بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Death and Dying


Death belongs to life as birth does
The walk is in the rising of the foot as in the laying of it down.

(Tagore)

Kematian dan kelahiran selalu ada setiap hari, silih berganti dan bersamaan. Tak sadar, hanya menjadi sesuatu yang biasa, seperti makan dan minum. Apalagi dikarenakan tak seorangpun tahu saat tiba ajalnya, kecuali orang-orang tertentu yang diberi pengetahuan oleh Allah.
Anak kecil riang gembira bermain, kebanyakan tak tahu bagaimana itu mati. Apa yang akan dibawa pada kematian dan apa yang akan ditinggalkannya di dunia. Remaja merasa lebih baik mati jika pacarnya direbut sahabatnya sendiri, tanpa ia sadar bahwa kehidupan sebenarnya adalah mati itu sendiri. Kematian tidak akan menyelesaikan masalahnya di dunia. Sementara si 20 tahun tidak mau mati karena sedang asyik mengejar cita-cita setinggi dan sebanyak gugusan bintang di langit dunia. Si 30 tahun terkadang suka teringat mati jika merasa berbuat kesalahan, tapi lebih memilih hidup 1000 tahun lagi dengan segala kesenangan duniawinya. Si 40, ketika masa kecil, remaja dan dewasa mudanya lebih banyak dikelilingi dengan penderitaan, mungkin sudah terbiasa dekat dengan kematian sehingga sudah lebih siap didatangi malaikat maut walaupun ketakutan mati terkadang menghampiri karena memikirkan dosa yang banyak atau karena sayang meninggalkan segala kemapanan: relasi sosial, pekerjaan, jabatan, dan barang-barang yang dicintainya. Si usia tua yang selama hidupnya banyak mengabdikan diri kepada Tuhan mungkin menghadapi kematian lebih efektif dibandingkan dengan yang sepanjang hidupnya lebih banyak mementingkan diri sendiri.

Tampak bahwa orang-orang yang belum siap mati berada dalam rentang usia 20 – 39 tahun. Menurut Kalish (1976), hal itu dikarenakan orang yang lebih tua memiliki aspirasi dunia lebih rendah daripada orang muda. Mereka sudah lebih mau menerima takdir-takdir yang menimpa dirinya, tidak ngoyo terhadap yang dicita-citakan. Orang lebih tua juga sudah lebih mempersiapkan diri akan kehidupan masa tuanya dengan memperbanyak beribadah. Sementara anak muda masih lebih senang memenuhi ambisinya dibanding beribadah. Anak muda juga masih belum banyak mengalami penderitaan, merasakan hal-hal berbau kematian, dan melihat kematian orang lain.

Dari semua usia di atas, secara umum masyarakat beranggapan bahwa kebanyakan manusia akan meninggal di usia tua (Bengston, Cuellar & Ragan, 1977; Kalish & Johnson, 1972; Kalish & Raynolds, 1976; Riley, 1970). Jadi tidak aneh juga jika banyak sekali manusia yang memuas-muaskan dirinya dengan segala kesenangan yang dengan gampang diperolehnya, mumpung belum tua. Jika pada usia 40 tahun belum bertaubat, lalu kapan memperbaiki dirinya? Banyak qisash yang harus dibayar untuk menebus kesalahannya selama hidup, jika tidak akan dibayar nanti di alam setelah mati. Padahal rata-rata usia orang Indonesia hanya 65 tahun. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jika orang belum bertaubat pada saat usianya 40 tahun, maka bersiaplah untuk menemui neraka.”

Jangan pula yang masih 30 tahun apalagi yang 20an merasa masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Jangan-jangan ia termasuk yang akan meninggal sebelum berusia 30 atau 40 tahun. Atau mungkin satu jam ke depan. Ataukah hitungan detik? Menit?

