Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Oleh Dwi Afrianti

Plato mengatakan, bahwa pendidikan awal untuk anak adalah: SASTRA, MUSIK, dan GYMNASTIK. Mirip dengan Plato, Aristoteles memberikan perhatian tentang pendidikan dasar bagi anak kepada ketiga hal tersebut, ditambah dengan melukis, membaca dan menulis.

Musik dan Sastra dapat menyetir emosi manusia; mereka dengan kuat menggerakkan setiap orang. Mereka mampu dengan kuat mempengaruhi tingkah laku, bahkan karakter tertentu manusia. Karena itu, maka seni, khususnya musik sebagai seni murni dan paling agung, bersama dengan sastra, harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak, dengan „catatan“ mensensor bagian model yang jeleknya dengan memberikan model yg baik (Confucius dan Plato).

1. SASTRA (KISAH)

QS. 11 : 20
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

QS. 12 : 111
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (ulil albaab). Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Bahan cerita harus – bahkan hanya – yang mengandung unsur positif dengan tidak mendua makna, hal ini agar anak-anak dapat mengetahui nilai-nilai ideal dalam kehidupan; kebahagiaan sebenarnya itu seperti apa, kesederhanaan, tolong-menolong, keberanian, kejujuran, cinta kasih, keinginan belajar, meminta maaf, mengalah, dll. Melakukan semuanya dengan patriotism. Anak-anak belum dapat diberikan pilihan baik-buruk karena memang tidak tahu. Tingkat kesulitan atau tingkat masalah suatu cerita yang diberikan kepada tiap anak berbeda-beda, tergantung tingkat kebutuhan anak-anak, juga kemampuan dan minatnya. Intinya dalam suatu cerita ada pesan moral yang disampaikan, jangan hanya sekedar pengetahuan saja. Anak yang mempunyai rasa ingin tahu, keberanian, dan imajinasi yang kelewat tinggi mempunyai resiko tinggi untuk melakukan agresi ketika mendengarkan cerita berbau kekerasan.
Penanaman nilai tentang buruk dan salah bisa menjadi bencana juga, karena anak belum tahu penempatannya secara benar. Begitupun dengan pemberian hukuman. Hati-hati. Jika tidak tepat akan bahaya. Ada anak tertentu yang semua aspek psikologisnya sensitive sehingga mengolah pikir dan rasa dengan begitu berlebihan. Anehnya kenapa orang lebih mudah teringatkan oleh hal-hal buruk/ salah daripada hal baik/ benar. Lebih baik beri hadiah atas setiap kebaikannya (bukan hanya materi). Untuk setiap kata dan perilaku buruknya dinasehati terus sambil kita pun istighfar. Memang proses nasehat akan lebih lama daripada pemberian hukuman, tampaknya tidak ada hasilnya. Pemberian hukuman tampaknya lebih cepat, efektif. Memang, efektif untuk waktu yang cepat, tapi jangka panjangnya hasilnya mungkin tidak mengenakkan. Kelak ia pun akan menghukum orang lain dengan cara yang lebih daripada yang didapatkannya.

2. MUSIK

Kisah-kisah dan imej-imej memang terlihat nyata dapat membentuk karakter, namun bagaimana hal itu dapat terlihat pada musik? Plato menjelaskannya melalui teori Pythagoras dan nomor mistisnya. Rhythm (irama) dan pitch (ketukan) mampu diekspresikan sebagai formula matematika; dan musisi mengetahui teknik-teknik untuk menghasilkan suara tertentu. Rasio geometri merupakan bagian yang terinspirasi oleh rangkaian dari nada-nada yang berhubungan dengan getaran sebuah string (senar/ dawai). Suara-suara yang dihasilkan oleh pemain string akan benar-benar menjadi indah apabila mereka bermain dengan “harmonis”. Musik yang baik akan menolong jiwa menjadi harmonis. Tapi itu berarti kita harus menentukan model-model musik tertentu yang boleh ada di dalam Negara; yang kondusif untuk keharmonisan jiwa. Hanya ketika anak-anak muda benar-benar siap, yang memiliki karakter kuatlah yang sudah dapat dibukakan gambaran tentang keburukan dan kejahatan, dan pencampuran pelbagai model musik.

Plato: aku bisa mengetahui watak anak muda yang mempengaruhi peradaban sekarang melalui jenis musik yang sedang trend.

Musik sangat memberikan pengaruh, hal itu dapat dibuktikan dengan banyak cara, salah satunya adalah nyanyian Olympus ketika dikumandangkan. Musik mampu menginspirasi antusiasme manusia dan antusiasme tersebut merupakan emosi bagian etika jiwa. Ritme dan melodi merepresentasikan kelembutan dan amarah, keberanian dan kesabaran, serta berbagai kualitas karakter yang sebaliknya, yang hampir menyerupai perasaan yang sesungguhnya, karena dengan mendengarkan music jiwa kita mengalami perubahan. Musik yang benar, juga melukis merupakan objek imitasi dari alam idea (kalau dalam lagu gending sriwijaya terletak pada bait “kuciptakan kembali dari kandungan maha kala”). Musik cocok bagi anak-anak karena mereka menikmati keindahan yang lebih alami (karena merupakan objek imitasi dari alam idea). Tentunya akan berbeda pengaruhnya bagi yang menjadi pelaku musik (memainkan alat musik atau bernyanyi) dengan yang hanya menjadi pendengar. Aristoteles meyakini bahwa anak-anak harus diajari bermain musik atau bernyanyi. Tentunya keduanya harus dalam hal yang benar.

