Bismillaahirrahmaanirrahii

m.
Assalaamu’alaykum wrwb.

KEPOMPONG – Sindentosca

Persahabatan bagai kepompong
mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong
hal yang tak mudah berubah jadi indah.

Persahabatan bagai kepompong
maklumi teman hadapi perbedaan.
Persahabatan bagai kepompong
na na na na na na na na na

—————————————–

Perjalanan Persahabatan Sejak dalam Rahim

Pembentukan sebuah kelompok nonformal, seringkali tanpa adanya hitam di atas putih; tahu-tahu satu sama lain merasa sudah terikat satu sama lain, saling memiliki, saling bertanggung jawab atas lainnya, dan saling memberi dan menerima satu sama lain. Tidak ada ikrar terucap, tetapi ikatannya begitu kuat sehingga tak memudahkan orang lain untuk masuk ke dalam ikatan tersebut atau memutusnya. Hanya masalah besar yang bisa membuat tali tersebut putus.

Orang secara umum menamakan kelompok nonformal tersebut dengan persahabatan. Selama ini pembentukannya dipercaya sebagai hasil dari adanya kesamaan satu sama lain; sikap, minat, kemampuan, pemikiran, kepribadian, dan lain sebagainya. Derajat kesamaannya pun berbeda pada tiap level pencapaian suatu kebutuhan.

Walaupun dipercaya awal terbentuk dikarenakan adanya kesamaan, namun perasaan senang dan bahagia tiap anggotanya berbeda. Ada persahabatan yang terbentuk dari saling suka semua anggotanya, namun ada juga yang merasa sudah terjebak karena tidak sengaja masuk sementara untuk ke luar tidak mungkin karena merasa tidak enak hati, sementara tidak sedikit yang disebabkan oleh hopeless karena tidak ada lagi orang yang tampaknya mau mengajaknya untuk bersahabat. Lalu, apakah dengan pelbagai alasan tersebut apakah memang kesemuanya dapat disebut dengan persahabatan?

Mari kita mengingati kembali saat-saat persahabatan kita sejak di dalam rahim hingga kita bisa bersosialisasi lebih aktif. Selama di rahim, ada plasenta sebagai jalur satu-satunya penghubung makan-minum ibu ke anak, yang sangat berpengaruh kepada pertumbuhan anak. Ke luar dari rahim ibu, kita mendapatkan kebutuhan primer pertama, yaitu asi dengan dekapan hangat sang ibu. Itulah persahabatan kedua. Lalu berlanjut dengan suara-suara dan pandangan-pandangan mulai dari orang terdekat yang sering bersamanya, lalu beranjak lebih luas lagi. Orang yang paling mampu memberikan kebutuhan adalah yang menjadi sahabatnya. Hubungan dengan orang-orang terdekat akan turut mewarnai kepribadian, akan dibawanya – sebagai modal – untuk menempuh hidup dan kehidupan berikutnya. Dari sini terlihat, bahwa sahabat-sahabat mempunyai pengaruh dalam pembentukan kepribadian seseorang.

Memasuki masa remaja, perubahan hormon-hormon yang berpengaruh terhadap perkembangan fisik dan psikisnya, menjadi sebuah kebersamaan diri; menjadi bagian diri yang tidak bisa dimaknai sebagai baik atau buruk, tidak bisa dipersalahkan atas pelbagai sikap negativisme dan arogansi. Negativisme jika mendapatkan bimbingan, mampu berkembang ke arah pencarian diri yang lebih positif. Arogansi pun mereda seiring dengan perasaan aman dan nyaman bahwa “saya mempunyai sesuatu dalam diri saya”. Pada fase ini, sebenarnya yang paling penting dan menjadi fokus adalah “diri saya”, bukan yang lain. Orang lain; entah itu ibu, ayah, saudara kandung, teman-teman dekat, dan lain sebagainya, ‘hanya’ sebagai pantulan baginya. Karena itu ia hanya mencari yang dirasanya cukup pas memantulkan dirinya. Keluarga pun pada akhirnya bisa dirasa tidak penting jika dirasa tidak memiliki cukup banyak kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya, apalagi jika sebelumnya ia tidak memiliki dasar pembentukan kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik di sini minimal sudah bisa kita artikan sebagai ‘cukup kokoh, memiliki suatu gambar walau tak jelas’. Pada fase ini, terlihat bahwa sahabat hanyalah dirinya sendiri. Pacar yang dipunyai pun hanya sebatas terminal jika sesak dengan pelbagai kebingungan. Geng-geng yang terbentuk, terkadang dimaknakan “kita terbentuk karena kita bersahabat”, tak peduli mau berapa puluh sahabat. Toh, tetap saja sahabatku adalah diriku sendiri. Jika beruntung, ia melihat sesuatu yang lebih tinggi lagi, yaitu Tuhan.

