi Jiwa untuk menerima rahaisa-rahasia dari Tuhannya, melalui ‘aql (akal jiwa). Pergerakan hari Jumat datang melalui Atribut Pengetahuan Illahiyyah: tiada bagian apapun dari dunia yang tanpa sepengetahuan Al-Ahad Sang Pemberi wujuud. Tiap mereka dikenakan hakikat sejatinya.

Planet Venus merupakan benda kedua dari langitnya bumi dan ia telah dibawa menuju kedekatan wujuud dari Nama Ilahiyyah ‘al-Musawwir’: Al-Ahad sang Pemberi bentuk. Allah menciptakan langit, planetnya (Venus), Hari Jumat, dan huruf RAA (ﺭ ) dalam posisi bulan dari konstelasi (peta bintang) GHAFR (tempat letak 15 fase (manzilah) dari 28 fase (manzilah) Bulan), dan Dia melekatkan profil Nabi Yusuf as. pada hari ‘Berjama’ah’ ini.

Sebelum kedatangan agama Islam, orang-orang Arab menyebut Jum’at dengan ‘Uruuba (hari keindahan dan penghiasan), karena pada hari itu orang-orang mengadakan pertemuan. Dalam Islam sendiri, al-jum’a diartikan sebagai pertemuan di dalam mesjid dalam shalat berjama’ah. Ibn ‘Arabi memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang makna Jum’ah. Pada hari Jum’at, Allah menciptakan Adam dalam Citra-Nya, jadi Allah ‘mengikat (bersama)’ bentuk Al-Haqq dengan bentuk ciptaan-Nya dalam citra seorang manusia (insaan). ‘Mengikat (bersama)’ bermakna Jum’ah. Keistimewaan ‘kebersamaan’ Ilahiyyah dengan insaniyyah terjadi pada hari Jum’at, karena itu juga hari Jum’at disebut sebagai Hari Suci, Tertinggi, dan Hari Terbaik dari hari-hari lainnya.

Hadits Nabi Muhammad saw.,”Hari terbaik Matahari terbit jatuh pada hari Jum’at: ketika itu Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam Surga, dan pada hari itu juga Adam dikeluarkan dari Surga. Hari Kebangkitan juga akan terjadi pada hari Jum’at.”

Hadits Nabi Muhammad saw.,”Beberapa kaum berpendapat tentang hari terbaik untuk merayakan Kemuliaan Tuhan, dan orang-orang dari tiga agama memiliki cara yang berbeda. Menariknya, Allah sama sekali tidak menentukan kepada dua agama, Dia membiarkan mereka untuk menentukan hari terbaiknya masing-masing, terkecuali pada satu agama.”:

Orang Nasrani mengambil hari terbaik adalah Hari Pertama, yaitu Ahad, karena pada hari inilah Matahari, lelangit dan bumi beserta apa-apa yang berada di antara keduanya diciptakan. Allah memulai penciptaan-Nya pada hari Ahad. Mereka pun mengadakan perayaan pada hari Ahad demi Memuliakan Tuhan.

Orang Yahudi mengambil hari Sabtu sebagai hari terbaik, karena pada hari Jumat Allah telah menyempurnakan/ menyelesaikan penciptaan, dan beristirahat pada hari Sabtu…

Namun untuk orang Islam, Malaikat Jibril as. sendiri telah mendatangi Nabi Muhammad saw. untuk memberitahukan tentang keistimewaan hari Jum’at. Beliau as. pun mendatangi Nabi Muhammad saw. pada hari Jum’at dan berkata, “ini adalah Hari Jum’a dan keseluruhan jamnya berisi ampunan Allah bagi orang-orang yang memohon ampun atas kesalahan masa lalunya.” Nabi Muhammad saw. pun berkata, “Jadi Allah menginginkan agar aku menjadi utusan bagi orang-orang yang sebelumnya tidak mempercayai Al-Qur’an, dengan kata-kata Illahiyyah yang diwahyukan-Nya kepadaku semoga membawa pertaubatan bagi mereka semua.” Maka Nabi Muhammad saw. pun membimbing mereka menuju Allah.

