http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/alfathri-adlin/shalat-dan-transformasi-fitrah-diri/10150227422078922

 

Zamzam A. J. Tanuwijaya & Kuswandani Yahdin

 

Bismillahirrahmânirrahîm.

 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa, “Shalat adalah mi‘raj-nya mu‘minin.” Istilah mi‘raj di sini secara spesifik dihubungkan dengan peristiwa isra-mi‘raj Nabi Saw pada tanggal 27 Rajab tahun ketiga belas dari Nubuwwah, saat beliau berusia 53 tahun. Peristiwa isra, yang artinya perjalanan malam, adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Saw secara horizontal dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsha Yerussalem (lihat Al-Isra [17]: 1). Dan peristiwa mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya beliau Saw secara vertikal dari Masjidil Aqsha naik ke Sidratul Muntaha. Di tempat tertinggi ini secara khusus Nabi Saw menerima perintah kewajiban menjalankan ibadah shalat bagi beliau Saw beserta umatnya sebanyak 5 kali (17 rakaat) dalam sehari semalamnya.

 

Secara umum, makna mi‘raj dalam hadis tersebut dihubungkan dengan “tangga” spiritual, yakni suatu perangkat ibadah yang dapat menaikkan derajat si mu‘min menjadi lebih dekat kepada Rabb-nya. Maka, di dalam kata shalat tersirat suatu dinamika atau proses perjalanan yang sifatnya menaik (‘uruj), dan secara eksplisit bentuk ibadah shalat yang dicontohkan Nabi Saw mengisyaratkan adanya perubahan bertahap dari suatu state ke state yang lain secara tertib. Serangkaian kalimah takbir yang diucapkan dalam ibadah shalat menunjukkan suatu proses kenaikan (mi‘raj) bertahap. Takbir sebagai ungkapan yang menyatakan suatu proses naik, tercermin pada saat Nabi Saw sedang mendaki sebuah bukit, di sana beliau Saw mendzikirkan kalimat takbir. Berbeda dengan ketika Nabi Saw sedang turun dari sebuah bukit, maka beliau mendzikirkan kalimat tasbih. Dalam 17 rakaat pada lima waktu shalat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap bentuk sikap (state) dalam shalat. Berarti dalam sehari semalam seharusnya terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah Swt.

 

Istilah shalat melampaui dari sekadar nama suatu ibadah mahdlah terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata shalat mencerminkan suatu proses “pengorbitan” setiap ciptaan Allah. Secara spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt . Ini diisyaratkan oleh An-Nûr [24]: 41,

 

Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nuur [24] : 41 )

 

Tasbih mencerminkan mengalirnya setiap ciptaan dalam suatu proses penyerahan diri (aslama) yang bersifat umum, dan shalat dalam hal ini mencerminkan suatu pengaliran dengan modus atau bentuk tertentu, yang secara spesifik tidak sama dari satu ciptaan ke ciptaan yang lainnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung telah ditentukan ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan telah ditentukan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Dalam pandangan para “pejalan” (salik), seekor burung yang terbang bebas menggambarkan jiwa (nafs) yang telah terbebas dari perangkap sangkar dunia, dan dua sayap burung yang terkembang melambangkan berfungsinya dua akal insan secara sinergis, yakni akal bawah (pikiran) dan akal atas (lubb). Sebagaimana Allah Swt mengungkapkan peringkat akal para malaikat dengan pernyataan bersayap dua, bersayap empat dan seterusnya, ini menunjukkan hierarki kemuliaan dari para malaikat. Maka shalat adalah seperti sepasang sayap, merupakan perangkat untuk terbang (mi‘raj) ke “atas”, sehingga afdhal-nya suatu shalat sangat ditentukan oleh pengetahuan lahiriahnya (hukum fiqh) dan pengetahuan batiniahnya (hakikat shalat)

 

Secara umum aspek praktis shalat, sebagai suatu ibadah mahdlah yang paling pokok, wajib ditegakkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam aspek praktis shalat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan: pada saat berdiri posisi akal ada di atas qalb, pada saat ruku’ posisi akal sejajar qalb, dan pada saat sujud posisi akal ada di bawah qalb. Dan Nabi Saw mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan shalat adalah pada saat sujudnya, dan beliau Saw memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada saat bersujud, yaitu pada saat akal diletakkan di belakang qalb (akal yang tunduk kepada qalb yang dirahmati Allah Swt).

