Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ketertarikan awal mengulik masalah ini berawal dari pikiran mengenai kegilaan. Bukan gila dalam definisi schizophrenia, tapi ‘gila’ yang biasa kita sebutkan kalau ada orang yang berasa, berpikir, dan bertindak di luar kebiasaan, berani keluar dari realitas yang ada dengan bertindak kreatif melebihi imajinasi, dan lebih seringnya perlekatan gila pada tindakan bodoh dan nekad yang dilakukan. Walaupun schizophrenia juga begitu, sih. Ya, karena kepikiran schizophrenia ada begitunya juga, sih, maka tertarik juga ngulik schizophrenia. Akhirnya merembet ke hal pikiran, dimana tak seorang pun manusia di dunia bisa melepaskan diri dari makhluk misterius ini. Pikiranmu mampu membawamu ke manapun kau mau.

Pikiran dan proses-prosesnya begitu menakjubkan; mampu keluar dari yang tak teradakan secara fisik. Mampu membentuk segerombolan impresi-persepsi yang memahamkan pengalaman tak sama pada tiap orang. Menjelma ke dalam bentuk-bentuk yang diyakini nyaman, untuk menghindarkan keterpecahan diri. Mempertahankan keaslian dalam kemampuan yang dimiliki, walau seringkali terlihat bagi orang lain adalah sesuatu yang aneh. Aneh, bukan unik, karena keteranehan dimaknai berada di bawah standar normal, sementara keunikan berada di atasnya. Namun, jikalau definisi normal bukanlah hanya sebatas dimaknai suatu garis lurus dan berlaku universal, tetapi normal pada batas tiap orang, maka adalah benar dan nyata bahwa “tiap orang adalah unik”. Nah, tentang keunikan, harus lebih dipikirkan lagi apa maksudnya. Apakah manfaat dari keunikan? Keunikan; begitu luas, begitu beragam sebanyak manusia di dunia, yang mampu saling mengisi ruang kosong pada orang lain, dan bersifat kreatif. Tetapi kenapa dari dulu hingga sekarang pola sejarah dunia tidak berubah? Bukankah seharusnya dengan keunikan yang dimiliki oleh tiap manusia akan mampu melahirkan karya-karya besar, yang tentunya akan membuat peradaban menjadi semakin baik? Hm, jikalau pun keunikan didefinisikan sebagai sesuatu yang selalu mengacu kepada kebaikan, tampaknya tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh berharap bahwa peradaban akan selalu baik. Sama sekali tidak boleh. Karena tiap orang harus menjalankan peran gandanya yang bolak-balik berada di antara dua jemari Tuhan, maka keunikan sebenarnya adalah pasangan pertentangan tiap orang; sehat-penyakit. Betulkah begitu? Tetapi bagaimana meletakkan definisi keduanya dengan benar demi pengobatan, jika bersandar kepada ‘keunikan’? Dimana letak universalitas dalam hal ini? Wallahu a’lam.

Berbicara soal pikiran, tidak dapat dilepaskan dengan otak dan (hati?). Masih membingungkan sebenarnya apakah definisi hati itu. Letaknya dimana? Apakah sama letaknya dengan otak, di pikiran? Heart bahasa inggrisnya, bukan liver. Heart, adalah jantung; sebagai tempat untuk memompa darah. Bersifat panas, memiliki api. Api yang menghidupi, yang menghembusi. Menghidupi dan menghembusi apa? Otak? Jadi yang pertama yang menjadi sebab siapa? Otak? Hati? Hati yang berotak? Otak yang berhati? Mengapa orang bisa terkena serangan jantung? Mengapa kecepatan denyut jantung berbeda pada saat kita duduk dan berlari? Dan tentu saja beda juga kecepatannya pada saat kita sedang menunggu giliran untuk wawancara pekerjaan dengan dikejar-kejar perampok. Kesimpulannya: akitivitas dan rasa beraktivitas mempengarui kecepatan denyut jantung. Tapi, apakah yang mempengaruhi rasa itu? Otak yang tak lepas dengan temannya, pikiran itu? Bagaimana proses mempengaruhinya? Bersifat imajiner ataukah nyata bisa dijelaskan secara fisiologis? Juga psikologis? Kembali ke kalimat awal pada paragraph ini; jadi dimanakah letaknya hati? Silahkan coba dibuka situs di bawah ini:

http://kontaktuhan.org/meditasi/meditasi_10_kelenjar_pineal.htm
http://kontaktuhan.org/news/news161/ss1.htm
http://sraddhawan.tripod.com/ilmu_pengetahuan_bio.htm

Bagaimana teman-teman menanggapinya? Memahami seperti apa/ bagaimanakah?

Saya hanya bisa berkata, “masih begitu banyak pengetahuan yang belum Allah bukakan bagi kita, sementara tugas kita adalah membukanya satu persatu sesuai dengan bidang kita.”

Caranya:

QS. 10 : 100
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ [١٠-١٠٠]

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan ‘aql (ya’qiluun) nya.”

‘Aql. Otak dengan hati? Hati dengan otak? Ada definisi lain? Dan balik lagi: letak semuanya dimana?

Silahkan jawab dulu semua pertanyaan di atas, baru lanjut tulisannya ke bagian 2.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Wiwik Ikbal