بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tarjumaan al-Asywaaq

Satu
1. Pedulikah aku untuk mengetahui ahwal (kondisi-kondisi batin) tiap perjalananku?
2. Pedulikah aku untuk mengetahui maqom (potensi cahaya iman) tiap perjalananku?
3. Akankah engkau (ahwal-maqom) menyelamatkan aku, ataukah denganmu aku menjadi binasa?
4. Para pecinta kehilangan Jalan Cinta dan menjadi gila karenanya!

Dua
1. Ketika berpisah, mereka (jiwa-raga) tidak diijinkan untuk mengendarai unta putih-kemerahan (ketika jiwa dan raga tidak menyatu, ahwal-maqom tidak layak dijadikan kedudukan bagi raga) hingga tiba masanya keelokan mereka (jiwa-raga) melebih keelokan para burung merak.
2. Setiap burung merak memiliki lirikan maut dan kekuatan tak terbatas: engkau (jiwa-raga) akan teramat senang menyaksikan bahwa tiap burung merak adalah seorang Bilqis bertahtakan mutiara.
3. Ketika ia (Bilqis) berjalan di atas lantai kaca, engkau akan melihat matahari pada bola langit yang berada di dalam dada Idris.
4. Ketika Bilqis membunuh dengan lirikan mautnya, kata-katanya menyelamatkan kehidupan, sebagaimana Isa yang telah menghidupkan burung yang telah mati.
5. Jejak perlahan langkah kakinya bagaikan terang benderang Taurat dengan cahayanya, dan lantas aku pun mengikuti langkahnya, menapaki dalam jejaknya bagai seorang Musa yang diperintahkan membuka sandalnya.
6. Ia seorang uskup perempuan, salah satu putri Roma, teramat bersahaja: kau lihatlah Cahaya Kebaktian terpancar dari sosoknya.
7. Yang tak mampu melihat, hanya akan melihat keliarannya, sehingga tak ada yang menghendaki untuk menjadikannya teman; sering didapati ia berada sendirian seolah-olah terasing dalam kamar bak makam.
8. Ia telah membingungkan para pelajar dari semua kalangan agama: setiap pelajar dari kaum Mazmur Dawud, setiap intelektual Yahudi, dan setiap pendeta Nasrani.
9. Hingga (jika) dengan perilakunya ia mengamalkan injil, maka engkau nanti akan menganggap kami adalah para imam, ulama, dan dekon.
10. Hari ketika aku berada di atas jalan (berjalan), aku bersiap untuk berperang melawan musuh ketidaksabaranku, satu per satu.
11. Ketika jiwaku mencapai tenggorokan, Aku akan menyaksikan Keindahan dan Keagungan untuk membantu kebebasanku,
12. Dan ia berkata, “Semoga Tuhan melindungi kita dari kejahatan, dan semoga raja memenangkan perang melawan iblis!”
13. Begitu ia akan berangkat (dengan untanya), Aku pun berseru, “Wahai, pengendara unta putih-kemerahan, janganlah berjalan berjauhan darinya!”

