Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Diambil dari beberapa sumber di internet.
http://ariesaksono.wordpress.com/2008/01/12/candi-borobudur/
http://kumpulan.info/wisata/tempat-wisata/53-tempat-wisata/182-candi-borobudur.html
http://www.kamusilmiah.com/geografi/candi-borobudur-satu-dari-tujuh-keajaiban-dunia/
http://yandra08.blogspot.com/2009_03_01_archive.html

Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Nama Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

* Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
* Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.
* Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
* Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Relief pada Candi Borobudur

Hal lain yang unik dan indah yang bisa kita temui di Candi Borobudur adalah relief yang terukir di permukaan dinding-dindingnya, dan di sepanjang lorong atau jalan kecil yang terdapat di sini. Candi Borobudur memiliki 2670 relief yang berbeda. Relief ini dibaca searah putaran jarum jam. Relief ini menggambarkan suatu cerita yang cara membacanya dimulai dan diakhiri pada pintu gerbang di sebelah timur. Hal ini menunjukkan bahwa pintu gerbang utama Candi Borobudur menghadap timur seperti umumnya candi Buddha lainnya.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

Untuk tidak membingungkan dan agar jelas perlu digambarkan keberadaan tentang relif-relif yang menghiasi Candi Borobudur, sebagai berikut:

Lokasi nama Relif Jumlah

Kaki candi asli karmawibhangga 160 pigura

Tingkat I dinding lalitawistara 120 pigura

Jataka/Awadana 120 pigura

Tingkat I langkan Jataka/Awadana 372 pigura

Jataka/Awadana 128 pigura

Tingkat II dinding Gandawyuha 128 pigura

Tingkat II langkan Jataka/Awadana 100 pigura

Tingkat III dinding Gandawyuha 88 pigura

Tingkat III langkan Gandawyuha 88 pigura

Tingkat IV dinding Gandawyuha 84 pigura

Tingkat IV langkan Gandawyuha 72 pigura

Jumlah relif di Candi Borobudur 1460 pigura

Relif pada dinding yang menhadap keluar harus dibaca/dilihat dari kanan dan kiri, sedangkan pada relif pada langkan yaitu yang menghadap ke dalam harus dibaca dari kiri ke kanan. Hal demikian disebabkan oleh karena harus menelururi lorong-lorong pada Candi Borobudur menurut Pradaksina, yaitu berjalan mengitari bangunan Candi Borobudur menurut searah jarum jam dan membuat posisi agar bangunan dan stupa maupun dinding-dinding temboknya berada di sebelah kanan.

Relif Karmawibhangga

Bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana banguna yang aslinya, karena alasan teknis ataupun yang lainnya maka kaki candi dibuatkan batu tambahan sebagai penutup. Alasan teknis antara lain dimungkinkan ketika pekerjaan belum selesai pahatannya, sedah mulai longsor, sehingga terpaksa harus dilakukan penyelamatan dengan menambah kaki bangunan tersebut dan sekaligus berfungsi sebagai penopang ataupun sebagai fondasi ke dua. Alasan lainnya untuk menyembunyikan dari pandangan para pe ziarah yang sedang mencari ketenangan hidup.

Batu penutup bagian karmawibhangga tersebut tidak kurang dari 12.750 m3. relif ini ditemukan pada tahun 1885 oleh J.W. Ijzerman, pada tahun 1891 dibuatkan foto-fotonya oleh Chepas dengan jalan membuka terlebih dahulu batu-batu penutup kaki bangunan asli tersebut.

Relif Karmawibhangga yang teletak pada bagian kamadhatu berjumlah 160 buah pigura, yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta perbuatan dosa dan juga hukuman yang diterima, tetapi ada juga gambaran perbuatan baik serta pahalanya. Relif pada kaki Candi Borobudur yang berjumlah 160 buah pigura, tidak merupakan suatu cerita yang berurutan ataupun beruntun.

117 buah pigura memperlihatkan satu macam akibat yang ditimbulkan dari berbagai jenis perbuatan manusia. Sedangkan yang 42 buah pigura selebihnya, memperlihatkan berbagai macam keadaan manusia sebagai akibat dari satu jenis perbuatan.

