Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Apakah yang menjadi kelemahanmu dalam hidup, Teman? Itu adalah perjuanganmu untuk menegakkannya menjadi kuat. Tapi sebelumnya engkau harus tahu asal dan bentuknya.

Neurosis Masa Kecil


Freud mengambil kesimpulan bahwa neurosis yang paling berpengaruh dalam kehidupan setiap orang adalah hal seksual. Ia mengambil kesimpulan ini berdasarkan hubungan tidak mengenakkan antar ayah-ibunya, dan orang-orang terdekat lainnya seperti kakak-kakaknya. Pemikiran Freud pada kasus-kasus tertentu bisa dibenarkan, dan tidak untuk kasus lainnya. Kasus Ryan si penjagal termasuk bisa dianalisis dengan pemikiran Freud satu ini. Hubungan pernikahan tidak bahagia termasuk yang cukup sering dianalisa melalui pemikiran Freud, walau sebenarnya menurut saya tidak semuanya.

Sekarang coba kita amati kehidupan kita masing-masing, mulai dari hubungan terkecil keluarga bati, persahabatan, hingga hubungan-hubungan lainnya termasuk dengan Tuhan. Dan amati menjadi bagaimana kita sekarang ini. Sedang berada di mana sekarang ini? Berdiri tegak dengan kokoh, mencari topangan agar sanggup berdiri, membungkuk menahan beban, ataukah jatuh karena kepenatan tak tertahankan? Dan sedang bersama siapa-siapa saja kita sekarang? Bagaimana keadaan mereka yang menjalin hubungan dengan kita? Apakah mereka menjadi topangan kita ataukah sebaliknya? Ataukah saling menopang satu sama lain? Ataukah malah menjatuhkan karena sama-sama tidak ingin ditopangi? Ataukah sama-sama terjatuh karena sama-sama tidak bisa menjadi topangan? Bagaimana fungsi Tuhan itu sendiri dalam mengantarai kehidupan kita? Mungkin tidak tepat jikalau ‘mengantarai’, karena Tuhan seharusnya menjadi bagian diri tak terpisahkan. Tetapi dikarenakan kenyataan terbanyak saat ini adalah Tuhan ‘hanya’ menjadi ‘mengantarai’, maka begitulah fungsi Tuhan sampai saat ini. ‘Mengantarai’ jika muncul eling waspada.

Eling waspada. Tiap orang memiliki kewaspadaan yang berbeda. Mereka sadar harus waspada terhadap sesuatu jika mereka sadar memiliki kelemahan akan hal tertentu. Kelemahan, yang menumbuhkan akarnya sedari kecil, menguatkan akar dan membesarkan pohon beserta merimbunkan dedaunannya, sebenarnya merupakan jalan bagi diri untuk menjadi orang yang kuat. Menunjukkan kekuatan-kekuatan dan kemampuan sebenarnya dirimu. Kelemahan yang dipelajari dan terus dipelajari, menjadi ilmu. Bagaimana tidak menjadi ilmu, jika engkau berusaha melawan kelemahanmu. Pengetahuan akan kelemahan, pengetahuan untuk melawan kelemahan, pengharapan kepada Tuhan untuk menguatkanmu, ketakberdayaanmu; dengan itu semua engkau menjalankan kehidupanmu. Sementara kekuatanmu sebagai pendukung. Kekuatan membantu melahirkan hikmah-hikmah, mengembangkan akal baik akal pikiran/ rasio/ logika maupun akal hati (‘aql, akal jiwa) sebagai sarana Mengenal-Nya lebih dekat. Karena itu, Tuhan menganugerahkan sebuah bentuk neurosis kepada tiap orang. Neurosis yang mulai dimunculkan penyebabnya sejak kecil. Bentuk neurosis bermacam-macam, tergantung secara umum dari psikis yang ditanamkan Tuhan beserta lingkungan-lingkungan yang engkau masuki , yang selanjutnya akan turut membantu perkembangan tipe kepribadianmu, yang sebenarnya sebanyak jiwa. Oleh psikologi hanya dikelompokkan tak pernah dikelompokkan lebih banyak dari 16.

Kelemahanmu, malah menjadi racun jika kau lawan dengan kekuatan-kekuatan semu. Memberikan kekuatan, tetapi sebenarnya hanya menjadi mekanisme pertahananmu kala menghadapi alarm bahaya. Entah itu ketika dilecehkan, digunjingkan, disanjung, ditiadakan.

Benarkah begitu? Sekarang coba kita amati kehidupan kita sejak kecil hingga sekarang. Apakah yang menjadi kelemahan-kelemahan kita? Mungkin itu adalah sebuah bentuk neurosis. Bersyukurlah, Tuhan memperhatikanmu. Responlah dengan bersegera kembali kepada-Nya, sebelum kelemahanmu memunculkan rahwana karena ketergantunganmu kepada kekuatanmu…

Wallahu a’lam.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.