Bismillaahirrahmaanirrahiim.

PENDAHULUAN
Fenomena anak gifted sekarang sudah cukup banyak, semarak bagaikan kembang api yang memberikan letusan aneka warna. Mengangkasa aneka bentuk, mewarnai aneka cahaya. Melecutkan pikiran, mencuatkan perasaan, menuntut untuk bersikap sangat hati-hati. Mewaspadai setiap mimik wajah, kata yang keluar, tingkah laku yang terlakukan, bahkan bisikan hati. Mereka seakan-akan bisa membaca lintasan hati seseorang. Jadi jangan pernah ‘membohongi’ anak gifted dengan cara apapun.

Mendapati mempunyai anak atau anak-anak yang gifted, menyadari seperti mendapatkan sebuah kutukan atau berkah? Anak-anak gifted biasanya berasal dari orang tua yang gifted juga. Nah, mendapati diri gifted, apakah sebuah kutukan atau berkah?

Gifted mind? Plato berkata, “adalah sebuah neraka.” Ingat, gifted mind. Hanya mind-nya. Manusia toh tidak hanya hidup dalam mind-nya. Nanti insya Allah akan dibahas apa isi dari mind beserta proses-prosesnya.

Tuhan menganugerahi obat pada setiap ‘penyakit’. Saya tidak bermaksudkan gifted adalah sebuah penyakit. Tetapi pemberian-Nya di atas normal, ada kalanya bisa menjadi ‘penyakit’ bagi yang terkena dan orang lain yang berada bersamanya, karena agak berbeda dari kebanyakan orang umum. Sesuatu yang berbeda terbiasa dilabeli ‘penyakit’ atau ‘anomali’. Tetapi karena juga membutuhkan perlakuan yang khusus bagi mereka. Layaknya obat, hanya diberikan kepada pasien.

Oke, sekarang saya mencoba mengupas tentang giftedness, terkait dengan fenomena yang pernah ditemui.

Ada orang tua merasakan bahwa giftedness merupakan sebuah kutukan, sebuah keburukan orang tua yang menjelma ke dalam diri anak-anaknya, membentuk superiotas berlebihan (sudah super, berlebihan pula..). Pemikiran-pemikiran tertentu yang tidak mau berhenti, tidak mau tidur karena ingin belajar terus. Selalu ingin ada yang dilakukan, tidak bisa mau diam. Minimal diam berpikir. Selalu berbicara sambil melakukan sesuatu. Pokoknya hampir tidak pernah diam. Hampir-hampir mempertanyakan banyak hal, kalau tidak mau dibilang hampir segala hal. Bertanya terus, menjawab terus, begitu terus hingga mentok. Nanti entah kapan kembali lagi ke topik yang mentok tersebut. Nyari terus. Sementara kalau dikasih tahu orang tidak bisa langsung percaya kecuali kalau orang itu benar-benar kualified menurutnya. Kriteria kualified pun dibuatnya sendiri. Disebut orang rese, mungkin bisa. Alias keras kepala dan suka sekali membantah. Konfrontasi. Suka malah membingungkan diri sendiri, karena dia pun tidak terlalu mempercayai ‘apa’ yang telah diperolehnya. Sukanya main perintah karena memang bakat pemimpinnya kental. Harapan terhadap kesempurnaan besar, karena itu suka dengan hal detil yang akan mengarahkan pada penarikan kesimpulan universal.

Selain kognitif yang sensitive, emosinya juga. Pemikiran dengan imajinasi yang berkembang ke mana-mana terkadang – namun seringkali – menjadi racun bagi emosinya, yang, jika berada di tempat yang benar, misalnya dalam sublimasi seni, bisa menjelma menjadi sebuah karya unik. Giftedness, memang terlahir dengan pengiringan bakat seni, untuk menumpahruahkan kebebasan dan kesibukan pikiran dan emosi yang tidak akan mendapatkan celaan dari orang lain karena keunikannya. Dalam seni ia bebas berekspresi. Namun giftedness tidak terlahir dengan hanya bakat seninya. Seni tampaknya lebih kepada obat bagi ‘penyakit’ tersebut. Banyak kemampuan yang dimilikinya, dan tentunya harus dikembangkan. Kemampuan yang banyak atau beberapa, sebenarnya hanyalah sebagai pendukung dari ‘diri’ nya sebenarnya. Namun, salah asuh akan mengakibatkan giftednya tersembunyi, yang tampak hanyalah kebengalannya.