Yang diperlihatkan relif-relif itu antara lain:

– Gambaran mengenai mulut-mulut yang usil, orang yang suka mabuk-mabukan, perbuatan-perbuatan yang lain yang mengakibatkan penderitaan disertai hukuman yang setimpal dengan apa yang pernah dilakukan yang juga mengakibatkan suatu dosa.

– Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong, ziarah ke tempat suci, bermurah hati kepada sesama dan lain-lain yang mengakibatkan seseorang mendapat ketentraman hidup dan mendapat pahala.

Relif Karmawibhangga yang sengeja diperlihatkan dan dibuka dari batu tambahan yang menutup bangunan kaki candi asli, berada pada sisi tenggara. Pigura berikut adalah gambaran Karmawibhangga No. 19dan 20.

– Menggambarkan beberapa orang sedang memberikan pertolongan kepasa seorang laki-laki yang sedang sakit, dan memberikan obat serta ada yang memijat kepala bagian perut serta kaki dan juga dimungkinkan ada yang berdoa memohon kesembuhan dari penyakit yang sedang diderita laki-laki tersebut.

– Juga terlihat suasana kegembiraan atas kesembuhan dari suatu penyakit, tampak seorang bersama dengan beberapa sahabat-sahabatnya sedang bersyukur.

– Memperlihatkan perbedaan yang ontras antara mereka yang mempunyai keluarga bahagia dan mereka yang suika bermabuk-mabukan sehingga lupa diri serta melakukan perbuatan yang terlarang seperti menari-menari tidak beraturan dan juga perbuatan yang lainnya yang tercela.

Kedua Relif Karmawibhangga No. 19 dan 20 berada pada sisi tenggara yang menghadap ke timur, dan juga masih ada dua relif lainnya pada sisi tenggara menghadap keselatan.

4 Relif Jataka dan Awadana

1. Jataka;

Jataka, merupakan cerita tentang sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Sidharta Gautama putra dari raja Sudhodanna. Isinya merupakan perbuatan-perbuatan baik yang membedakan dengan nyata antara sang Boddhisattwa dengan yang lainnya. Sang Boddhisattwa telah mengalami dilahirkan dan dilahirkan kembali sampai beberapa kali baik sebagai manusia ataupun mungkin dalam bentuk yang lainnya. Dengan demikian cerita mengenai Jataka sangatlah banyak ragam dan jumlahnya. Cerita Jataka yang terkenal adalah karya penyair ARYASURA dalam himpunan JATAKAMALA.

2. Awadana;

1 Pada dasarnya cerita Awadana sama dengan Jataka, perbedaannya kalau Jataka pelakunya adalah sang Boddhisattwa sendiri. Sedangkan Awadana pelakunya adalah orang lain. Cerita dihimpun dalam kitab DIWYAWADANA dan kitab AWADANASATAKA. Diwyawadana berarti perbuatan-perbuatan mul;ia kedewaan, sedangkan Awadanasataka merupakan seratus cerita Awadana.

Di candi Borobudur Jataka dan Awadana bisa dilihat pada:

1 Tingkat I dinding (deret bawah) berjumlah 120 pigura

2 Tingkat I langkan (deret atas) berjumlah 372 pigura

3 Tingkat I langkan (deret bawah) berjumlah 128 pigura

4 Tingkat II langkan 100 pigura

Jumlah 720 pigura

1 Gandawyuha

Peran utama pada cerita ini adalah Sudhana, anak seorang pedagang yang hidupnya serba kecukupan dan kaya raya. Juga menggambarkan berbagai macam mukjizat-mukjizat yang dihasilakan oleh samadi sang Budha, pada suatu kesempatan seratus orang murid di suatu taman Jeta di kota srawasti. Murid-murid itu berkumpul mengelilingi sang Budha tetapi tidak dapat melihat mukjizat-mukjizat secara langsung sehingga Bodhisattwa Samantabadra memberikan penjelasan/petunjuk tentang sifat-sifat samadi sang Budha tersebut.

