بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Pada suatu hari, istri Rumi, Kira-Khatoun bertanya kepadanya tentang makna dari hadits, “Kebanyakan penghuni Surga adalah orang-orang bodoh.” Rumi pun menjawab, “Jika mereka bukan orang-orang bodoh, maka bagaiamana mereka bisa dipuaskan dengan hanya diberikan surga dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya?”

Lebih lanjut, Rumi menjelaskan maksud kata-katanya:

Jika di dalam neraka, aku tak bisa menyentuh Rambut-Mu,
maka aku akan merasa malu kepada penduduk langit.
Jika tanpa Engkau aku dipangggil ke lelangit,
maka tempat yang luas itu akan menjadi terlalu sempit bagi hatiku.

Berkata lagi Rumi, “Setiap orang yang menyendiri di dalam sebuah kebun akan terhalang dari memandang yang lain selain Pemilik Kebun.” Lanjutnya:

Bagiku, Surga tanpa-Nya adalah neraka dan musuh besar;
Aku telah dibakar oleh Keindahan yang tak terkatakan
Yaitu KeAgungan dari Cahaya Al-Haqq.

Aflaki, Teachings of Rumi; Terjemahan Inggris oleh Andrew Harvey.

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