Di mata orang awam, anak gifted lebih sering terlihat sebagai anak yang bermasalah (trouble maker). Di sekolah cepat bosan karena dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Alih-alih untuk mengeluarkan sisa energinya yang tampak tak pernah habis, ia melampiaskannya dengan misalnya mengganggu guru dan teman-temannya, mengajak gurunya berdiskusi, menginterupsi guru yang sedang menjelaskan sesuatu kepada siswa, membuat pelajaran sendiri yang lebih menarik daripada yang diberikan guru untuk menarik perhatian siswa lainnya, dll. Acapkali lebih senang berteman dengan anak yang lebih besar daripadanya, aktif, dan kreatif, juga yang mau diajak kerjasama baik dalam hal positif seperti berdiskusi maupun negatif seperti bertengkar. Anak gifted tipe verbal akan mengeluarkan kata-kata ‘sakti’ mandraguna untuk melawan , dan mampu membalikkan kata-kata pembalasan dari lawannya.

IQ gifted:
# 125-134 – Gifted
# 135-144 – Highly gifted
# 145-154 – Genius
# 155-164 – Genius
# 165-179 – High genius
# 180-200 – Highest genius
# >200 – “Unmeasurable genius”

Standar di atas jarang digunakan untuk ‘menempatkan’ seseorang sebagai gifted. Hasil tes IQ sebuah perguruan tinggi negri paling ternama di Indonesia, rata-rata mahasiswanya memiliki IQ 128 – 130. Adaptasi terhadap lingkungan cukup baik, masalah emosi terutama pada hal kurang empati. Justru terbalik dari anak gifted, yang, sebenarnya memiliki empati besar. Hanya saja sering kurang bisa menempatkan dengan benar.

Standar lain, sebagai perbandingan:
130-145 – moderately gifted or just plain “gifted”
145 and 160 – “highly” gifted
160 and 180 – “exceptionally” or “profoundly” gifted

Pada IQ di sini, seseorang lebih terlihat gifted nya. ‘Kekacauan’ mulai terlihat pada IQ 140. Semakin ke atas semakin ‘kacau’, semakin sulit untuk dipahami.

IQ tinggi tidak selaras dengan emosi. Misalnya seorang anak gifted usia 3 tahun. Ia memiliki emosi anak usia 5 tahun, motorik usia 4 tahun, sementara IQ 160. Ingin melakukan sesuatu sesuai dengan pemikirannya, tetapi apa daya karena motoriknya tidak mendukung. Misalnya ingin menuliskan pemikirannya, tapi belum sanggup menulis sementara besar keinginan untuk menulis. Ditambah dengan emosi anak-anak yang masih labil, pemenuhan keinginan segera, bisa dibayangkan bagaimana perang yang berkecamuk dalam dirinya. Orang yang tidak mengerti, malah akan mengasingkannya. Kebanyakan mereka tidak mengerti bagaimana memahami apalagi mengasuh anak gifted.

Pengasuhan Anak Gifted

A. Salah Kaprah Pengasuhan Anak Gifted

Anak gifted atau lainnya, ketika orang tua mendapatkan anaknya cerdas, seringkali yang terpikir pertama kali adalah “bagaimana caranya agak kecerdasan anaknya optimal, tidak tersia-siakan”. Seribu satu cara seperti memberi kursus pelbagai bidang pun dilakukan orang tua. Matematika, bahasa asing, gambar, musik, komputer, dan lain-lain acapkali menjadi pilihan orang tua. Mereka merasa, jika tidak mengoptimalkan kecerdasan anaknya, maka murka tuhan jatuh kepada mereka. Seakan-akan takut keduluan murka tuhan, mereka tanpa berpikir panjang lagi menyediakan buku agenda kegiatan bertumpuk bagi anaknya. Bagaikan seorang pengikut buta, tanpa pandang keinginan dan usia anak, anak pun akhirnya menjadi mesin obsesi orang tua. Kalaupun tidak dikursuskan, stimulasi di rumah gencar dilakukan. Memasuki rumah, seperti sebuah laboratorium percobaan kepada seekor orang utan. Bergelantung dan bergelantung ke sana kian ke mari, sebelum dan setelah menjalankan pelbagai eksperiman melakukan pekerjaan rutin; makan mengambil pisang, memakannya, membuang kulitnya dan lain-lain. Begitu saja seharian. Ia tak tahu, bahwa di luar sana ada hutan yang merupakan tempat hidup sesungguhnya. Di sana ia bisa memandang aneka warna, merasakan aneka cuaca, mendengarkan aneka suara, berpikir dan berperasaan lebih. Memahami lebih luas dan jauh. Sebuah laboratorium, bagaimanapun hanyalah buatan manusia yang disesuaikan dengan keinginan manusia yang terkontaminasi dengan syahwat dan hawa nafsu. Sesuatu yang alami lebih menyegarkan lagi menghidupkan.