 

لــَهُمْ قُلُوْبٌ يَعْقِلُونَ بِهــَا ….

Mereka memiliki qalbu yang dengannya mereka menggunakan aql-nya.” (QS Al-Hajj [22]:46)

 

Serangkaian shalat praktis tersebut wajib ditegakkan untuk membangun suatu keadaan dzikir kepada Allah Swt (lihat QS Thaaha [20]:14). Dzikir di sini bukan sebatas mengulang-ulang memuji Allah Swt dengan lisan ihwal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi suatu dzikir mencakup suatu keadaan totalitas jiwa (nafs) akibat sentuhan rahmat-Nya, sehingga insan tersebut baqa dalam tasbih, doa, kesyukuran dan sebagainya. Dan jika dzikir ini menjadi sebuah maqam, maka menjadi tidak berbatas waktu. Jadi serangkaian shalat praktis yang berbatas waktu wajib ditegakkan untuk membangun dan memelihara suatu keadaan shalat yang tidak berbatas waktu, dzikrullah. Petala langit dan bumi dan segala isinya “yang berserah diri dengan suka cita” (QS Fushilat [41]: 11) berada dalam keadaan shalat dengan cara “mengorbit” pada poros amr masing-masing, “Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan tasbihnya” (QS An-Nuur [24]: 41).

 

Tujuan sejati dari suatu suluk (tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan kodrat diri, merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat/misi hidup yang harus dimanifestasikan. Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkan ad-diin dalam dirinya.

 

Maka tegakkanlah wajahmu kepada ad-dîn secara hanif. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah diin yang tegak, namun sebagian besar manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Ruum [30]:30).

 

Jika seseorang merealisasikan fitrah dirinya, maka sebagaimana petala langit dan bumi, ia hidup dalam energi minimalnya, dan akan mengalirkan suatu kekaryaan suci yang berguna untuk masyarakat. Apa yang ia lahirkan tak lain merupakan harta terpendam (kanzun makhfi)-Nya yang merahmati alam semestanya. Seorang insan yang telah berhasil merealisasi fitrah dirinya adalah seorang yang telah berhasil menegakkan ad-dîn dalam dirinya, dan ini berarti ia telah berjalan dalam shirath al-mustaqim-nya.

 

Shalat itu adalah tiangnya ad-diin” ( Rasulullah Saw)

 

Ad-Dîn di atas mencakup tiga komponen: al-Islam, al-Iman dan al-Ihsan. Ketiga aspek tersebut harus ditegakkan secara utuh di dalam diri insan. Jika satu dari ketiga aspek tersebut belum terbangun, maka ia belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah mendirikan ad-Dîn di dalam dirinya. Jadi rangkaian shalat itu merupakan proses untuk menegakkan ketiga pilar ad-dîn tersebut. Dan tentang pilar ketiga ad-dîn yakni al-ihsan, Nabi Saw pernah berkata, “Engkau mengabdi kepada-Nya seolah-olah engkau melihat-Nya” adalah pilar yang paling halus dan paling sulit untuk ditegakkan kecuali oleh mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, berharap bertemu (liqa’) Allah dengan kerinduan yang mendalam.

 

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya (liqa’) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

 

Bagian akhir dari ayat di atas berkaitan dengan ke-ihsan-an sebagai tanda dari hadirnya kekhusyuan di dalam shalat. Dan jika suatu shalat tidak mencapai pilar ihsan, maka ibadah shalat akan dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan, sehingga bangunan ad-dîn dalam diri orang tersebut sulit untuk didirikan. Jika seseorang tidak dapat menegakkan ad-dîn dalam dirinya, maka shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar.

