بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Oleh Dwi Afrianti

Merebaknya begitu banyak masalah di Indonesia hingga menjadi masalah sosial menimbulkan keprihatinan yang cukup dalam. Jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka akan menjadi penyakit sosial yang dikenal dengan nama patologi sosial. Jika patologi sosial tidak segera diatasi, lama kelamaan akan menjadi hal biasa sehingga standar nilai masyarakat pun berubah. Orang normal bukan lagi orang yang menjalankan hukum-hukum agama dan budaya, tetapi adalah yang berperilaku terganggu. Maka yang dipandang aneh adalah orang yang melakukan hukum agama. Agama tak lagi mampu menuntun perikehidupan setiap orang karena dipandang tidak berharga.

Sejak kecil setiap kita sudah disuguhi oleh nilai-nilai agama melalui pelajaran agama di sekolah, di tpa (taman pendidikan alquran), di media, dan di manapun juga termasuk di rumah kita sendiri dengan aneka metode, media, bahkan pengajar dengan tujuan berakhlak berprestasi, generasi rabbani, generasi syurgawi, insan kamil, dan lain sebagainya tujuan mulia. Tetapi tampaknya suguhan tersebut hanya dalam tataran pengetahuan saja, tidak terinternalisasi ke dalam hati tiap orang. Atau bahkan hanya dalam tataran mengetahui saja tanpa memahami. Atau paling mengenaskan hanya dalam tataran informasi tak penting. Tahu sebentar untuk kemudian hilang berganti informasi lain. Pelajaran yang diperdengarkan dan dibincangkan pun sebenarnya tidak dimengerti. Kosong tanpa makna.

Sebenarnya bukannya di rumah-rumah dan di sekolah-sekolah juga masyarakat belum pernah ada pendidikan agama. Jadi kita pun tidak bisa mengusulkan ‘adanya pendidikan agama atau penanaman moral’ bagi siswa sebagai solusi atas krisis moral yang terjadi di bumi tercinta terutama di negeri pertiwi ini. Karena hal itu diberikan. Lagipula, siswa bukan satu-satunya anggota masyarakat. Orang tua, keluarga, pemimpin, aparat pemerintah, guru, dan lainnya juga merupakan anggota masyarakat. Butuh kerjasama semuanya untuk membentuk suatu masyarakat beradab. Dalam pelbagai bidang. Setiapnya harus beradab.

Pada zaman modern (postmodern, ding) sekarang ini di mana segala sesuatunya instan, akselerasi, quantum, dan hasil segera dengan kesalahpahaman pemaknaan di hampir semua bidang, menjadikan tujuan-tujuan mulia setiap pendidikan tenggelam. Pendidikan di bidang apapun itu. Tiap kelompok mendewakan konsep tertentu, melahapnya mentah-mentah tanpa berpikir dampak jangka panjangnya. Ditambah lagi dengan penyakit latah yang memang merupakan penyakit khas bangsa asia termasuk Indonesia sudah meluas menjadi hysteria atau dalam agama mengatakan dengan bahasa kesurupan.

Keburukan-keburukan membungkus pikiran dan hati dengan kegelapan demi kegelapan sehingga rasio dan logika tidak lagi mampu memegang kendali atas perasaan yang dominan dimiliki oleh perempuan. Mencari sifat laki-laki yang penuh dengan pertimbangan kebijakan sudah sulit karena laki-lakinya sendiri pun sudah terwarnai oleh sifat perempuan. Atau malah sudah menjadi perempuan; walau sosok tubuhnya jantan tapi pikiran dan perasaannya adalah perempuan. Sekarang juga penyakit amuk, yang juga merupakan penyakit bangsa asia tengah menjadi trend. Kekerasan dan kekasaran dipandang sebagai solusi cerdas dan tepat. Karena pengalaman yang mereka tangkap seperti itu. Ternyata, pembelajaran yang salah dari pengalaman mampu menyesatkan. Tak selamanya pengalaman merupakan guru yang baik. Dibutuhkan itikad yang baik dari murid untuk menerima ajaran-ajaran kebaikan gurunya.

