بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Oleh Dwi Afrianti

Perubahan dunia fisik, rasionalitas, keabadian, orisinalitas, keindahan setangkai bunga, sinar matahari terbit, rangkaian musik atau sebuah peristiwa cinta adalah merupakan imitasi sangat sempurna dari keindahan. Sebuah lingkaran, dan semua bentuk geometri lainnya, merupakan suatu bentuk ideal matematika. Tidak mungkin bagi seseorang untuk menggambar sebuah lingkaran sempurna, karena adalah suatu kepastian jika gambar tersebut hanya merupakan sebuah imitasi dari bentuk fisik lingkaran yang sangat sempurna.

Vsari memberikan pendapatnya, dalam “Kehidupan Para Pelukis”, “Melukis hanya merupakan imitasi dari semua bentuk kehidupan dengan warna dan desain yang sama dengan alam fisik dan alam ide.”

Keindahan, dan kesempurnaan lingkaran merupakan contoh dari Form (bentuk)/ Alam/ Dunia Ide; merupakan “suatu kebenaran hakiki”.

Dunia Forms adalah dunia irasional yang tidak berubah; sementara dunia fisik mengalami perubahan dan rasional, dan hanya memiliki realitas kepada tingkat keberhasilannya dalam mengintimasi Forms. Pikiran tingkat tinggi atau jiwa dimiliki oleh dunia Ide; jasad dan keinginan-keinginannya merupakan kotoran dunia fisik. Jadi, kehidupan terbaik manusia adalah menjadi seorang yang berjuang untuk memahami dan untuk mengimitasi Forms sesuai kemampuannya. Kehidupan itu adalah kehidupan dari pikiran yang benar, kehidupan seorang filsuf. Kontrol diri, khususnya kontrol keinginan, merupakan hal penting bagi jiwa yang menginginkan untuk menghindari godaan dari pelbagai syahwat: sensualitas, ketamakan, dan ambisi hawa nafsu, lalu selanjutnya menuju dunia Ide.

Ketika seni mengimitasi benda-benda fisik (pengalaman), lalu berganti mengimitasi Forms, maka seni selalu merupakan sebuah imitasi dari sebuah imitasi; ia membimbing kita, bahkan bisa lebih jauh dari sebuah kebenaran menuju ilusi. Ketika hal itu terjadi, maka seni dapat menjadi berbahaya.

Namun, bagaimana jika seni pada suatu saat mampu untuk membuat sebuah imitasi sempurna yang berasal dari Forms daripada dari pengalaman hebat kita sekalipun? Plato menjelaskannya dalam dialognya, “Ion”. Seorang seniman puisi bernama Homer mendeklamasikan sebuah puisi berjudul “Ion” dengan baik, namun tidak dengan puisi yng lain. Socrates memberikan penjelasan tentang hal ini; terlihat padanya bahwa jika Homer memiliki pengetahuan Ilaahiyyah terhadap puisi, maka seharusnya ia mampu mengaplikasikan pengetahuannya terhadap puisi yang lain, sebaik ketika ia mendeklamasikan “Ion”. Socrates menyimpulkan bahwa Homer tidak sungguh-sungguh memiliki pengetahuan Illaahi. “Waktu” ketika “Ion” dibawakan oleh Homer, maka merupakan “waktu” ketika ia sedang terinspirasi oleh Tuhan (pengetahuan Illaahiyyah). Ketika seseorang mengalami inspirasi ketuhanan, maka ia membuat imitasi yang baik dari sebuah kebenaran. Ketika hal itu terjadi, maka seorang seniman merupakan bagian dari kenabian (mendapatkan ‘inspirasi’ melalui wahyu, ilham).

Banyak seniman pada zaman dahulu, medieval, dan modern serta estetikawan berpendapat bahwa seni adalah sesuatu yang menarik yang diperoleh dari inspirasi ketuhanan. Kreativitas jenius para seniman sering menghasilkan sesuatu yang menakjubkan, dimana tentang hal tersebut para seniman hanya akan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana saya melakukannya.” Padahal, seniman sering menunjukkan kepada kita inti dari sesuatu, dan membuka kebenaran-kebenaran yang sebelumnya tidak kita lihat.
Seniman sering terinpirasi oleh Tuhan; bahkan sampai menjadi ´gila´. Terdapat beberapa model seni yang merupakan kombinasi dari inspirasi dan imitasi yang menunjukkan bahwa seorang seniman atau musisi mengalami kontemplasi sebuah dunia Ide, dan menghasilkan sebuah karya seni.

Ketika akal tertinggi seseorang memimpin pengendalian jiwa-raganya, maka mata bathinnya akan terfokus pada realitas transcendent seperti kebenaran, dan seni yang dihasilkannya akan mampu untuk menyusun dan mengharmonisasi emosi yang berlawanan dan kebiasaan-kebiasaan buruk; dengan cara demikian akan menghasilkan kekuatan dinamis untuk memenuhi hasratnya akan Tuhan.

Dari pelbagai sumber yang terlupakan… gak jauh-jauh ada Platonya juga…🙂

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