بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Masyaahid al-asraar al-qudsiyyah wa mataali’

al-anwar al-illaahiyyah

Penyaksian Rahasia Suci dan Terbitnya Cahaya Illaahiyyah

Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi


Terjemahan dari Teks Bahasa Inggris “Contemplation of the Holy Mysteries” oleh Cecilia Twinch dan Pablo Beneito.

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Sekapur Sirih dari Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Risalah ini berjudul  Penyaksian Rahasia Suci dan Terbitnya Cahaya Illaahiyyah. Aku sarikan bagimu, yang berasal dari harta karun yang terjaga ketat di kedalaman tersembunyi, keabadian tanpa awal, yang dilindungi dari segala bentuk syahwat dan hawa nafsuku. Berikut keempat belas risalah tersebut:

SATU

Penyaksian Cahaya Eksistensi (Wujuud) sebagai Kendaraan

untuk Menyaksikan Manifestasi Illaahi (‘Iyaan)

Al-Haaq telah merasukiku melalui Cahaya wujuud sebagai kendaraan untuk menyaksikan manifestasi Illaahi, lalu Dia bertanya, “Engkau siapa?”

Aku menjawab, “Kehadiran tiada wujud.”

Berkata lagi Dia, “Bagaimana mungkin tiada wujud berubah menjadi wujuud? Jika engkau bukanlah suatu wujuud, maka keberadaanmu kini  adalah tidak nyata.”

Aku menjawab, “Maka dari itu, Tuhanku, mengapa tadi kukatakan bahwa aku adalah kehadiran tiada wujuud; kehadiran tiada wujud tidak memiliki wujuud nyata.”

Berkata lagi Dia kepadaku, “Jika wujud pertama identik dengan wujud kedua, maka kalau begitu tidak ada sesuatu yang mengawali ketiadaan atau wujuud tak pasti. Hm, bagaimanapun kau adalah bukti dari wujuud tak pasti itu.”

“Wujud pertama tidak sama dengan wujud kedua.”

“Wujud pertama bagaikan wujud universal, sementara wujud kedua bagaikan wujud khusus.”

“Tiada wujud adalah nyata, tidak lebih; dan wujud adalah nyata, tidak lebih.”

Aku sepakat, lalu berkata, “Begitulah adanya.”

Dia bertanya kepadaku, “Apakah engkau seorang muslim  karena keturunan ataukah ada penyebab lain yang menjadikan engkau seorang muslim?”

Aku menjawab, “Aku bukanlah seorang pengikut buta ataupun pengikut pemikiranku sendiri.”

Dia seakan menegaskan, “Kalau begitu kau bukanlah sesuatu.”

Aku menjawab, “Aku adalah sesuatu tanpa kehendak dan Engkau adalah sesuatu dengan Kehendak.”

Dia meralatku, “Kau bukanlah sesuatu, dan juga bukanlah yang menjadi sesuatu, dan juga tidak berdasarkan pada sesuatu.”

“Kalau begitu baiklah, “ Aku menjawab, “Jika aku adalah sesuatu, maka persepsi akan mampu menangkap wujudku; Jika aku berdasarkan pada sesuatu, maka tiga hal yaitu pemikiran logis-rasional, wujud lahir, dan wujud dari realitas zat akan membentuk diriku. Dan jika aku adalah sesuatu maka akan banyak pertentangan dalam diriku, tapi nyatanya tidak.”

Berkata lagi aku pada-Nya, “Aku ada dalam bagian-bagian, meskipun aku tidak ada, sehingga aku dinamakan tanpa nama, mampu tanpa memiliki kemampuan dan terjelaskan tanpa penjelasan, dan semua itu menunjukkan kesempurnaanku. Sedangkan Engkau sebaliknya, Tuhanku. Engkau dinamakan dengan nama, mampu karena kemampuan dan terjelaskan dengan penjelasan, dan semua itu menunjukkan kesempurnaan-Mu.”

Tuhanku menjawab, “Hanya yang tiada wujuud mengenali wujuud.”

“Hanya yang wujud mampu mengenali wujud itu sendiri sebagai sesuatu yang nyata.” Wjuud berasal dari-Ku, bukan darimu, namun di dalammu, bukan di dalam-Ku.”

Berkata lagi Dia, “Barangsiapa yang menemukanmu maka menemukan-Ku, dan barangsiapa yang kehilanganmu maka kehilangan-Ku.”

“Barangsiapa yang menemukanmu maka kehilangan-Ku, dan barangsiapa yang kehilanganmu maka menemukan-Ku.”

“Barangsiapa kehilanganku maka menemukan-Ku, dan barangsiapa telah menemukan-Ku maka tidak kehilangan-Ku.”

“Temukan dan lalu hilangkan segala atribut dirimu, bukan Diri-Ku.”

Berkata lagi Dia, “Setiap hal terbatas dan wujuud tak pasti adalah milikmu dan semua yang absolut dan wujud tiada batas adalah milik-Ku.”

“Wujud tak pasti adalah milik-Ku, bukan milikmu.”

“Turunan dari wujud merupakan milik-Ku, dan wujuud penyatuan  merupakan milikmu, .”

“Sebaliknya.”

Tuhanku berkata lagi, “Wujuud asal tidak sebenar wujud, namun itulah wujud sejati.”

“Wujud yang melalui-Ku berasal dari-Ku dan milik-Ku.”

“Wujud berasal dari-Ku, namun tidak melalui-Ku juga bukan milik-Ku.”

“Wujud tidak melalui-Ku juga tidak berasal dari-Ku.”

Berkata lagi Dia, “Jika engkau menemukan-Ku maka kau tidak akan melihat-Ku. Tapi kau akan melihat-Ku jika engkau kehilangan-Ku.”

“Menemukan adalah kehilangan-Ku dan kehilangan-Ku adalah menemukan-Ku. Mampukah engkau untuk diikat (akhdh), lalu setelah itu kau akan mengenali wujuud nyata (Al-Haqq).”

DUA

Penyaksian Cahaya Pengikatan (akhdh)

sebagai Kendaraan Untuk Mengukuhkan Janji (Iqraar)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya Pengikatan (Akhdh) sebagai Kendaraan untuk Mengukuhkan Janji (Iqraar).

Lalu berkata Dia kepadaku, “Pengikatan sama maknanya dengan membebaskan, namun tidak segala hal yang dibebaskan dalam keadaan terikat.”

“Engkau dapat menemukan-Ku, tapi tidak dapat mengikat-Ku; Aku dapat mengikatmu, tapi Aku tidak dapat menemukanmu.”

“Aku tidak mengikatmu ataupun menemukanmu.”

“Aku menemukanmu, tapi aku tidak mengikatmu.”

Lalu Dia berkata, “Mengikat hanya dilakukan dari belakang jika Aku berada di depan tubuhmu yang tidak hendak lari dari-Ku.”

“Aku mewujudkan diri-Ku sendiri di dalam ikatan pelayan dan Aku telah menyembunyikan diri-Ku sendiri dalam kebebasannya.”

“Pengikatan berimplikasi pada tiga aspek dan segala sesuatu di luarnya bukan lagi termasuk pengikatan.”

“Kenyataannya, Aku mengikat diri-Ku Sendiri.”

Berkata lagi Dia kepadaku, “Lihatlah ‘hal-hal tak bernyawa’ dan dengarlah bagaimana mereka memuliakan Tuhan dalam puja dan puji. Mereka selalu menjawab, “Sesungguhnya, ya!”

“Jika Aku menghijabmu dengan pengikatan (menetapkanmu dalam keadaan mati tanpa mengembalikan kemhidupan), maka engkau akan mengalami keabadian penderitaan dalam kebahagiaan tiada berujung. Selama-lamanya.”

“Aku hanya akan membawanya kepada siapa yang Aku kehendaki untuk ‘Menjadilah!’, memberikannya wujud dan Aku hanya akan berkata ‘Menjadilah!’ kepada siapa yang Aku peruntukkan diri-Ku baginya. “Tiada yang dapat dimiliki oleh-Ku hingga ia mau dikuasai, dan tiada yang dikuasai hingga ia meringkuk di hadapan-Ku, dan tiada yang meringkuk hingga ia bersegera menyambut kehadiran-Ku, dan tiada yang bersegera kecuali meniadakan wujudnya.”

“Akulah yang memunguti yang tercerai berai dan menyatukannya kembali. Aku mengikat kumpulannya dan menyatukannya kembali. Kemudian Aku cerai beraikan kembali dan lalu sekali lagi Aku satukan kembali, yang, pada akhirnya kini tiada keterpecahan maupun penyatuan.

Lalu Dia menyingkapkan bagiku apa yang berada di atas pengikatan; dan aku melihat Tangan-Nya. Kemudian Laut Hijau terus-menerus bulak-balik menyirami airnya bergantian antara Tangan-Nya dan aku. Aku menjadi hilang lenyap (fana) dan Aku melihat sebuah kayu pipih. Ku panjat ia dan betapa merasa bersyukurnya aku dengan keamanan yang diberikan-Nya, karena jika aku tidak memanjat kayu pipih ini, maka aku termasuk yang binasa.

Lalu Tangan-Nya bekerja penuh cinta kasih! Tangan-Nya menjadi dayung tiap kapal yang berlayaragar sampai ke tepian pantai. Ketika kapal-kapal tersebut tlah sampai, Tangan-Nya mendorong mereka jauh menuju tempat yang sunyi senyap. Setiap pemilik kapal mendaratkan kapalnya yang sarat dengan mutiara, berlian, dan batu karang; namun begitu mereka berhenti di atas tanah yang kering, semuanya berubah menjadi batu-batu biasa.

Aku pun berkata kepada Tuhanku, “Bagaimana setiap mereka bisa tetap menjaga agar mutiara tetaplah mutiara, berlian tetaplah berlian, dan batu karang tetaplah batu karang?”

Tuhanku menjawab, “Begitu engkau selesai melaut dengan pelayaranmu, bawalah semua perhiasan tadi dengan sedikit menyertakan air lautnya; selama airnya masih tersisa, maka semua perhiasanmu tadi akan tetap seperti bentuk semula. Namun jika air telah menjadi kering, maka mereka akan berganti menjadi batu. Aku menggambarkan perumpamaan tersebut dengan sejelas-jelasnya di dalam firman suciku quran surat Al-Anbiyaa (Nabi-nabi).”

Aku pun lalu mengambil sedikit air untuk kubawa, dan ketika aku mencapai tanah yang telah dikeringkan, aku melihat sebuah taman hijau di tengah-tengah.. ya, tempat yang sungguh gersang kering kerontang ini! Kepadaku dikatakan, “Masuklah.”

Masuklah aku ke dalamnya. Aku melihat bunga-bunga bermekaran dan bercahaya dengan sinar terangnya, juga terdapat burung-burung dan buah-buahan.  Ketika tanganku hendak memasukkan buah ke dalam mulutku, air laut yang kubawa menjadi kering dan semua perhiasan berubah menjadi batu-batu biasa.

Kemudian aku mendengar sebuah suara keras menegurku, “Lemparkan jauh-jauh buah yang berada di tanganmu itu!”

Buah segera kulempar jauh-jauh, dan secepat itu juga air kembali basah dan perhiasan berubah bentuk seperti semula.

Kemudian Dia berkata kepadaku, “Pergilah kepada pinggiran taman.”

Masuklah aku ke dalamnya dan menemukan sebuah padang pasir. “Sebrangilah,” berkata Dia. Aku mengikuti perintah-Nya dan di sepanjang perjalanan yang aku susuri, aku melihat banyak kalajengking, ular berbisa dan juga ular besar luar biasa, serta singa. Begitu mereka melukaiku, aku meneteskan setiap lukaku dengan air yang kubawa dan sembuhlah seperti sedia kala.

Kemudian, pada akhir perjalanan, Tuhanku menyingkapkan beberapa taman yang Kata-Nya telah pernah aku lihat sebelum ini. Aku melangkah memasuki taman-taman satu persatu dan air mengering. Menyadari hal itu, aku hentikan langkahku, dan air basah kembali.