B. Sebaiknya Bagaimana?

Anak cerdas, jika sudah cerdas, ya tetap cerdas saja. Dikarenakan naluri setiap orang adalah mencari pengetahuan, maka tanpa distimulasi pun mampu. Kita mencari sendiri apa yang kita butuhkan. Tidak perlu stimulasi, yang perlu adalah fasilitasi. Fasilitasi adalah memberikan apa yang dibutuhkan. Yang dibutuhkan anak adalah penyelesaian terhadap masalah-masalahnya, agar ia mampu mengoptimalkan sendiri apa yang menjadi kemampuan dan kelebihannya.

Pada anak gifted, masalah emosi, yang, tentunya berdampak pada sosialisasi, menjadi hal yang menjadi perhatian utama. Seyogyanya orang tua mampu menjadi ‘sahabat’ anak dalam hal itu, bukan malah memusuhinya dengan label negatif. Membantunya dalam regulasi emosi dengan cara memperhatikannya secara indivual akan membantu orang tua itu sendiri untuk memahami anaknya, pun sang anak ikut terbantu memahami dirinya. Seringkali mereka bertanya, “Mengapa aku berpikir seperti ini? Mengapa aku melakukan hal ini? Mengapa aku merasakan hal ini?” Pertanyaan tersebut jika dilihat sepintas lalu memang merupakan area kognitif, pun proses pencariannya. Namun di dalam pencarian jawaban, akan memunculkan ketidakseimbangan. Ketegangan. Jika sampai frustrasi tak menemukan jawaban, maka yang muncul adalah agresivitas dalam bentuk kemarahan. Itulah yang kita kenal dengan kenakalan ‘luar biasa’. Gifted hilang, yang tampak troublenya saja.

Kita hanya bisa mengikuti jalan pikir anak sesuai metoda mereka sendiri, karena diharapkan kita yang sudah hidup jauh lebih dahulu daripada anak sudah mampu menjadi pembimbing mereka. Pada kasus di atas, cobalah untuk memperhatikan anak dengan sebenar-benarnya tanpa diselingi pekerjaan lain. Beri mereka waktu yang pantas untuk menyelesaikan pemikiran mereka dengan cara mereka. Mereka ingin berdiskusi, layani. Jangan lupa, bahwa kita sebagai orang tua juga perlu memberikan pemahaman kepada anak bahwa mengharhai orang lain juga perlu. Orang tua juga perlu waktu untuk melaksanakan pekerjaan lain. Seperti dirinya, orang tua juga perlu belajar atau bekerja misalnya. Persoalan waktu anak gifted terletak pada “tidak ingin diselingi oleh hal lain”. Jadi, berikan mereka waktu yang kita tidak sedang mengerjakan hal lain. Misalnya beri waktu dua jam untuk menuntaskan pembelajaran yang mereka inginkan, lalu berhenti. Orang tua bisa beristirahat sejenak atau mengerjakan hal lain. Dan siap-siap saja, ketika memasuki waktu berikutnya, tampaknya orang tua akan mendapati, bahwa pemikiran mereka ternyata belum selesai dengan topik yang sama. Seringkali topik yang sama dengan munculnya asumsi-asumi baru yang berbeda. Dan bisa berhari-hari lamanya. Tetaplah mencoba untuk tidak memperlihatkan kebosanan. Pastikan bahwa orang tua memperhatikan dengan baik, menambah pengetahuannya tentang topik tersebut, dan jika tampaknya ‘urusan’ tidak bakal selesai, berhentikan saja dengan mengatakan, “Setiap orang diberikan pengetahuan yang berbeda, karena itu kita tidak bisa mengetahui segala hal. Begitu pula dengan ibu/ bapak. Begitu pula dengan kakak. Kita tidak bisa mengetahui segala hal. Hanya Allah Yang Super. Dan seringkali untuk mengetahui sesuatu, dibutuhkan pengalaman kita, yang, tentunya dipengaruhi oleh umur juga. Tentang apa yang ingin kakak ketahui, bagaimana kalau kita hentikan dulu?” Dengan penjelasan yang LOGIS, anak gifted mau mengerti. Dan ingat, jangan pernah menjanjikan jika sebenarnya kita tidak mampu memenuhinya. Misalnya dengan menjanjikannya untuk mendiskusikan hal tersebut lagi kapan-kapan. Berjanji dalam hati saja, jika kita sudah menemukan jawabannya, maka kita akan memberitahukannya. Mereka akan menyambutnya dengan suka cita. Anak gifted senang menampakkan emosinya. Respon mereka dengan tulus. Balas pelukan mereka dengan erat. Pembelajaran emosi ini selain penting bagi sosialisasi dalam keluarga, juga penting bagi sosialisasinya dalam lingkungan luar. Setelah merasa nyaman berada di rumah, ia akan merasa nyaman di lingkungan luar, tidak gampang menghakimi.

