بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

MUSIK (suara yang teratur)

Pendahuluan

Suara musik adalah suara yang dihasilkan dari keteraturan getaran
dalam udara, dan diterima ketika si pendengar menyukainya. Banyak
budaya memiliki dongeng-dongeng yang bercerita bahwa pada zaman dahulu
kala ada suatu bunyi atau getaran yang menciptakan segala sesuatu dari
kehampaan. Para cendekiawan Hindu kuno berkeyakinan bahwa alam semesta
pada mulanya muncul berupa bunyi; selanjutnya bunyi menjadi cahaya,
dan cahaya menjadi zat. Dari kawasan Timur Tengah berkeyakinan bahwa
awal semua ini adalah Sabda, bunyi yang berasal dari atau perwujudan
Allah. Musik merupakan unsur mendasar, yang mencerminkan hukum-hukum
pengatur alam semesta. Musik dapat mengubah nasib seluruh peradaban.
Secara fisiologis, dalam perkembangan otak dan pikiran di dalam rahim,
sistem pendengaran terbentuk pada tahap sangat dini (usia kehamilan 5
bulan).

Penelitian telah menunjukkan bahwa otak bayi baru lahir bahkan janin
telah dikaruniai kemampuan penuh untuk mengenali elemen-elemen musik
seperti kunci nada (key), titinada (pitch), dan tempo. Sistem-sistem
yang digunakan oleh otak untuk memproses musik entah identik atau pada
dasarnya saling terkait dengan sistem-sistem yang digunakan dalam
persepsi, daya ingat, dan bahasa. Seorang psikolog, Dr. Jamshed
Bharucha mengajukan teori bahwa pola musik pada dasarnya mencerminkan
struktur pengorganisasi pada otak manusia yang terus berkembang.
Dengan begitu ia menyimpulkan bahwa mengapa musik sangat menyenangkan.
Bukan hanya sekedar menyenangkan. Musik memberikan lebih daripada hal
itu. Melalui penelitiannya, Don Campbell mengatakan bahwa sesungguhnya
musik merupakan salah satu kecerdasan bawaan utama manusia, dan
merupakan sebuah dasar sangat penting yang memungkinkan lahirnya
orang-orang berkecerdasan lebih tinggi. Rudolf Steiner sendiri
mengakui bahwa musik sebagai landasan kecerdasan otak, kreativitas,
kemampuan matematika, dan perkembangan rohani, selain sebagai bentuk
seni yang paling agung. Sementara itu, Jean Piaget (ahli perkembangan
dan pendidikan anak) mengakui musik sebagai suatu kecerdasan bawaan
yang siap untuk terungkap pada saat seorang anak berusia 3 hingga 4
tahun.

Fisikawan David Bohm (murid Einstein), mengatakan, bahwa zat adalah
cahaya yang beku, sedangkan musik adalah keterurutan dengan
keterkaitan sangat tinggi. Keterurutan ketika energi kuantum secara
hampir tak terasa mengawali semua pengalaman kita. Einstein sendiri
memiliki kisah cinta yang panjang dengan biolanya. Seorang ilmuwan
syaraf penerima Nobel, David Hubel, sewaktu ditanyai tentang minat
lain selain bidang kesyarafan mengatakan bahwa banyak ia menghabiskan
hidupnya untuk bermain piano.

Plato mengatakan bahwa andaiakata ia dapat mengetahui musik yang
didengarkan dan dimainkan oleh kaum muda, maka ia dapat memprediksi
masyarakat apa yang akan dibentuk oleh mereka. Plato juga berkeyakinan
bahwa selain musik, kurikulum pendidikan dasar bagi anak-anak harus
memasukkan sastra yang baik dan gymnastik (Bukan hanya dalam
pengertian olahraga, tapi juga semisal ritual agama, adab agama dan
budaya). Pendidikan sastra memiliki kekuatan besar dalam pembentukan
karakter, maka hanya kisah-kisah penguat fuad-lah yang harus
dibacakan/ diberikan kepada anak-anak. Sementara gymnastik bertujuan
sebagai pengendalian diri terhadap kesenangan-kesenangan, juga
merupakan pembentukan karakter dan fisik yang baik.

Nada dan irama dalam musik sesuai dengan aktivitas psikologi manusia.
Pelatihan musik yang baik merupakan instrumental potensial, karena
irama dan harmoninya akan merasuki sisi bathin terdalam dan pikiran
terindah manusia, masuk ke dalam jiwa, dengan cepat dan begitu kuat.
Musik, bersama matematika merupakan refleksi dari pergerakan hukum
alam semesta, dan terdapat harmoni yang berguna untuk menjaga rasa,
pikiran, dan tingkah laku dalam pencapaian harmoni jiwa raga.
Pythagoras menemukan sistem matematika di dalam interval-interval
titinada dalam musik melalui percobaan dengan tabung-tabung/ string.
Tiap nada memiliki frekuensinya masing-masing. Mungkin setiap orang
juga memiliki frekuensi, karena tiap orang memiliki nada dasarnya
masing-masing. Frekuensi juga bisa berhubungan dengan warna-warna yang
ada di alam semesta.

Kebanyakan musik barat menggunakan 7 nada (skala diatonik) dalam
musiknya, dengan menambah nada-nada kromatis (pake kress/ mol) jika
dibutuhkan. Sementara Wagner dan Debussy sendiri (susah banget
musiknya) sudah sedari dulu banyak menggunakan nada-nada kromatis
dalam musiknya. Kebanyakan musik tradisional seperti China, Afrika,
Asia (termasuk Indonesia) menggunakan 5 nada (skala pantatonik).
Nada-nadanya datar, terasa berulang-ulang. Seperti memberikan
penekanan, penguatan, dan pengingatan. Yang pasti pengarahan/
pemfokusan pada Satu. Yang gak biasa, akan ngantuk atau bosan
mendengarkan musiknya.

Bersambung, insya Allah selanjutnya pembahasan
tentang elemen-elemen musik (sistem dasar musik): rhythm, melodi, key,
harmony, counterpoint, dan color (dinamika) yang tentu saja ikut andil
dalam memberi perubahan pada kehidupan manusia. Karena itu mengapa
tidak semua musik mampu memberikan pengaruh yang baik. Juga ingin
sekali membahas karakter-karakter yang dimiliki oleh beberapa
instrumen musik.. seperti piano, biola, alat musik dari bambu dll sehingga
setiap orang bisa meraba alat musik yang pas baginya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Salaam…