Sikap Menghadapi Kematian

Ada orang-orang yang dikehendaki dan diizinkan sang pemilik ruh untuk ‘menikmati’ aroma kematian; berjalan-jalan sejenak di alam barzakh melalui mimpi atau yang namanya mati suri, lalu kembali ke dunia untuk selanjutnya berusaha keras menjadi orang baik yang sangat hati-hati memiliki rasa, bertuturkata, bersikap, dan bertingkah laku. Setiap hendak melakukan dosa segera tersadar langsung istighfar. Ketika melakukan kesalahan, memohon ampunnya teramat dalam. Memang Rasulullah juga bersabda bahwa “Obat tidak berkaratnya hati ada dua, yaitu mengingat mati dan membaca al-quran.” Mungkin akan beda derajat keyakinan akan kematian orang yang hanya mengingat mati dengan yang diperlihatkan kematian atau alam kematian. Sama halnya dengan orang yang hanya membaca al-quran dengan yang benar-benar diperlihatkan tujuh lapis makna al-quran. Tetapi dengan mengingat mati dan membaca al-quran saja bisa mengobati karat hati, apalagi jika diperlihatkan kematian dan mempelajari al-quran dengan benar. Atau maksud dari hadits tersebut sebenarnya adalah membaca dengan pemahaman dan pemaknaan.

Mengingat mati pun bukan sekedar mengingat saja. Selain dengan cara memandikan jenazah, menshalatinya, menziarahi kuburnya, mendoakan jenazah, mengingat mati juga bisa dilakukan dengan banyak berkunjung dan memberi ke panti asuhan. Bagi orang tua seperti diingatkan mumpung belum mati sebenar-benarnyalah memberikan pengasuhan kepada anak, berusaha keras memberikan terbaik kepada mereka. Begitupun suami terhadap istri dan sebaliknya. Penuhi amanah selagi masih diberi kesempatan hidup oleh Allah. Berikan anak-anak bekal kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan taqwa, sebagaimana Qs…. “Takutlah engkau jika meninggalkan anak-anak yang lemah.” . Bagi anak-anak semakin sayang dan hormat kepada orang tuanya. Bayangan menjadi yatim piatu seperti anak-anak panti yang mereka kunjungi membuat mereka sedih, rasanya ingin segera memeluk kedua orang tua dan berterima kasih atas segala kasih sayang mereka selama ini. Kematian juga membuat mereka takut berbuat kesalahan. Bisa dimengerti, bahwa orang yang mengingat mati dan membaca al-quran hatinya tidak berkarat karena sering diupayakan untuk digosok dengan kebaikan dan pengendalian diri dari melakukan salah dan dosa.

Tetapi tidak semua orang mampu secara efektif menghadapi kematian. Ada yang begitu ketakutan hingga paranoid, sehingga merusak aktivitas sehari-harinya. Tidak berani kemana-mana karena takut maut men jemput tatkala ia sedang tidak bersama keluarga misalnya. Ada lagi yang lebih banyak mencari-cari atau lebih tepatnya mengada-ada pertanda daripada melakukan sesuatu sebagai upaya pensucian dirinya. Terasa fisiknya sakit sedikit merasa ruhnya sedang proses dicabut. Tercekatnya kerongkongan menandakan ruhnya sudah hampir keluar. Dingin yang dirasakan ia tandai sebagai ruhnya tak lama lagi akan berpisah dari tubuhnya. Kicau burung dirasakan sebagai pertanda akan ada yang meninggal di rumahnya, yaitu dirinya. Lantai kamar mandi yang licin pun dicurigai sebagai penyebab kematiannya, sehingga untuk wudhu pun minta ditemani orang. Detak jarum jam pun menjadi sensitive baginya kini. Sepertinya kematian hanya tinggal membalik sebelah telapak tangan. Betapa tak enaknya dihantui seperti itu. Betul-betul hanya akan menyusahkan diri sendiri. Apalagi jika sampai menyusahkan orang lain, misalnya suaminya atau anaknya tidak boleh berangkat kerja, anggota keluarganya tidak boleh tidur agar jangan sampai membiarkan ia sendiri pada saat sakaratul maut. Biarlah ia masih menikmati keduniaannya dengan ditemani cinta kasih sayang orang-orang terdekatnya. Saking ketakutan meninggalkan yang ia cintai, ia bahkan tidak mengira-ngira apa yang akan ditemuinya di alam sesudah kematiannya yang lebih abadi. Harapannya hanya segala yang dicintainya yang ada di dunia seyogyanya ada pula di alam barzakh nanti.