Anak gifted, juga suka memanipulasi lingkungan untuk mendapatkan keinginannya. Entah itu dengan menggunakan kognitif atau emosinya. Untuk itu, buatlah aturan yang konsisten. Jangan pernah memberikan reward setelah ia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Bagi saya pribadi, tampaknya reward lebih efektif untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan daripada pemberian hukuman untuk menurunkan perilaku yang tidak diharapkan. Jikalau anak melakukan kesalahan, lebih baik iming-imingi dengan hadiah jika ia mau berjanji untuk berbuat hal lebih baik daripada kesalahan yang telah dilakukannya. Mengancam dengan hukuman, bagi anak-anak, khususnya anak gifted, malah akan membuatnya memperlakukan hal sedemikian kepada anak/ orang lain. Imajinasi bercampur dengan emosi, ditakutkan malah ‘menghukum’ anak/ orang lain secara berlebihan.

Mereka juga selalu ingin menang, lebih unggul daripada anak/ orang lain. Lingkungan kompetitif tampaknya baik bagi anak gifted jika kemenangan tidak selalu berada pada pihaknya. Dan memang manusia tidak selalu lebih unggul walaupun dia gifted sekalipun. Beri penjelasan kepadanya dengan LOGIS bahwa ia kalah karena…, temannya menang karena… Dengan penjelasan secara logislah mereka lebih bisa menerima penjelasan.

Jikalau ditanya, sekolah yang bagaimana yang tepat bagi anak gifted? Sekolah khusus gifted, sekolah swasta fullday, inklusi, ataukah sekolah negri yang pulangnya cepat? Saya pribadi, lebih memilih sekolah dengan aneka ragam siswanya, dan yang memberikan tantangan bahwa tidak segala hal gampang diperoleh. Entah itu karena adanya perbedaan kecerdasan kognisi, emosi, cara bersosialisasi, tingkat perekonomian siswa, ataupun aneka ragam kebudayaan. Membiarkan mereka lepas dan mempelajari perbedaan.

Terakhir, sebagai bahan perenungan bagi kita semua orang tua

Tak banyak anak gifted yang menjadi manusia berhasil pada saat dewasanya, seringkali tak menjadi apa-apa. Itu dikarenakan beban kognitif yang ditumpuk-tumpuk orang tua kepada mereka sedari kecil tanpa memperhatikan kesejahteraan emosi dan sosialisasinya. Bagaimanapun, mereka adalah anak kecil yang tentunya bermain merupakan cara untuk mengeksplorasi kognitif, emosi, dan sosialisasi. Jangan khawatirkan dengan kognitif mereka. Khawatirkanlah masalah emosi dan sosialisasi mereka. Kebahagiaan tumbuh dari kekayaan emosi yang terkendali baik, mampu berhubungan dengan diri dan orang lain dengan baik sehingga kemampuan dan kelebihan mereka dapat diaktualisasikan dengan cara yang baik pula. Bukan hanya menjadi diri yang soliter. Dan selalu ingin menang sendiri. Sesungguhnya itu malah akan menumbuhkan ketakaburan, kesombongan, perasaan takjub diri yang akan menjauhkannya dari Allah swt. Na’udzubillah min dzalik.

Sesungguhnyalah Kebenaran milik Allah, kesalahan dari saya pribadi. Mohon maaf jika terdapat kesalahan.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wassalaamu’alaykum wrwb.