2 Cerita tersebut diawali pada dinding tingkat II, Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya untuk mencari pengetahuan tertinggi. Cerita ini dilanmjutkan pada tingkat III dan IV baik dinding maupun langkan. Jumlah panil atau pigura yang ada 460 buah berdasarkan atas kitab Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha juga kitab lainnya yaitu Bhadracari sebagai cerita penutup. 3 Di candi borobudur cerita Gandawyuha bisa dilihat pada:

1 Tingkat II dinding berjumlah 128 pigura

2 Tingkat III dinding berjumlah 88 pigura

3 Tingkat III langkan berjumlah 88 pigura

4 Tingkat IV dinding berjumlah 84 pigura

5 Tingkat IV langkan berjumlah 72 pigura

Pada tahap pertama pembangunan Borobudur, terdapat serangkaian relief pada kaki bangunan. Ilustrasi teksnya diambil dari Karmavibhangga (Hukum Sebab Akibat). Teks itu mencerminkan niat baik dan imbalannya, tapi lebih menitikberatkan pada hukuman berat bagi mereka yang berniat jahat seperti membunuh hewan, berkelahi atau penjagalan.

Dinding dari galeri pertama didekorasi oleh 4 rangkaian relief: dua pada tembok serambi, dan dua pada tembok utama. Kedua rangkaian relief yang terdapat di dinding serambi diambil dari teks Jatakas, atau Kisah Kelahiran. Dongeng-dongeng ini menceritakan kehidupan Sakyamuni (Buddha Gautama) dalam berbagai inkarnasi sebelum kelahiran akhirnya sebagai manusia. Tema dari kisah-kisah ini adalah pengorbanan diri sebagai sarana memperoleh kebaikan dan kelahiran yang lebih baik pada kehidupan berikutnya, dengan mencapai nirwana sebagai tujuan akhir.

Tingkat dinding utama yang lebih rendah dihias dengan kisah kelahiran yang lain, yang menceritakan kehidupan orang-orang lain selain Sakyamuni yang juga memperoleh pencerahan. Berbeda dengan ajaran Buddha Theravada, dimana didalamnya diyakini bahwa hanya satu orang yang dapat memperoleh pencerahan pada zaman ini, para pengikut Buddha Mahayana yakin banyak makhluk yang telah mencapai tahap ini. Teks ini disebut Avadanas.

Pada tingkat dinding utama yang lebih tinggi, galeri pertamanya mempertunjukkan relief-relief yang menceritakan kehidupan Sakyamuni (Siddharta Gautama) sepanjang kehidupannya sebagai pangeran yang menjadi guru bertapa. Relief-relief ini dimulai dengan Buddha ketika berada di surga sebelum reinkarnasi terakhirnya, dan berakhir dengan upacara pertamanya di Taman Kijang di Benares. Teks ini dinamakan Lalitavista.

Rangkaian kelima dan terakhir menempati 3 galeri Borobudur sebelah atas. Teks digunakan sebagai sumber inspirasi yang disebut Gandavyuha. Ukiran ini mengandung cerita seorang pemuda, anak pedagang, bernama Sudhana, yang berguru dari satu guru ke guru lain dalam upaya mencari pencerahan. Sebagian besar relief memperlihatkan adegan pemuda itu bepergian dengan berbagai transportasi termasuk kereta kuda dan gajah, serta adegan ketika dia berlutut di hadapan para gurunya (kalayanamitra, atau “teman baik”), baik laki-laki, perempuan, anak-anak dan Bodhisattvas. Penjelajahan Sudhana berakhir di Istana Maitreya, Buddha di masa depan, di puncak gunung Sumeru, dimana dia diberi pelajaran dan memiliki berbagai pandangan.

Rangkaian terakhir relief yang terdapat di teras bagian atas diambil dari lanjutan teks ini, yang disebut Bhadracari, dimana Sudhana bersumpah untuk menjadi Bodhisattva, dan mengikuti contoh Bodhisattva tertentu bernama Samantabhadra.