Tiga
1. Wahai, Dua temanku, yang tadi berada di al-Khatib. Sekarang keduanya menuju La’la dan mencari sumber-sumber air di Yalamlam,
2. Di sana merupakan tempat tinggal orang-orang berpengetahuan; tempat kunjungan ketika aku berpuasa, persinggahanku, dan salah satu tempat suci bagiku dan perayaan pestaku.
3. Jangan biarkan aku melupakan bagian sekecil apapun dari al-Muhassab Mina, al-Manhar al-A’la, dan Zamzam.
4. Tempat Muhassab mereka bagai hatiku, karena disanalah tempat mengukir perhiasan, dan pengorbanan mereka adalah jiwaku, sementara kebaktian mereka merupakan darahku.
5. Wahai, Pengendara Unta, jika kedatanganmu dengan maksud hendak menuju Haajir, maka hentikanlah tungganganmu sebentar, lalu berikan sebuah salaam.
6. Berhentilah di samping perkemahan tenda merah, dengan padang rumput terhampar padanya; beri hormat mereka yang menghormatimu maupun yang merasa terganggu dengan kedatanganmu.
7. Jika mereka membalas salaammu, berikan kembali salaam kepada mereka, biarkan Angin TImur sekali lagi memberikan salaam kepada mereka; dan jika mereka hanya diam, biarkan saja.. sekarang teruskan perjalanan bersama untamu dan teruslah berjalan pada jalan-jalan mendakinya.
8. Hingga tiba pada Sungai ‘Isa, perjalanan mengendarai unta pun terhalang; dan tempat itu merupakan tempat dimana perkemahan tenda-tenda putih berjajar di sepanjang tepian sungai.
9. Sekarang panggillah Da’d, ar-Rabaab, Zaynab, Hind, Salmaa, Lubnaa.
10. Tanyakan kepada mereka apakah al-Halba adalah Dia (Allah dengan identitas feminine), Pemilik Tangan Yang menunjukkan sinar matahari tempat bentangan Senyum-Nya?

Empat
1. Salaam, Salmaa dan siapapun yang tinggal di dalam Perlindungan, yang mencintai dengan lembut sepertiku, yang senang memberikan salaam.
2. Dan bahaya apa yang mengintainya jika ia membalas salaamku? Seseorang dengan Kecantikan, tiada terhalang untuk membalas salaam.
3. Mereka diperjalankan ketika malam dengan kegelapannya berakhir, dan aku pun lalu berkata kepada Salmaa, “Kemalangan seorang perindu Cinta, diasingkan dari masyarakat dan dianggap gila,
4. Siapa yang begitu rindu akan tenggelam dalam naungan-Nya, dan kecepatan anak panah tertuju ke manapun Dia lepaskan arahnya.”
5. Dia (Salmaa) tertawa, memperlihatkan gigi-gigi depannya, dan sebuah cahaya memancar.
6. Dan dia pun berkata, “Tidak cukupkah bagi-Nya jika aku berada di dalam Hati-Nya dan tak pernah lepas dari dekapan-Nya? Tidak cukupkah?”

Lima
1. Kerinduanku memandang Tanah Tinggi dan kesedihanku memandang Tanah Rendah, sehingga aku berada di antara Najd dan Tihaama.
2. Dua tempat itu pertentangan yang tidak akan bertemu; keterceraiberaian diriku menjadi tak tersatukan.
3. Apa yang harus kulakukan kalau begitu? Apa yang harus aku baktikan kalau begitu? Wahai, Pemilih Terbaik, tunjuki aku, jangan biarkan aku hidup dengan kesalahan!
4. Tarikan nafasku begitu panjang, tinggi membumbung di udara dan deraian air mata membanjiri pipiku.
5. Unta-unta, karena perjalanan panjang menjauhi rumah mereka, merasakan nyeri pada kaki dan menjeritkan tangisan pilu merindui Kekasih.
6. Setelah mereka pergi, hidupku tiada namun Ada. Rayakan perpisahan untuk tiada dan untuk penantian!

Enam
1. Ketika mereka hilang, kekuatan dan kesabaran pun hilang. Mereka hilang, meskipun mereka menghuni inti qalbku.
2. Aku menanyakan dimana para pejalan beristirahat pada waktu siang, dan aku sendiri yang menjawab, ‘Waktu siang, tempat istirahat mereka adalah tempat di mana Pohon Shih dan Baan menyerbakkan wewangiannya
3. Lalu kataku kepada angin, “Pergi dan susullah mereka, mereka sedang menanti dalam bayangan duka cita,
4. Dan sampaikan kepada mereka salam dari seorang laki-laki yang sedang berduka cita hatinya karena ia terpisah dari kelompoknya.”

