Juli 2010


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Risalah Sang Merpati (Ruh al-Quds) – al-Ittihaad al-Kawn,ii Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Diterjemahkan oleh Dwi Afrianti dari Buku “The Universal Tree and the Four Birds,

Terjemahan Inggris oleh Angela Jaffray, dengan komparasi ke teks Arab “Kitab “al-Ittihaad al-Kawnii fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah”, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

Ketika Sang Merpati (Ruh al-Quds) usai mendengarkan risalah Pohon Semesta dan pengenalan haqiqat yang dibawanya, dia pun menangis dalam taman kesucian sambil diri (nafs) miliknya memperkenalkan diri:

Ketika Allah Berkehendak (arooda) untuk membawa diriku kepada penyaksian, Dia pun membuatku ’melihat’ haqiqat jiwaku. Dia (Allah) melingkari leherku dengan cincin kemuliaan dan menganugerahiku ”Sidratul Muntahaa” sebagai tempat tinggal. Dia (Allah) memanggil Sang Elang, memberikan jaminan kepadanya bahwa dia akan selamat dari hukuman. Sang Elang, yang berada di balik tembok tepat di depan pintu, menjawab patuh, ”Hamba mendengar panggilan-Mu.”

Dia (Allah) berkata kepadanya, “Sekarang kau sedang berada di dalam pengasingan, walaupun kau sekarang dekat dengan-Ku. Aku tidak seperti yang engkau inginkan, jadi pasti kau tetap merasa kesepian. Tetapi kau adalah qurrota ‘ayn. Maka munculkanlah Sang Merpati (Ruh al-Quds) dalam realitasmu. Ni’mati kelompoknya dan bersemangatlah setiap mendengarkan kata-katanya, karena tidak ada hubungan kekeluargaan antara Aku dan engkau; Aku lah daya dan kekuatan tanpa batas.”

Sang Elang menjawab, “Bagaimana sesuatu bisa manifest dariku jika sekarang aku sedang berada dalam maqom lemah, tiada daya dan kekuatan yang kumiliki, wahai, Allah?”

Dia (Allah) menjawab, “Teruslah memanggil-Ku dengan penuh harap dan takut; penuh dengan kesedihan mendalam, maka kau akan berhadapan langsung dengan kuasa-Ku. Inilah harmoni kedua dan penyatuan.”

Sang Elang mematuhi-Nya. Dia pun melipatgandakan harap dan takut serta sedu-sedan panggilan-panggilan kepada-Nya. Lalu muncullah “aku”; Al-Haqq memanggilku dan aku bergegas menghampiri-Nya. Bagaimanapun, Sang Elang tidak memahami apa yang sedang terjadi; dia tampak khusyuk dengan mahar dan kedatanganku. Manakala dia mendengar aku menjawab panggilan Illaahi, dia bertanya, “Apa ini yang datang?”

Segera dia melihatku, dan dia pun jatuh cinta kepadaku. Keindahan Allah memelukku dan membuatnya mabuk cinta. Gairah cinta menjadikan kepedihan luar biasa, “Aku terbakar! Aku tenggelam!” Dia bagai seekor burung bulbul, mendendangkan ratap kesedihannya, mencoba untuk mengobati perih cinta, tetapi bakaran itu hanya semakin berkobar saja. Tampaknya, tak ada siapapun yang dapat menghibur dukanya. Tak kuizinkan pula dia untuk menciumku, meskipun dia akan terobati dengan berbaring sambil memelukku. Hijab keraguan tersingkap, dan dari belakang kemah-kemah besar al-Ghayb, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang salah denganmu sehingga dia (aku) tidak mengizinkanmu untuk mencapainya dan meni’mati nyanyiannya? Mengapa kau (Sang Elang) tidak melihat dia (aku) melalui sifat-sifat dan kebesaran hikmahnya?”

Dia (Sang Elang) memanggilku kepadanya, “Inilah aku!”
Aku mendatangi panggilannya. Dia memerintahkanku untuk duduk, sebelum dia sendiri yang duduk. Dia berkata, “Aku terbakar dengan gelora semangat yang tampak pada wujuudmu; betapa aku telah mengamati kualitas dari pengetahuan spiritualmu. Kuasa Illaahi telah datang sehingga kau mengenalku dan sebuah cahaya dari cahaya mataharimu menyinariku.”

Aku menjawab, “Allah membawaku kepada wujuudmu, kita saling berhadapan sekarang. Dan Dia membuat aku sebagai manifestasi dari wujuudmu, mengikuti kecenderungan (kesamaan, kemiripan) kita satu sama lainnya. Aku keluar dari kuasamu dan manifest melalui wujuudmu. Allah mempercayakanku dengan dua realitas dan dua ikatan:
Satu realitas, adalah apa-apa yang aku ketahui. Satunya lagi, adalah apa-apa yang aku bawa menuju wujuud yang aku kehendaki kapanpun hal itu dibutuhkan.
Satu ikatan, adalah yang melekat denganmu; dikirim kepadaku ketika aku menghendakimu dan membawaku kepada kehadiranmu. Satunya lagi, keikutsertaanku bersama-Nya, dan dikirim kepadaku ketika Dia memanggilku kepada-Nya.”

Ketika dia mendengar satu ikatan adalah untuk mendekatkannya kepadaku, dan telah diuji kebenaran (haqq) dari cinta, maka Sang Elang menukik turun mendekat untuk bersamaku. Haqiqatku bercampur dengannya, atributku menghilang di dalamnya, dan kami terserap di dalam keni’matan penyatuan, merasa teramat berbahagia tak terkira dengan harmoni yang ada. Hymne pernikahan pun mengalun. Dua pancuran air mengalir bersama dalam rahim, yang menerima keduanya dalam Kebijaksanaan Illaahi yang menganugerahi kebahagiaan kepada sebagian orang dan kesedihan kepada sebagian lainnya. Pecinta disembuhkan dari sakitnya dan beristirahat dalam sebuah hasrat untuk memenuhi panggilan Illaahi. Goyah dalam dua hasrat: terbenam dalam dua barat dan terbit dalam dua timur.

Ketika dia sembuh dari penderitaannya dan telah berangkat ke kediamannya, kudapati diriku berada dalam keadaan yang belum pernah aku kenal sebelumnya: paripurna. Jalan-jalan tertutup baginya. Ikatan Illaahi mengikat kuat, dan aku berkata, “Wahai, Allah, Tuhanku, gerangan apa yang sedang menimpaku?”

Dia (Allah) menjawab, “Bernafas beratlah ketika engkau mendzikiriku sehingga kata-kata perintahku termanifestasi darimu.”