 

“…sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fakhsya dan munkar. Dan sungguh dzikrullah itu adalah yang terbesar…..” (QS Al-Ankabut [29]:45)

 

Keihsanan dalam shalat hanya menjadi milik mereka yang berharap berjumpa (liqa’) Allah, dan ini sebagai salah satu tanda penting dari tumbuhnya benih kecintaan dari Allah Azza wa Jalla.

 

“ …Barangsiapa mengharap berjumpa dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apa pun dalam beribadat kepada-Nya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110)

 

Dalam Al-Quran, aspek amal shalih diletakan setelah keimanan. Dalam pernyataan iman dan amal shalih, tercermin ketiga pilar ad-diin. Keimanan, dengan banyak tahapannya, merupakan suatu proses penegakkan pilar al-iman. Kemudian ketaatan mengamalkan setiap perintah Allah dan menjauhi larangannya, dengan ikhlas, merupakan proses penegakkan pilar al-islam. Adapun keshalihan (ketidakrusakkan) yang dilekatkan pada kata amal, merupakan suatu persoalan yang mengkualifikasi derajat amal-amal. Keshalihan diukur dari kemurnian tauhid, ini tidak dapat dicapai kecuali dengan jalan membangun pengetahuan untuk mengenal-Nya, dan ini merupakan pokok dari pilar al-ihsan. Nabi Saw bersabda bahwa, “Seutama-utama amal adalah yang disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala. Amal yang banyak tanpa disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah tidak berguna, dan amal yang sedikit jika disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah bermanfaat.”

 

Kemudian Nabi Saw bersabad pula, “Siapa yang mengenal Allah maka pasti mencintai-Nya”, pada maqam ini pilar ketiga dari ad-dîn terbangun. Bagaimana agar keihsanan dan kecintaan kepada Allah dapat tumbuh, maka hanya dengan cara mengikuti semua langkah Nabi Saw dengan ikhlas, baik lahiriahnya maupun batiniahnya.

 

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS Ali Imran [3]:31)

 

Dan Nabi Saw bersabda, “Amal yang paling Allah cintai adalah shalat pada awal waktu, kemudian Berbakti kepada orang tua, dan setelah itu jihad fisabilillah.”  

 

Para mu‘min sejati adalah para pecinta Allah Swt, maka ad-dîn tegak dalam dirinya, sehingga tidak ada perbuatan fakhsya’ dan kemungkaran yang keluar dari dirinya.

 

Alhamdulillahi Rabbil-‘aalamin

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Iklan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Perkembangan Musik Anak Usia 2 – 3 Tahun

Ketika anak-anak mulai belajar untuk memahami hubungan antara kata-kata dengan maknanya, orang dewasa dapat menyediakan hal-hal menyenangkan dan latihan-latihan mendidik yang akan memperkuat pemahaman mereka. Perkenalkanlah frase-frase musikal atau lagu-lagu singkat disertai gerakan.  

Ames (1970, p. 85),  

“Pada usia 21 bulan, kata “atas” dan “bawah” merupakan bagian dari kata-kata favorit anak.”

 

Selama periode preschool, kita sebaiknya mengakomodasi ritme tubuh  anak-anak daripada memaksa anak-anak untuk mengikuti beat yang diperdengarkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pertama kali mengamati dan mendengarkan secara penuh perhatian ketika mereka bertepuk tangan, berjalan, berlari, melompat, berputar, menjinjit, dan sejenisnya, kemudian sediakan hal-hal pendukung yang dapat disesuaiikan dengan ritme tubuh  mereka sendiri.

Mereka memilih sendiri jumlah ketukan  mereka. Mereka menyukai lagu-lagu lucu, bereksperimen dengan pelbagai instrumen musik walaupun belum cukup mampu untuk secara rutin bermain musik dalam waktu pendek sekalipun. Perkenalkan banyak instrumen musik, mulai dari suara, bentuk, dan namanya, sehingga anak-anak lama kelamaan mampu membedakan suara-suara instrumen tanpa harus melihat. Perkenalkan juga bagaimana cara memproduksi efek suara-suara tertentu yang sering didengar sehari-hari dalam lagu-lagu, cerita, atau permainan bersama mereka.