Tujuh
1. Ketika aku mencium Batu Hitam, sekelompok wanita yang ramah mengerumuniku, wajah mereka tanpa cadar; lalu tiba-tiba menyerangku dengan kata-kata yang menusuk.
2. Mereka menutupi luka bakar pada wajah mereka, lalu berkata kepadaku, “Hai, sadarlah kamu! Sadarlah kamu akan kematian jiwa yang senantiasa mengintai kita.
3. Sudah berapa banyak jiwa-jiwa yang telah kita bunuh di Bumi al-Muhasaab Mina ini,
4. Di Sarhat al-Waadi, Sepanjang pegunungan Raama dan Jaam, dan sebaran ‘Arafaat!
5. Saksikanlah betapa Keindahan telah merampok hati seorang yang begitu rendah hati bersahaja, hmm… karena itukah maka ia dinamakan dengan pemilik kebijakan?
6. Tempat Perjanjian kita berada di Zamzam, disamping tenda yang berada di tengah-tengah perkemahan, disamping batu-batu besar.
7. Di sanalah tempat para perindu menderita sakit gila disembuhkan oleh Kekasihnya… hmm, aroma parfum itu telah membawa mereka datang ke tempat itu, akhirnya.
8. Tatkala mereka ketakutan, mereka biarkan terurai rambut hitam panjang mereka, sehingga mereka tersembunyi; seolah-oleh dirampok oleh kegelapan…

Delapan
200310, Sabtu, 11.28

1. Tempat tinggal mereka telah rusak, tetapi hasratku akan mereka selalu diperbaharui dan tidak pernah berkurang.

Sebelas
Kamis, 210110

1. Wahai, para Merpati yang tinggal di Pohon Araak dan Baan, sungguh malang sedu sedan kalian! Tolong, jangan tambah penderitaanku dengan ratap tangismu!
2. Sungguh malang kalian, oohh…! Jangan engkau buka, dengan raungan dan tangisan, keinginan-keinginan tersembunyi dan kesedihan-kesedihan yang aku rahasiakan!
3. Aku mendatanginya, pada malam dan pagi, dengan tangis sedih seorang perindu dan rintihan menyayat seorang pecinta.

Selasa, 090210, 2.54

4. Dua Ar-ruh berhadapan di dalam semak belukar yang mengelilingi Pohon Ghada dan mengikatkan rerantingannya kepadaku, dan menjadikanku hilang lenyap diselubunginya;
5. Membawakanku air mata kerinduan dan kesedihan tiada terperi
6. Wahai, siapa yang mampu meyakinkanku akan pemenuhan janji Jam’ dan al-Muhassab Mina? Apakah Dhaat al-Athl? Ataukah Na’maan?
7. Dari hari ke hari, betapa hatiku dibungkus oleh mereka, dengan hujaman gelora dan kobaran cinta, dan mencium pilar-pilarku,
8. Waktu terbaik bagi seorang manusia untuk mengelilingi Ka’bah, dimana bukti menunjukkan bahwa akal pikiran tak mampu membahasakan rasa dengan sempurna,
9. Dan aku ciumi batu-batu yang terdapat di dalam Ka’bah, meskipun aku seorang Naatiq (tingkatan nabi). Wahai, tingkatan bagaimana yang akan kujadikan perbandingan Kuil dengan manusia sempurnanya?
10. Betapa seringnya mereka berjanji dan bersumpah bahwa mereka tak akan berubah, tetapi seorangnya malah menghampiri henna (nama sebuah pohon berduri berwarna cokelat kemerah-merahan), tidak tetap berada pada Gandum.
11. Dan salah satu keindahan tertinggi adalah seekor rusa berkerudung, dengan kuku bercat merah dan kedipan mata memukaunya,
12. Seekor rusa yang makanannya antara hati-otak dan isi perut. Wahai, Kekagumanku! Sebuah taman pun terbakar!
13. Hatiku menjadi mampu berbentuk apapun: seekor rusa dengan kerdipan matanya yang memukau, seorang pendeta kristiani
14. Sebuah kuil para berhala, Tempat Suci Ka’bah, Taurat, dan Quran.
15. Agamaku adalah Cinta: apapun jalan cinta sang unta, itulah agama dan imanku.
16. Peta perjalanan kami berada di dalam Bishr, seorang pecinta dari Hindu beserta saudarinya, Qays, Kubnaa, Mayya, dan Ghaylan

Tiga Belas
Jumat, 220110, 09.44 wib.