Kemudian aku memasuki sebuah kegelapan, dan kepadaku Tuhan berkata, “Singkirkan semua pakaianmu dan lemparkan jauh-jauh air juga batu-batu bagi kalian yang telah menemukan apa yang kalian cari.” Aku pun lalu membuang segala yang besertaku, tanpa melihatnya kembali, dan aku sekarang adalah aku sebagai aku murni.

Tuhanku berkata kepadaku, “Sekarang engkau adalah engkau.”

Berkata lagi Dia kepadaku, “Lihatlah betapa istimewanya kegelapan, betapa kuat terangnya dan betapa jelas cahayanya! Kegelapan adalah sebuah tempat yang bersumber dari tempat terbitnya Cahaya-cahaya, sumber dari pancuran rahasia-rahasia memancar dan zat murni tiap materi. Dari kegelapan ini Aku telah membawamu kepada ‘menjadi’, dengannya Aku membuatmu bertaubat dan karenanya Aku tak akan menghapuskan kegelapan darimu.”

Lalu Dia membukakan mataku seperti bukaan pada lubang sebuah jarum. Aku bisa masuk ke dalamnya dan betapa yang kulihat… suatu sinar yang indah dan cahaya yang mempesona.

Dia berkata kepadaku, “Bisakah engkau melihat betapa kuatnya Cahaya kegelapan? Julurkan tanganmu maka engkau tak akan melihatnya.” Aku pun mengikuti perintahnya. Dan benar, tiada kulihat lagi.

Dia berkata, “Inilah Cahaya-Ku, dimana tiada yang lain selain-Ku yang bisa melihat-Ku Sendiri.”

“Kembalilah kepada kegelapanmu, bagimu adalah lebih baik demikian.”

“Tiada yang lain di dalam kegelapan selain dirimu sendiri dan Aku telah membawakan kegelapan kepada ‘menjadi’mu. Tiada yang lain selain dirimu; dari sanalah Aku telah mengikatmu.”

“Aku telah menciptakan segala sesuatu yang ada dari cahaya kecuali dirimu, yang tercipta dari kegelapan.”

Aku (Ibn ‘Arabi) berkata, “Mereka tidak menyaksikan Tuhan sebagaimana seharusnya. Jika Engkau, Tuhanku, berada di Dalam Cahaya, maka mereka pun seharusnya akan mampu menyaksikan-Mu dengan haqq (benar).”

“Engkau benar, pelayan-Ku.” Tuhanku menjawabku. “Jika engkau ingin melihatku, angkatlah selubung dari Wajah-Ku.”

TIGA

Penyaksian Cahaya Ketertutupan (Sutuur)

sebagai Kendaraan untuk Menguatkan Dukungan (Ta’yiid)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya ketertutupan/ hijab (sutuur)  sebagai kendaraan untuk menguatkan Dukungan (ta’yiid) , dan Tuhanku berkata kepadaku, “Tahukah engkau, ada berapa hijab antara Aku dengan kau?”

“Tidak tahu,” jawabku.

Tuhanku menjawab, “70.000 hijab. Bahkan jika kau mengangkat selubung mereka, tetap kau tak akan melihat-Ku, dan jika tak kau angkat, kau tak akan melihat-Ku.”

“Aku menjagamu agar jangan sampai terbakar!”

“Engkau Penglihatan-Ku, jadi berimanlah. Engkau Wajah-Ku, jadi lenyapkan dirimu.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Buanglah jauh-jauh semua yang menjadi hijab antara Aku dangan kau. Dengan ijin-Ku, perkenalkanlah Aku pada makhluk-Ku, jaga agar jangan sampai Aku hanya bagai harta karun tersembunyi.  Sehingga tiada yang akan melihat-Ku selain diri-Ku. Wahai, undanglah orang-orang untuk melihat-Ku. Engkau akan temukan di belakang setiap hijab apa yang kekasih lain telah temukan. Renungkan, dan katakanlah, ‘Allahu Akbar’ dan ketika engkau datang kepada kata ‘… Maha Mendengar, Maha Melihat’, pahamilah dengan benar maksud-Ku dan katakan kepada para pelayan/ abdi apa yang telah engkau lihat. Dengan begitu engkau telah memberikan pencerahan kepada mereka akan-Ku: menyadarkan dan memenuhi hati mereka dengan hasrat akan-Ku. Dan engkau akan mendapatkan Rahmat-Ku.”

Lalu Tuhanku melanjutkan perkataan-Nya, “Angkatlah setiap hijab satu persatu.”

Aku mengangkat hijab pertama dan melihat tiada wujuud di sana; dan seterusnya mengangkat satu persatu secara  berurutan: wujuud, al-wujuud, awal mula (‘uhuud), kembali (rujuu’), lautan (buhuur), kegelapan (zulumaat), peluluhan (khuduu’), perintah/ aturan (ta’liim), turunan (ishtiqaaq), izin (ibaaha), aturan (man), pelanggaran (ta’addii), kemarahan (ghadab),  keterpenjaraan (sajn), huruuf-huruuf (huruuf), penerus (tawallud), setengah mati (al-mawt al-juz’ii), mati total (al-mawt al-kullii), arah (tawjiih), perpindahan (tabliigh), berpegang teguh, dua kaki (qadamaan), hak istimewa(ikhtisaas),  pembungkus (tazmiil), membelah terbuka (shaqq), pemurnian (tathiir), menyusun kembali (talfiiq),  larangan (tahriim), pensucian (taqdiis), syafaat (shaf),  memasang (imtitaa’), perjalanan (suluk), susu (laban), ketukan (qar), campuran (imtizaaj), ruh-ruh (arwaa), keindahan (sisi jamal), kenaikan (‘ulan), penguasaan (siyaada), percakapan intim (munaajaah), (pemutusan) tahliil, mencapai akhir (intihaa), membiarkan berlalu (tark), cinta (mahabba), memutus perantara (raf’al-wasaa’it), rahasia dalam inti qalb (sirr), kebenaran (shiddiqiyya), kekuatan tertahan (qahr), rasa malu (hayaa), keberanian (shahaama), berpisah (insiraam), warisan (miraath), mencabut (istilaam), lenyap (fanaa), baqaa, kecemburuan (ghayra), kehendak spiritual (himma), ketersingkapan (kasf), penyaksian (mushaahada), kemuliaan (jalaal), keindahan (jamal), pelenyapan zat individu (dhahaab al-‘ayn, dari ghayn menjadi ‘ayn), tidak bisa dipersepsi (maa laa yudrak), tidak bisa terdengarkan (maa laa yusma) , tidak bisa dipahami (maa laa yufham), tidak bisa dikomunikasikan (maa laa yunqal), ungkapan simbolik (ishaara), keseluruhan (kull).

Setelah aku mengangkat seluruh hijab, aku pun ditanya Tuhanku, “Apa yang telah engkau lihat?”

“Sesuatu yang agung.” Jawabku.

Berkata lagi Tuhanku, “Yang Aku sembunyikan darimu lebih agung daripada yang aku perlihatkan.”

“Demi Kebesaran-Ku! Tidak ada sesuatupun yang Aku sembunikan darimu, seperti tidak satupun yang telah aku perlihatkan.”

Kemudian Tuhanku membakar sebuah hijab yang masih tersisa satu di belakangku. Terlihatlah olehku ‘Arsy.

Tuhanku berkata, “Angkatlah.”

Aku pun mengangkatnya dan Tuhanku berkata kepadaku, “Lemparkan ‘arsy itu ke laut.”

Kulemparkan ‘arsy dan segera ditelan laut. Kemudian laut mengangkat ‘arsy ke permukaan, dan Tuhanku berkata, “Peraslah dari laut sebuah Batu Kemiripan.”

Aku pun memerasnya, dan Tuhanku berkata, “Angkatlah Keseimbangan.”

Aku pun mengangkatnya dan kemudian Tuhanku berkata, “Letakkan ‘arsy berikut isinya berdampingan, sementara Batu Kemiripan setelahnya.”

Batu Kemiripan lebih berat. Tuhanku berkata kepadaku, “Bahkan jika kau mengangkat ‘arsy dengan berat sejuta kali dari ‘arsy semula atau bahkan dengan berat tak terbatas, maka Batu Kemiripan akan tetap lebih berat daripadanya.”

“Apa nama Batu Kemiripan ini, Tuhanku?” Aku bertanya.

“Tengadahkanlah kepalamu dan lihat,” Tuhanku memerintahkanku. “Segala sesuatunya tertulis di atasnya.”

Kepala kutengadahkan dan aku melihat, bahwa sesungguhnya, aliif berada dalam segala sesuatu. Kemudian Tuhanku menuntupiku dengan lima puluh hijab dan menutupi wajahku dengan 400 hijab  halus yang belum pernah dalam hidupku merasakan kelembutannya.

Kemudian Tuhanku berkata, “Tambahkan semua yang telah engkau lihat di balik hijab tadi. Hasil penambahan semuanya merupakan nama dari Batu Kemiripan.”

“Segala sesuatunya telah dituliskan sejak jaman tiada awal, dan sekarang engkau telah melihatnya. Jadi, sekarang bacalah:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

(Surat) dari Wujuud Pertama kepada Wujuud Kedua:

Tiada wujuud telah mendahuluimu, engkau pun sekarang mewujuud. Jadi sekarang Aku akan membuat kebahagiaan bersamamu dalam sebuah Penyatuan, dengan pengakuanmu bahwa ‘Laa ilaaha illaa Allah’. Dengan ini, Aku terima taubatmu.

Setelah itu Kau kubawa ke luar dan mengangkatmu menuju laut. Selanjutnya kuhempaskan engkau ke dalam kegelapan, kemudian Aku kirim engkau kepada orang-orang sebagai utusanku dan lalu mereka menerima ajaranmu dengan patuh dan beramal. Aku memberikanmu kelompok yang benar dan menjadi sebuah hiburan bagimu. Lalu Aku melarangmu untuk melakukan sesuatu walau Aku mengizinkan hal itu terjadi (melanggar kehendak-Ku). Jika hal itu terjadi, maka amarahku kepadamu, kau akan Aku penjarakan, meskipun engkau adalah hamba yang mendapat berkat-Ku.

Setelah itu, Aku membentuk huruf-huruf dan menjaga mereka untukmu. Aku memberikanmu Pena dan mendudukkanmu pada singgasana. Dan kau pun menulis di atas Papan Tulis tentang apa saja yang Aku kehendaki. Aku telah menghidupkan bagian dari dirimu, memberikan kelimpahan dalam kehidupanmu. Lalu kemudian Aku akan mengambil beberapa bagian dari dirimu, menyebarkan mereka ke setiap sudut ruang penjara (dunia), mengalami kesulitan berbicara dalam bahasa apapun. Aku membentengi mereka dengan kesempurnaan dan mendudukkan mereka masing-masing pada tiap kursinya.

Kemudian Aku jadi satukan mereka sehingga menjadi satu (dia), dan Aku kuatkan dia dengan Kata-kata. Aku murnikan, membebaskannya dari ketaksempurnaan, Aku melarangnya untuk kembali kepada ciptaan, Aku sucikan tempatnya dan memberikannya hak untuk memberikan syafaat kepada siapapun yang disenanginya.

Lalu Aku cemplungkan dia ke dalam laut dan dia mendaki salah satu gunungnya. Dia mengadakan perjalanan malam dalam waktu yang sangat singkat dan Aku membawakannya kepada Dome of Ariin (keseimbangan). Selanjutnya Ku beri dia totalitas kehidupan dan perlindungan dari sifat-sifat yang bukan dirinya, dan Aku pun lalau mengatakan kepadanya, ‘Dengan tinggal di tempat yang penuh dengan keterbatasan, Aku akan mencintaimu. Dengan terpisah dari ruh-ruh, Aku akan membahagiakanmu. Bawa keluar kebenaran yang ada di dalam qalb mu, dan berjuanglah. Ambillah rahasia kehidupan dan percayakan rahasia tersebut kepada siapapun yang engkau inginkan.  Buatlah pedang perang: dengannya berikan tanda peperangan untuk pengikutmu dan dengannya serang siapapun yang menyerangmu.