Musik dapat mengembangkan kecintaan akan keindahan, dan menyediakan disiplin mental dan moral yang diperlukan untuk menghasilkan pengetahuan secara filosofi. Ia berperan sebagai ‚benteng‘ dari suatu negara karena itu penting untuk menjaga kualitas musik yang masuk ke suatu negara agar tetap baik, karena musik yang didengar akan mempengaruhi stamina moral dan mental pendengar.
“Musik tertentu dapat berbahaya untuk keseluruhan masyarakat, dan harus dilarang penggunaannya. Ketika model musik berubah, maka dasar hukum negara pun turut mengalami perubahan sesuai dengan model musiknya”
(Aristotle, The Politics, translated by T. A. Sinclair, revised by T. J. Saunders, London: Penguin, 1981, book 8, section 5, page 466)

Menurut Zhu Guangqian 朱光潛, Confucius memberikan dua dasar dari musik, yaitu :
1. Spirit dari musik (berbentuk harmoni)
2. Spirit dari ritual-ritual (berbentuk aturan)

Untuk setiap individu, harmoni berguna untuk menjaga dan menajamkan pikiran, emosi, dan tingkah laku dalam pencapaian inner peace, sementara ritual keagamaan (syariat/ aturan-aturan) melatih seseorang untuk berperilaku tepat sesuai ajaran agama.

Pergerakan the tune dan rhythm dalam musik sesuai dengan aktivitas psikologis manusia. Pelatihan musik merupakan instrumental potensial dan lebih efektif daripada jenis seni lainnya karena rhythm dan harmoninya akan merasuki sisi bathin terdalam dan pikiran terindah manusia, masuk ke dalam jiwa; dengan cepat dan begitu kuat. Disamping itu, musik merupakan refleksi dari pergerakan hukum dari alam semesta, dan terdapat harmoni didalamnya.

Skala pentatonik, yang biasa ditemukan pada lagu-lagu tradisional/ rakyat, begitu umum dan alami bagi anak-anak. Anak-anak seharusnya memang lebih banyak dilatih untuk bernyanyi dan memainkan musik dalam skala pentatonik, karena kefamiliaran nada tersebut bagi mereka. Dalam skala pentatonik terdapat nada-nada yang membuat jiwa tak harmoni menjadi berusaha untuk diharmonikan. Ketenangan dan kedataran nada-nadanya membuat kita menyusuri sebuah negri kedamaian. Mungkin, lagu-lagu harian berisi pesan-pesan moral dan semangat kepahlawan juga memiliki makna.

3. Gymnastik

Gymnastik bertujuan untuk pengendalian diri terhadap kesenangan-kesenangan, pembentukan karakter dan perkembangan fisik yang baik. Adanya pengendalian diri terhadap hal-hal di luar adab agama/ budaya, melakukan ritual agama seperti berwudhu dan shalat. Ada aturan-aturan yang mengikat berkaitan dengan waktu, urutan, tata cara, dan lain-lain yang dilakukan dengan penuh perhatian/ terfokus pada yang satu. Ritual-ritual/ syariat keagamaan memiliki pendidikan moral, dan terikat erat dengan pendidikan estetika. Plato juga percaya bahwa pendidikan estetika dan pendidikan umum saling mengisi satu sama lain, dan terdapat sebuah keseluruhan yang homogen.

Adanya pengaturan makanan dan latihan-latihan motorik juga dapat memberikan keuntungan bagi jiwa raga. Untuk mengurangi sifat tamak, maka makanan sebaiknya dimakan secara bersama-sama dengan orang lain dengan menu yang sederhana. Selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, makan-minum duduk, mengambil makanan dalam porsi kecil, bersikap sportif, melakukan syariat agama dan kesopanan. Latihan fisik dapat mengembangkan keberanian, kesabaran, ketabahan, dan keuletan; Olahraga yang dapat dilakukan misalnya berenang, senam, anggar, memanah, lempar lembing, dan mengendarai kuda. Kombinasi dari musik dan gymnastik (co. Drama musical, play pretend) akan menghasilkan sebuah keseimbangan harmonis antara jiwa dan jasad.

4. Melukis

5. Membaca dan Menulis

Membaca dan menulis penting untuk mencari dan menerima pengetahuan.

Confucius maupun Plato sangat menekankan pentingnya pendidikan seni ini, bahkan mereka berpendapat bahwa setiap warga negara harus memiliki pendidikan seni yang harus menjadi dasar hukum suatu Negara. Pemberian pendidikan seni dapat dikombinasikan dengan pendidikan dalam area lain seperti matematika, ilmu alam, ilmu sosial dan lain sebagainya.

Referensi:
Aristotle II, “Politics (Politica)”
Aristotle II, “on Poetics (De poetica)”
Plato, “The Republic”
Plato, “Timaeus”
Pythagoras
Confucius
Ornstein, Levine, “Foundations of Education”
Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.