Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Oleh: Dwi Afrianti Arifyanto

Nabi Muhammad saw. bersabda,

“Perempuan yang tabah dan penyayang.

Jika di antara mereka yang shalat tidak mendurhakai suaminya, tentu mereka masuk surga.”

Idolaku adalah bapakku, pemberi nasihat baik dengan kata-kata dan perilakunya. Seorang bapak yang dekat dengan anak-anaknya dan mengajarkan kami untuk hidup dengan tertib walau teramat sering tidak kami indahkan. Tetapi bapak terus saja dengan pengajarannya, dan entah, walau sering aku langgar, mungkin ada jejaknya terpatri dalam-dalam di jiwaku sehingga terasa lebih menguat sekarang. Bapak senang mengajak kami anak-anaknya sekedar keliling menikmati temaram lampu kota atau tidur-tiduran di teras rumah sambil menceritakan kisah-kisah jenis apapun atau bermain gitar mengiringi kami anak-anaknya bernyanyi. Kisah favoritnya, adalah kehidupannya. Dan menginjak usia SMA ku, beliau mulai bercerita lika liku kehidupan berumah tangga. Senang aku mendengarkan, walaupun tidak mengerti-ngerti amat waktu itu, hingga kini barangkali. Terbukti dari masih sukarnya aku menjadi istri yang taat bagi suami dan ibu yang baik bagi dua anakku.

Idolaku adalah bapakku, sehingga sosok kepribadiannya menjadi standar aku mencari suami: pekerja keras di luar dan di dalam rumah, suka belajar, menjadi imam shalat keluarga dan mesjid kampung, suka memberikan ceramah agama di mesjid, pada hari libur mengerjakan lebih dari separuh pekerjaan rumah tangga dengan inisitif yang besar, tidak pernah mengeluh, bisa main musik, dekat dan baik sekali dengan anak-anaknya, tabah dan sabar menghadapi istri, gampang menangis, jujur, dan sederhana. Dan dari standar itulah, aku memulai rumah tanggaku dengan hantaman waham…

Aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar, insya Allah hingga pencapaian usia tertentu anak-anak. Heran juga kenapa aku bisa memiliki niat seperti itu, padahal sejak SD hingga menjelang nikah, jadwalku padat dengan aneka macam kegiatan di luar. Apakah ini berarti pengerucutan pekerjaan? Pelbagai minat dan kegiatan yang dulu seabreg, sekarang terpilih menjadi lebih sedikit, dan Alhamdulillaah bersesuaian dengan pilihanku untuk lebih banyak di rumah walau sesekali godaan untuk bekerja di luar muncul. Setiap kita memang diberikan perangkat untuk mempermudah pencapaian tujuan untuk apa kita dicipta, asalkan kita mau jujur.

Alhamdulillaah Allah masukkan kemudahan di dalam hatiku untuk menerima sosok fisik suamiku. Puji syukur Tuhan atas karunia besar itu. Jika menikah adalah setengah agama, maka menjalaninya dengan taqwa dan ridho akan menyempurnakannya. Dan tak ada yang gampang Jalan menggapai keridhoan-Nya.

Dua orang yang berbeda latar belakang keluarga dan pembentukan kepribadian, membuatku terantuk-antuk memasuki rumahnya. Rasanya di mana-mana yang ada hanya pintu-pintu tanpa ruangan besar dan terang. Maju-mundur, kanan-kiri salah; serba salah dan membingungkan. Rumah tangga apa ini? Tiada imam di dalamnya, dan jelas tiada makmum. Istri kehilangan kemudi karena merasa memasuki kapal yang salah, anak-anak kehilangan pegangan karena ibunya linglung, sementara suami hanya tampak, diperlakukan olehku seperti setrika yang hilir mudik tanpa iringan jiwanya; kelihatan terus sepanjang waktu, tapi membuat panas hati dan tak nyaman. Ibadah-ibadah sunat tak lagi satupun yang pernah aku lakukan hingga 4 tahunan lamanya. Pfeuuuhhh… kenapa aku harus menikah jika malah yang terjadi adalah bukan memperbagus setengah agama, tapi malah menjeratku ke setengah neraka? Tuhan, jika memang menikah merupakan setengah agama, maka berikanlah kepadaku…

Entah bagaimana awal mula perbaikan diriku. Diriku yang hampir selalu bertentangan dengan suami, menjadi lebih tunduk, menyerahkan diriku untuk dikuasainya. Mungkin berasal dari beliau yang sepulang ngantor menyerahkan sebuah buku untuk aku pelajari atau terjemahkan. Buku yang berisikan doa-doa spesifik yang dipanjatkan sesuai harinya. Tadinya aku menolak, karena aku tidak biasa dan tidak suka membaca doa-doa yang bukan berasal dari keinginanku sendiri. Tapi entahlah, tiba-tiba beberapa minggu kemudian hatiku dikosongkan untuk tidak berminat terhadap hal apapun selain buku itu. Aku buka, aku coba baca, dan ternyata isi doanya unik. Yang pasti tidak membosankan. Lama kelamaan semakin senang aku dengan khazanah sang penulis. Beberapa bukunya yang ada di rumah coba aku pelajari, dan beberapa suamiku carikan lewat internet. Pelajaran kematianku ada di dalamnya. Barangkali, kupikir, tiap orang harus mengetahui jalan spesifik kematiannya demi mempermudah kematian itu sendiri dengan cara bersesuaian karakter jiwa dan raga.