Lalu, datanglah kepada-Ku; biarkan anakmu (apa bisa dimaknakan pengikut/ murid, ya?) pergi, mungkin dia akan mengikuti jejak langkahmu dan katakan padanya untuk senantiasa lenyap dari kediriannya (fana), jangan pernah iri dengan penyaksiannya akan  atribut-atribut kedirian-Ku. Meskipun mungkin anakmu mendengarkan, memahami, mengenal, mengiaskan, mengkomunikasikan, membesar-besarkan atau mengecil-ngecilkan, namun dia tidak sebenar memahami Aku. Wahai, bagaimanapun, di dalam shu’ur (diterjemahkan sebagai intuisi oleh penterjemah inggris), segala sesuatunya menjadi terjelaskan melalui penglihatan bathin setiap orang.’”

EMPAT

Penyaksian Cahaya Firasat (Shu’ur , intuisi mistik, apa bisa dimaknai dzauq (rasa jiwa)?) sebagai Kendaraan untuk Transendensi (Tanziih)

Al-Haqq telah merasukiku  melalui Cahaya Shu’ur sebagai kendaraan untuk tanzih, dan Tuhanku berkata kepadaku, “Aku menyembunyikan diriku dari mereka yang terhijab ke dalam bukti  yang (sebenarnya tampak) nyata (bayaan) dan firasat. Mengapa mereka tak mampu melihat dan merasakannya?”

Tuhanku berkata kepadaku (Ibn ‘Arabi), “Bahasa puisi memiliki keterbatasan walaupun ia merupakan media untuk meletakkan simbol dan kiasan. Jika mereka (orang terhijab) mengetahui bahwa simbol dan  kiasan mampu mengungkapkan sesuatu dengan jelas, maka mereka akan membaca puisi.  Kata-kata Bercahaya  Al-Quran dipenuhi dengan simbol dan kiasan yang tak seorang pun mampu untuk sebenar memahaminya.”

“Pandanglah Aku dalam sosok matahari dan cari Aku dalam sosok rembulan, namun  hindari Aku dalam sosok bintang-bintang.”

“Jangan seperti burung mati yang dihidupkan oleh Nabi Isa as (jangan menjadi penyebab kedua yang diberi wujuud, tapi jadilah seperti yang memberikan wujuud (pemberi wujuud)).”

Qs. 3 : 49

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [٣:٤٩]

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

“Carilah Aku ke dalam dan di antara para penjaga dan pemelihara malam; dan kau akan menemukan-Ku.”

Tuhanku melanjutkan perkataan-Nya, “Pada saat engkau melihat air sungai menenggelamkan anak sapi, kuda, dan keledai  hingga ke leher mereka, segeralah kendarai hewan tunggangan, berusahalah untuk tetap bersandar pada sandaran pelana, berusahalah untuk mencapai tepian.  Jika semakin banyak rintangan yang kau hadapi untuk tiba ke tepi, tutuplah mata dengan kedua tanganmu dan biarkan saja rambut yang terurai mengganggu di dahimu; jangan hiraukan. Dan masukilah arus sungai tanpa disertai rasa takut; ingatlah bahwa  air tidak akan mencapai batas pelana dan engkau akan selamat. Barangsiapa yang mengendarai seekor kuda atau keledai akan tenggelam ke dalam sungai, sementara si pengendara hewan tunggangan tidak.”

Tuhanku terus melanjutkan, “Jika engkau tinggal di dalam shu’ur (firasat/ dzaq?), engkau akan berada di dalam tingkat/ derajat pertengahan. Barangsiapa yang berada di bawah derajatmu akan mengacu padamu dan barangsiapa yang derajatnya di atasmu, maka akan kembali untuk mengacu kepadamu; jadi tidak ada seorangpun yang derajatnya di atasmu. Dalam firasat/ dzauq?, engkau akan mengetahui kebenaran.”

“Jika engkau berada dalam derajat pertengahan, lanjutkanlah perjalananmu dalam (al-rabii’) prinsip-prinsip dasar sebuah perjalanan.”

Tuhanku berkata lagi, “Cahaya merupakan hijab dan kegelapan merupakan hijab. Di antara garis keduanya, engkau akan menyadari ‘sesuatu’ yang paling bermanfaat bagimu. Lalu ikutilah garis itu hingga engkau tiba pada pangkal mulanya. Hilangkan garis itu begitu tiba waktu shalat Maghrib. Wahai, ingatlah agar hanya tidur setelah engkau mendirikan shalat witr. Ketika subuh datang, hukum-hukum (taklif) diangkat, perasaan terbebani ( akan perintah-perintah) pun dijauhkan darimu, dan engkau akan menjadi sejatinya dirimu, diperlengkapi dengan atributmu.”

“Jika tiada perintah Tuhan (urusan sejatinya jiwa) datang, jangan menyerah, karena jika engkau begitu maka engkau akan binasa.”

“Jika engkau sedang mengendarai hewan tunggangan, jangan sibuk berisik melihat posisi dudukmu (derajat), nanti kau akan terjatuh dan mati. Jika sedang berkendara, tetaplah tinggal di dalam diam.”

LIMA

Penyaksian Cahaya Diam (samt) sebagai Kendaraan untuk Melenyapkan Pertentangan (Salb)

Al-Haqq  telah merasukiku melalui cahaya diam sebagai kendaraan untuk melenyapkan pelbagai pertentangan dalam batinku, dan Dia telah membuatku tak mampu berbicara.  (Namun), tiada tempat tertentu di alam semesta ini yang tidak mengukirkan kata-kataku, dimana tiada tulisanku yang tidak berasal dari Diri Sejatiku.

Lalu Dia berkata kepadaku, “Diam adalah realitasmu sebenarnya.”

“Diam bukanlah siapa-siapa selain dirimu sendiri, meskipun bukan milikmu.”

“ Jika engkau menjadikan diam sebagai objek pemujaanmu, maka engkau akan diikuti oleh para pemuda yang tertidur ratusan tahun di dalam gua (Pemuda Kahfi) dan engkau akan berada di antara para pemuja matahari dan bulan. Namun, jika diam bukan merupakan objek dari pemujaanmu, maka engkau adalah Milik-Ku dan bukan merupakan budak dari diammu.”

Lalu berkata lagi Dia kepadaku, “Aku menciptakan-Mu dengan kata-kata yang merupakan realitas sebenarnya dari diammu, sehingga, meskipun engkau berbicara, kau diam.”

“ Melalui-Mu Aku Berbicara. Melaluimu Aku Memberi. Melaluimu Aku Menerima. Melalui-Mu  Aku Mengembangkan. Melalui-Mu Aku Mengadakan Perjanjian. Melaluimu Aku Melihat. Melaluimu Aku Memberikan Kehidupan. Dan melaluimu Aku Dikenal. ”

“Untukmu Aku berbicara. Untukmu Aku Memberi. Untukmu Aku Menerima. Untukmu Aku Mengembangkan. Untukmu Aku Mengadakan Perjanjian. Untukmu Aku Tampak. Untukmu Aku Memberikan Kehidupan. Dan untukmu Aku Membuat Diri-Ku Dikenal.

Berkata lagi Dia kepadaku, “Engkau adalah tempat-Ku Melihat dan engkau adalah perlengkapan-Ku. Jadi janganlah berbicara kecuali ketika Aku Melihatmu. Karena Aku terus-menerus Melihatmu, maka dekatilah manusia terus-menerus, tapi janganlah berbicara.”

“Diam-Ku adalah lahiriyyah wujudmu.”

Jika Aku diam, maka engkau tak akan ada; jika engkau berbicara, maka Aku tak akan jadi Dikenal. Jadi berbicaralah dengan tujuan agar Aku Dikenal.”

Lalu berkatalah lagi Dia, “ALIF adalah diam” sementara huruf-huruf (lain) berbicara. ALIF mengeluarkan huruf-huruf (lain), namun huruf-huruf (lain) tidak mengeluarkan ALIF. Huruf-huruf (lain) diatur oleh ALIF dan ALIF selalu menemani mereka, tanpa mereka sadari.

“Huruf-huruf (lain) adalah Musa, dan ALIF adalah tongkatnya.”

Berkata Dia lagi kepadaku, “Keberadaan wujudmu adalah di dalam diam dan ketiadaanmu berada di dalam kata-katamu.”

“Barangsiapa yang diam adalah tidak diam; dan barangsiapa yang tidak diam adalah diam.”

“Apakah engkau berbicara atau diam, keduanya sama berbicara, dan bahkan jika engkau telah berbicara begitu banyak hingga ajalmu, maka tetap saja engkau dalam keadaan diam.”

ENAM

Penyaksian Cahaya Kenaikan (matla’/ muttala, bukan mi’raj) sebagai Kendaraan untuk Kashf (Kashf)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya Kenaikan sebagai Kendaraan untuk kashf. Tuhanku berkata, “Aku telah mengangkatmu melebihi kadarmu dan tidak terpisah darinya. Jika bukan demi ragamu, maka isi bathinmu tidak akan dikeluarkan; jika bukan demi jiwamu, Menara pengamat tidak akan bisa menjadi saksi. Terbitnya cahaya dibuktikan oleh kegelapan, dan terbitnya purnama dibuktikan oleh matahari.”

“Dari Menara Pengawas, barangsiapa yang ingin turun, silahkan turun. Dan barangsiapa yang ingin naik, maka naiklah. Sertakanlah Aku dalam Menara Pengamatmu! Jika aku melihatmu telah melampaui batas, maka Aku akan menurunkanmu dari Menara Pengamat kembali kepada diri rendahmu; bagaimanapun, jika engkau mengetahui kadar-kadarmu, maka Menara Pengamat akan senantiasa menginginkan engkau untuk tetap tinggal di dalam maqommu.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku:

“KEMULIAAN BERASAL DARI KEDEKATAN DENGAN-KU, dan semua yang ada di bawah ini akan membuktikannya:

–          dunia dengan kemegahan semunya akan membuktikan.

–          Bersegera Menuju-Ku berarti “sekarang” (bukan waktu lampau yang tertunda: waqfa, ataupun masa akan datang) dan luapan kebahagiaan air laut Cinta Kasih akan membuktikan.

–          Perilaku yang tepat benar dan tindakan-tindakan yang menyertainya dihasilkan oleh pelbagai pengetahuan akan membuktikan. Alarm tanda bahaya akan selalu dibunyikan dari Menara Pengamat sehingga qalb selalu terjaga dari kejauhan bersama-Ku.

–          Menara Pengamat dan kesadaran akan kadar-kadarmu akan membuktikan.

–          Kematian dan kekuatan takdir akan membuktikan.

–          Kelembutan dalam kebesaran dan kemurahan hati serta kemunculan kata-kata yang baik akan membuktikan.

–          Masih tertutupnya nama sejatimu akan membuktikan.

–          Pembebasan diri dari selain-Ku dan penyaksian akan membuktikan.

–          Mata bathin dan penyaksiannya akan membutikan.

–          Permohonan/ doamu dan jarak dari-Ku akan membuktikan.

–          Ampunan-Ku dan pelanggaranmu akan membuktikan.

–          Apa yang tersingkap dan para wali akan membuktikan.

–          Apa yang berada di atas ‘Arsy dan petunjuk Nyata akan membuktikan.

–          Lautan Taubat dan kehilangan cahayamu akan membuktikan.

–          Kemiskinan dan ketiadaan (fana) mu akan membuktikan.

–          Kebesaran dan Kegaiban-Ku akan membuktikan.

–          Penyimpangan dan ketidaktahuanmu tentang apapun akan membuktikan.

–          Hijab dan ketidakpahamanmu tentang apa pun akan membuktikan.

–          Pakaianmu dan jumlahnya akan membuktikan.

–          Ahadiyyah-Ku dan ketiadaan (fana) mu akan membuktikan.

–          Kebebasanmu dari selain-Ku akan muncul dan keterbukaan perjanjian di Alam Alastu akan membuktikan. — ( masuk level ketemu diri/ syuhada kali, ya….)

–          Alam Alastu dan Darussalam (kondisi spiritual yang senantiasa menyertakan Allah) akan membuktikan.