Alasan lain adalah karena pada hari Jum’at lah Allah telah menyempurnakan proses penciptaan manusia yang berlangsung dari hari Ahad hingga Kamis. Jadi Jum’at merupakan hari terbaik, jam-jamnya merupakan cermin-Nya… dan jam-jam pada hari Jum’at bagaikan malam laylatul qadr. “Lebih baik daripada malam seribu bulan.” (Qs. 97 : 3)

Ibn ‘Arabi menyimpulkan, karena alasan-alasan tersebutlah maka kemuliaan hari Jum’at berada di atas hari lain, sebagaimana:

“Dia, Yang Maha Tinggi, dengan segala wujuud ciptaan-Nya; Dia telah menentukan yang terbaik dari lainnya. Dia telah memilih Nama ‘Allaah’ sebagai Nama terbaik dari Nama-nama Indah-Nya yang lain. Dia telah memilih orang-orang terbaik untuk menjadi para nabi. Dia telah memilih pelayan-pelayan terbaik sebagai malaikat. Dia telah memilih langit terbaik sebagai ‘Arsy-Nya. Dia telah memilih air sebagai elemen terbaik daripada elemen lainnya (api, udara/ angin, bumi/ tanah). Dia telah memilih bulan Ramadhan sebagai bulan terbaik; pada bulan itu juga terdapat puasa terbaik. Dia telah memilih jaman kehidupan Nabi Muhammad saw. sebagai jaman terbaik. Dia telah memilih laylatul qadr sebagai malam terbaik. Dia telah memilih amalan fardhu sebagai amalan terbaik. Dia telah memilih angka 99 sebagai angka terbaik. (Hadits nabi Muhammad saw., “Allah memiliki 99 Asmaul Husna”).”

“Dengan alasan-alasan Allah telah memilih Jum’at sebagai hari terbaik (dari 7 hari kreativitas Ilahiyyah), karena itu maka Dua Bentuk muncul ( Bentuk Illahiyyah dan bentuk Insaaniyyah) menjadi suatu akhir yang sempurna. Jum’at juga merupakan hari Jamaliyyah (feminin) karena pada hari itu terjadinya penghiasan pada perlengkapan manusia melalui Adam. Allah melihat Citra-Nya pada Adam. Dan melalui bentuk insaan yang tampak antara cermin (ciptaan) dan Al-Ahad Yang melihat padanya, terdapat tempat bagi manifestasi Illahiyyah (dari tiap jiwa manusia sempurna) berikut beban tanggung jawab kemisian (takliif).”

“Tidak ada manusia yang lebih sempurna selain cermin Al-Haqq. Tiada jam yang dimiliki pada hari Jum’at yang dimiliki keistimewannya oleh jam-jam pada hari lainnya. 12 jam pagi-siangnya merupakan manifestasi dari lahir (yang tampak) Illahi dan manifestasi lahiriyyah manusia (insaan). Sementara 12 jam petang – malamnya merupakan manifestasi bathiniyyah manusia (insaan) dan manifestasi bathin (gaib, tak tampak, tersembunyi) Illahi. Hal itu dikarenakan dimensi luar (lahir) manusia berhubungan dengan dimensi bathiniyyah (gaib, tak tampak, tersembunyi) Illahi, dan sebaliknya.”

Hikmah Hari Sabtu, Hari Ketujuh Allah Mencipta

Sebagai hari terakhir dari tujuh hari, pergerakan hari Sabtu diciptakan dari Nama Allah Kalaam (berbicara), sehingga segala sesuatunya merayakan kesyukuran kepada Sang Pencinta, dengan cara (berbicara) tasbihnya masing-masing.

Qs. 17 : 44

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا [١٧:٤٤]

“Langit yang tujuh (as-samaawaat), bumi (al-ardh) dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”

Saturnus (Kaywaan) berada dalam objek langit ketujuh dari bumi, dan langitnya diciptakan dengan Nama al-Rabb. Allah sendiri yang menciptakan langitnya, planetnya, dan hari Sabtu dalam lintasan bulan dari konstelasi Khistaan (al-Zabra), dan merupakan lintasan ketujuh dari 28 lintasan bulan, dan Dia menciptakan Saturnus sebagai tempat tinggal Nabi Ibrahim as., yang

Hari Sabtu merupakan hari yang sangat penting dan memiliki makna yang unik, disebut juga sebagai Hari keabadian, walau tentang keabadian sendiri merupakan hal yang masih misterius, belum banyak terungkap jelas.