1. Seekor burung merpati menangis meraung-raung dan seorang kekasih merasa terganggu,
2. Deraian air mata jatuh dari matanya karena kesedihan

Empat Belas
190210, 11.51

1. Dia melihat cahaya di timur dan betapa merindunya dia kepada timur; tetapi jika lama ia menetap di barat maka tidaklah ia akan merindukan timur.
2. Keinginanku adalah cahaya dan sinarnya, bukan tempat mereka berada dan bukan pula bumi
3. Angin timur berhubungan denganku; darinya aku dipermudah untuk melaksanakan syariat dengan tertib, lepas dari pikiran, hasrat, ketaksadaran, dan kesengsaraan karena merasa sulit melaksanakannya,
4.
5. Bahwa ‘Dia yang menjadi Kekasihmu berada di antara tulang-tulang rusukmu: tiupan ruh mengombang-ambingkannya dari satu sisi ke sisi lainnya.
6. Aku berkata kepada angin timur, “tolong bawakan sebuah pesan baginya dan katakan bahwa wujuudnya adalah semacam cahaya di dalam hatiku.
7. Jika cahayanya padam, maka akan menyatu selamanya, dan jika bakarannya terus menyala, maka sang pencinta tak akan disalahkan.

Enam Belas
160310, Selasa, 13.39

1. Dengan cekatan, perempuan-perempuan menaiki punggung unta-unta yang perkasa dan menggiring sekawanannya yang bagai sekumpulan kelereng untuk membentuk lingkaran purnama,
2. Dan menjanjikan kepada hatiku bahwa mereka harus kembali; tetapi, akankah janji dipenuhi?
3. Perempuan itu terhormat dengan jemari yang terwarnai henna (sejenis pewarna dari daun pacar) sebagai daya pikatnya, dan biarkan air mata menetes jatuh yang akan mengobarkan api
4. Tatkala ia kembali kepada tujuannya: al-Khawarnaq dan as-Sadir,
5. Aku berteriak, “Neraka!”
Perempuan itu bertanya, “Apakah kau baru saja meneriakkan neraka kepadaku?”
6. Kalau begitu, jangan hanya diteriakkan sekali; teriakkan berulang kali, dan dengan “Hindari neraka!”
7. Wahai, Merpati Pohon Araak, kasihanilah aku! Perpisahan semakin dekat dengan adanya rintihan dan erang tangismu
8. Wahai, merpati, kobarkanlah kerinduan kekasih, bangkitkan kecemburuan,
9. Cairkanlah hatiku, jangan tertidur, lipatgandakan hasrat dan gairah
10. Enggan mati dikarenakan erang tangismu, dan kami bermohon padanya untuk memisahkan kami sementara waktu,
11. Barangkali sebuah nafas yang berasal dari zephyr Hajir akan menghapuskan awan – mendung kita,
12. Dan dahaga ruh-ruhmu akan terpuaskan; tetapi wahai, pada kenyataannya selama ini awan-awanmu hanya akan berlalu hilang lebih cepat daripada sebelumnya.
13. Wahai, Pengamat bintang, jadilah engkau sebagai anugerah yang menyenangkan bagiku, dan wahai, Pengawas yang cermat di atas Cahaya, jadilah engkau sebagai sahabat seperjuanganku kala malam tiba!
14. Wahai, tukang tidur di malam hari, bagimu telah dipersilahkan untuk tidur dan menetap dalam kuburanmu bahkan sebelum matimu yang sebenarnya.
15. Jika engkau sedang jatuh cinta kepada seorang perawan yang penuh kasih sayang, maka engkau akan merasa beruntung, karena melaluinya engkau beroleh kebahagiaan dan kesenangan
16. Berikan perempuan itu minuman anggur yang mendekatkan, bercakap-cakaplah secara rahasia dengan matahari-matahari, dan sanjunglah purnama.