–          Ke”diam”an dan Pem”bicara”anmu akan membuktikan.

–          Qalb (yang berisi api ruhul quds) mu dan tiap detil pengamatannya (amr) akan membuktikan.

–          Pengetahuan Ilahiyyah dan Bentuk Murnimu akan membuktikan.

–          Percakapan malam-malam dan Ketakjubanmu akan-Ku akan membuktikan.

–          Karakter melayani (seorang pelayan) dan kelanggenganmu dalam maqom (maqom telah menjadi miliknya, bukan lagi berupa pinjaman) akan membuktikan. — (masuk level shiddiqiin kali, ya…)

–          Wahyu-wahyu dan pelaksanaan (amr) nya akan membuktikan.

–          Kekuasaan dan Kemampuan akan membuktikan.

–          Qalb yang senantiasa bergetar di Dalam Allah dan Pengabdian akan membuktikan.

–          Penyaksian al-haqq dan iman billah akan membuktikan.

Pada saat aku (Ibn ‘Arabi) melihat bukti-bukti dan para saksi berhasil menemukan-Mu, aku pun bertanya kepada Tuhanku, “Apakah hal demikian akan berlangsung selamanya (abadi) Tuhanku?”

Tuhanku menjawab, “Bahkan sesuatu yang tampak abadi pun tidak bersifat kekal.”

Berkata lagi Tuhanku, “Semua yang telah engkau miliki, itu sekedar yang Ku beri dan semua yang tersembunyi dari mu dan kejadian  akan datang yang tidak engkau harapkan, semuanya adalah untukmu, karenamu, dan berasal dari dalammu. Aku telah sedikit membukakan misteri dari hakikat Ilahiyyah ke dalam qalbmu, tetapi engkau tak mampu menanggung beratnya dan api akan membakarmu. Lalu akan menjadi apa engkau, jika Aku membukakan sesuatu dari diri-Ku atau dari sesuatu yang berasal dari atribut dzat-Ku!?”

“Al-Haqq pada setiap penyaksian dan tetap saja tak ada yang kau lihat sebenarnya selain dirimu sendiri. Lebih cepat daripada kerdipan matamu kau akan mikraj melalui maqom-maqom yang tak pernah bahkan selintas pun kau masuki dan di sana engkau tak akan pernah kembali lagi, tetapi mereka (maqom-maqom) tidak akan menuntut melebihi kadarmu.”

“Jika engkau mampu menentukan kadar-kadarmu, maka engkau hanya akan membatasi dirimu sendiri, dan kenyataannya, kau tidaklah berbatas; jadi, ya, bagaimana engkau akan mampu menentukannya? Kau tak akan mampu menentukannya – dimana ketepatan kebenarannya – karena itu ikutlah selalu Bentuk Murnimu dan jangan berusaha untuk mencari tahu tentang diri-Ku, karena engkau tak akan berhasil selama-lamanya, bahkan jika engkau telah meraih pengetahuan tertinggi tentang Aku Yang Kekal.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Mengetahui 70.000 misteri yang berasal dari Kemuliaan-Ku tidak akan membuatmu kembali kepada-Ku. Jika salah satu dari misteri tersebut Aku bukakan kepada seseorang yang tidak mencapai maqom ini, maka misteri itu hanya akan membakarnya.”

“Jika bukan untukmu, maqom-maqom spiritual tidak akan termanifestasi, tidak juga Darussalam akan terbuka; misteri-misteri pun akan tetap tertutup, cahaya tidak akan bersinar dan gelap pun tiada; tiada yang akan tampak, termasuk kadar-kadar, lahir bathin manusia pun tidak akan ada, tidak ada yang awal maupun akhir. Engkau adalah Nama-Ku dan menunjukkan Hakikat-Ku, hakikatmu merupakan Hakikat-Ku dan atributmu merupakan atribut-Ku.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Dengan menyebut Nama-Ku, masuklah ke dalam Wujud-Ku dengan lidah yang berkata-kata melalui Lidah-Ku, tanpa mereka (maqom-maqom) sadari.  Mereka (maqom-maqom) akan melihatmu berbicara, meskipun engkau dalam keadaan diam (terdiam). Mereka akan melihat engkau bergerak meskipun engkau masih diam. Mereka akan melihat engkau berpengetahuan meskipun engkau sendirilah pengetahuan itu. Mereka akan melihat kekuatanmu, meskipun kekuatanmu tiada berbatas. Siapapun yang melihatmu, berarti melihat-Ku. Siapapun yang menghormatimu, berarti menghormati-Ku. Siapapun yang menistakanmu, berarti menistakanku. Siapapun yang menjatuhkan engkau, berarti menjatuhkan-Ku. Engkau menghukum siapapun yang engkau inginkan dan engkau menghadiahi siapapun yang engkau inginkan, tanpa keinginan itu datang dari dirimu sendiri melainkan dari-Ku.”

“Engkaulah Cermin-Ku, Rumah-Ku, Tempat-Ku bersemayam, Harta karun tersembunyi-Ku dan singgasana pengetahuan-Ku. Jika bukan karenamu, Aku tak akan dikenal atau disembah, Aku tidak akan disyukuri atau ditaati.”

“Jika Aku ingin menghukum seseorang, dia akan mengkhianatimu. Jika Aku ingin memuliakannya, dia akan menunjukkan rasa terima kasih penuh kesyukuran dan penghargaannya kepadamu. Terpujilah engkau, kemuliaan bagimu! Engkaulah pujian, keagungan, dan kebesaran. Tujuan pendidikan dan pengetahuan telah Ku lekatkan kepada dirimu.”

“Aku telah membawamu ke dalam atribut dan kriteria manusia yang Aku kehendaki untuk mengenal-Ku.”

“kadar pengetahuanmu tergantung kepada kadar yang Aku berikan kepadamu; karena itu kau hanya tahu sebatas dirimu sendiri.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Aku sendiri yang memiliki atribut-atribut Kemuliaan dan Keindahan: tiada seorangpun yang mengetahuinya selain diri-Ku. Jika seseorang mengetahui Pengetahuan-Ku, Kehendak-Ku dan keseluruhan atribut-Ku – dimana tak seorang pun mampu untuk menghitung dan mendefinisikannya – maka Aku bukanlah Tuhan ataupun Pencipta.

Setiap perayaan kenaikan derajat yang engkau nyatakan dengan “Laa ilaaha ilaa Allah”, hanyalah perwujudan dari ketakmampuanmu menggapai-Ku. Bagaimanapun, Akulah Yang Maha Sempurna, mikraj di dalam diri-Ku Sendiri, untuk-Ku dan melalui-Ku, Yang terlalu rumit untuk dipahami dan tidak tercerapkan.

“Pandangan terlalu sempit, pikiran suka membingungkan, qalb tertutup, orang berpengetahuan tersesat dalam belantara padang pasir, dan pemahaman-pemahaman tersungkur dalam kelumpuhan, kesemuanya tidak mampu bahkan walaupun hanya sedikit untuk menggenggam rahasia Kemuliaan-Ku. Lalu dengan cara apa mereka (maqom-maqom) membantumu? Ketahuilah, wahai, pengetahuanmu bertebaran bagai debu. Kau bukanlah apa-apa. Keberadaanmu bak kiasan dalam sebuah sudut kecil dari Wujud-Ku.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Kembalilah, kau tak akan bisa bergantung kepada maqommu. Setiap bagian dirimu adalah kebodohan, buta, tidak mampu, tidak layak, bisu, limbung. Kau adalah sebuah kesempurnaan fana; namun betapapun remeh temehnya, semua itu adalah dirimu.”

“Jika Aku memberikan kekuatan yang melebihi kadarmu, melebihi kadar setiap ciptaan-Ku lainnya, melebihi kadar tentara-Ku, maka itupun akan hilang lenyap, hancur. Dan sungguh-sungguh akan meruntuhkanmu. Jadi bagaimana engkau akan mengatakan bahwa engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau? Engkau mengatakan sesuatu yang mustahil dan engkau hidup dalam kesalahan. Engkau telah memecah belah ad-diin, ‘setiap kelompok merasa bangga dengan dirinya sendiri’. Wahai, engkau ketahuilah, Al-Haqq melingkupi keseluruhannya.”

“Wahai, pelayan dan tempat Aku bercermin dan mencipta! Nyatakan (komunikasikan) Aku dengan Benar. Aku lah Al-Haqq.”

Tuhanku berkata lagi kepadaku, “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku, dan demi Aku Yang Maha Gaib, Aku akan menghukum siapapun yang mengingkari para rasul, orang kesayangan, dan para pelayan-Ku dengan hukuman yang belum pernah aku berikan kepada siapapun. Begitu pula terkena orang yang mengingkari apa-apa yang Aku miliki, dan memaksakan kehendaknya dan bertindak di luar kadarnya;  mengingkari Kata-kata-Ku dan menginterpretasikannya tanpa pengetahuan dari-Ku; dan mengingkari kenyataan bahwa mereka akan bertemu dengan-Ku, berkata bahwa bukan Aku yang menciptakannya dan tidak mampu menghidupkan kembali setelah mematikannya; mengingkari adanya Hari Pembalasan dan kebangkitan, dan tidak mempercayai adanya sekelompok Nabi, atau tidak mempercayai adanya Keadilan dan Shirothol Mustaqim, tidak mempercayai bisa melihat-Ku, atau melihat Api-Ku dan Taman-Ku. Mereka menganggap bahwa semuanya hanyalah perumpamaan belaka.”

“Jadilah engkau sebagai tempat Kuasa dan kemuliaan-Ku! Semua ciptaan akan dikembalikan kepada-Ku, dan kelak mereka akan mengetahui siapa saja yang berada di Shirothol Mustaqim dan siapa saja yang terbimbing. Kami akan membalas siapa pun yang ingkar dengan membuka aib-aib dan menyiksa mereka  sebagaimana yang telah Aku sampaikan dalam Firman Suciku, Al-Quran.”

“Mereka telah tidak iman kepada-Ku dan Aku akan menghukum mereka. Mereka telah membiarkan kesombongan menjadi bagian dari diri mereka, dan iblis mereka telah bermain-main bersama mereka. ‘Wahai, ketahuilah kalian semua! Kalian dan apapun yang kalian sembah selain Tuhan akan menjadi bahan bakar api neraka yang akan menjadi bakaran bagi diri kalian sendiri’.”

“Tinggallah di dalam kadarmu dan pelajari Al-Quran, yang akan menjadi cahaya penerang, yang berisikan rahasia tersembunyi Al-Haqq. Jalan-Ku berada jauh di atas bakaran api  neraka, karena itu iman lah di Dalam-Ku!”

Berkata Tuhanku lagi kepadaku, “Wahai, pelayan-Ku! Pernahkah Aku menghijab qalbmu dari-Ku, dari pengetahuan-Ku, dari kehendak bebas Kerajaan-Ku, dari penampakan malaikat-Ku, dari diri sejatimu, dari pemeliharaan-Ku terhadap dirimu, dari kemampuanmu untuk bertindak bebas terhadap manusia lain? Tidakkah engkau tahu bahwa pengetahuan Ilahiyyah yang mereka peroleh pada hari ini, akan sama dengan Hari Esok, dimana tubuh-tubuh mereka juga akan berada di dalam taman-taman surga dan qalb mereka berada di dalam kehadiran Aku Sang Maha Cinta Kasih? ‘Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada diri setiap mereka’. Mereka akan dikembalikan kepada-Ku dan kelak mereka akan tahu. Mereka seolah-olah tidak pernah mendengar Kata-kata-Ku. Lihat saja nanti ketika hari itu tiba dan mereka tersungkur bersujud karena takut kepada-Ku.”

TUJUH

Penyaksian Cahaya ‘Kaki’ (Saaq, Merupakan Urusan/ Amr) sebagai Kendaraan

untuk Senantiasa Mampu (Kuasa) Memenuhi Panggilan (Du’aa) Allah


Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya ‘Kaki’ (Saaq) (1) sebagai kendaraan untuk senantiasa mampu (kuasa) memenuhi (Du’aa) (2). Berkatalah Tuhanku kepadaku, “Bertumpulah padanya (3), agar Aku menurunkan Perkataan Yang Teguh kepadamu yang berasal dari kemuliaan Kuasa-Ku. Bersiaplah untuk kemunculannya!”