Memasuki usia dewasa awal, melihat sebuah persahabatan sudah lebih pada suatu motif lebih tinggi; entah untuk memenuhi hasrat afiliasi, intelektual, sosialisasi, maupun spiritual, dan lain sebagainya. Persahabatan tidak sekedar nonton, nge-mall sambil keceng ketika masa-masa remaja; tetapi lebih banyak berdiskusi, membicarakan banyak hal terkait dengan masa depan dunia maupun akhirat, saling tukar informasi dan pengetahuan yang telah diperoleh. Untuk memenuhi motif tertentu, mereka meamsuki suatu kelompok tertentu yang biasanya lebih terstruktur, dan di sana medapatkan suatu kelompok lebih kecil. Tetapi tidak semua orang bisa mengalami hal itu, ada juga yang mengalami stagnansi; usia boleh bertambah, tetapi level perkembangan remaja tidak mengalami perjalanan… ternyata “aku tidak bisa menjadi sahabat bagi diriku sendiri” sehingga aku pun tidak tahu menahu bagaimana mencari sahabat di luar diriku yang, tentunya sesuai dengan diriku. Si dewasa berada dalam lingkaran pergumulan usia dewasa yang tidak matang, menjadi orang dewasa yang menghabiskan waktu dengan menyesali dan menyesali diri dan menyalahkan takdir.

Definisi “sesuai”, seperti apakah sebenarnya?

“Sesuai” tidak lantas dimaknai dengan kesamaan dalam pelbagai segi kehidupan. “Sesuai” dimaknai sebagai sesuatu yang – sesuai katanya – menyesuaikan diri dengan keadaan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan keadaan orang lain, namun tetap satu visi. Seperti bagian dalam perusahaan, tiap bagian memiliki misi berbeda dalam atap satu kevisian. Entah kenapa, seringkali orang dengan banyak perbedaan di sana sini ternyata mampu bersahabat. “Ya, kami bersahabat walau bertengkaaaarrrr mulu…., tapi cepat damai lagi. Rasanya kalau tidak ketemu sehari saja rindu berat. Entahlah, mungkin memang Tuhan Yang mengikat hati ini.”

Memasuki pernikahan, ketika pagar-pagar lebih terkunci; Sang istri menjadi sahabat sang suami. Begitu pun sebaliknya. Di antara semua kelompok persahabatan di atas, tampaknya ikatan persahabatan dalam pernikahan yang paling langgeng. Selain adanya bahasa formal yang mengikat pasangan; ijab Kabul, pernikahan juga dilandasi atas dasar harapan untuk menyempurnakan setengah bagian agama laginya. Tidak jarang juga terjadinya kegagalan persahabatan pada level ini, dengan pelbagai alasan. Terbanyak dengan berkata, “Kami sudah tidak cocok lagi.” “Sudah tidak ada kesesuaian di antara kami.” “Susah menyamakan keinginan satu dengan lainnya.” Yang ingin ditanyakan: “sejauh mana kesamaan menyatukan? Dan sejauhmana perbedaan memisahkan?” Atau “Sejauhmana kesamaan memisahkan? Dan sejauhmana perbedaan menyatukan?”

Memasuki usia memiliki kitabul mubin (kitab penjelas, dalam hal ini anak), persahabatan kembali lagi seperti ketika kita baru ke luar dari rahim, hanya saja sekarang kita yang menjadi subjek bagi sang bayi yang merupakan objek cinta. Namun bayi menjadi subjek bagi dirinya sendiri, dan orang tua menjadi objek cintanya. Jika tak ada cinta yang dirasakan orang tua kepada bayi yang mungkin mendefinisikan cinta dengan asi dan dekapan, maka orang tua tidak menganganggap bayinya sebagai sahabat. Dengan begitu, usaha yang diberikan untuk pemeliharan optimal kepada sang bayi pun kecil. Namun tak jarang pun, tampaknya cinta sang bayi bertepuk sebelah tangan; orang tua setengah-setengah memberikan pengasuhan. Tampak enggan membuka ikatan persahabatan dengan bayi dan anak-anaknya. Lambat laun, anak-anak yang tidak menemukan persahabatan di rumah akan mencarinya di luar. Namun model persahabatan yang tidak ditemukan di rumah akan menyulitkan bagi mereka untuk mencari model yang baik di luar sana.