Konsep yang minimal dikuasai :

Atas – bawah, Berputar : naik-turun, terbang, tikus mengendap, lompat, bouncing, berayun, rocking, berputar berkeliling.

Perkembangan Musik Anak Usia 3 – 4 Tahun 

 

Menikmati permainan dalam bentuk nyanyian dan warna instrumen musik  (untuk seterusnya memerlukan eksplorasi, ekspreimen, dan memanipulasinya). Suka mendengarkan cerita, bahkan menyimaknya agar dapat diceritakan kembali. Sudah cukup mampu memainkan instrumen musik dalam waktu lebih lama.

Anak-anak mulai mampu beradaptasi dan mengendalikan respons rhytmic mereka – sementara

menggerakkan tubuh mereka dalam pola rhytmic yang diminta atau sambil memainkan instrumen musik. Perkenalkan secara rutin ritme dan melodi instrumen untuk meningkatkan aktivitas musik mereka. Bermain musik bersama (ensemble) teman-teman lebih disukai daripada bermain solo.

Konsep yang minimal dikuasai :

Angka dan warna dalam musik, perbedaan titi nada, mengulang-ulang melodi, pola irama, staccato singing & playing.

Perkembangan Musik Anak Usia 4 – 7 Tahun

 

Menikmati aktivitas musik dapat menghasilkan keseimbangan lahir dan bathin. Mereka suka mendramatisasi lagu-lagu, cerita, dan puisi. Mereka senang mendengar cerita tentang musik, dan bermain peran dalam drama musikal. suka berbicara hal-hal ‘tinggi’, sangat menyukai kalender (almanak), dan hampir dapat menyebutkan nama hari dalam seminggu. Mereka menyukai jam juga, walalupun belum dapat menyebutkan waktunya. Hampir sangat dapat beradaptasi dengan bunyi kata-kata dan membentuk matematika komputasi. Berminat terhadap lingkungan sekitar dan komunitas bermainnya, juga lingkungan tempat orang-orang dikenalnya berada. Tidak terlalu berminat terhadap lingkungan yang jarang dikunjungi. Sudah lebih gampang dan siap untuk bermain dalam kelompok lebih besar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Jangan terlalu sering menggunakan lagu bernada tinggi.

5. Rhythm dan melody instruments harus terbuat dari bahan yang berkualitas baik dan bersuara bagus.

 

Konsep yang harus dikuasai :

Memperkenalkan notasi musik melalui permainan matematika. Konsep dan terminologi musik, seperti lembut dan keras, nada tinggi dan rendah, beat teratur dan tidak teratur, datar dan tidak datar, dapat menjadi bagian dari kosa kata dan pemahaman anak-anak dalam nyanyian, gerakan, bermain alat musik, mencipta lagu, puisi, dan gerakan. Ketika anak-anak belajar menyanyi, mereka harus diberi kesempatan untuk melatih tangga nada suara mereka. Latihan dan kematangan belajar akan menolong untuk  mengetahui tangga nada suara mereka sesungguhnya.

 

Perkembangan Musik Anak Usia 7 Tahun

 

Boleh saja  melakukan kegiatan yang dilakukan untuk anak usia 4 – 7 tahun, namun lebih sering langsung bereksplorasi dengan alat musik untuk permainan yang lebih serius dan menuntut konsentrasi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Buku “MUSIC: A Way of Life for The Young Child”, Bayless and Ramsey.

Buku “Teaching Music in Today´s Secondary Schools”, Bessom, Tatarunis, and Forcucci, 1980 .

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Al-Ghuruur… (Tertipu..)  – Hatim Al-Asham

Hatim Al-Asham berkata,

“1. Jangan engkau terperdaya oleh tempat yang baik, karena tidak ada tempat yang terbaik selain surga. Dan Nabi Adam AS telah mendapatkan di dalam surga apa yang telah ia dapatkan (buah kuldi, yang membuatnya bersama Hawa diturunkan ke bumi).