Begitulah, aku pun lalu bernafas seperti seorang yang terhimpit beban berat. Dan di sana, ada Sang Debu (‘Anqaa’) yang memenuhi tempat perlindunganku dengan kehidupan. Tanyakan kepada Sang Debu tentang dirinya dan dia akan memberitahukanmu apa-apa yang Allah telah titipkan ke dalam kemenarikan sifat-sifatnya dan pengenalan apa yang telah Dia bukakan baginya.

Aku lah Ruhul Quds dari kesyukuran yang acapkali ‘dilantuni’ hamba.
Kediamanku, di dalam Taman Ruhaniyyah.
Aku lah sebuah haqiqat dalam wujuud-wujuud. Tiada yang kumiliki selain dualitas.
Mereka memanggilku “Wahai, Kedua!” – tetapi aku bukan “kedua”.
Setiap ciptaan berakhir pada wujuudku.
Aku datang setelah seseorang mencapai haqiqat yang terlampau tinggi untuk dimaknai.
Kekuasaanku berguna untuk melihat yang jauh dan dekat.
Tidaklah aku dapat dimitsalkan dengan seseorang yang bahkan jika sifatnya mirip dengan yang aku miliki.
Dekati aku jika engkau mengharapkan lidahku membawa apa-apa yang berasal dari-Nya:
Perkataan yang mendekatkanmu kepada Keindahan al-Haqq,
Menuju lubb-lubb yang berganti hiasan dari Taman-taman-Nya,
Dalam pencarian seseorang yang tak terbatasi oleh waktu,
Dia al-Wahiid, al-A’la. Tiada seorang pun yang menyamai-Nya.
Dia al-Ahad Yang memilihku;
Dia al-Ahad yang memilihku.
Dia telah menempatkanku dalam keseimbangan antara tembikar dan pembuatnya.
Aku menghapuskan setiap jarak dan mendekatkan satu dengan lainnya.
Aku menjadi sahabat dari para sahabat dan menjadi penyebab dari segala penderitaan.
Manakala aku menukik jauh ke bawah, aku menukik dengan ruh yang menyebar,
Dan manakala aku terbang tinggi ke atas, tubuh pun menjadi hancur.
Ini lah aku, yang memberikan tempat tinggal yang nyaman (maghaanii) dan meninggalkan tempat-tempat yang tak nyaman.

Sumber:
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari “The Universal Tree and the Four Bird”, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Angela Jaffray dari Kitab “al-Ittihaad al-Kawni fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Iklan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diterjemahkan oleh Dwi Afrianti dari Buku “The Universal Tree and the Four Birds,

Terjemahan Inggris oleh Angela Jaffray, dengan komparasi ke teks Arab “Kitab “al-Ittihaad al-Kawnii fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.
.

Aku adalah sebuah Pohon Semesta dari al-jaama’ah dan al-mitsal. Akar-akarku menghujam dalam-dalam dengan cabang-cabang yang menjulang begitu tinggi ke atas. Tangan al-Ahad menanamku dalam sebuah Taman Keabadian (al-abd), terlindung dari lapuknya waktu. Aku memiliki ruh (ruuh) dan tubuh. Tak sebuah tanganpun yang pernah menyentuh buah-buahanku. Nutrisi dari buah-buahanku lebih daripada sekedar ilmu (al-‘ilm) dan pengenalan (al-ma’ruf)  yang selama ini pernah dimakan oleh ‘aql dan asroor (rahasia-rahasia). Dedaunanku bagai bentangan dipan yang tebal lagi empuk, aku tidak pernah berhenti berbuah dan tiada larangan untuk memetikku. Bagian tengahku adalah tujuan yang Dikehendaki. Terus-menerus antar cabang saling mendekat dan menambah rimbunnya dedaunan; Beberapa ke bawah untuk memberikan manfaat (al-ifdah) dan pertolongan (shoo’idah), sementara yang saling mendekat secara bertahap bertugas memberikan anugerah (al-istaadah). Hukum keteraturanku seperti bola langit dalam lingkarannya (manzilah: tempat perputarannya), dan cabang-cabangku merupakan rumah-rumah bagi ruh-ruh (ar-Rowaaha) bersayap. Bunga-bungaku bagai bintang-bintang (al-kawkab) yang memancarkan mineral-mineral, mengalir dalam tubuh-tubuh mereka.

Aku lah Pohon Cahaya (an-Nuur), perkataan (al-Kalaam), dan penyejuk mata (qurrota ‘ayn) Musa as.  Petunjuk-petunjuk untukku berasal dari Tangan Kanan al-A’la, tempat-tempat untukku berada di lembah (al-waadii) suci (al-maqdis), Thuwa. Aku memiliki waktu-waktu l(al-zamaan) lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Tempat tinggalku (Al-masaakin) di kutub ‘Arsy (khatt al-istiwaa’)) dan dalam keadaan i’tidaal (berdiri tuma’ninah). Sifatku konstan, abadi, bahagia tanpa pernah ada kesedihan. Buah-buahan dari kedua tamanku gampang dipetik oleh tangan dan ranting buahnya berayun-ayun kencang tampak gembira. Dan hal itu memberkahi semua makhluk hidup dengan sifat anggun dan lembutnya. Cabang-cabangku selalu menawarkan wewangin kesturi kepada ruh-ruh (al-Arwaah) dari Uluuhiyyah-Nya, dan ukiran pada daunku merupakan alat untuk melindungi mereka dari sinar-sinar yang berpendaran di waktu siang (al-yawmiyyah). Rerimbunan daunku melebar jauh menaungi mereka yang diselimuti Tuhan di dalam ketakutannya dan sayap-sayapku membentangi mereka yang suci. Angin al-Arwaah  menghembusiku dari beberapa arahnya dan menyusun kembali (membuat tertib) jalinan cabang-cabangku. Dari belitannya terdengar suara-suara bermelodi . Begitu mempesona ‘aql-‘aql dengan kekuatan melodinya dan mengarahkan mereka untuk membuat ukiran di atas daun.

Aku lah musik (muusiiq) hikmah (al-hikmah) yang menghapus ketakutan (yakhsa) melalui keindahan irama musiknya. Aku lah cahaya (an-Nuur) terang berkilauan. Milikku adalah karpet hijau lembut – tebal dan wajah bundar cemerlang. Ditolong oleh kekuatan-kekuatan dan diperkuat oleh ketinggian al-Ahad yang duduk di ‘Arsy, aku bagaikan materi utama, menerima setiap bentuk alam akhirat dan alam dunia. Tidaklah aku terlalu dekat untuk bisa memiliki sesuatu apapun! Tidaklah aku pernah menjadi bagian dari sebuah cahaya  al-haqq yang menyinariku; hmmm, hal itu setidaknya cukup menghibur seseorang yang, bersandar kepadaku.