Bhadracari; “Dan kemudian selanjutnya, Raja Buddha akan datang, yang akan menerima pencerahan di masa depan, seperti Raja Maitreya yang mulia dan seterusnya, dan akhirnya Samantabhadra, Sang Buddha Masa Depan”

Penempatan rangkaian relief pada tingkat paling tinggi dari candi menunjukkan bahwa ini merupakan teks yang paling dihormati oleh pendiri Borobudur. Adegan-adegan relief kelihatannya didesain untuk mendorong para pejiarah agar mengikuti contoh Sudhana ketika memanjat gunung, yang melambangkan tujuan dan sumber kebijaksanaan tertinggi.

Patung Buddha


Patung budha di Candi Borobudur berjumlah 504 buah, dengan uraian sebagai berikut:

Patung Budha yang berada pada relung-relung : 432 buah

Sedaangkan pada teras I, II, dan II berjumlah : 72 buah

Jumlah : 504 buah

Agar lebih jelas, susunan patung Budha pada Candi Borobudur sebagai berikut:

Langkah I terdapat : 104 patung Budha

Langkah II terdapat : 104 patung Budha

Langkah III terdapat : 88 patung Budha

Langkah IV terdapat : 72 patung Budha

Langkah V terdapat : 64 patung Budha

Teras bundar I terdapat : 32 patung Budha

Teras bundar II terdapat : 24 patung Budha

Teras bundar III terdapat : 16 patung Budha

Jumlah : 504 patung Budha

Sekilas patung-patung budha itu tampak serupa semuanya, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaan-perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu dan yang lainnya ialah sikap tangannya, yang disebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung. Sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam, hanya saja oleh katena macam mudra yang dimiliki oleh patung-patung yang menghadap semua atah (timur, selatan, barat, dan utara) pada bagian Rupadhatu (langkah V), maupun pada bagian Arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama, maka jumlah mudra yang pokok ada 5, yaitu:

1. Bhumisparcamudra atau “memanggil bumi untuk menyaksikan”. Posisi Buddha dimana tangan kanan menyentuh bumi, diletakkan di atas lutut kanan, dengan jari-jari menunjuk ke bawah. Mudra ini ciri khas bagi Dhyani Buddha Aksobhya. Sikap tangan ini melambangkan saat sang Budha memanggil Dewi-Bumi, sebagai saksi ketika ia menangkis semua iblis mara. Patung-patung ini menghadap ke timur terletak pada langkah I – IV.

Berjumlah 92 patung.

2. Abhayamudra. Posisi Buddha dimana tangan kanan diletakkan di atas paha kanan, dengan telapak tangan menghadap ke atas, sebuah posisi yang melambangkan upaya penghalauan terhadap rasa takut, melambangkan ketenangan. Mudra ini merupakan tanda khusus dhyani Budha Amoghasidi. Patung-patung menghadap ke utara langkah I – IV.

Berjumlah 92 patung.

3. Dhyanamudra atau “meditasi”. Kedua tangan terbuka dan diletakkan di pangkuan, dimana tangan kanan berada di atas tangan kiri, dan kedua ibu jari saling menyentuh satu sama lain. Sikap tangan ini melambangkan sedang semdi atau mengheningkan cipta, mudra ini merupakan tanda khusus bagi dhyani Budha Amitabha. Semua patung ini menghadap ke arah barat pada langkah I – IV.

Berjumlah 92 patung.

4. Varamudra atau “amal”. Tangan kanan diputar ke atas dan jari-jari ke bawah dan diletakkan di lutut kanan. Sikap tangan ini melambangkan pemberian amal, memberi anugrah. Mudra ini adalah khas bagi dhyani Budha Ratnasambhawa. Patung-patung ini menghadap ke arah selatan berada pada langkah I – IV.

Berjumlah 92 patung.

5. Virtakamudra atau posisi menimbang keputusan secara matang, digambarkan dengan posisi mengangkat tangan kanan di atas lutut kanan, dengan telapak tangan menghadap ke atas, dan ujung jari telunjuk menyentuh ibu jari. Dhyani Buddha yang dimaksud di sini adalah Budha dari semua arah. Pada candi borobudur digambarkan dengan sikap tangan yang disebut Witarka – Mudra terdapat pada relung langkah V, menghadap ke semua sisi dan juga digolongkan dhyani Budha Wairocana.

Berjumlah 64 patung.