Persahabatan berganti seiring usia, seiring pencarian, seiring pencapaian. Tak jarang predikat tidak setia menjadi label bagi seorang sahabat yang ke luar dari kelompoknya. Apakah memang pas kata “tidak setia” itu, jikalaulah seseorang sudah merasa tidak pas lagi dengan persahabatannya. Kepribadian yang terwarnai oleh sahabat ternyata tak cukup mampu menghalangi seseorang untuk menemukan sesuatu yang lain, yang mungkin dianggapnya lebih tinggi. Jiwa terbang turun menyapa sang jasad, “akulah sahabat itu, sebelum kau temukan sahabat sejatimu.”

Ternyata, sahabat dan sahabat sejati adalah dua hal berbeda.

Pengertian Persahabatan

Dalam Naskah Lysis (Persahabatan) – percakapan antara Socrates, Lysis si pemuda tampan yang digilai oleh Hippothales, Ktessipos, dan Menexenos – diperbincangkan pelbagai definisi persahabatan. Di dalamnya tergambar bahwa begitu sulit mendefiniskan persahabatan. Perbincangan pertama jatuh pada bahwa seseorang (subjek) sudah bisa dianggap bersahabat dengan yang lain (objek) jika si subjek mencintai si objek walaupun si objek tidak mencintainya. Pun jika seseorang mencintai sesuatu selain orang, materi duniawi misalnya. Cintanya dengan si objek disebabkan oleh adanya suatu kebaikan, bahkan tanpa si objek mengetahuinya sekalipun; dan si subjek menghendaki kebaikan bagi si objek. Dengan adanya kebaikan pada si objek, si subjek dapat meneruskan cintanya kepada si objek. Kebaikan itu bisa dalam bentuk apapun, sesuatu yang berguna bagi subjek; entah itu ‘hanya’ kesenangan dalam menikmati kecantikan atau ketampanan seseorang, kawan jenis maupun lawan jenis. Kita tidak sedang berbicara cinta lawan jenis di sini, kita sedang membicarakan persahabatan. Paiderasteia merupakan salah satu bentuk pendidikan di Yunani kuno. Paiderastia merupakan hubungan cinta atar sesama lelaki, didefinsikan lebih kepada persahabatan; bahwa lelaki muda mengambil teladan kepada lelaki lebih tua. Sementara yang tua harus membuktikan diri bahwa ia layak diteladani oleh lelaki muda. Ide paiderasteia ini lahir dari harapan orang Yunani agar anak-anaknya memiliki ideal moral: gagah berani dalam mengungkapkan kemerdekaannya dalam memiliki moral yang ideal, kepada siapa yang menjadi teladan dan meneladani.

Pada zaman Yunani dahulu kala, pendidikan hanya untuk kaum lelaki. Hal tersebut memiliki landasan filosofis bahwa tiap orang harus mewujudkan sisi maskulinitasnya, yaitu memiliki arête (keutamaan, bisa disamakan dengan misi/ tugas hidup sejati).

Perbincangan tentang persahabatan dalam naskah Lysis berlanjut; bahwa persahabatan muncul dari dua orang atau lebih yang memiliki kesamaan. Namun hal tersebut terbantahkan karena tidak mungkin sebenarnya orang-orang yang memiliki kesamaan dapat dipersatukan. Kesamaan hanya dapat mengembangkan perasaan iri dengki dan kebencian. Kesamaan yang dibedakan oleh kualitas dapat menimbulkan kesombongan, sementara di pihak lain perasaan rendah diri. Bagaimana orang dengan tugas yang sama dapat bekerja sama? Tidak mungkin ada dua orang yang mengerjakan tugas yang sama kecuali dalam perlombaan dan pertandingan yang memunculkan persaingan. Munculnya perbandingan berupa kualitas, dan tentu saja kuantitas, akan mampu memunculkan penyakit-penyakit iri dengki, kebencian, kesombongan, dan rendah diri. Lama kelamaan persahabatan yang disebabkan oleh adanya kesamaan akan menghancurkan tiap diri dari dalam, menenggelamkan aretenya masing-masing. Dan memisahkan antara jiwa dengan jasadnya. Memisahkan antara jiwa dengan jiwa-jiwa lainnya. Itu namanya bukanlah persahabatan, tetapi permusuhan.