Aku lah “bentangan atap”, kelompok pohon-pohon berdaun rimbun, maksud yang dituju, kalimat dari al-wujuud, keindahan tertinggi dari sebuah keazalian, mikraj tertinggi dari makhluk yang diciptakan dengan keterbatasannya. Kekuatanku adalah kelemahanku, tempatku adalah kesucian tertinggiku, lampuku adalah kemuliaan tertinggi. Aku adalah sumber dari tempat terbitnya (al-Manaar) cahaya-cahaya (al-Anwaar), perpaduan (jawaami’) dari al-kalaam Illaahiyyah yang berisikan al-asroor (rahasia-rahasia) dan al-hikmah.

Bumi (al-Ardh) al-ardhiyyah dan langit  (as-samaa-i) adalah milikku.
Dan di dalam inti qalbku terdapat keseimbangan dan kelurusan.
Kemuliaan (al-Majid) yang berasal dari Sumber, keagungan, rahasia semesta alam, dan kenaikan derajat adalah milikku.
Manakala pikiran-pikiran mengganggu haqiqatku,
Maka jarak dan awan prasangka akan menyesatkan mereka.
Tidak satu makhluk pun di alam semesta yang mengetahui wujuudku,
dan tiada batasan bagi Kebesaran-Nya;
Dia menetapkan takdir dan membangun diri kita.
Pilihan adalah Dia – Dia adalah apa yang Dia Kehendaki.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diterjemahkan dan dijelaskan oleh Dwi Afrianti.

SATU

Allaahummaa yaa Hayyu yaa Qoyyuumu bika tahasshontu faahminiyi bihimaayati kifaayati wiqooyati haqiiqoti burhaani hirzi amaani بِسْمِ اللَّهِِ

Terjemahan:

Allaahumma ya Hayyu ya Qoyyuum. Di Dalam-Mu lah Benteng Tempat aku Berlindung; Perisaiku adalah pemenuhan kewajibanku akan-Mu, jaminan (akan Janji-Mu), haqiqat, bukti, pengawasan, keselamatan بِسْمِ اللَّهِ

Makna:

Allaahumma merupakan suatu bentuk seruan dari Nama Allaah, menunjukkan sifat Illaahiyyah yang jauh di atas melampaui apapun (uluuha), pengakuan bahwa tiada yang lain selain Dia Yang sungguh-sungguh memiliki Kekuasaan.

HAYYU, bermakna hidup.  Dikatakan hidup jika memiliki nafakh ruh (tiupan ruh), keperluan, tempat tinggal, bergerak. Tidak semua yang hidup memiliki kehidupan. Memiliki kehidupan hanya jika terlekat padanya qayyuum.

QAYYUUM ( ﻗﻴﻮﻡ )   berasal dari akar Q – W – M, yang bermakna ada, naik, dan berdiri, juga berarti mengawasi dengan cermat dan tepat. Adanya suatu keterhubungan antara Kekuatan Tuhan yang memanggil setiap nafs yang berada pada Jalan Tuhan untuk mikraj dengan Pengawasan-Nya yang berdasar atas semua Pemahaman dan Pengetahuan-Nya.

Huruf Qoof, melambangkan ‘Arsy, Yang Meliputi segalanya, di bawahnya terletak Kursiyy.

Qs. 20 : 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]

“Ar-Rohmaan. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”

Ketika seseorang mencapai pengetahuan rahasia dari Waaw, melaluinya orang itu membuat ruh-ruh tertinggi naik ke dalam ketersingkapan tertinggi. Huruf waaw juga menekankan pada eksistensi dari Bentuk Ilahiyyah dalam diri masing-masing manusia. Allah berkata, “Tuhan menciptakan Adam berdasarkan Bentuk-Nya.”

Huruf waaw ( ﻮ  ) diucapkan pada bagian luar dari mulut dimana kedua bibir bertemu. Bunyi waaw ( ﻮ  ) sendiri  dimiliki oleh semua bunyi-bunyi yang lain. Nafas melewati semua titik-titik dari pengucapan agar mencapai “tempat” waaw ( ﻭ ). Hal itu kemudian membentuk dan menambah kekuatan semua huruf. Untuk alasan ini Ibn ‘Arabi menentukan bahwa waaw ( ﻮ ) merupakan simbol dari Manusia Sempurna (insan kamil).

Ibnu ‘Arabi menyebut alif sebagai “akar tempat tegak berdirinya huruf-huruf” (qayyuum al-huruuf) : segala sesuatu bergantung pada alif, sementara alif tidak bergantung kepada apapun”

Penegasan seorang hamba yang mengatakan bahwa “Di Dalam-Mu lah Benteng Tempat aku Berlindung” dengan menyeru menggunakan asma Hayyu dan Qoyyuum Allah

Qs. 28 : 24

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ [٢٨:٢٤]

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat khoyron faqiirun yang Engkau turunkan kepadaku’.”

Hakikat manusia berada dalam jiwanya (nafs)
Sebagaimana cahaya, hakikatnya adalah gelap sebelum kedatangan pagi.
Pahamilah hal ini sebenar paham dengan membuktikan adanya
yang bagaikan alarm peringatan mara bahaya yang membangunkan tidur-tidur malam panjangmu.
Jiwalah yang menerima petunjuk
tentang Jalan menemukan Ruh Suci.
Ruh Suci akan menghapus segala ketakutan dan kecemasanmu,
akan mengenalkanmu tentang Allah.
Ruh Suci muncul kepada seorang hamba
yang hanya mencari Sumber nyala api (pada batu bara).
Hamba itu sebenarnya tak lain hanya melihat Nyala api (bukan batu baranya)
yang menyinari langkah-langkahnya menuju Sang Raja pada perjalanan malam-malamnya.
Jika engkau memang sebenar memahami apa yang Aku katakan,
maka kefaqiranlah yang engkau rasakan; karena Yang kau Cari tak kunjung kau Temukan!
Apakah Musa ada melihat yang lain selain Api ketika melihat Api?
Tiada yang dilihatnya selain Api, karena ia berada di dalam-Nya. Bukan yang lain.

Huruf Miim melambangkan manusia, ciptaan-Nya yang terbuat dari tanah liat. Dari Waaw-nya, dengan Miim-nya manusia menjalankan tugasnya.

Tahasshontu = stronghold, benteng

Qs. 59 : 14

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ [٥٩:١٤]

“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan berjama’ah, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu berjama’ah, sedang qalb mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak ber’aql.”

insya Allah bersambung.

Sumber:
MUhyiiddiin Ibn ‘Arabi dari buku:
1. Al-Dawr al-a’laa.
2. Risalat-ul-anwar fima yumnah sahib al-khalwa min al-asrar Meccan Revelations (Futuhat) at chapters 167 and 367, terjemahan Inggris oleh John G. Sullivan.
3. The 7 Days of the Heart, terjemahan Inggris oleh Pablo Beneito dan Hirtenstein.
4. Fushuush al-Hikam Bab Hikmah ‘Isawiyyah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dwi Afrianti.
Bukit Dago Utara – BDO, Selasa, 13 Juli 2010, 1 Sya’ban 1431 H. Menit-menit menjelang waktu Ashar…

Bismillaahirrahmaaniirahiim.