Perilaku konsumerisme, pelbagai obsesi dan keinginan telah meluluhlantakkan kesederhanaan yang tadinya menjadi kepribadian bangsa. Padahal kesederhanaan bisa menumbuhkan kebajikan-kebajikan seperti keseimbangan dalam menakar diri, pola hidup berderma, tolong-menolong, bersabar, bersyukur, tawakal, dan ikhlas. Dengan tumpulnya kesederhanaan, maka orang akan selalu berpikir ke atas, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah di dapat. Hati selalu panas jika belum bisa menjadi orang unggul, minimal menurut persepsinya. Masing-masing kemudahan, kelebihan, kemampuan, dan perolehan diri tidak menjadikan kesyukuran, tapi malah membentuk api yang semakin terus berkobar karena gasnya tak pernah berhenti menyembur. Menyembur di mana-mana menangkap siapapun tanpa pandang rasa kasih sayang yang merupakan dasar dari kemanusiaan. Orang-orang susah serba kekurangan juga membentuk apinya sendiri. Dengan kayu bakar yang mereka panggul dari hutan. Sudah letih mengangkutnya, pulang ke rumah malah menghabiskan bakarannya dengan sesuatu tak bermoral.

Neraka ada di mana-mana. Ketika penyakit psikologis telah menjadi epidemi, apakah ada tempat untuk mengkarantinanya? Apakah dijamin tidak menular? Bagaimana jika dalam satu keluarga, signifikan personnya (ibu, ayah) yang terkena? Bagaimana nasib anak-anaknya? Lalu ada keluarga-keluarga lain yang banyaknya membentuk sebuah desa hingga negara. Padahal menurut Aristoteles, “ perkembangan sebuah keluarga tidak hanya akan mempengaruhi perkembangan negara, tapi proses dan hasil transisi dari pembentukan keluarga menuju negara diperlukan pemerintahan untuk membuat suatu aturan atau hukum masyarakatnya.” Dapat dikatakan bahwa secara umum, gambaran suatu negara adalah gambaran keluarga-keluarga dalam negara tersebut. Negara yang dulunya bersahaja bisa bergeser menjadi negara yang mengejar dunia karena tidak memandang tinggi, memperlakukan dengan hormat disertai penuh rasa syukur adat istiadat, budaya bangsa, dan hukum-hukum agama sehingga ketika kebudayaan barbar negara lain masuk melalui media apapun, negara tidak cukup memiliki kendali. Terlebih jika negara itu sendiri tidak memahami idealisme yang telah dibentuk oleh para pahlawannya terdahulu. Alih-alih ingin modern malah kembali ke purba. Makhluk purba yang tinggal dalam situasi dan kondisi modern, bisa dibayangkan betapa kaget dan tercengang-cengangnya. Dalamnya tak berpakaian, pikiran dan hatinya berteriak-teriak, sementara luarnya berpakaian dengan tingkah laku terkendalikan oleh pelbagai keinginan. Terkilaukan oleh cahaya-cahaya buatan tangan manusia yang juga menyimpan pelbagai keinginan. Membentuk penyakit-penyakit pribadi yang pada akhirnya menjadi penyakit masyarakat. Dunia tinggal menunggu bersatunya neraka untuk membakar orang-orang yang memiliki kayu bakar di pikiran dan hatinya.

Mau dibawa ke mana bangsa besar ini? Kemerdekaan yang juga baru sebentar akankah kembali dijajah oleh anak bangsa sendiri dengan kegelapan demi kegelapannya? Kita tentunya tidak mau hal seperti itu terjadi. Kita tentunya ingin bangsa kita selalu bersinar. Ingin cahaya ketuhanan senantiasa menaungi hati dan pikiran tiap kita, menguatkan rasa pengabdian kepada-Nya yang akan mengantarkan tiap diri mendekat kepada-Nya menuju fitrah. Menuju pengenalan akan diri sendiri dan Tuhan kita. Tapi keinginan saja tidak cukup. Pertama kali dibutuhkan pengetahuan yang menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang selama ini kita yakini mungkin salah sehingga butuh perbaikan mulai dari aspek rasa, karsa, cipta dan kelakuan. Bertobat, meningkatkan keimanan, memperbaiki diri, dan tetap berada dalam petunjuk-Nya dalam hidup dan kehidupan. Amin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