“Jika engkau bertumpu padanya (dengan kekuatannya), Aku akan berbicara kepadamu (4), dan Kekasih (5) akan bersamamu dalam kelompok Sahabat-Ku.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Namun jangan dulu bertumpu pada ‘Kaki’ kecuali jika awan-awan tebal bergelung telah dihembus oleh angin, gunung-gunung mulai bergerak dan dua kaki melangkah, dan segala sesuatu yang mati binasa dan hanya tersisa kehidupan.”

“Jika ‘Kaki’ muncul (untukmu), waspadai lawan berpasangannya.” (6)

“Kami menghalangi mereka (7) dari melihat ‘Kaki’, ketika mereka telah berbuat melampaui batas, dengan mendudukkan mereka pada waham kebahagiaan semu.”

“Pada ‘Kaki’ terdapat bukti nyata dan kehormatan tinggi, meskipun ia terletak di bawah.” (8)

“Ketika (‘Kaki’) muncul, pada saat itulah matahari (9) menjadi lebih megah dan bulan (10) lenyap, sementara bintang-bintang (11) terjatuh dan hancur. Sungguh segala sesuatu kembali kepada-Nya.”

Berkatalah lagi Dia kepadaku, “Di antara para pelayan/ abdi/ hamba-Ku yang telah bertemu Kuasa-Ku (tingkatan ruuh, ruhul quds), tinggal di sisi ‘Kaki’; yang telah mengenal qalb berada di sisi Kalam-Ku. Yang telah mengenal rahasia dari dalam qalb, tinggal di sisi qalbnya. Dan yang telah mengenal misteri tersembunyi/ gaib, akan tinggal di sisi rahasia tersebut. Tetapi para pelayan yang tersesat tidak tahu tinggal di sisi siapa. (12). Sekarang, terserah kalian semua ingin berada di kelas pelayan yang mana.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “’Kaki’ merupakan bagian dari Menara Pengamat (matla’) dan engkau berada di bawah pengawasan Menara Pengawas (13). Jadi mengapa kau begitu memperhatikan kedatangan ‘Kaki’? Ingat, bahwa ‘Kaki’ bergantung padamu, dan melangkah menujumu; dan padanya manusia dipaku pada Batu.” (14)

DELAPAN

Penyaksian Cahaya ‘Batu’ (Sakhra, kedudukan atas ilmu (?)) sebagai Kendaraan untuk Masuk ke Dalam ‘Laut’ (Bahr)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya ‘Batu” dan berkata Tuhanku kepadaku, “Wahai, Batu yang memiliki kehormatan! Kepadamulah seseorang yang telah selesai diasuh oleh ayahnya mencari perlindungan. Katakan padaku, apa yang telah ia makan selama bersamamu?”

‘Batu’ (aku, Ibn ‘Arabi) menjawab, “Setengah.”

Tuhanku bertanya, “Lainnya bagaimana?”

“Lenyap ke dalam laut,” ‘Batu’ menjawab.

Tuhanku bertanya lagi, “Mati atau hidup?”

“Hidup.”

“Setengah yang dimakan, bagaimana keadaannya?”

“Mati.”

“Itu bagian yang halal atau yang haram?”

“Halal.”

“Kalau begitu ia tidak mati. Ia hidup.”

Bertanya lagi Tuhanku, “Berapa lama mereka duduk di atasmu?”

‘Batu’ menjawab, “Sepanjang hari.”

“Malam hari juga?”

“Oh, kalau malam hari tidak. Pada malam hari, Laut Hijau dibukakan bagiku, membungkusku dengan cahaya bulan; tapi ketika cahaya matahari muncul, seketika cahaya bulan terdorong jauh dariku dan lalu aku bersama cahaya matahari.”

Tuhanku bertanya, “Apa yang terjadi pada bintang-bintang ketika Laut Hijau berbicara kepada bulan?”

‘Batu’ menjawab, “Mereka jatuh dan hancur berkeping-keping. Binasa.”

Berkata lagi Tuhanku, “Benar mereka akan seperti itu. Oh, wahai, bulan! Naiklah dari Laut sebelah Barat dan ketika engkau melewati Kubah Ariin (bagian dari keseimbangan driri), tenggelamkanlah dirimu ke dalamnya; tapi hati-hati jangan sampai ke Timur, karena itu bukan kedudukanmu.”

“Wahai, bulan! Hormati Timur dengan kenaikanmu; cukup hanya sekali tetapi dengan cahayamu sendiri!”

“Wahai, bulan! Aku melarangmu untuk naik ketika belum tiba waktumu!”

“Wahai, bulan! Tenggelamkan dirimu ke dalam Laut Hijau dan tunjukkan dirimu hanya kepada ikan-ikan  (untuk menunjukkan kesejatian dirimu dengan hanya menunjukkan bagian-bagian kesejatian itu sendiri) dan jangan kembali lagi ke permukaan.”

“Wahai, bulan! Katakan kepada Laut Hijau, bahwa Aku memerintahkannya untuk menjadikanmu sebagai sahabat, dan jangan membuat gelombang besar maupun kecil sehingga tiada apapun yang terdengar dari dirinya (jangan mudah terbangkitkan oleh kesenangan atau kesedihan, tetaplah tenang tanpa riak). Aku pencemburu jika ada yang lain menjadi pelindungmu. Atas Nama-Ku, katakanlah sedemikian. Jika Laut Hijau mengeluarkan gelombang atau bersuara atau menghantarkanmu ke pantai atau menyembunyikan kau dari ikan-ikan (riakan membuat sejati diri menjadi kabur/ samar), maka Aku akan mengingkari imannya sehingga lama-lama tiada bersisa dan mencampakkannya menuju tempat yang rendah. Aku akan memberikan penghinaan yang besar kepadamu, yaitu Aku akan mengeluarkanmu dari sana dan mencemplungkanmu ke dalam Laut Putih (kelaparan dan penderitaan dalam usaha keras mencari penghidupan).”

Berkata lagi Tuhanku, “Wahai, bulan! Katakan kepada batu untuk membiarkan 12 mata air mengalir dan ketika mereka memancar ke luar, sempurnakanlah cahayamu sebanyak dua kali (1. Jiwa 2. Ruh). Lalu sempurnakan satunya lagi (3. tubuh/ jasad) sehingga ketiganya pun menjadi sempurna.

“Wahai, bulan! Janganlah melihat kepada batu yang akan memalingkan wajahmu dari semua perintah untuk kau sampaikan kepada Laut Hijau.”

“Wahai, bulan! Jangan tenggelam ke dalam Kubah Ariin (keseimbangan) hingga tiba saatnya engkau menjadi setengah bulan (barzakh); jika engkau kini adalah purnama (badr) atau sebuah bulan baru (hilaal), maka tak akan ada kenaikan. Kenaikan terjadi jika adanya sosok setengah bulan tanpa meninggalkan  Ariin (keseimbangan); dan engkau akan mengetahui rahasia sungai-sungai (al-anhaar), jika Tuhan Sang Maha Tinggi berkehendak demikian.”


SEMBILAN

Penyaksian Cahaya ‘Sungai-sungai’ (Al-Anhaar) sebagai kendaraan untuk Menaikkan Derajat (Rutab) Hamba di Hadapan Allah

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya ‘Sungai-sungai’ (al-anhaar) dan lalu Tuhanku berkata kepadaku, “Tentukan tempat mereka.” Kemudian aku (Ibn ‘Arabi) melihat sungai-sungai tersebut dibimbing kepada empat kelompok aliran/ perjalanan(1): Kelompok pertama mengalir menuju Laut Ruh-ruh; Kelompok kedua mengalir menuju Laut Bicara; Kelompok ketiga mengalir menuju Laut Flute dan Memabukkan; Sementara kelompok keempat mengalir menuju Laut Cinta. Sedikit saja curahan air dari keempat kelompok tersebut memadai untuk mengairi tanah perkebunan. (2)

Pandangan kulempar ke arah empat laut tersebut dan Aku melihat keempatnya dibimbing mengalir menuju satu samudra nan luas yang menyatukan keempat laut. Aku juga melihat keempat kelompok sungai memancar ke luar dari samudra, lalu kembali memancar lagi setelah tercampur dengan keempat laut. (4)

Berkata Tuhanku kepadaku, “Samudra ini adalah samudra-Ku dan keempat laut itu adalah Laut-Ku, tapi masing-masing pantainya telah berkata (5) bahwa mereka adalah milik masing-masing laut. Seseorang yang melihat samudra tanpa melihat laut dan sungai adalah seorang pelayan yang ikhlas (al-mukhlashiin) (6). Barangsiapa yang menyaksikan kesemuanya disebut sebagai seorang penyaksi (asy-syuhada) (7). Barangsiapa yang menyaksikan sungai-sungai, lalu baru menyaksikan samudra dan kemudian baru keempat laut disebut sebagai pengikut para saksi (8), dan barangsiapa yang menyaksikan keempat laut, lalu sungai-sungai, kemudian terakhir baru samudra, maka akan mengalami kekurangan (penyaksian tak sempurna), namun dia tetap akan diselamatkan (9).”

“Aku telah membangun sebuah kapal (10) untuk siapapun yang berada di bawah penjagaan-Ku, sehingga dia bisa berlayar di atas aliran sungai dengan mengikuti jalan sampai ke akhir Tujuan. Ketika sungai-sungai membawa kapalnya menuju laut-laut, dia akan berlayar sampai ke samudra, dan di sanalah dia akan mengetahui Realitas Al-Haqq, dan rahasia-rahasia pun akan terbuka. Samudra diberikan kepada siapapun yang dikehendaki untuk datang mendekat (al-muqorrobuun). Al-Muqorrobuun (11) akan berlayar selama ribuan tahun (12) sampai mendarat di atas pantainya. Mereka akan dibawa kepada belantara padang pasir dengan kekosongan sunyi senyapnya (13) tanpa batas akhir, dan mereka akan tersesat selama perjalanan itu sendiri; dan jika mereka berhenti berjalan, maka akan kupadamkan keinginan menemukan Tujuan.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Lihat!” Wajah pun kupalingkan. Aku melihat tiga perkampungan (14). Tuhanku membukakan perkampungan pertama (15) bagiku dan di dalamnya betapa terdiri dari rumah-rumah tanpa pintu, bebas terbuka tampak harta karun di dalamnya. Juga aku melihat panah-panah terlempar dan menusuki siapapun yang ingin memasuki rumah tersebut.

Aku lalu meninggalkan perkampungan tersebut. Tuhanku kemudian membawaku masuk kepada perkampungan kedua (17), dimana terdapat rumah-rumah yang juga berharta karun dalam keadaan pintu tertutup rapat namun dengan kunci tergantung. Berkatalah Tuhanku kepadaku, “Ambillah kuncinya, lalu buka tiap rumah, susuri dengan pandanganmu yang cermat!” (19). Diperintahkan begitu, aku pun lantas membuka pintu tiap rumah dan aku melihat betapa mereka semua penuh dengan mutiara, berlian, dan lain-lain perhiasan; jika orang-orang di dunia melihat, mereka pasti akan saling membunuh untuk mendapatkan semuanya.

Berkata Tuhanku lagi kepadaku, “Ambillah yang kau butuhkan dan segera tinggalkan jika selesai.”

Aku menjawab, “Aku tidak membutuhkan mereka.” Pintu-pintu pun kukunci kembali.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Angkatlah kepalamu.” Kepala pun kuangkat, dan betapa tempat pintu-pintu dan jendela menjadi begitu sangat tinggi. Mereka tak akan bisa dimasuki bahkan dilongok kecuali oleh orang-orang bertubuh sangat tinggi, 100 hasta atau lebih di atasnya (20). Orang yang berada di bawah ukuran tinggi ini hanya akan mampu mengetuk pintu-pintu dengan berusaha meloncat tinggi-tinggi. Jika ketukan berlanjut terus-menerus disertai suara riuh gemuruh ‘berisik’ menuntut untuk dibukakan pintu,  maka sebuah tangan (21) yang memegang sebuah lampu nyala (22) ke luar dari jendela, menyinari mereka sehingga bisa saling memandang satu sama lain dan akhirnya menjadi kenal. Binatang-binatang buas (23) berbahaya berlarian menjauh, ular-ular meninggalkan mereka masuk ke dalam lubang-lubang, dan mereka semua menjadi terselamatkan dari marabahaya yang mereka temui dalam kegelapan (24). Aku juga melihat panah-panah meluncur menusuki salah satu sisi dari rumah-rumah, meskipun dengan jumlah lebih sedikit daripada perkampungan pertama.