Assalaamu’alaykum wr.wb.

Melalui Mereka

Begitu memasuki ruang check in Bandara Abu Dhabi, mataku langsung menangkap begitu banyak sosok wanita berkulit coklat dengan postur tubuh sedang. Banyak dari mereka yang menutup kepalanya, dengan jilbab atau selendang. Sebagian besar dari mereka asyik bercengkrama dengan temannya, sesekali diselingi dengan tawa dan senyum. Bahasanya aku kenal. Ada juga yang cuma diam memandangi sekeliling. Ada juga yang lebih tertarik memandangi orang-orang yang lewat di depannya.

Indonesisch, bathinku. Senangnya melihat begitu banyak saudara seibu pertiwi. Maksud hati ingin sekali duduk bareng mereka, ngobrol apa saja. Ngobrol tentang diri mereka. Ngobrol tentang keluarga mereka. Ngobrol tentang pekerjaan mereka. Ngobrol tentang kehidupan mereka. Namun hawa nafsuku berkata, “Apa mau nanti dianggap sebagai kelompok mereka?” Kesombongan tidak perlu memaksaku untuk menjauhi mereka. Kesombongan hanya tinggal mengingatkan sambil berbisik saja, maka aku sudah takluk kepadanya. Kesombongan merenggut diriku, mengambil diriku tanpa susah payah. Ia sudah mendarah daging. Astaghfirullah al´adzhiim. Istighfar yang tidak ikhlas, buktinya aku tetap menjauhi mereka.

“Mbak Wiwik dah ngobrol apa saja dengan mereka? Apa mereka semua mau kembali ke Indonesia dan tidak kembali lagi ke sini?” tanya temanku, seorang peserta training komputer di Jerman yang baru saja selesai check in. Aku tersentak. Ngobrol? Boro-boro ngobrol, duduk bareng mereka saja aku tidak mau. Aku malu sekali. Duduk 2 jam di ruang tunggu ini tidak ngobrol apapun dengan mereka. Masa punya saudara tidak diajak ngobrol? Tidak ditemani? Keterlaluan sekali diriku.

“Udah tadi,” jawabku, “Tapi ngobrol yang lain. Mereka bilang pesawat telat sampai jam 5, dan mereka dapat makanan. Tapi mereka tidak menginginkan makanan. Yang mereka inginkan adalah pesawat segera berangkat.” Duh. Itu bukan ngobrol. Itu cuma sekedar info dari mereka. Cuma ada informasi dari sepihak, aku tidak berbicara apa-apa. Tuhan, ampuni aku. Perbaiki kesalahanku, Tuhan.

Dua orang dari mereka pindah tempat duduk, beralih ke barisan belakang tempat dudukku. Seorangnya, dia yang memberiku info tadi. Tekadku, „Baiklah, Bismillah, aku akan mencoba meruntuhkan kesombonganku dengan ngobrol bersama mereka.“

„Dari mana, Mbak?“ tanyaku.

„Magelang,“ tersenyum Dia menjawab. Ramah sekali. Aku suka.

„Wong Jowo, tho. Aku juga orang Jawa, tapi gak bisa Bahasa Jawa. Jadi jangan ajak aku ngomong jawa, ya.“

Dia tertawa, „Kok ndak bisa bahasa jawa, Mbak?“

„Aku lahir di Palembang, dibesarkan di Pekanbaru. Orang tuaku, satunya Jawa to´, satunya lagi Jawa-Sunda. Tapi keduanya gak pernah ngajak ngomong anaknya pake Bahasa Jawa. Lalu aku di Bandung sejak 1995.”

“Ooh, jadi begitu, ya, Mbak.”

“Iya. Hmm … pulang abis, Mbak? Atau balik lagi ke sini?“

“Ndak balik lagi. Pulang aja. Kerja lebih enak di Arab Saudi daripada di sini. Nanti aku coba ngelamar ke Arab Saudi aja.”

“Begitu, ya? Kenapa enaknya di Arab Saudi?”

„Karena uang gaji kalau belum setahun kerja gak dipotong. Kalau di sini, dipotong 2 bulan. Aku, ya, Mbak, juga capek kerja di sini, 24 jam. Maunya aku istirahat jam 10 malam. Tapi ndak, tuh. Aku lagi bobo suka dibangunin cuma untuk mbuatin kopi. Ndak kuat aku, Mbak. Aku juga kan butuh istirahat.“ Dia berkata, tapi sepertinya tanpa kesal. Tanpa luka. Karena kulihat senyum tetap saja tersungging di bibirnya.

„Iya, setiap kita memang butuh istirahat.“ Aku mencoba berempati. „Sudah berapa lama Mbak kerja di sini?“

„Tujuh bulan.“

Hmm, 7 bulan dengan kerja rodi 24 jam seperti itu tabah juga … kalau aku mungkin sudah nangis berderaikan darah. Jangan-jangan malah aku mendatangi polisi demi menuntut hakku, „Tolong aku, aku telah dizalimi. Dipekerjakan dengan sewenang-wenangnya.“

***

Dari kelompok barisan kursi samping, seorang Petugas kebersihan datang, lalu serta merta mengusir mereka dengan kasar, “Awas! Mau nyapu dan ngepel!“ serunya keras, menggunakan Bahasa Arab, „Pindah sana duduknya!“ sambil langsung menyapu lantai tempat duduk mereka, padahal mereka masih duduk di sana. Aku tercenung. Aku, keluargaku, dan 2 orang temanku, yang sedari tadi berada di sini, tidak pernah disuruh pindah seperti mereka, padahal petugas kebersihan membersihkan barisan tempat duduk di belakang kami.

Aku lihat mereka yang diusir itu tetap mengenakan wajah ceria. Senyum mereka sama saja dengan senyum ketika mereka asyik bercengkrama dengan teman mereka. Kalau aku jadi mereka, aku yakin aku akan bersungut-sungut sambil ngomel, „Apa gak bisa menegur dengan lebih sopan, Mas?“

***

Akhirnya, waktu menunggu 4 jam segera lunas. Petugas bandara berdiri di mejanya untuk memeriksa surat-surat keberangkatan seperti paspor dan tiket. Antrian mereka, para wanita yang selalu tersenyum itu, panjang sekali. Dalam hati aku mengeluh, „Waduh! Kalau begini mau sampai berapa jam, nih, ngantrinya? Mana aku ngendong Rahman dari tadi. Berat, letih, dan ngantuk, euy. Aku … “

Belum habis keluhku, tiba-tiba barisan panjang dari depanku dengan ´gagah´nya berjalan mendahului mereka yang sudah ngantri awal. Nyerobot, istilahnya. Aku kaget. Kok bisa-bisanya nyerobot begitu, sih? Mengingat iklan antrian di TV Indonesia, bebek aja katanya suka ngantri.