6. Dharmacakramudra, atau “perputaran roda Hukum”, yang melambangkan kotbah pertama Sakyamuni di Taman Kijang di Benares. Kedua tangan ditahan di dada, tangan kiri di bawah tangan kanan, dan diputar ke atas dengan jari manis menyentuh ibu jari, sedangkan jari manis tangan kanan menyentuh jari kelingking kiri. Posisi tangan yang demikian memberi kesan perputaran roda, dan dihubungkan dengan Vairocana, Dhyani Buddha Puncak. Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Mudra ini menjadi ciri khas bagi dhyani Budha Wairocana. Patung-patung ini terdapat pada teras bundar I, II, dan III, jumlah patung dengan posisi Dharma Cakra – Mudra semuanya 72 patung.

Patung Singa

Pada candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa, jumlah patung singa seharusnya dari 32 patung, akan tetapi bila dihitung sekarang mungkin jumlahnya kurang dari yang seharusnya ada, karena berbagai sebab.

Satu satunya patung singa besar, berada pada halaman sisi barat yang juga menghadap ke barat, seolah-olah sedang menjaga bangunan candi yang megah dan anggun.

I. Stupa

* Stupa Induk

Stupa induk berukuran lebi besar dari stupa-stupa lainnya dan terletak di tengah-tengah (paling atas) yang merupakan mahkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur. Garis tengah stupa induk ±9,90m.

Puncak yang tertinggi disebut pinakel/Yasti Cikkara, pinakel atau yasti cikkara terletak di atas Padmaganda dan juga terletak di atas Harmika. Di atas puncakpinakelnya dahulu dimungkinkan diberi payung (Chatra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdapat lagi).

Stupa induk ini tertupup rapat sehingga orang tidak bisa melihat bagian dalamnya.

* Stupa Berlubang/terawang

Yang dimaksud stupa berlubang atau berterawang ialah stupa yang terdapat pada teras I, II, dan III dimana di dalamnya terdapat patung Budha. Di candi Borobudur seluruh stupa berlubang jumlahnya 72 buah.

Stupa-stupa tersebut berada pad tingkat Arupadhatu.

Teras pertama terdapat 32 stupa

Teras kedua terdapat 24 stupa

Teras ketiga terdapat 16 stupa

Patung Budha yang menghuni pada teras I, II, dan III, terlihat pada teras II sisi barat laut, dengan latar belakang stupa berlubang tingkat II dan III.

* Stupa Kecil

Setupa kecil bentuknya hampir sama dengan stupa yang lainnya, hanya saja perbedaan yang menonjol adalah dalam ukurannya yang memanng lebuh kecil dari setupa yang lainnya. Setupa ini seolah menjadi hiasan dari seluruh bangunan candi. Keberadaan candi ini menempati puncak dari relung-relung pada langkah II samapi langkah V, sedangkan pada langkah I sebagian berupa keben dan sebagian berupa stupa kecil. Jumlah stupa kecil ada 1472 buah.

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.

Sejarah Candi Borobudur
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710) ada berita tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut.

Nama Borobudur
Mengenai nama Borobudur sendiri banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan Budur. Bhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti bihara atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara di atas sebuah bukit.

Prof. JG. De Casparis mendasarkan pada Prasasti Karang Tengah yang menyebutkan tahun pendirian bangunan ini, yaitu Tahun Sangkala: rasa sagara kstidhara, atau tahun Caka 746 (824 Masehi), atau pada masa Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam prasasti didapatlah nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang bagi arwah-arwah leluhurnya. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Pembangunan Candi Borobudur
Candi Borobudur dibuat pada masa Wangsa Syailendra yang Buddhis di bawah kepemimpinan Raja Samarotthungga. Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, dan oleh cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramodhawardhani.

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann, setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang. Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Materi Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Misteri seputar Candi Borobudur
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.

sir-thomas-raffles
Sir Thomas Stamford Raffles

Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur

* 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
* 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
* 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
* 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
* 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
* 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
* 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
* 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
* 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
* 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
* 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
* 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.
* 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

©2008 arie saksono

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Wassalaamu’alaykum wr. wb.