Bismillaahirrahmaanirrahii

m.
Assalaamu’alaykum wrwb.

Renungan ini dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan diri sedang berada di area pendidikan. Kehilangan orientasi tepatnya.

————-
Berjalan mundur pada beberapa tahun silam…
Masih jelas dalam ingatanku, sebuah foto seorang anak TK sedang mengajari teman-temannya, ntah apa yang diajarkan lupa ia. Seorang itu adalah aku…

Semasa SD, aku aktif mengumpulkan anak-anak kampung untuk membuat aneka macam kegiatan, misalnya untuk 17 Agustus.

Semasa SMP dan SMA lebih aktif terlibat di sekolah dalam kepengurusan musik, mading, PMR, KIR (Karya Ilmiah Remaja). Kehilangan masa dengan anak-anak kecil. Ya iyalaaahh… masa-masa remaja ini lebih senang bermain dengan teman-teman sebaya dan p. a. c. a.r.

Semasa kuliah, kembali aku dihidupi oleh anak-anak kecil, mulai dari lingkungan kost terdekat, HMI, PAS-itb, Daarut Tauhid. Aneh, dimanapun tinggal, tampaknya dikuntit anak-anak terus. Kamar kost yang kecil jadi penuh banget, sampe-sampe tempat tidurku patah karena keseringan nampung anak-anak yang tentunya senang melonjak-lonjak. Satu lagi, masa kuliah ini juga dikuntit oleh seorang manic-depresif dengan psikosis. Ketemunya di PAS, ada seorang makhluk yang kalo ketemu sedang tiduran aja. Saat itu sedang fase depresif. Mengerikan, fase itu ternyata segera beralih mania begitu ketemu aku… cerminan kali, yee…

Oh, ya, asal tahu aja, pelajaran yang paling kubenci semasa kuliah ini adalah psikologi pendidikan. Alasannya cuma satu: membosankan, gak menantang, begitu-begitu saja, gampang sekali. Karena alasan ini pula yang membuat aku bertempur terus-terusan dengan dosen profesiku untuk mempertahankan hasil-hasil penelitian dalam PKL pendidikan terutama. Masih ada pertempuran di psikologi klinis dan psikologi social, sewaktu sidang yang membuatku tak lulus menjadi psikolog. Terakhir diminta untuk ujian lagi karena psikologi sosial mau dihapus, dan dijamin lulus, aku gak mau. Si keras kepala beraksi, memilih ikut suaminya saja.

Usai kuliah, ngurusin anak-anak lagi… ngajar SD kelas 2. Tadinya kelas 1, tapi karena harus ikut suami, jadi ngajarnya dipindah ke kelas 2. Anak kelas 1 gak bisa mendapatkan perubahan guru tiap semester, gitu ceunah.

Nikah 2004, 2005 langsung dapat anak. 2007 ngurusin anak-anak lagi, anak sendiri dan anak-anak orang.

Ya, tulisan ini lahir dari keinginan untuk membesarkan hati, mencari pembelaan, bahwa dari kecil, hingga – untuk – saat ini aku sedang berada pada jalur yang benar: mengurusi hal pendidikan anak. Kalaupun ada hal yang tidak beres dalam sekolahku – yang aku persepsi begitu – itu disebabkan ada bagian lain, mungkin hal manajemen, promosi yang kurang beres. Tahun ketiga sekolahku, tampaknya aku ingin meliburkan diri lebih lama lagi… lagi malas mencari murid, lagi lebih menikmati kebersamaan dengan dua anakku…. Semoga cukup paling lama dua minggu lagi, sambil membereskan bagian-bagian tertentu termasuk memaksakan diriku untuk mencari tambahan murid. Semoga Allah tunjukkan Jalan-Nya. Aku hanya bisa berusaha menjalankan Titah-Nya dalam bidang pendidikan ini, ya, baru segini, Tuhanku.

Entah sampai kapan karir di area pendidikan ini hidup… tetapi yang kutahu pasti, aku harus menjadi guru seumur hidup, minimal untuk diriku.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Wassalaamu’alaykum wrwb.
Wiwik, tulisan yang rada malas ditulis, asa patah-patah keliatan gak semangat nulisnya… sambil nunggu Rahma bangun. Ini kan hari anak-anak, kami mau jalan-jalan, ah… tigaan aja… nikmatnya…