Dalam buku Al-Tanazzulaat Al-Mawsiliyya, dijelaskan bahwa hari Sabtu berjalan melewati sesuatu yang mawjud seperti angka-angka yang dapat dihitung, sesuatu yang permanen atau tetap, dan sesuatu yang berdiri di dalam sesuatu; hari Sabtu bukan sesuatu yang tiada ataupun ada, tiada hadir ataupun hadir. Perumpamaannya bagai haqiiqat al-haqaa’iq sebagai sesuatu yang menjelaskan hubungan Al-Haqq dengan ciptaan-Nya.

Penciptaan alam semesta, dari awal hingga selesai terjadi selama 6 hari, dari awal Hari Pertama (sabtu malam) sampai selesai terjadi pada hari jama’ah (Jum’at), dan hanya tersedia satu hari untuk merubah suatu keadaan ke keadaan yang lain , dari suatu tingkatan ke tingkatan lain, dari satu perubahan bentuk ke bentuk lainnya, secara kontinu. Karena itulah mengapa hari Sabtu memiliki karakter yang dingin dan kering, dan berada di antara planet Saturnus. Hari Sabtu sendiri merupakan orbit bagi siapa saja yang bergerak dalam Atribut Illaahiyyah.

Atribut Illahiyyah: Nama, shifaat, af’aal dan ‘akibat pengaruhnya’ meliputi penciptaan. Seseorang yang bergerak dengan orbit hari Sabtu akan mengenal Al-Haqq dan ciptaan-Nya. Kenyataannya, para quthb – seperti Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi – adalah seseorang yang sudah keluar dari ‘waktu’nya, karena mereka telah membuktikan haqq nya hari Sabtu.

Allah menciptakan dunia dalam 6 hari; Dimulai pada hari Ahad dan selesai pada hari Jum’ah, tanpa lelah; Sehingga ketika sampai pada hari ketujuh dari tujuh hari (1 minggu), Dia bagaikan seseorang yang ingin beristirahat dari lelahnya. Lalu Dia pun berbaring dan mengangkat satu kaki ke atas kaki-Nya yang lain, lalu berkata, “Aku lah Raja.” Dikatakan sebagai hari keabadian karena pada hari inilah setiap ciptaan dari jenis apapun telah selesai dibentuk dan siap untuk dijalankan tugasnya. Tiada lelah sang Pencipta menciptakan, sehingga hari Sabtu merupakan hari tiada lagi penciptaan dalam level dunia, tetapi tetap saja ciptaan-Nya berlangsung terus-menerus yang dihasilkan oleh manusia yang berkarya, tanpa akhir dan batas. Selama-lamanya hingga hari kiamat..

Hanya ada tujuh hari dalam seminggu dan setiap hari memiliki ‘hukum’ yang dirancang oleh Allah. Jadi, begitu perintah mencipta selesai, maka Allah pun merancang hukum dengan kemampuan hari Sabtu untuk menstabilisasi dan memperbaiki, sehingga ia pun mampu menstabilkan debu (al-habaa’). Sehingga waktu pagi Sabtu diperuntukkan bagi orang-orang Taman, sementara waktu malamnya Sabtu (malam Ahad) diperuntukkan bagi orang-orang Api.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dikumpulkan kembali pada Ahad, 7 Rajab 1431 H, masih di Bukit Dago Utara.

Sumber:
Terjemahan Inggris ke Indonesia oleh Dwi Afrianti dari :
1. Time and Cosmology – Muhyiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan inggris dan analisa oleh Mohamed Haj Yousef.
2. The Seven Days of the Heart – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris oleh Pablo Beneito dan Hirtenstein.
3. Al-Tanazzulaat Al-Mawsiliyya – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

About these ads