Kemudian Tuhanku membawaku menuju perkampungan ketiga (25) dan memintaku untuk memasukinya. Semua pintu rumah-rumah harta karun (26) terkunci tanpa satupun kunci tergantung.

Aku bertanya kepada Tuhanku, “Dimana kunci-kuncinya, Tuhanku?”

“Sudah kulempar ke samudra (27),” Tuhanku menjawab.

Kemudian Tuhanku membangunkan bagiku sebuah kapal (28) dan aku melayari samudra 6000 tahun lamanya (29).”

Ketika aku berada pada jaman millennium ketujuh. Tuhanku berkata kepadaku, “Ketika engkau berada di tengah samudra, lepaskanlah dirimu dari pakaian-pakaianmu (30), dan cemplungkan dirimu setelah semua kunci Aku masukkan. Wahai, di sinilah ‘tempat peristirahatan dan keselamatan’ mereka. Tempat ini dinamakan Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz) (31).”

Pakaian pun kubuka. Begitu cawat mulai kubuka (32), Tuhanku berkata, “Jika bukan karena cawatmu, kau tidak akan mampu untuk terjun ke dalam samudra.” (33)

Bergegas kupasang kembali cawatku dan terjun hingga mencapai dasar samudra aku mengambil kunci-kunci yang tadi dicelupkan Tuhanku (34). Ketika aku sampai ke permukaan, api ke luar dari kunci-kunci dan membakar kapal (35). Aku berenang kembali sampai mencapai rumah-rumah harta karun. Kunci-kunci terbang dari tanganku, bergegas membuka pintu-pintu yang terkunci rapat. Aku pun membuka pintu dan mulai memasuki rumah dimana aku melihat suatu permulaan/ awal tanpa akhirnya (36). Aku berharap melihat sesuatu yang lain namun tiada lain yang ku lihat di dalamnya selain kekosongan.

Tuhanku berkata kepadaku, “Apa yang telah engkau lihat?”

“Aku tidak melihat apapun,” jawabku,

Tuhanku berkata, “Sudah jelas, kan, bahwa tiada apa-apa di dalamnya? Setiap pemilik rahasia telah berbicara di sini dan ini adalah tempat tinggal mereka yang tenang. Tinggalkan!”

Aku pun ke luar, dan melihat segala sesuatu tertulis pada sisi luar pintu (37). Aku perhatikan bahwa hanya sedikit sekali sisi pintu yang terkena tusukan panah.

Kemudian Tuhanku berkata lagi kepadaku, “Segala sesuatu yang telah engkau lihat telah tercipta dan segala ciptaan memiliki ketidaksempurnaan. Mikrajlah sampai kau tidak lagi melihat ciptaan (38).”

Aku pun mikraj.   Aku layangkan diriku ke dalam laut ‘kebingungan’ (hayra). Dan Tuhanku membiarkanku berenang (39) di dalamnya.

Penyaksian Cahaya ‘Sungai-sungai’ (Al-Anhaar) sebagai kendaraan untuk Menaikkan Derajat (Rutab) Hamba di Hadapan Allah

Yang Nyata (Al-Haqq) telah merasukiku melalui Cahaya ‘Sungai-sungai’ (al-anhaar) dan lalu Tuhanku berkata kepadaku, “Tentukan tempat mereka.” Kemudian aku (Ibn ‘Arabi) melihat sungai-sungai tersebut dibimbing kepada empat kelompok aliran/ perjalanan(1): Kelompok pertama mengalir menuju Laut Ruh-ruh; Kelompok kedua mengalir menuju Laut Bicara; Kelompok ketiga mengalir menuju Laut Flute dan Memabukkan; Sementara kelompok keempat mengalir menuju Laut Cinta. Sedikit saja curahan air dari keempat kelompok tersebut memadai untuk mengairi tanah perkebunan. (2)

Pandangan kulempar ke arah empat laut tersebut dan Aku melihat keempatnya dibimbing mengalir menuju satu samudra nan luas yang menyatukan keempat laut. Aku juga melihat keempat kelompok sungai memancar ke luar dari samudra, lalu kembali memancar lagi setelah tercampur dengan keempat laut. (4)

Berkata Tuhanku kepadaku, “Samudra ini adalah samudra-Ku dan keempat laut itu adalah Laut-Ku, tapi masing-masing pantainya telah berkata (5) bahwa mereka adalah milik masing-masing laut. Seseorang yang melihat samudra tanpa melihat laut dan sungai adalah seorang pelayan yang ikhlas (al-mukhlashiin) (6). Barangsiapa yang menyaksikan kesemuanya disebut sebagai seorang penyaksi (asy-syuhada) (7). Barangsiapa yang menyaksikan sungai-sungai, lalu baru menyaksikan samudra dan kemudian baru keempat laut disebut sebagai pengikut para saksi (8), dan barangsiapa yang menyaksikan keempat laut, lalu sungai-sungai, kemudian terakhir baru samudra, maka akan mengalami kekurangan (penyaksian tak sempurna), namun dia tetap akan diselamatkan (9).”

“Aku telah membangun sebuah kapal (10) untuk siapapun yang berada di bawah penjagaan-Ku, sehingga dia bisa berlayar di atas aliran sungai dengan mengikuti jalan sampai ke akhir Tujuan. Ketika sungai-sungai membawa kapalnya menuju laut-laut, dia akan berlayar sampai ke samudra, dan di sanalah dia akan mengetahui Realitas Al-Haqq, dan rahasia-rahasia pun akan terbuka. Samudra diberikan kepada siapapun yang dikehendaki untuk datang mendekat (al-muqorrobuun). Al-Muqorrobuun (11) akan berlayar selama ribuan tahun (12) sampai mendarat di atas pantainya. Mereka akan dibawa kepada belantara padang pasir dengan kekosongan sunyi senyapnya (13) tanpa batas akhir, dan mereka akan tersesat selama perjalanan itu sendiri; dan jika mereka berhenti berjalan, maka akan kupadamkan keinginan menemukan Tujuan.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Lihat!” Wajah pun kupalingkan. Aku melihat tiga perkampungan (14). Tuhanku membukakan perkampungan pertama (15) bagiku dan di dalamnya betapa terdiri dari rumah-rumah tanpa pintu, bebas terbuka tampak harta karun di dalamnya. Juga aku melihat panah-panah terlempar dan menusuki siapapun yang ingin memasuki rumah tersebut.

Aku lalu meninggalkan perkampungan tersebut. Tuhanku kemudian membawaku masuk kepada perkampungan kedua (17), dimana terdapat rumah-rumah yang juga berharta karun dalam keadaan pintu tertutup rapat namun dengan kunci tergantung. Berkatalah Tuhanku kepadaku, “Ambillah kuncinya, lalu buka tiap rumah, susuri dengan pandanganmu yang cermat!” (19). Diperintahkan begitu, aku pun lantas membuka pintu tiap rumah dan aku melihat betapa mereka semua penuh dengan mutiara, berlian, dan lain-lain perhiasan; jika orang-orang di dunia melihat, mereka pasti akan saling membunuh untuk mendapatkan semuanya.

Berkata Tuhanku lagi kepadaku, “Ambillah yang kau butuhkan dan segera tinggalkan jika selesai.”

Aku menjawab, “Aku tidak membutuhkan mereka.” Pintu-pintu pun kukunci kembali.

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Angkatlah kepalamu.” Kepala pun kuangkat, dan betapa tempat pintu-pintu dan jendela menjadi begitu sangat tinggi. Mereka tak akan bisa dimasuki bahkan dilongok kecuali oleh orang-orang bertubuh sangat tinggi, 100 hasta atau lebih di atasnya (20). Orang yang berada di bawah ukuran tinggi ini hanya akan mampu mengetuk pintu-pintu dengan berusaha meloncat tinggi-tinggi. Jika ketukan berlanjut terus-menerus disertai suara riuh gemuruh ‘berisik’ menuntut untuk dibukakan pintu,  maka sebuah tangan (21) yang memegang sebuah lampu nyala (22) ke luar dari jendela, menyinari mereka sehingga bisa saling memandang satu sama lain dan akhirnya menjadi kenal. Binatang-binatang buas (23) berbahaya berlarian menjauh, ular-ular meninggalkan mereka masuk ke dalam lubang-lubang, dan mereka semua menjadi terselamatkan dari marabahaya yang mereka temui dalam kegelapan (24). Aku juga melihat panah-panah meluncur menusuki salah satu sisi dari rumah-rumah, meskipun dengan jumlah lebih sedikit daripada perkampungan pertama.

Kemudian Tuhanku membawaku menuju perkampungan ketiga (25) dan memintaku untuk memasukinya. Semua pintu rumah-rumah harta karun (26) terkunci tanpa satupun kunci tergantung.

Aku bertanya kepada Tuhanku, “Dimana kunci-kuncinya, Tuhanku?”

“Sudah kulempar ke samudra (27),” Tuhanku menjawab.

Kemudian Tuhanku membangunkan bagiku sebuah kapal (28) dan aku melayari samudra 6000 tahun lamanya (29).”

Ketika aku berada pada jaman millennium ketujuh. Tuhanku berkata kepadaku, “Ketika engkau berada di tengah samudra, lepaskanlah dirimu dari pakaian-pakaianmu (30), dan cemplungkan dirimu setelah semua kunci Aku masukkan. Wahai, di sinilah ‘tempat peristirahatan dan keselamatan’ mereka. Tempat ini dinamakan Kitab yang Nyata (Lauh Mahfudz) (31).”

Pakaian pun kubuka. Begitu cawat mulai kubuka (32), Tuhanku berkata, “Jika bukan karena cawatmu, kau tidak akan mampu untuk terjun ke dalam samudra.” (33)

Bergegas kupasang kembali cawatku dan terjun hingga mencapai dasar samudra aku mengambil kunci-kunci yang tadi dicelupkan Tuhanku (34). Ketika aku sampai ke permukaan, api ke luar dari kunci-kunci dan membakar kapal (35). Aku berenang kembali sampai mencapai rumah-rumah harta karun. Kunci-kunci terbang dari tanganku, bergegas membuka pintu-pintu yang terkunci rapat. Aku pun membuka pintu dan mulai memasuki rumah dimana aku melihat suatu permulaan/ awal tanpa akhirnya (36). Aku berharap melihat sesuatu yang lain namun tiada lain yang ku lihat di dalamnya selain kekosongan.

Tuhanku berkata kepadaku, “Apa yang telah engkau lihat?”

“Aku tidak melihat apapun,” jawabku,

Tuhanku berkata, “Sudah jelas, kan, bahwa tiada apa-apa di dalamnya? Setiap pemilik rahasia telah berbicara di sini dan ini adalah tempat tinggal mereka yang tenang. Tinggalkan!”

Aku pun ke luar, dan melihat segala sesuatu tertulis pada sisi luar pintu (37). Aku perhatikan bahwa hanya sedikit sekali sisi pintu yang terkena tusukan panah.

Kemudian Tuhanku berkata lagi kepadaku, “Segala sesuatu yang telah engkau lihat telah tercipta dan segala ciptaan memiliki ketidaksempurnaan. Mikrajlah sampai kau tidak lagi melihat ciptaan (38).”

Aku pun mikraj.   Aku layangkan diriku ke dalam laut ‘kebingungan’ (hayra). Dan Tuhanku membiarkanku berenang (39) di dalamnya.