Aku terdiam. Hanya diam. Aku sudah cukup banyak belajar budaya ngantri selama di Jerman. Di Jerman, sepertinya semuanya tertib dan teratur. Semua orang saling menghargai dan menghormati, siapapun dan apapun pekerjaan orang itu.

„Kita duluan juga, yuk,“ tiba-tiba ajak temanku. Eit! Bukannya dia sudah 4 tahun belajar di Jerman?

„Jangan, ah. Lebih baik mengantri saja. Malu. Kita kan sudah belajar ngantri cukup lama di Jerman.“

Kalimat di atas tidak bertahan lama, karena, „Kita manfaatin aja Rahman, yuk. Bilang, ´Hei, bawa bayi, nih. Kasian …´ Gimana?“ tanyaku. Maksudku sih bercanda saja, tapi ditimpali serius oleh temanku. Aa sendiri tentu saja tidak setuju. Dia memang salik yang sadar sedang Berjalan.

„Iya, mending begitu. Tapi tampaknya gak perlu bawa-bawa nama bayi juga, kayaknya kita gak pa-pa ngedahuluin, deh. Liat aja, tuh, di sana, numpuk yang mendahului.“

Benar juga. Tapi aku segera meralat keinginanku, „Gak usah aja, deh. Kasian yang udah ngantri. Kasian mereka. Mereka sudah lebih lama nunggu di sini daripada kita, lho, dari jam 7 malam.“

„Udahlah. Gak pa-pa … kasian Rahman,“ katanya.

„Ah, tidak, „ bathinku. Rahman tidak bermasalah dengan itu. Lihat saja, ia masih asyik tidur digendonganku. Yang bermasalah itu ya kami yang mengaku diri sudah dewasa ini.

Kami nyerobot juga akhirnya. Aku maluuuuuu sekali …. gak berani aku menatap setiap wajah wanita yang memandang kami dari depan. Duh, Gusti. Aa sampai mengucapkan, „Maaf,“ berulangkali dengan pelan.

***

Paspor dan tiket kami tidak diperiksa sama sekali. Kami bisa lewat begitu saja. Sudahlah menyerobot, kami bisa masuk tanpa harus diperiksa-periksa segala. Petugas itu membiarkan kami ´slonong boy´. Betapa kagetnya aku. Kenapa bisa begini? Nyatakah kejadian ini? Tidakkah aku sedang bermimpi? Apakah ini adalah Uni Emirat Arab? Manakah Islamnya? Kenapa kami tidak diperiksa sama sekali? Bagaimana kalau kami adalah para gerombolan siberat?

Sementara para wanita itu …. — aku pandang wajah-wajah, masih dengan senyum mereka, masih antri — satu persatu diperiksa dengan ketat paspor dan tiketnya. Lama.

Menyaksikannya, aku lemas. Lemas sekali. Aku mau menangis.

Gila!!! Aku benci bandara ini. Benci!

„Aku ingin memeluk kalian,“ lirihku pelan, „tidak,“ ralatku, „kalian tidak perlu dipeluk kalau tujuanku cuma ingin menenangkan kalian. Kulihat wajah kalian tetap ceria, walau telah berulang kali mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari orang lain. Akulah yang perlu ditenangkan, dipeluk-peluk jika aku diperlakukan seperti itu.

***

Di ruang tunggu, sedang asyik-asyiknya aku mencari tempat duduk, seorang petugas menggebrak mejanya dengan keras. Aku kaget. Petugas itu memukul mejanya sebagai tanda agar sekelompok wanita itu diam. Kudengar mereka memang ribut sekali, tapi kan bisa memberitahunya dengan cara yang sopan. Jangan dengan cara menggebrak meja. Tapi lihatlah, lagi-lagi para wanita itu tetap hanya tersenyum dengan terdiamnya.

„Kerja di mana, Mbak?“ tanyaku pada seorang wanita yang duduk di sampingku.

„Kuwait.“

„Sekarang pulang sementara, ya? Maksud saya sekarang Mbak lagi libur kerjanya.“

„Ndak. Saya mau pulang beneran.“

„Kok? Kenapa?“

„Dari dulu juga saya ndak betah kerja di sini. Dua bulan kerja saya kabur, tapi saya ketangkep. Saya gak diizinkan untuk berhenti kerja, tapi Alhamdulillah sekarang setelah 1 tahun 2 bulan saya boleh berhenti.”

“Waah .. hebat, dong, bisa bertahan selama itu.”

“Ndak tahan saya sebenarnya. Saya sering kabur, tapi ketangkep terus. Ya udah, saya ndak bisa apa-apa. Anak majikan saya 10 orang, udah itu pekerjaan saya berat-berat. Tiap Jumat saya nyuci mobil.”

“Gak ada pekerja laki-laki?”

“Ngirit dia. Jadinya saya yang ngerjain semua pekerjaan. Capek saya. Saya mulai kerja jam 6 pagi, selesai jam 12 malam.”

“Tapi Mbak kan kerja demi keluarga?“

„Iya, sih. Alhamdulillah dapat uang banyak. Tapi saya ndak mau lagi kerja di sini. Saya mau kerja di Indonesia aja,“ sambil tersenyum memberikan penjelasan kepadaku. Nada bicaranya tidak kesal. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan ´penderitaan´nya dengan tetap tanpa kesal, lalu dengan iringan senyum pula? Aku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku (dalam bayangan) karena kagum.

„Iya, gak pa-pa.“

***

Gak taulah aku … kenapa mereka bisa selalu memperlihatkan senyumnya dalam situasi dan kondisi apapun? Sementara aku … disapa orang dengan sangat sopan saja belum tentu bisa selalu tersenyum.

Wassalaamu’alaykum wrwb.
dwi afrianti

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Qs. 25 : 61 – 76

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا [٢٥:٦١]

Maha Suci Allah (tabarokallaah) yang menjadikan di langit (as-samaai) gugusan-gugusan bintang (buruuj) dan Dia menjadikan juga padanya matahari (siroojan) dan bulan (qomaron) yang bercahaya (muniiron).

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا [٢٥:٦٢]

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam (al-layl) dan siang (an-nahaar) silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran (yadzdzakkaro) atau orang yang ingin bersyukur (syukuron).

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا [٢٥:٦٣]

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang (‘ibaadurrahmaan) itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi (al-ardh) dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil (al-jahiluun) menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan (salaam).