Tujuh Belas
1. Wahai, pengendara unta putih kemerahan, jangan terus melaju; berhentilah! Ah, aku lumpuh sekarang.
2. Hentikan unta itu dan tarik kencang tali kekangnya! Bermohon sangat aku pada-Mu, Tuhan, dengan seluruh jiwa ragaku, tolong bantu sang pengendara untuk menghentikan untanya!
3. Betapa jiwaku menghendakinya, namun lihatlah pembangkangan kakiku. Betapa malang nasibku… dan siapakah yang akan mampu menolongku?
4. Betapapun ahlinya sang seniman bekerja, ia tak akan mampu bekerja jika tiada tahu dimana letak perkakasnya. Wahai, dimanakah peralatanku?
5. Pindahlah ke samping, bergeraklah dari arah kanan lembah tempat berdirinya perkemahan. Wahai, Lembah beserta isi kandungan yang kau ikhlas dengannya, Berkah Allah bagimu!
6. Kau telah mengumpulkan gumpalan kotoran hitam yang berada dalam selaput hatiku demi kebersihan jiwa, nafas, dan inti terdalam qalbku.
7. Layakku cintaku diberkahi jika matiku tidak dikuburkan di Haajir atau Sal’ atau Ajyad?

Ket.
Haajir: Black Stone?
Sal’ : Sebuah gunung dekat Kota Madinah.
Ajyad: Sebuah gunung dekat Kota Mekkah.

Delapan Belas
09.51

1. Berhentilah sebentar di tiap perkampungan dan bereskan segala keping kehancuran, lalu bertanyalah dengan sebuah pertanyaan,
2. “Di mana para pecinta? Ke mana mereka membawa unta-unta mereka?” Penduduk kampung menjawab, “Mereka membawa unta-unta pada sebuah perjalanan terjal dan mendaki melintasi gurun berkabut.
3. Tapi ketika engkau lihat, mereka tampak sedang berjalan melintasi taman demi taman: kabut mengubah pandangan mereka.”
4. Mereka berjalan, mengharapkan al-‘Udhayb, barangkali mereka boleh meminum sebuah keberkahan dari sumber kehidupan yang segar memancar.
5. Aku mengikuti, bertanya kepada Angin Barat tentang para pencinta tersebut, “Apakah mereka memiliki kampung tempat kembali atau telah menemukan tempat bernaung di Pohon Daal?
6. Angin Barat menjawab, “Aku meninggalkan perkemahan mereka di Zaruud, dan unta-unta mengeluh keletihan karena perjalanan malam mereka.
7. Mereka menutupi tenda-tenda untuk melindungi keindahan mereka dari panasnya malam.
8. Sekarang bangkitlah, susul mereka, susuri jejak-jejak mereka, dan kendalikan untamu dengan cepat sesuai arahan dari jejak mereka.
9. Dan begitu engkau berhenti di Haajir, tempat petunjuk berikutnya, lalu sebrangi lembah-lembah dan bukit-bukit di sana,
10. Sebentar lagi akan kau temui perkampungan mereka dan api unggun akan terlihat lebih jelas – sebuah kobaran api yang disebabkan oleh ledakan cinta.
11. Buat unta-unta berlutut! Jangan biarkan singa-singa menghinamu, demi cinta merindu yang akan mendatangi mereka dalam bentuk anak-anak singa.”

Sembilan Belas
10.57

1. Wahai, betapa kini kehancuran tersisa di at-Uthayl, tempat aku bersenang-senang dengan para sahabat!
2. Hari-hari lalu begitu cerah menyenangkan dan penuh senyum kehangatan, namun hari ini berubah menjadi kesepian, kesendirian, dan beku.
3. Mereka telah pergi jauh dan aku tidak menyadarinya, dan mereka tidak tahu bahwa aku selalu mencari mereka,
4. Sekarang aku mengikuti mereka ke manapun mereka diperjalankan. Lalu aku mendirikan tenda, dan terkadang hal itu menghalangi masuknya hewan buas,
5. Sampai, ketika mereka ditemukan sedang menggelar karpet dalam tenda pada sebuah tempat liar yang tandus,
6. Hal itu akan membawa mereka kembali kepada padang rumput hijau segar yang tanamannya bisa dimasak, tidak seperti gurun tandus panas.
7. Mereka tidak terlarang untuk memasuki tempat manapun, namun padang rumput itu berisikan bentuk-bentuk yang indah seperti Burung Merak,
8. Dan tiada tempat mereka memulai perjalanan selain dari bumi yang berisikan makam para pencinta.