Menurut Simpson (1979), orang takut mati bisa disebabkan oleh proses kematian itu sendiri, yang berhubungan dengan masalah biologis seperti kesakitan fisik, dan masalah sosial seperti perasaan ketergantungan, kesepian dan ditinggalkan pada saat akan mengalami kematian; takut kehilangan eksistensi diri; takut akan kehilangan hal-hal yang sudah direncanakan; ketidakpastian akan hal-hal yang ditemukan setelah mati; takut kehilangan orang-orang yang dicintai.

Namun tidak seperti tokoh-tokoh yang disebutkan namanya di atas, CG. Jung mempunyai pendapat yang berbeda. Ia menemukan, kebanyakan neurosis pada remaja dikarenakan takut pada hidup, sementara orang yang lebih tua bersembunyi dari kematian. Hal itu dikarenakan labilitas emosi yang dimiliki para remaja, apalagi pada zaman sekarang, apapun segalanya tersedia dengan gampang tanpa usaha lebih keras untuk mencapainya. Mendapatkan masalah sedikit saja sudah merasa menjadi orang termalang di dunia. Penelitian di Indonesia juga membuktikan bahwa beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sampai remaja yang melakukan bunuh diri. Alasannya macam-macam: aspirasi orang tua terlalu tinggi terhadap prestasi anaknya, ditinggal pacar, kalah bersaing dalam bidang akademis di sekolah, orang tua bertengkar terus, merasa sangat malu dengan teman sekolah karena merasa miskin, tidak mempunyai teman, tidak mampu menghadapi masalah karena biasa dimanja, dan lain sebagainya.

Pada orang yang lebih tua (40 tahun ke atas), pengetahuan tentang diri yang banyak dosa, amal yang tak banyak dan kehidupan sesudah mati membuat mereka takut akan kematian. Neurosis pada masa tua lebih banyak tentang berita kematian. Mereka takut tatkala mati tidak membawa amal apapun kecuali dosa yang bertumpuk. Mereka pun takut orang-orang yang mereka cintai tidak lagi mencintai mereka sehingga lupa mendoakan keselamatan mereka di alam barzakh. Mereka pun takut orang-orang yang pernah mereka zalimi terus-menerus mengingat dosa mereka dan tak henti menjerit kepada Tuhan untuk memberikan balasan setimpal atas dosa yang pernah mereka perbuat. Kalau diizinkan, Tuhan mengutus malaikat maut kepada mereka biarlah pada saat mereka telah benar-benar bertaubat, meminta maaf kepada yang pernah dizalimi dan memohon ampun kepada Allah. Juga mereka menginginkan telah banyak melakukan kebaikan berupa amal shaleh pada saat maut itu menjemput.

Memikirkan kematian, hanya sekedar sebuah transisi belaka – satu bagian dari proses kehidupan. Manusia mungkin akan lebih siap meninggalkan dunia ketika mereka meyakini bahwa di alam barzakh ada klon suami atau istri dan anak-anaknya. Tetapi bisakah kita, haruskah kita, mencoba meyakinkan diri untuk percaya bahwa ada yang lebih baik di sana? Merasa sudah selamatkah kita?

Setidaknya, ada sebuah doa yang harus dipanjatkan,

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya, Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslimiin) kepada-Mu.” (QS. Al-A’raaf : 126). Amiin, ya, Robbal ‘aalamiin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Pelbagai sumber yang terbaca dan terdengar, namun tak tercatat..

Salaam.
Dwi Afrianti. Jum’at, 23 Januari 2009, Pk. 16.31 wib.