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا [٢٥:٦٤]

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud (sujjadan) dan berdiri (qiyaaman) untuk Tuhan mereka (lirobbihim).

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا [٢٥:٦٥]

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.

إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا [٢٥:٦٦]

Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kedudukan/ kediaman (maqooman).

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا [٢٥:٦٧]

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (anfaqu), mereka tidak berlebihan, dan tidak kikir, dan adalah di tengah-tengah antara yang demikian.

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا [٢٥:٦٨]

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah (ma’Allaah) dan tidak membunuh jiwa (an-nafs) yang diharamkan Allah kecuali bilhaqq, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat dosa,

يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا [٢٥:٦٩]

(yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا [٢٥:٧٠]

kecuali orang-orang yang bertaubat (taba), beriman (aamana) dan mengerjakan amal saleh (‘amalan shoolihan); maka sayyiah mereka diganti Allah dengan hasanah. Dan adalah Allah Maha Pengampun (ghafuur) lagi Maha Penyayang (rahiim).

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا [٢٥:٧١]

Dan siapa-siapa (man) yang bertaubat (taba) dan mengerjakan amal saleh (‘amila sholihan), maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (yatuubu ilaAllaah mataaba).

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا [٢٥:٧٢]

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا [٢٥:٧٣]

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan (dzukkaru) di dalam ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [٢٥:٧٤]

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah (hablanaa) dari (min) kami isteri-isteri (azwaajinaa) kami dan keturunan (dzurriyaatinaa) kami sebagai penyejuk mata (qurrota a’yuun), dan jadikanlah kami imam (imam) bagi al-muttaqiin.

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا [٢٥:٧٥]

Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran (shobaru) mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat (salaam) di dalamnya,

خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا [٢٥:٧٦]

mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kedudukan/ kediaman (maqooman).

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum wr.wb.
Diterjemahkan dari teks Inggris ke Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Hippocrates bersumpah
,

“Demi Tuhan, aku bersumpah atas nama-Nya, dalam kemampuan dan kebenaran pekerjaanku, serta kewajiban-kewajiban didalamnya, bahwa:

1. Aku akan senantiasa menganggap guruku setara dengan orang tuaku. Menjadikannya sebagai sahabat, menjaga, dan memenuhi kebutuhannya. Mengabdikan diriku selain kepada dirinya, juga kepada keluarganya. Mengajari keluarganya pengobatan, jika mereka memintanya, dengan pelayanan yang baik. Memberikan pelajaran-pelajaran yang diperlukan dalam pengobatan praktis kepada anak-anakku, anak-anak guruku dan kepada murid-muridku, yang berada pada jalan pengobatan ini.

2. Aku akan menolong manusia sesuai dengan kemampuan dan keahlianku, dengan tidak pernah bermaksud untuk membahayakan keselamatan orang lain.

3. Aku tidak akan pernah memberikan suatu racun kepada orang lain walaupun ia sendiri yang memintanya, bahkan sama sekali aku tidak akan pernah memberikan saran tentang pemberian racun. Aku tidak akan pernah menyarankan seseorang untuk melakukan aborsi. Aku akan menjaga kesucian hidupku dan pekerjaanku.

4. Aku tidak akan dengan gampang menyarankan seseorang untuk melakukan operasi selama masih bisa dilakukan dengan cara lain.

5. Siapapun yang aku kunjungi, kaya maupun miskin, aku akan mengabdikan diriku dengan baik kepada siapapun yang sakit. Aku akan memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan atau maksud apapun dari tiap pasienku.

6. Apapun yang aku dengar atau lihat yang berkaitan dengan pekerjaanku atau hal lain di luar, aku akan menjaga kerahasiaannya dengan ketat.

Jika aku menjalankan pekerjaanku dengan benar dan memegang dengan taat sumpahku ini, semoga aku memperoleh hidup yang baik dan semoga kemurnian dan kehormatanku berlangsung selamanya. Namun jika aku tidak taat, maka biarkanlah hal kebalikannya terjadi kepadaku.”

Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Wassalaamu’alaykum wr. wb.

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu´alaykum wr. wb.

Oleh: Dwi Afrianti.

“Seberapa Jauh Pentingnya Kebersamaan Suami-Istri dalam Menghidupkan
Cinta Mereka”
, ya, saya mencoba untuk menuliskan pemahaman saya
mengenai hal ini.


Kehidupan, sesuatu yang dijalani 24 jam dalam
sehari, bukan hanya hitungan menit atau jam. Kehidupan, ada dalam
setiap waktu dan ruang.

————————–

Apakah cinta itu perlu? Kalau tidak perlu, mengapa cinta menjadi
prasyarat dari sebuah pernikahan? Lalu, apabila prasyarat „cinta”
sudah dipenuhi ketika akan menikah, apakah kecenderungan kematiannya
ketika tengah menjalani bahtera rumah tangga tidak perlu diusahakan
untuk dihidupkan kembali? Kematian cinta, adalah sebuah petaka.
Berumah tangga tanpa cinta bagaikan hidup tanpa Tuhan, tanpa sebuah
pengorbanan dan pengabdian; sementara cinta kepada pasangan, dan
kepada lainnya adalah Tangga Menuju Tuhan. Tangga Menuju Tuhan itu
mendaki, menaik, bukan menurun; semoga kalau menurun, bisa menaik lagi. Lebih terasa berat kalau
dilakukan tanpa pegangan atau sandaran. Jadi, berpegang dan
bersandarlah. Pegangan dan sandaran itulah CINTA.

KEBERSAMAAN UMUM

Kita harus melihat lagi, bagaimana amal rumah tangga kita selama ini.
Apakah pernah kita meluangkan waktu hanya sekedar berbincang-bincang
mesra dengan pasangan kita? Atau belajar bareng tentang suatu topik
yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan dalam suatu kelompok atau di dunia nan luas ini? Atau sapaan ringan,
„Hallo, Sayang, tambah ganteng/ cantik saja … resepnya apa, sih?
Pasti karena aku tambah cinta ke dikau,” sambil bercanda. Rasulullah
saw, seorang Nabi sekaligus Rasul Allah, sangat mesra kepada
istri-istrinya. Aisyah ra, sangat manja kepada suaminya, Rasulullah
saw. Aisyah ra pernah menunjukkan cemburunya kepada istri Rasulullah
saw yang lain. Sesekali menunjukkan ngambeg karena cemburu ya tidak
apa-apa. Itu namanya cinta. Saking dekatnya Rasulullah saw dengan
Aisyah ra, “Aku ingin meninggal di pangkuan Aisyah.” Beberapa wahyu
juga diperoleh ketika mereka sedang junub.