Dua Puluh
11.45

1. Kesedihanku adalah tak dibalas-Nya cintaku: hiburlah aku dengan menyebutkan Nama-Nya, hiburlah aku!
2. Burung Merpati abu-abu terbang melayang di sepanjang padang rumput dan mengerang: duka cita sang burung merpati sama-sama disebabkan oleh yang menjadi dukaku.
3. Semoga ayahku bisa melamar kekasihku yang senantiasa ceria, salah seorang perawan yang senantiasa terjaga, berada dalam pemeliharaan banyak ibu.
4. Berdiri ia, menjadi jelas dipandang, seperti cahaya matahari; dan ketika menghilang, sinarnya menerangi segenap ufuq hatiku.
5. Wahai, puing-puing kehancuran menetap di Raama!
6. Semoga ayah dan diriku menjadi tebusan bagi rusa gembala Tuhan, makanan yang diambil dari tiap belah tulang rusukku!
7. Api di tempat itu menyala: maka dengan terangnya menghilangkan kobaran api.
8. Wahai, Dua Temanku, buanglah ikatan tali kekang untaku sehingga aku bisa melihat bentuk perkampuangannya dengan pandangan yang jelas.
9. Dan ketika engkau mencapai perkampungan tersebut, turunlah, dan di sana, dua temanku, sedang meratapiku.

090210, Selasa, 04.02

10. Demiku, berhentilah sebentar di tempat kehancuran ini, berusaha keraslah untuk menangis… tapi, oh, tidaaakk… bahwa sungguh aku hanya menangis oleh sesuatu yang membuatku berduka.
11. Rindu menghujamku tanpa anak-anak panahnya, membunuh tanpa tombak.
12. Katakan padaku, wahai, akankah engkau menangis bersamaku ketika aku menangis di sampingnya? Wahai, tolong aku, tolonglah aku! Tolong aku untuk bisa menangis!
13. Dan kisahkan padaku dongeng dari Negri Hindu, Lubnaa, Sulaymaa, Zaynab, dan ‘Inaan!
14. Lebih jauh jelaskanlah Haajir, Zaruud, beritakan padaku tentang makanan para rusa!
15. Dukaku tatkala berpuisi di dalam Qays, Lubnaa, Mayya, dan Ghaylan yang tak tersentuh!
16. Betapa panjangnya penantian lepas kerinduanku akannya, hanya bercinta dengan prosa dan puisi yang mengalir deras bak fasihnya pengkhutbah berbicara, dengan semua yang dimilikinya,
17. Salah satu dari para putri yang berasal dari Negri Persia, kota teragung, dan Isfahaan.
18. Dia adalah putri dari negri Iraaq, seorang anak perempuan dari imamku, sementara aku sebaliknya, adalah seorang anak laki-laki dari Yemen.
19. Wahai, Tuhanku, tidakkah kau lihat bahwa dua pertentangan menjadi satu?
20. Pernahkah Engkau melihat kami di Raama, saling menuangkan cangkir-cangkir kerinduan tanpa lekatan jari-jari,
21. Sementara kerinduan merupakan gula yang menimbulkan rasa manis dan kesenangan antara kami tanpa harus dirasakan dengan lidah,
22. Engkau, Tuhan, akan melihat sebuah keadaan baru: Yemen dan Iraaq bersatu.
23. Adalah suatu kesalahan jika berpuisi tidak sesuai dengan Alastu,
24. Oh, wahai, Engkau Yang menikahkan Pleiades ke dalam Suhayl, berkahilah mereka! Hm, bagaimana bentuk seharusnya pertemuan mereka?
25. Yaitu: Pleiades berjalan dari Utara, sementara sang Suhayl berjalan dari Selatan.