SEPULUH

Penyaksian Cahaya ‘Kebingungan’ (Hayra) sebagai kendaraan Untuk Meningkatkan Tiada Wujuud (‘Adam)

Al-Haqq telah merasukiku melalui (Cahaya) kebingungan (hayra) dan Tuhanku berkata kepadaku, “Kembalilah!” Tetapi aku tidak mengetahui harus kembali ke mana. Tuhanku kemudian berkata lagi, “Mendekat!” Tetapi aku tidak mengetahui harus mendekat ke mana. Berkata lagi Tuhanku, “Berhenti!” Tetapi tak juga aku tahu harus berhenti ke mana. Tuhanku pun berkata lagi, “Jangan menghindar!” Semakin lama… semakin aku berada dalam kebingungan, ketidaktahuan, ketidakmengertian…

Kemudian Tuhanku berkata kepadaku, “Kau adalah kau dan Aku adalah Aku.”

“Kau adalah Aku dan Aku adalah kau.”

“Kau bukanlah Aku dan kau adalah Aku.”

“Kau bukanlah kau, dan kau bukanlah sesuatu selain kau.”

“Bahwa Ke-Aku-an adalah Ahad, sementara Ke-Dia-an adalah banyak.”

“Engkau berada di dalam Ke-Dia-an dan Aku berada di dalam Ke-Ahad-an.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Pembuktian kebingungan adalah kebingungan itu sendiri.”

“Kebingungan selalu disertai oleh kecemburuan.”

“Kebingungan merupakan realitas di dalam realitas itu sendiri.”

“Barangsiapa yang tidak tinggal di dalam kebingungan tidak akan mengenal-Ku.”

“ Barangsiapa yang mengenal-Ku tidak mengenal apa itu kebingungan.”

Berkata Tuhanku lagi, “Barangsiapa yang ‘berhenti’ dalam kebingungan; dan para pewaris ilmu tersadar berada di dalamnya; para pengikut berjalan menujunya; para pelayan mencurahkan keseluruhan diri untuknya; awal pembicaraan seorang setia berawal darinya; merupakan tempat dimana para utusan dikirim dan sebuah tempat munculnya ilham dan wahyu para nabi.”

“Barangsiapa berada di dalam kebingungan maka ia akan mencapai kebahagiaan; barangsiapa yang berada di dalam kebingungan akan  menyatukan; barangsiapa yang menyatukan akan memiliki wujuud; barangsiapa yang memiliki wujuud akan terlempar jauh dan barangsiapa yang terlempar jauh akan kembali; barangsiapa yang kembali akan memuja-Ku dan barangsiapa yang memuja-Ku akan memperoleh ganjaran; Satu-satunya Pemberi ganjaran adalah Yang Maha Tinggi, dan terbaik ganjaran adalah Ke-Ahad-an dan berada di dalam kebingungan.”

Kemudian Tuhanku berkata lagi, “Kebingungan bukalah kebingungan. Itu hanyalah bentuk kecemburuanku kepadamu. Cemburuilah Aku! Datanglah pada-Ku dan tutupilah Aku dan jangan mengungkapkan wujuud (mawjuud) yang lain selain Aku.”

“Jadikan mereka (orag-orang) tinggal di dalam kebingungan dan jangan sampai tiada Aku di dalam hati mereka. Bawalah mereka kepada-Ku dan biarkan mereka mengenal-Ku. Dan jangan biarkan mereka mengenal tempat-Ku, tetapi biarkan mereka tahu tentang tempat-Ku tanpa membiarkan mereka mengenal-Ku. Jika mereka sampai dengan begitu cepat ke tempat-Ku, maka mereka akan menemukan-Ku. Jika mereka menemukan-Ku, maka tiada apapun yang akan mereka lihat. Jika mereka melihat sesuatu, maka tempat-Ku tidak akan mereka lihat. Jika mereka tidak melihat tempat-Ku, maka mereka akan melihat-Ku.”

Berkata lagi Tuhanku, “Inilah perhiasan-Ku (Al-Haqq). Bawakan perhiasan ini kepada masing-masing mereka. Barangsiapa yang mengambilnya, akan berada di dalam-Ku dan Aku adalah dia. Barangsiapa yang tidak mengambilnya, tidak akan berada di dalam-Ku dan Aku bukanlah dia.”

“Lemparkan perhiasan ini ke dalam api. Jika terbakar, maka benar merupakan perhiasan-Ku. Dan jika tetap utuh, maka ia bukan perhiasan-Ku.”

“Jika terbakar, ia bukanlah perhiasanku; namun jika tetap utuh, maka ia merupakan perhiasan-Ku. Barangsiapa yang mengambil perhiasanku bukanlah Aku, dan barangsiapa yang meninggalkannya adalah Aku.”

“Di dalam kebingungannya, Tiada wujuud (‘adam) menyaksikan: ‘Aku Tuhan, tiada Tuhan selain Aku.’”


SEBELAS

Penyaksian Cahaya Ketuhanan (Uluuhiyya) sebagai Kendaraan untuk Membukakan Laam Alif

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya Ketuhanan sebagai kendaraan untuk membukakan laam alif. Tiada penjelasan yang mampu mengungkapkannya sementara bahasa simbolik begitu terbatas.  Penjelasan, kualitas, nama dan penggambaran pun selesai/ berhenti dengan “Perkataan-Nya”, “Perkataan-Ku”, “engkau”, “mendekat”, “Pergi jauh”, “berdiri”, “duduk”, dan lain-lain.

Tiap hal menjadi jelas bagiku, tapi tiada yang aku lihat. Aku telah melihat segalanya, tapi tidak juga aku melihat apapun.

Semua tujuan berhenti

semua sebab dihapus

hijab lenyap

Tiada sisa selain tersisa

fana memfanakan dari fana

di dalam-“Ku.”

DUA BELAS

Penyaksian Cahaya Ahadiyyah untuk Meningkatkan Pengabdian (U’budiyyah)

Al-Haqq merasukiku melalui Cahaya Ahadiyyah dengan maksud untuk meningkatkan pengabdianku kepada-Nya. Berkata Tuhanku kepadaku, “Ahadiyyah-Ku berhubungan dengan pengabdianmu melalui LAAM ALIIF.”

“Aku lah Akar dan engkau batangnya.”

“Akar adalah engkau dan batang adalah Aku.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Engkau satu (waahid, masih dapat dibagi; tidak lagi menjadi satu, tapi menjadi dua = shaf’iyya) dan Aku Al-Ahad (tidak dapat dibagi). Jadi barangsiapa yang masuk, lalu keluar dari Ahadiyyah, akan melihatmu dan barangsiapa yang tetap tinggal di dalam Ahadiyyah akan melihat dirinya sendiri. Hal itu bagai rangkaian urutan angka-angka ganjil. Tidak akan menjadi ganjil jika mereka bisa dibagi.“

“Hanya tidur setelah melakukan shalat witr.”

“Tidak ada dua shalat witr dalam satu malam, sama halnya dengan hanya salah satu bagian dari kita (engkau atau Aku) yang tetap ada.”

“Lakukanlah ibadah shalat maghrib (3 rakaat, ganjil) dan jangan lakukan ibadah shalat malam tanpa melanjutkannya dengan witr (ganjil); sehingga jumlah total maghrib dengan shalat witr menjadi genap.” 1.

“Aku telah menghijabmu dengan Keahadan-Ku, namun jika tidak, maka engkau tidak akan mengenal-Ku. Dan tidak akan pernah mengenal-Ku.”

“Jangan mengaku-aku telah menyatu di dalam-Ku (wahadtul wujuud) padahal engkau belum, maka kau akan menjadi seorang Nasrani; jika engkau mempercayai adanya wahdatul wujuud, maka kau adalah seorang pengikut buta; jika engkau mengaku-aku bahwa kau seorang muslim (berserah diri), maka kau adalah seorang munafik; dan jika engkau mengaku-aku telah bersahabatkan Tuhan, maka kau adalah seorang Zoroaster.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Adalah suatu keni’matan berada dalam keadaan makan; makan buah, yang berasal dari banyak rerantingan dahan (cabang) yang melekat pada batang sebuah pohon.  Jika bukan demi bumi, batang tidak akan berdiri tegak. Jika bukan demi batang, maka tidak akan ada dahan (cabang). Jika bukan demi dahan (cabang), maka buah tidak akan ada. Jika bukan demi buah, maka makanan tidak akan ada dan tanpa makanan, tidak ada keni’matan. Jadi, intinya semuanya sebenarnya adalah demi bumi; dan bumi membutuhkan air. Air membutuhkan awan. Awan membutuhkan angin. Angin bersifat menghembuskan (Riih) ‘kepada’, berasal dari Kehadiran Illahi. Mikrajlah sejak di sini, lihat, ni’mati, tapi jangan berbicara.”

Qs. 38 : 36

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ [٣٨:٣٦]

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin (riih) yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya.”

Tuhanku berkata lagi kepadaku, “Rawatlah ajaran setiap Rasul dan para wali-Ku dengan menjadi pengikut mereka.” 2.

“Aku telah menulis Taa-Haa’ (merujuk pada realitas Nabi Muhammad saw.) pada bintang Ursa Minor (Qutb, Kutub, simbol tertinggi dari alam semesta).”

“Kutub sebelah Kanan (selatan, huruf laam) merupakan kutub sebelah Kiri (utara, huruf aliif), dan Aku telah menjelaskan hal ini dalam Qs. Al-Hadiid.”

Qs. 57 : 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [٥٧:٣]

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir (tampak) dan Yang Bathin (gaib, tersembunyi); dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

“Jika terdapat dua Sumbu (qutbaan), maka bola langit tak akan berputar; dan jika Kutub tidak ada dua, maka struktur alam semesta akan kacau dan bola langit akan menghentikan perputarannya.”

Berkata lagi Tuhanku kepadaku, “Jangan melihat pada wujuud Kutub-kutub, tapi lihatlah hakikat tersembunyi dari letak berlawanan keduanya. Sekarang katakan kepada-Ku sesuai dengan penglihatanmu: dua atau satukah mereka?”

“Dalam hubungan antara laam dan aliif terdapat rahasia yang Aku simpan dalam Kata: ‘Tuhan adalah Dia Yang Meninggikan lelangit tanpa bantuan siapapun’.”

Qs. 13 : 2

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ [١٣:٢]

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.”

TIGA BELAS

Penyaksian Cahaya Sejatinya Tujuan (‘Amd, Tujuan yang mengokohkan perjalanan) sebagai Kendaraan Mengenal Sejatinya Diri (Fardaaniyya, “Aku yang spesifik hanya satu, khas, tak sama dengan orang lain.”)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya Sejatinya Tujuan (‘amd) sebagai kendaraan untuk mengenal sejatinya diri, dan Tuhanku  berkata kepadaku, “Aku telah menutupi  dirinya (Cahaya Sehatinya Tujuan: ‘amd) dari pandangan-pandangannya ke dalam fana dan Aku telah membukakan baginya penghidupan. Aku telah menutupi baginya apa-apa yang manifes dan membukakan baginya apa-apa yang tertutup (hijab) dan tersembunyi (ghaib).”

Kemudian Tuhanku melanjutkan perkataan-Nya kepadaku (Ibn ‘Arabi), “Aku telah membukakan diri-Ku ke dalam fanamu, dan menutupi pandangan-pandanganmu dengan hijab-hijab sehingga mereka (pandangan-pandangan dengan hijab-hijab) tidak bisa mengenal sejatinya tujuan.”

“Sebuah dome (keseimbangan) telah aku takdirkan bagimu, meletakkan ‘amd di tengah qalbmu, dan kupancang dengan kukuh. Sekarang kuijinkan setiap orang untuk masuk ke dalamnya, melihat bagaimana sejatimu bekerja.”