Mungkin, ilmu itu mencahayai hati orang yang minimal sekedar membacanya, apalagi mempelajari untuk mempraktekkan dalam keseharian. Huruf-hurufnya bagaikan sapu lidi yang membersihkan hati dengan keras. Bagiku sendiri, entah ada hubungan langsung atau tidak, aku hanya merasa malu dan takut sekali kepada Tuhan. Mengetahui sesuatu yang lebih indah dan besar, tetapi kelakuan lahir yang tampak saja tidak menjadi lebih baik hanya akan menjadikanku sebagai seorang munafik. Na’udzubillah mindzalik. Berdasarkan sedikit pengetahuan yang kupahami dan dari wejangan sang guru, perlahan, aku cobakan semampuku untuk taat kepada suami; tidak protes atau kritik apapun kecuali sesuatu yang fatal, tidak memberikan penilaian ini – itu, mencoba mengikuti kemauannya. Intinya menjadikannya raja, dimana aku menjadikan diriku sebagai abdi dalemnya. Aku coba membuat penghormatan dengan mengabdi mulai dari hal terkecil tanpa banyak bicara. Tanya, dan lakukan maunya dengan mengesampingkan keinginanku. Itu saja. Dan setelah itu, aku merasakan pelbagai perubahan yang, kata suamiku lebih baik. Alhamdulillaah. Ketika aku berusaha mempraktekkan ilmu tentang mengabdi kepada suami, maka Allah menganugerahkan pengetahuan untuk praktek tentang pengasuhan (merawat, mendidik) anak yang lebih baik. Insya Allah, dengan pertolongan-Nya, aku akan berusaha menjaga anak-anak suamiku untuk kukembalikan kepada Allah dengan sebaik-baik pengembalian. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Aku pernah mendapatkan pemahaman bahwa kelemahan laki-laki adalah untuk menyempurnakan perempuan, sementara kekuatan perempuan adalah untuk menyempurnakan laki-lakinya. Bayangkan! Dengan kelemahannya saja laki-laki bisa menyempurnakan perempuan, apalagi dengan kekuatannya. Yang dimaksud kelemahan di sini bukan dalam arti harfiah, melainkan ‘sesuatu’ yang oleh perempuan dianggap sebagai arogannya lelaki. Arogan merupakan bagian dari ego, dan memiliki beberapa sifat seperti tampak tidak berempati apalagi bersimpati, kurang kesadaran menolong, mau menang sendiri yang berakibat kepada jarang merasa bersalah apalagi merasa perlu meminta maaf. Sementara kekuatan perempuan adalah ketabahan, ketundukan, penyerahan diri, dan ketaatannya. Berlawanan dengan arogansi. Tetapi pada kenyataan sehari-hari, kita temui sebaliknya. Laki-laki menjadi bertekuk lutut tak berdaya menghadapi kebuasan singa perempuan. Tentunya hal itu harus diperbaiki. Tidak ada dalam konsep Ketuhanan, bahwa raga yang mengendalikan jiwa apalagi dengan beringas.

Jika tiada nabi dan rasul, poligami, pemimpin suatu Negara, dan  imam rumah tangga dari perempuan, melainkan lelaki, maka sudah pasti laki-laki (sebenarnya) dikaruniai kekuatan dan keperkasaan untuk melakukan semua perannya dengan adil, dikarenakan keadilan adalah menempatkan sesuatu sesuai ukurannya, sebagaimana timbangan diciptakan untuk itu. Keadilan tidak ditimbang dengan rasa, kira-kira, atau waham (pengetahuan dari akal), tetapi dengan pengetahuan yang benar. Dan pengetahuan yang benar terletak di ‘aql. Sebagaimana ‘aql nya, manifest pada akalnya. Dan tidaklah mengherankan jika muncul teori bahwa laki-laki memiliki kelebihan pada akal atau logika, sementara perempuan pada rasa atau perasaannya.

Qs. 7 : 29

“Katakanlah, ‘Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan (adil bilqisth)”. Dan (katakanlah), “Luruskanlah wajah (diri)mu di setiap masjid dan mengabdilah kepada Allah dengan mengikhlaskan ad-Diin-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan’.”

Qs. 55 : 9

“Dan tegakkanlah (qowwam) timbangan (mizan) itu dengan adil (adil bilqisth) dan janganlah kamu mengurangi al-mizaan.”

Berdasarkan ayat di atas, aku percayakan suami untuk menimbang segala sesuatu yang ada pada keluarga kami dengan haqq. Toh, suami adalah orang yang ingin bertaubat, memperbaiki diri untuk menerima ampunan Allah, bukan seorang zalim. Semoga dengan begini, kuhantarkan ia kepada penemuan kesejatian identitas murni keluarga kami… Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.