Dua Puluh Sembilan
Jumat, 070510, 10.51 wib.

1. Semoga ayahku dapat ditebus dari perbudakan dan pengikatannya; yang mengikat tiap helai rambut dan senantiasa bergoyang ke sana ke mari hingga mengenai pipi!
2. Rambut terkunci dalam kepangan; lembut berada dalam kumpulan dan ikatan-ikatannya;
3. Menjejaki gaun kesombongan; terbungkus dalam desain hiasan indah;
4. Yang berasal dari rendah hati yang dusta, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa mereka cantik; yang akan memberikan mereka nama dan hadiah-hadiah baru;
5. Mereka tampak menarik dengan tawa dan mulut senantiasa tersenyum; bibir mereka pun tampak manis menawan;
6. Yang telanjang, itulah yang cantik; dengan dada penuh dan hanya menawarkan pilihan yang ada sekarang;
7. Godaan membisiki dua telinga dan hawa-nya nafs ketika mereka bercakap-cakap, menyihir dengan menakjubkan;
8. Mereka pun lalu menutup wajah karena malu, demi keshalehan dan qalb yang takut;
9. Gigi mereka bagai barisan mutiara, dibersihkan dengan alir liur kelemahan dan pengasingan;
10. Sinarnya melesat cepat dari pandangan mata, menembusi sebuah qalb yang selalu berada dalam pertempuran dan berperang;
11. Naiklah engkau, wahai, Bulan baru yang menderita, dengan tiada lagi gerhana; menjadilah purnama;
12. Engkaulah penyebab air mata yang mengalir dikarenakan awan-awan mendung menjadi hujan, penyebab keluhan menjadi gelegar halilintar.
13. Wahai, dua Sahabatku, semoga darahku dapat ditebus dari seorang gadis ramping yang menghadiahiku kesenangan dan kemurahan hati!
14. Dia membuktikan harmoni penyatuan; dialah prinsip harmoni kita: dia berada di antara Arab dan lainnya; dia membuat pengetahuan terlupakan seketika.
15. Kapanpun dia menatap, tatapannya tajam bagaikan pedang, dan gigi depannya akan mempesonamu.
16. Wahai, Sahabatku, berhentilah sebentar disamping wali dari Haajir!
Berhenti, berhenti, wahai, Sahabatku,
17. Bahwa aku akan bertanya kemana tempat kembali unta-unta mereka, bahwa aku akan memasukkan mereka ke dalam tempat-tempat penghancuran dan kematian,
18. Dan tempat-tempatnya ada yang aku ketahui dan ada yang tidak kuketahui, dengan seekor unta tangkas yang mengeluh tentang kaki tiada beralas yang menyusuri gurun demi gurun berikut keliarannya,
19. Seekor unta yang terpotong pinggulnya menjadi kurus dan berjalan sangat cepat menyebabkan ia kehilangan kekuatan dan lemak pada punuknya,
20. Sampai aku membawanya kepada sebuah pemberhentian dalam jalur berpasir di Haajir dan melihat unta-untanya diikuti oleh seorang pemuda di al-Uthayl.
21. Mereka dibimbing oleh sebuah wajah bulan, dan aku memeluknya dengan pelukan seakan-akan aku akan terpisah dari tulang rusukku,
22. Sebuah bulan muncul dalam thawafnya, dan sementara ia memutariku tiada yang aku putari selainnya.
23. Dia menghapus jejak kakinya dengan panjang jubahnya, sehingga engkau pun menjadi bingung. bahkan jika kau pada akhirnya memilih untuk ke luar dari jalur perjalanannya.

Sumber: Tarjumaan al-Ashwaaq, a Collection of Mystical Odes, Terjemahan Inggris oleh Reynold A. Nicholson, M. A., Litt.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