Dari pertimbangan hal tersebut di atas, memunculkan asumsi bahwa persahabatan kalau begitu terbentuk dari adanya perbedaan tertentu. Dengan perbedaan, tiap orang bisa saling memberi dan menerima satu sama lain. Arete yang berdekatan terlibat dalam suatu persahabatan lebih intensif. Dan tentu saja arête berjauhan juga mampu untuk bersahabat, karena tetap mereka menemukan dan mengambil manfaat Kebenaran dari satu sama lainnya. Persahabatan dengan alasan ini akan memiliki kelanggengan, karena Kebenaran menjadi tujuan utamanya, walaupun Kebenaran seringkali menyakitkan; tidak memberikan jasad kesempatan untuk bersenang-senang terlalu berlebihan. Lagipula, pertimbangan Kebenaran atas nama jasad akan menyesatkan.

Pengetahuan-pengetahuan Kebenaran tiap orang akan terhimpun dalam suatu jamaah kecil, menuju besar, untuk pembentukan suatu masyarakat ideal. Tidak seperti perbincangan awal tentang persahabatan dimana syarat terjadinya persahabatan minimal dengan hanya cukup satu saja yang mencinta; dalam jenis persahabatan ini dibutuhkan cinta dari kedua belah pihak, dan antara satu sama lainnya harus saling mengetahui bahwa keduanya saling mencintai satu sama lainnya. Mereka harus tahu bahwa mereka saling memiliki satu sama lain; apa yang menjadi milik A akan otomatis menjadi milik B, dan sebaliknya. Dengan begitu, hanya dengan apa-apa yang benar-benar menjadi milik diri sendiri, maka kita akan mau dan mampu bertanggung jawab.

Perbincangan di dalam Lysis pun ditutup Socrates dengan: “Tadi itu kita hanya berbicara tentang persahabatan, bukan persahabatan sejati. Ternyata, sampai saat ini pun kita tidak berhasil mengetahui pengertian Sahabat Sejati, sahabat sebenarnya.”😀

Sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib, senada dengan tulisan di pintu sebuah kuil Apollo di Delphi: ‘Gnothi Seauthon’ (Kenali Dirimu), yang dipergunakan juga oleh Socrates, “Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenali Tuhanmu.”

Dirimu, yang berinteraksi dengan sahabatmu, adalah persahabatan. Dirimu, yang berinteraksi dalam Tuhanmu, yang terikat (akhd) dalam suatu perjanjian (iqraar) adalah Persahabatan Sejati. Maka ‘kepribadian’ Tuhan pula yang akan mempengaruhi jiwa raga kita.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=166393532299

Namun, walaupun kau membentuk Persahabatan Sejati, Socrates mengatakan, “Sampai kapanpun kita tidaklah benar-benar berpengetahuan.Yang ada hanyalah pecinta pengetahuan (hikmah = kebijaksanaan/ sophos).” Tetapi di lain waktu Socrates berkata, “Penemu kebijaksanaan/ pengetahuan tidak akan mengatakan bahwa dirinya bijaksana/ berpengetahuan.”

Jelas, bahwa sesungguhnya hanya Dia Yang Berpengetahuan. Walau sampai kapanpun kau tak akan benar-benar mampu mengenali-Nya dengan utuh, tapi memang hanya Tuhan Sahabat Sejati.

Hadits Nabi Muhammad saw., “Tiap orang akan dibangkitkan dengan para sahabatnya.” So, siapakah sahabat yang akan bersama kita di alam barzakh dan akhirat nanti? Mengingat, bahwa syahwat dan hawa nafsu pun mempunyai bentuk yang mengikat pada kita, jadi silahkan bayangkan berapa deret sahabat-sahabat mengerikan yang mengekor jika kita mati belum mendapatkan Rahmat Allah swt. Belum lagi yang lain. Na’udzubillah mindzalik.

“Ya, Allah, Jadikanlah kami memiliki sahabat-sahabat penuntun kebenaran dan Sahabat Sejati. Amiin, ya, Rabbal ‘alamiin.”

Wassalaamu’alaykum wrwb.
Wiwik Ikbal.