2. Dan engkau jangan terperdaya dengan banyak ibadah, sesungguhnya iblis sesudah lama ia beribadah maka ia dapatkan apa yang telah ia dapatkan (yaitu dijauhkan dari الله تعالى).

3. Dan jangan engkau terperdaya oleh banyak ilmu, sesungguhnya Bal’am (1) mengetahui dengan baik Al-Asmaaul Husna (nama-nama الله Yang Maha Agung), maka perhatikanlah apa yang telah ia dapatkan (mati dalam kekufuran).

4. Dan janganlah engkau terperdaya dengan melihat orang-orang salih.  Tiada seorangpun yang lebih besar tingkatannya di sisi الله selain Nabi Muhammad SAW yang terpilih, dan tidak dapat diambil manfaat oleh keluarganya dan musuhnya dengan menemuinya (diantara keluarga seperti abu Jahal dan Abu Lahab, meskipun mereka bertemu dan melihat رسول الله SAW akan tetapi mereka tidak dapat mengambil manfaat / beriman kepada رسول الله SAW).

Keterangan:

(1) Bal’am bin Baura adalah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah2nya ia telah mencapai posisi tinggi dan mengenal Asma Allah yang Agung dan doa2nyapun selalu dikabulkan. Ketika Musa as. diutus sebagai Nabi, ia terjangkiti rasa sombong dan iri. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan2nya sendiri. Dan dia mencari pendukung kepada Fir’aun.

Copas dari statusnya Mbak Anita Rini, yang di copas ke Notes http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150194733082300#!/note.php?note_id=10150194733082300&notif_t=like

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Apa yang menahan kita untuk tidak ikut menari seperti partikel-partikel debu?

– Jalaluddin Rumi (The Music and the Silence of the Heart)

Mengapa jiwa tidak terbang ketika ia mendengar panggilan?

Mengapa seekor ikan, yang terdampar di pantai, tetapi dekat dengan air, tidak bergerak kembali masuk ke laut?

Apa yang menahan kita untuk tidak ikut menari seperti partikel-partikel debu?

Lihat gerakan-gerakan lembut mereka dalam sinar matahari.

Kita keluar dari sarang-sarang dengan kepakan sayap terbentang. Sebelumnya sayap tidak terangkat.

Kita terus mengumpulkan batu-batu dan memecahkan tembikar seperti anak-anak kecil yang membohongi pedagang.

Kita harus merobek-robek karung kebiasaan kita dan mengeluarkan kepala kita.

Lihatlah sekeliling. Tingkalkan masa kanak-kanakmu.

Ulurkan tangan kananmu dan ambil buku ini. Tapi, tahukah engkau mana kanan dan mana kiri?

Sebuah suara berbicara untuk memberikan penjelasan kepadamu. Bergerak menuju saat-saat kematianmu.

Periksa apa yang sebenar menjadi keinginanmu.

Sekarang  dirimu diperintah oleh panggilan dari dalammu sendiri.

Engkaulah raja. Ungkapkan pertanyaanmu, dan harapkan keindahan sebuah jawaban.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tukang Jagal dan Dombanya – Jalaluddin Rumi ( (The Music and The Silence of The Heart)

Janganlah berputus asa ketika kekasih mengusirmu jauh-jauh.

Hari ini penolakan, barangkali besok berganti panggilan.

Jika pintu menutup, janganlah pergi jauh.

Sabarlah, bahkan jika tampak tiada pintu yang terbuka.

Tiada yang mengetahui jalan selain si empunya jalan-jalan rahasia.

Bukankah seorang tukang jagal yang membunuh domba tidak pernah meletakkan tubuhnya sembarangan?

Ia membungkuk, mendekati domba ketika menjagalnya.

Hidup domba pun berganti menjadi kehidupan tukang jagal.

Maksudnya:  betapa besar kemurahan hati yang terdapat di dalam pembunuhan yang dilakukan oleh kekasih.

Kerajaan Sulaiman berubah menjadi seekor semut.

Dunia-dunia menjadi satu di hati.

Aku berjalan ke mana-mana  dan tidak menemukan ada yang mirip seperti kawan.

Apakah kau menemukannya?