Beberapa orang dihijab oleh dome (keseimbangan) itu sendiri, melalui  kehalusan dan keindahannya. Lainnya dihijab oleh pancang dan mereka melekatkan diri padanya. Yang lain dihijab oleh tali temali dome (keseimbangan) dan tinggal bersama mereka. Yang lain lagi dihijab oleh hiasan dan isi dari dome (keseimbangan). Tetapi tiada seorangpun yang melihat ‘amd dari dome (keseimbangan). Mereka hanya akan mampu melihat ‘amd jika mereka masuk dngan berkata, “Sebuah dome (keseimbangan) tanpa ‘amd tidak bisa diyakini kebenarannya.” Lalu akhirnya mereka pun mencari sampai mereka menemukan ‘amd. Mereka ingin mengetahui mengapa mereka tak mampu melihat  ‘amd. Dan akhirnya mereka pun mengetahui penyebabnya, yaitu adanya hijab tebal yang menutupi pandangan bathin mereka. Mereka pun mengambil ‘amd, dan ketika mereka mendapati betapa kemilaunya ‘amd, tak sadar mereka pun merobek-robeknya; membuangnya ke tanah dan ‘amd berterbangan menjauhi mereka sehingga dome (keseimbangan) pun sampai kepada orang lainnya lagi (yang masih tersisa).

Lalu Tuhanku berkata kepadaku, “Jika engkau melihat setiap orang bergulingan ke sana ke mari, bertabrakan, bertengkar satu sama lain dan saling menyakiti, jangan bimbing mereka! Biarkan mereka bagai tumpukan ikan dalam jaring nelayan! Ketika Aku melihat mereka meributkan ‘amd, maka akan Aku kirimkan api yang akan membakari mereka, dan bersama mereka akan aku bakar dome (keseimbangan) beserta isi, hiasan, dan pancangnya. Kemudian Aku bangkitkan mereka, dan berkata, ‘Lihatlah apa yang telah kalian lakukan’. Begitu mereka melihat, mereka hancur menjadi debu.”

Kemudian Tuhanku melanjutkan perkataannya, “Teruslah bersama (ma’iyya dan ittihaad) dengan ‘amd. Jika engkau tidak termasuk golongan mereka, maka engkau akan binasa dan jika engkau berada di dalam golongan mereka, maka engkau akan binasa.”

“Barangsiapa yang melihat ‘amd telah terhijab. Pahamilah hal itu, bahwa terlalu mementingkan‘amd akan membinasanmu, karena perjalanan masih harus terus berlanjut… (menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah).”

EMPAT BELAS

Penyaksian Cahaya Penjelasan (Hijaaj) sebagai Kendaraan untuk Menemukan Keadilan (‘Adl)

Al-Haqq telah merasukiku melalui Cahaya Penjelasan sebagai kendaraan untuk menemukan keadilan. Aku telah melihat dunia dalam keadaan rata terhampar dan tiada berisi apapun juga.

Dia berkata kepadaku, “Wahai, Pelayanku, amati apa yang aku lakukan terhadap orang-orang yang suka berselisih dan berdebat, senang menonjolkan diri dengan ambisi dan penemuannya. Aku adalah Hakim dari semuanya.”

Aku (Ibn ‘Arabi) telah melihat atap rumah dilemparkan, tiang-tiang terbakar, tembok-tembok dan tirainya terbuat dari aspal yang sangat panas.

Dia berkata kepadaku, “Rumah ini untuk mereka. Apakah Aku akan menjadi objek perdebatan mereka? Atau bisakah tiada seorangpun yang berbicara tentangku selain Diri-Ku Sendiri? Apakah mereka mampu mendefinisikan Aku? Betapa kacau balaunya bayangan mereka tentang-Ku! Biarkanlah mereka memperoleh apa yang pantas mereka terima!”

Lalu berkatalah Dia lagi, “ Wahai, Pelayan-Ku, jika para pengikut dari pelbagai kalangan memasuki rumah ini, putuskanlah: pergilah bersama mereka. Jika mereka selamat, maka engkau selamat. Dan jika mereka binasa, maka engkau binasa. Dengarlah dengan Cahaya Pendengaran dan bersaksilah dengan Cahaya Penyaksian! Hal itu adalah suatu Keseimbangan yang Adil dan merupakan bentangan Jalan Kebenaran. Neraka Keterpecahbelahan akan musnah dan Surga Persatuan akan mendekatimu.”

Lalu datanglah sebuah suara, “Dimanakah posisi para rasionalis dengan argument-argumen mereka?”

Para filsuf pun dibawa bersama pengikut mereka dan akan masuk ke dalam rumah ini.

Mereka  ditanya, “Untuk apa akalmu engkau gunakan?”

Mereka pun akan menjawab, “Untuk menyenangkan-Mu.”

Dia (Tuhan)  bertanya lagi, “Bagaimana kau tahu tentang hal yang menjadi kesenangan-Ku? Apakah jalannya dengan menggunakan akalmu atau dengan mengikuti para nabi dan rasul-Ku?”

Para filsuf itu menjawab, “Hanya dengan akal kami.”

Dia pun bertanya lagi, “Ternyata tiada yang kau pahami dan tiada yang kau peroleh; kau melewatkan pengenalan dirimu sendiri. Wahai, Api, apakah akan kau bakar mereka?”

Aku (Ibn ‘Arabi) mendengar Setiap filsuf menangisi diri yang akan terkena bencana bakaran api. Lalu aku  pun bertanya, “Siapa yang akan menghukum mereka, wahai, Tuhanku?”

Dia (Tuhan) berkata kepadaku, “Akal mereka, yang sedari dulu selalu mereka agung-agungkan, selalu mereka puja. Tiada yang mempertanyakan mereka selain mereka sendiri, dan tiada yang akan menghukum mereka selain mereka sendiri.”

Lalu datang lagi sebuah suara, “Dimanakah posisi para ilmuwan?”

Para ilmuwan akan dibawa kepada empat malaikat yang terlihat kasar dan kuat dengan tongkat melengkung pada tangan mereka.

Para ilmuwan bertanya, “Wahai, Malaikat Tuhan, apa yang kalian inginkan dari kami?”

Empat malaikat berkata, “Untuk menghancurkan dan membuat sengsara kalian.”

“Mengapa?” bertanya lagi para ilmuwan.

Malaikat menjawab, “Selama  di dunia, engkau meyakini bahwa kami adalah tuhanmu dan engkau memuja-muja kami, tidak memuja Tuhan. Engkau menganggap bahwa sebab akibat yang ada berasal dari tangan kami, bukan dari Tangan Tuhan. Wahai, ketahuilah, bahwa Tuhan pun telah memberikan kekuatan kepada kami untuk menyiksamu dengan bakaran api neraka.”

Maka setiap ilmuwan pun dilemparkan ke dalam kobaran api neraka dalam keadaan terjungkir balik.

Sebuah suara datang kembali, “Dimanakah posisi para materialistis?”

Para materialistis pun dibawa, dan kepada mereka Tuhan berkata, “Kalianlah yang telah mengatakan bahwa hanya waktu yang bisa menghancurkan kalian. Tidakkah kalian mempunyai qalb yang meyakini bahwa kalian akan berada di tempat ini?”

Mereka menjawab, “Tidak, wahai, Tuhan kami.”

Dia (Tuhan) berkata, “Tidakkah iri dengki telah membawa kalian semua kepada tempat penyiksaan ini? Kalian telah mengingkarinya dan berkata, ‘Ah, tiada yang pernah Tuhan katakan.’  Menjauhlah kalian semua dari-Ku, tiada ampunan bagi kalian!”

Para materialistis pun dilemparkan ke dalam kobaran api neraka dalam keadaan terjungkir balik.

Sebuah suara datang kembali, “Dimana posisi para mu’tazilah,  yang menyimpang dari shirothol mustaqim?”

Para Mu’tazilah pun dibawa bersama, dan kepada mereka pun Tuhan lalu berkata, “Kalian telah berkata dusta tentang apa yang Tuhan katakan. Kalian berkata dan berperilaku sesuai kebutuhan hawa nafsu kalian.”

Para mu’tazilah pun lalu dilemparkan ke dalam kobaran api neraka dalam keadaan yang terjungkir balik.

Suara yang tadi datang kembali, “Dimana posisi para spiritualis?”

Mereka pun dibawa, dan aku (Ibn ‘Arabi) melihat bahwa kebanyakan mereka tampak mengerikan dan memiliki kedengkian satu dengan lainnya, setiap mereka senang dengan keadaan susah yang lainnya. Terkecuali ada satu kelompok spiritualis yang terpisah dari kelompok kebanyakan tersebut, mereka berada dibawah perlindungan para nabi dan keikhlasan. Mereka berada di dalam Rumah Perlindungan.

Tuhan berkata kepadaku, “Bergabunglah bersama mereka dan ikutilah jalan mereka jika engkau menginginkan Keselamatan. Namun jangan ikuti mereka (ma’a-hum : yang tidak menyertai kehadiran Allah) ketika MIIM ( ﻤ ) terakhir tersisa (ketika ma’a-hum tidak menghilangkan MIIM terakhir, maka Tuhan tidak disertakan. Ma’a-hum menjadi Ma’a-hu = menyertakan Allah). Ketika MIIM terakhir hilang dan kelompok mereka masih ada, maka bergabunglah bersama mereka. Namun ketika kelompok mereka telah bubar, maka engkau telah berlepas diri dari mereka. Dan lakukan apa yang engkau inginkan.”

Aku (Ibn ‘Arabi) melihat tujuh kelompok spiritualis ditanya dan terbukalah pelbagai hal tentang mereka: hawa nafsu telah mempermainkan mereka dan Setan mempergunakannya untuk menggoda mereka. Kelompok yang lain (kelompok ke delapan) telah memperoleh ampunan (Di Dalam Tuhan), namun ketujuh kelompok yang tadi terjatuh ke dasar api neraka.

Kepada ketujuhnya dikatakan, “Inilah akibat dari ketidakimananmu. Sekarang dimana tuhan-tuhan yang selalu engkau atasnamakan? Katakanlah, Al-Haqq telah datang dan kebathilan telah lenyap.”

Aku (Ibn ‘Arabi) memasuki Taman dengan kelompok satunya lagi. Aku hilangkan MIIM sebagaimana Dia telah berkata kepada-Ku, dan yang tersisa adalah kebersamaan dalam kelompok Mu’tazilah dengan keterhijaban dari 70.000 alam. Kebersamaan dalam kelompok Mu’tazilah tidak membuka keterhijaban hingga kebersamaan itu lenyap, sehingga tiada hijab ataupun kelompok yang tersisa.

Lalu kelompok ke delapan pun berkata, “Wahai, Tuhan, berikan kepada kami apa yang telah Engkau janjikan!”

Seorang pelayan (Ibn ‘Arabi) yang membutuhkan cinta kasih Tuhan pun berkata, “Dia Membuka Diri-Nya Sendiri kepada setiap mereka dalam bentuk yang mereka kenali; dan penyaksian-penyaksian yang diperoleh pun berbeda, satu sama lainnya memiliki keindahan yang berbeda.”

Dia (Tuhan) berkata kepadaku (Ibn ‘Arabi), “Inilah bentukmu, tunjukkan dirimu  kepada mereka dalam  bentukmu.”

Dia berkata lagi, “Masukilah rumah ini dan bakaran apinya akan berganti dengan Cahaya. Masuki kobarannya dan nanti akan berganti dengan Surga. Jangan masuki sebuah tempat kecuali melalui-Ku dan jangan melihat apapun selain Diri-Ku.”

Percakapan-percakapan sekarang beralih kepada orang-orang yang memiliki perbedaan pendapat dan saling berselisih, dan Tuhan bertanya kepadaku (Ibn ‘Arabi), “Siapa yang selamat?”

Aku (Ibn ‘Arabi) menjawab, “Siapapun yang tidak memiliki perbedaan pendapat dan tidak saling berselisih.”

Dia (Tuhan) berkata, “Katakanlah: Hanya Tuhanlah tempat kembali segala perselisihan dan urusan, dan jika menghendaki, maka Dia akan Membimbing kalian semuanya menuju Kebenaran. Jadi, barangsiapa yang mengikuti kata-kata Tuhan, maka dialah yang selamat.”

Berkata lagi Dia kepadaku, “Kembalilah, dan beritahu yang lain: ‘Allahu Akbar! Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala sesuatu yang palsu (tidak murni)!’ Dan dalam maqom ini, berhati-hatilah dan tinggalkanlah jauh-jauh semua jenis golongan di atas.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