Shalat berjamaah bareng apabila dilakukan, sungguh indah. Bersama
berusaha menjalin hubungan dengan Allah dalam rangkaian rasa dan
kata-kata. Selesai sholat, sang suami membalikkan seluruh badannya
untuk menghadap sang istri tercinta, saling bermaafan; sang istri
mencium tangan suami, lalu keduanya bisa saling mencium kening atau
pipi pasangannya. Bagi yang super sibuk, mungkin bisa sesekali
melakukannya. Waktu subuh atau isya saja mungkin, tapi rutin. Coba
rasakan manfaatnya dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam
ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan,
dari tahun ke tahun.

Hadits :
„Sesungguhnya Allah menyukai amal yang dilakukan secara rutin walaupun
itu sedikit.”

Bagi pasangan yang memiliki hobi yang sama, misalnya jalan-jalan, ya
lakukanlah hobi itu bersama. Jadwalkan saja sebulan berapa kali, atau
tiap akhir pekan. Berjalan. Berjalanlah berdampingan, jangan yang satu
di depan sementara satunya lagi ntah berada di mana; mungkin hilang
karena yang di depan berjalan cepat sekali atau yang di belakang
berjalan lamban sekali. Masa niat berjalan berdua, tapi pas sudah di
luar malah jadinya berjalan masing-masing dengan alam pikiran
masing-masing? Nanti pulang ke rumah malah berantem. Kalau mau jalan
sendirian, ya, boleh saja, tapi ingat : jangan jalan sendirian apabila
tadi niat ke luarnya berjalan berdua.

Kegiatan bersama lainnya, misalnya memasak bareng. Yakin seru, deh,
memasak bareng ini. Apalagi kalau suami yang menggoreng ikan, pasti
terkaget-kaget dengan letupan-letupan minyak panasnya. Keduanya bisa
tertawa bareng, meredakan tension dari kejenuhan dan kekerasan
pekerjaan kantor atau kampus. Atau sang istri bisa sok ikut membantu
pekerjaan suaminya, pura-pura menjadi profesor killer yang besok akan
menguji sidangnya. Makan sepiring berdua dan minum segelas berdua?
Hmm …. Sepertinya mandi bareng juga oke, tuh. Bukankah Rasulullah
saw pernah melakukannya bersama Aisyah ra, dalam satu jamban?
Sesungguhnya mereka tercinta dekat sekali, dan mesra.

Memeluk. Kenapa kita memeluk seseorang? Alasannya ada 2, yaitu : 1.
minta ditenangkan, 2. ingin menenangkan. Lakukanlah kepada pasangan
kita sebagaimana kebutuhan. Ia membutuhkannya, juga kita. Jangan
malu-malu. Ia adalah pasangan kita. Memeluk : transfer energi.
Pekerjaan ringan tapi besar manfaatnya. Tidak perlu banyak kata, tapi
sangat ampuh. Seorang anak kecil yang menangis tiba-tiba, ketika
diangkat lalu dipeluk erat, insya Allah akan berhenti nangisnya.
Seorang istri yang merasa sangat berdosa karena terus-menerus berbuat
kesalahan, ketika dipeluk oleh suaminya, maka insya Allah ia menjadi
merasa tenang kembali. Harapannya kepada Allah menguat kembali.
Seorang suami yang tidak berdaya menghadapi carut marutnya dunia
kantornya, tidak mempunyai pekerjaan yang mapan, merasa dirinya tidak
berharga karena merasa selalu gagal dalam berbagai bidang, ketika
dipeluk istrinya, maka insya Allah rasa percaya dirinya tumbuh kembali
dan merasa memiliki sahabat setia yang tak kan meninggalkannya ketika
ia berada dalam kesusahan.

KEBERSAMAAN KHUSUS : Sexualitas dan Hubungan Seksual

Seksual, bukan sesuatu yang langsung identik
dengan kelamin. Bukan sesuatu yang dijalani hanya di kasur. Seksual,
terkait mulai dari kebersamaan umum sederhana seperti cara bertegur
sapa, berbicara, memandang, berjalan, menyentuh, memeluk, makan,
sholat, berdoa, bercanda, tidur, dll bersama pasangan hingga ke
kebersamaan khusus, yaitu hubungan intim (yang hanya bisa dilakukan
oleh pasangan itu). Semuanya harus dijalani dengan baik dan benar.
Kesemuanya itu merupakan bagian dari amal. Itu semua juga yang
sebenarnya dinamakan komunikasi. Coba perhatikan, di dalamnya ada
proses penyampaian informasi berupa emosi, afeksi, pikiran, dan
perilaku dari si penyampai ke penerima. Kesemuanya berfungsi untuk
menumbuhkembangkan „cinta” di dalam rumah tangga.

Hubungan seksual, apabila dilakukan
dengan benar akan memberikan kesehatan jasmani, rohani juga tentunya.
Jadi ingat pepatah, „Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.

Seorang Sahabat pernah bercerita kepada saya, bahwa dia tidak akan bisa
bekerja apabila belum berhubungan seksual dengan pasangannya (mereka
pasangan menikah tentunya). Pernah dia lama menahan kebutuhannya itu,
yang akibatnya urat-urat syaraf kepalanya harus dibenerin oleh seorang ajengan. Ajengan tersebut sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat para urat
syaraf yang morat-marit ke sana ke mari, melintir-lintir. Seorang
Sahabat lain, tersembuhkan congek di telinganya setelah ia menikah,
padahal baru menikah 2 bulanan. Sembuh total. Tidak pernah lagi
keluar lendir-lendir kuning kecoklatan. Di samping itu, ia merasakan
penglihatannya menjadi lebih jernih dan telinganya lebih tajam
mendengar. Saya tidak tahu apakah itu hasil dari riyadloh atau karena
berhubungan seksual, tapi ia bercerita bahwa ia mendapatkan hal
tersebut setelah ia menikah. Teman-teman sendiri tentunya mempunyai
pengalaman dengan hal tersebut.

Berhubungan seksual, 2 atau 3 kali seminggu. Rutin. Seperti minum obat
yang menyembuhkan. Atau vitamin yang menyehatkan. Silahkan mau minum
yang mana, keduanya berkhasiat.

Tiap orang punya gaya dan durasi waktu masing-masing dalam
menyampaikan cintanya di dalam berhubungan seksual. Setiapnya harus
mencari yang pas, sesuai kadarnya. Tiap sesuatu memiliki ´pakaian´. Kebersamaan harian juga memerankan hal penting di sini. Jadi usahakan untuk tetap menjaga kebersamaan harian
(umum) dan kebersamaan 2 atau 3 kali seminggu (khusus) ini. Kuantitas
sama pentingnya dengan kualitas. Tidak menjaga kuantitas, kualitas
sukar juga diperoleh. Sama halnya dengan mempelajari sesuatu, baru
terasa berkualitas kalau sudah belajar lama. Dan kalau perlu, cari
ahli terpercaya. Jangan membeberkan rahasia pribadimu kepada orang
yang kurang terpercaya (apalagi bukan ahlinya), karena urusanmu bisa
tambah hancur.

