بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Dengan selalu mengendalikan marah, maka timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Wahai, adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?”
– Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi –

Lama aku mengagumi salah satu karakter penuh cinta Rasulullah Muhammad saw. Bayangkan! Manusia seperti bagaimana beliau saw.? Wajah beliau dilempari oleh kotoran, beliau hanya tersenyum dan sama sekali tidak ada niat untuk membalas. Dimaki-maki oke, dihujat oke, tetap menunjukkan cinta kasihnya; dan malah mendoakan kebaikan bagi orang tersebut. Bagaimana perbandingan beliau dengan seseorang yang gampang sekali terkena ‘sentuhan’, bagai sumbu berminyak tersulut api, yang kobarannya lebih besar daripada sulutannya? Hanya air yang akan mampu memadamkan kobaran tersebut, perlahan.

Menurut Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, marah bagaikan tali kekang yang tadinya ada di atas kepala kita, lalu dibuang jauh-jauh sehingga selanjutnya begitu banyak keburukan keluar berhamburan. Isi kepala, adalah pikiran. Seseorang marah dikarenakan pikirannya memaknai ‘sesuatu’ yang membangkitkan kemarahannya. Kenapa ‘sesuatu’ dapat membangkitkan kemarahannya, itu dikarenakan menyakitkan bagi hawa nafsu yang letaknya di hati. Pikirannyalah yang membantu menyatakan, memaknai bahwa sesuatu itu menyakitkan. Jika pikiran baik, berpikiran positif, logis, tidak penuh dengan prasangka dan waham, maka hawa nafsu tidak akan berkutik. Karena itu carilah pengetahuan yang berhubungan dengan dirimu baik tentang syahwat, hawa nafsu, kelebihan dan kekurangan diri, bakat-bakat berikut sebab akibat dan penanggulangannya. Pengetahuan bagai tali kekang yang dikembalikan ke atas kepala. Pengetahuan itulah air yang akan membasuh kotoran diri.

Jikalau begitu, marah berhubungan dengan ego yang merupakan hasil interaksi antara pikiran dan hawa nafsu, sebagaimana Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi katakan. Ego terkait dengan arogansi diri, merasa diri penting dan benar. Padahal, bagi seorang pejalan, menguras dan menyikat bersih ego merupakan suatu keharusan jika ingin mati sebelum mati. Berarti, adalah suatu keniscayaan bahwa marah harus dikendalikan. Jika tidak mampu untuk tidak marah, maka berusahalah untuk tidak menunjukkan marah dengan cara menahan sekuat-kuatnya walau terasa menderita, berusahalah memaafkan, dan tetap memelihara silaturahim. Dari marah, banyak keburukan akan ke luar seperti mencaci maki, mendoakan atau mengharapkan keburukan bagi orang, menfitnah, bergunjing, dan terputusnya silaturahiim yang akan mengundang kemurkaan Allah. Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa kita bahkan disuruh untuk memelihara silaturahiim dan menghubungkan kembali yang pernah terputus. Di dalam silaturahiim terhubung kesejatian diri satu sama lainnya, karena kita semua adalah ummatan wahidah (yang berasal dari kesatuan (wahid) kepingan bagian diri tiap orang). Tercerainya satu orang, akan menyamarkan kedirian kita; bagaimana melihat dengan jelas sedang sisi cermin yang lain tiada?

Qs. 4 : 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [٤:١]

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Saya sering bertanya dan berpikir, “Mengapa seseorang bisa merasa layak marah kepada orang lain? Sesungguhnya tiada seorang pun yang layak memarahi seseorang, karena sungguh tidak seorang pun yang belum mencapai level sebenar ‘melihat’ Allah dapat dikatakan sedang berada dalam kebenaran ketika sedang marah. Tidak takutkah kita marah, menyalah-nyalahkan orang, dan mengatakan secara tegas bahwa kita benar dengan pelbagai alasan jadi berhak marah? Belum lagi nanti keluar penghakiman, sementara Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Tidak akan mati seseorang hingga ia berada dalam keadaan orang yang pernah dihakiminya.” Na’udzu billah min dzalik. Semoga Allah mengampuni dosa yang pernah kita lakukan, dan membantu kita untuk taubat dengan memperbaiki diri dan Allah menunjukkan kepada amal shaleh yang dapat membantu proses taubat kita. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Sekarang saya menyadari, dengan bercermin pada kaca besar Nafsul Wahidah kita, Rasulullah Muhammad saw. yang tidak pernah membalas orang-orang yang mendzaliminya. Sabda beliau saw., “Aku tidak diutus selain untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Betapa, akhlak mulia berasal dari kebersihan hati; senantiasa terjaga karena selalu merasakan Kehadiran Cinta Allah swt. Bagaimana mungkin hati yang dipenuhi Cinta Allah akan terdapat kobaran api kemarahan?

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dwi Afrianti Arifyanto.