Kediaman ini memberikan sebuah rasa;

Apapun anggur yang kawan sediakan, ia akan datang ketika tiada lagi bahasa.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Aku di Sini Bukan untuk Walnut – Jalaluddin Rumi (the Book of Love)

Para filsuf berkata,

“Kami suka musik karena ia mirip suara-suara bulat penyatuan.

Sebelumnya kami merupakan bagian dari sebuah harmoni, sehingga saat-saat treble dan bass dibunyikan membawa ingatan kami kepadanya.

Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam tubuh padat yang penuh dengan lupa, keraguan, dan duka? Hanya akan seperti air yang mengalir dalam tubuh kita. Memang akan menjadi lebih asam dan lebih pahit, tapi tetap sebagai urin yang membendung kualitas air.

Itu akan memadamkan api!

Jadi, ada musik itu yang mengalir melalui tubuh-tubuh kita yang akan mencari-cari kegelisahan jiwa.

Mendengar suara, kita mengumpulkan kekuatan. Cinta menyala dengan melodi. Kepada pecinta, musik memberikan ketenangan dan menyediakan bentuk imajinasi. Musik bernafas pada api diri, dan membuat kita menjadi lebih peka.

Genangan air ini sungguh-sungguh dalam.

Seorang manusia haus memanjat sebuah pohon walnut untuk ke kolam renang dan melemparkan satu persatu walnut ke air. Begitu seksama, dia mendengarkan suara yang berdentum dan mengamati balon-balon yang muncul dari dentuman itu.

Seorang manusia yang lebih rasional berkata,

“Kau akan menyesal melakukan ini. Begitu jauh kau dari air tempat walnut-walnut kau lemparkan. Begitu kau turun, air akan membawa mereka jauh.”

Seorang filsuf menjawab, “Aku di sini bukan untuk walnut, aku menginginkan musik yang ditimbulkan oleh walnut yang kulemparkan ke dalam air.”

The Book of Love oleh Jalaluddin Rumi. Terjemahan ke Inggris oleh Coleman Barks.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sekumpulan Nyamuk – 1 : 200 – 201 oleh Bahauddin, Ayah dari Jalaluddin Rumi.

Aku usai membaca awal sebuah surat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Membuatku ingin menangisi seorang Turkis yang melewati sepanjang harinya dengan melakukan pekerjaan sambil marah-marah.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

Bodoh, laki-laki malam yang tidak memiliki kesadaran,

pemabuk, dan tidak mengikatkan dirinya dengan Tuhan Pencipta cahaya.

Aku takut nantinya kecerobohan muncul dan menggoyangnya.

Dalam samudra cahaya subuh, barangkali kita akan bertemu seekor buaya

Atau seekor anjing laut yang seramah anjing rumahan.

Barangkali kita akan menemukan sebutir mutiara atau cangkang kerang tanpa isi.

Sebagaimana hari-hari dibangun dan terbagi-bagi,

datangnya akibat karena adanya sebab.

Seseorang bertanya, “Mengapa Tuhan menyebabkan jalan yang satu adalah jalan keberhasilan, namun sebaliknya?”

Kujawab, “Kita tidak tahu atau tidak dapat mencampuri urusan itu. Kita hanya tahu bahwa ada sebuah jalan yang selalu kita bisa tempuh, yaitu “’Alhamdulillah’. Jalan itu adalah perpanjangan dari apa-apa yang kita rencanakan. Semua kejadian dan kehendak akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang gembala membiarkan sekumpulan ternaknya menyebar merumput dan menjelang malam digiring semuanya ke kandang. Sebagaimana sekawanan nyamuk tidak memilih darah yang akan dihisapnya dan sibuk kembali ke sarangnya di air, jadi engkau dan aku juga sudah ditetapkan untuk dikumpulkan pada al-kiamat (Qs. 4 : 87).”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

THE DROWNED BOOK ECSTATIC AND

EARTHY REFLECTIONS OF BAHAUDDIN,

THE FATHER OF RUMI

Translated into english by COLEMAN BARKS and JOHN MOYNE.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.