***

Laki-laki dan Perempuan. Suami dan istri. Pasangan. Keduanya memiliki
keunikan karena berasal dari ´planet´ berbeda yang sekarang sedang ke
bumi, namun juga memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama tidak suka
dituntut, namun keduanya sama-sama suka menuntut. Keduanya sama-sama
minta diberi pengertian atas segala tindak tanduk pasangan dan
keduanya sama –sama minta dipahami kondisinya. Tapi satu paling
penting, harus selalu yakinkan hati kita bahwa, „aku dan engkau
sama-sama sedang Mencari Allah,” karena dengan begitu kita akan selalu
ingat ada ´Tangan´ Tuhan Yang Bermain dalam setiap langkah kehidupan
kita. Jadi kita tidak pernah menyalahkan pasangan kita. Jangan
menghakimi, ceunah. Apabila sudah terlanjur sering menyalahkan,
istighfar saja. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan tidak
mengqishashnya bagi kita, terutama saya. Amin.

Seorang sahabat bertanya kabar kepada sahabatnya, „Apa kabar?”

„Baik. Bertengkar dengan pasangan sudah jarang.”

„Hmm. Aku jadi ingat inti pengajian halal bihalal. Inti
halal bihalal adalah memaafkan.”

Halal bihalal : Memaafkan. Mengikhlaskan. Sebuah kata yang memerlukan
kata pendahuluan : sabar, tawakal, syukur.

Dalam Mastnawi Rumi, tentang pernikahan, intinya dikatakan bahwa :
“terimalah setiap tuntutan pasangan kita, karena itu akan mensucikan
hati kita. Terimalah setiap keinginan pasangan kita. Terimalah setiap
caci maki pasangan kita. Mengalahlah untuk kemenangan jiwa. Maafkan
segala yang dilakukannya yang menurut kita (mungkin menurut hawa nafsu
kita) salah. Ikhlaskan ´ketidakadilan´ nya kepada kita.”

Sebenarnya, ada hak antar pasangan. Setiap tuntutan dari lainnya,
insya Allah akan dapat dipenuhi oleh pasangannya. Namun karena kita
memiliki syahwat dan hawa nafsu, maka jadinya tuntutan pasangan kita
sering tidak dapat kita penuhi. Misalnya, pasangan kita yang tinggal
di Jakarta meminta kita yang tinggal di Bandung untuk sekali seminggu
pada akhir pekan untuk mengunjunginya. Kita tidak dapat memenuhinya
dengan alasan tidak selalu mempunyai uang untuk ongkos. Apakah benar
kita tidak bisa memenuhi tuntutannya? Coba ingat-ingat lagi, uang kita
selama ini dibelanjakan ke mana saja? Apakah lebih banyak untuk
menyediakan kebutuhan pribadi yang tertier daripada kebutuhan sekunder
pasangan? Apakah tidak ada angkutan yang sangat murah sekali yang bisa
membawa kita ke Jakarta? Mungkin memang akan lebih latihan sabar jika
kita yang biasanya terbiasa menggunakan KA argo gede, tiba-tiba
sekarang harus naik bis yang sangat murah sekali : sebentar-sebentar
berhenti lama untuk mengangkut penumpang hingga penuh membludak dengan
segala jenis pedagang yang berteriak-teriak tepat di samping telinga
kita; belum lagi bau dan gerahnya udara yang menggigit. Perjalanan
Bandung-Jakarta dengan KA argo gede yang cuma 2 jam itu, harus diganti
dengan 6-7 jam mengendarai bis butut. Apakah itu bisa disebut
membuang-buang waktu?

Lalu, bagaimana apabila kita benar-benar tidak bisa memenuhi tuntutan
atau keinginan pasangan, yang disampaikannya dengan kesal pula?
Misalnya, pasangan kita yang ada di Yogya menuntut kita yang tinggal
di Kalimantan untuk sebulan sekali mengunjunginya, sementara gaji kita
sebulan Cuma 800 ribu erpe. Untuk sering-sering nelpon saja kita masih
keteteran, apalagi harus sebulan sekali ke sana. Apabila kita sudah
benar-benar tidak bisa memenuhi tuntutannya, maka katakanlah alasannya
dengan cara yang baik. Jangan malah membalas dengan kesal, apalagi
marah-marah, lalu menghindar (lari); tidak teguran berhari-hari. Marah
itu bisa dengan dua cara : mendiamkan atau mengomel dengan kata-kata.
Tapi kalau „mendiamkan” bisa efektif sampai emosi dan pikiran keduanya
tenang, ya, silahkan. Keduanya yang lebih paham masing-masingnya.

Saya teringat kata-kata dalam buku „Guru Sejati dan Murid Sejati” Bawa
Muhayyadeen, bahwa (kurang lebihnya), „dalam berinteraksi bersama
Guru, janganlah lari. Ketika engkau melihat Gurumu membakar-bakarmu
bagaikan api membakar kapas, kau tidak rela. Lalu kau marah, dan
meninggalkannya. Apabila engkau lakukan itu, maka kau akan semakin
menjauh darinya; semakin menjauh dari pembersihan, dari pensucian.
Kapas-kapasmu, yang dibakarnya, adalah syahwat dan hawa nafsu mu. Jadi
kalau kau ingin bersih, ingin suci, maka datanglah kepadanya. Berikan
kapas-kapasmu kepadanya untuk dibakar.„

Gurumu merupakan Cerminmu, yang akan senantiasa memantulkan „siapa”
dirimu.

Begitu pula halnya dengan pasangan kita. Ia adalah Guru sekaligus
Cermin kita juga, walau bukan Mursyid :). Bukankah semua hal di dunia
ini adalah Guru dan Cermin bagi kita? Guru dan Cermin bisa memberikan
dan menunjukkan hal menyenangkan dan tidak menyenangkan. Terimalah
keduanya. Terimalah pasangan kita, sebagai Guru yang kan membakar
kapas, yang kan memantulkan kedirian kita. Pandanglah agung pasangan
kita, selayaknya seorang Guru. Kalau itu kita lakukan, insya Allah
usaha kita untuk tetap konsisten menjaga kebersamaan umum dan
kebersamaan khusus akan lebih gampang. Dan semoga cinta antara kedua
mempelai, dengan Bantuan Sang Pemilik Cinta Yang Agung Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, semakin tumbuh subur dan berkembang dengan wangi
semerbak dan warna yang menyedapkan mata memandangnya. Semoga Allah
mudahkan. Amin.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin.

Wassalamu´alaykum wr. wb.

Laman Berikutnya »