Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu´alaykum wr. wb.

Oleh: Dwi Afrianti.

“Seberapa Jauh Pentingnya Kebersamaan Suami-Istri dalam Menghidupkan
Cinta Mereka”
, ya, saya mencoba untuk menuliskan pemahaman saya
mengenai hal ini.


Kehidupan, sesuatu yang dijalani 24 jam dalam
sehari, bukan hanya hitungan menit atau jam. Kehidupan, ada dalam
setiap waktu dan ruang.

————————–

Apakah cinta itu perlu? Kalau tidak perlu, mengapa cinta menjadi
prasyarat dari sebuah pernikahan? Lalu, apabila prasyarat „cinta”
sudah dipenuhi ketika akan menikah, apakah kecenderungan kematiannya
ketika tengah menjalani bahtera rumah tangga tidak perlu diusahakan
untuk dihidupkan kembali? Kematian cinta, adalah sebuah petaka.
Berumah tangga tanpa cinta bagaikan hidup tanpa Tuhan, tanpa sebuah
pengorbanan dan pengabdian; sementara cinta kepada pasangan, dan
kepada lainnya adalah Tangga Menuju Tuhan. Tangga Menuju Tuhan itu
mendaki, menaik, bukan menurun; semoga kalau menurun, bisa menaik lagi. Lebih terasa berat kalau
dilakukan tanpa pegangan atau sandaran. Jadi, berpegang dan
bersandarlah. Pegangan dan sandaran itulah CINTA.

KEBERSAMAAN UMUM

Kita harus melihat lagi, bagaimana amal rumah tangga kita selama ini.
Apakah pernah kita meluangkan waktu hanya sekedar berbincang-bincang
mesra dengan pasangan kita? Atau belajar bareng tentang suatu topik
yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan dalam suatu kelompok atau di dunia nan luas ini? Atau sapaan ringan,
„Hallo, Sayang, tambah ganteng/ cantik saja … resepnya apa, sih?
Pasti karena aku tambah cinta ke dikau,” sambil bercanda. Rasulullah
saw, seorang Nabi sekaligus Rasul Allah, sangat mesra kepada
istri-istrinya. Aisyah ra, sangat manja kepada suaminya, Rasulullah
saw. Aisyah ra pernah menunjukkan cemburunya kepada istri Rasulullah
saw yang lain. Sesekali menunjukkan ngambeg karena cemburu ya tidak
apa-apa. Itu namanya cinta. Saking dekatnya Rasulullah saw dengan
Aisyah ra, “Aku ingin meninggal di pangkuan Aisyah.” Beberapa wahyu
juga diperoleh ketika mereka sedang junub.

Shalat berjamaah bareng apabila dilakukan, sungguh indah. Bersama
berusaha menjalin hubungan dengan Allah dalam rangkaian rasa dan
kata-kata. Selesai sholat, sang suami membalikkan seluruh badannya
untuk menghadap sang istri tercinta, saling bermaafan; sang istri
mencium tangan suami, lalu keduanya bisa saling mencium kening atau
pipi pasangannya. Bagi yang super sibuk, mungkin bisa sesekali
melakukannya. Waktu subuh atau isya saja mungkin, tapi rutin. Coba
rasakan manfaatnya dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam
ke jam, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan,
dari tahun ke tahun.

Hadits :
„Sesungguhnya Allah menyukai amal yang dilakukan secara rutin walaupun
itu sedikit.”

Bagi pasangan yang memiliki hobi yang sama, misalnya jalan-jalan, ya
lakukanlah hobi itu bersama. Jadwalkan saja sebulan berapa kali, atau
tiap akhir pekan. Berjalan. Berjalanlah berdampingan, jangan yang satu
di depan sementara satunya lagi ntah berada di mana; mungkin hilang
karena yang di depan berjalan cepat sekali atau yang di belakang
berjalan lamban sekali. Masa niat berjalan berdua, tapi pas sudah di
luar malah jadinya berjalan masing-masing dengan alam pikiran
masing-masing? Nanti pulang ke rumah malah berantem. Kalau mau jalan
sendirian, ya, boleh saja, tapi ingat : jangan jalan sendirian apabila
tadi niat ke luarnya berjalan berdua.

Kegiatan bersama lainnya, misalnya memasak bareng. Yakin seru, deh,
memasak bareng ini. Apalagi kalau suami yang menggoreng ikan, pasti
terkaget-kaget dengan letupan-letupan minyak panasnya. Keduanya bisa
tertawa bareng, meredakan tension dari kejenuhan dan kekerasan
pekerjaan kantor atau kampus. Atau sang istri bisa sok ikut membantu
pekerjaan suaminya, pura-pura menjadi profesor killer yang besok akan
menguji sidangnya. Makan sepiring berdua dan minum segelas berdua?
Hmm …. Sepertinya mandi bareng juga oke, tuh. Bukankah Rasulullah
saw pernah melakukannya bersama Aisyah ra, dalam satu jamban?
Sesungguhnya mereka tercinta dekat sekali, dan mesra.

Memeluk. Kenapa kita memeluk seseorang? Alasannya ada 2, yaitu : 1.
minta ditenangkan, 2. ingin menenangkan. Lakukanlah kepada pasangan
kita sebagaimana kebutuhan. Ia membutuhkannya, juga kita. Jangan
malu-malu. Ia adalah pasangan kita. Memeluk : transfer energi.
Pekerjaan ringan tapi besar manfaatnya. Tidak perlu banyak kata, tapi
sangat ampuh. Seorang anak kecil yang menangis tiba-tiba, ketika
diangkat lalu dipeluk erat, insya Allah akan berhenti nangisnya.
Seorang istri yang merasa sangat berdosa karena terus-menerus berbuat
kesalahan, ketika dipeluk oleh suaminya, maka insya Allah ia menjadi
merasa tenang kembali. Harapannya kepada Allah menguat kembali.
Seorang suami yang tidak berdaya menghadapi carut marutnya dunia
kantornya, tidak mempunyai pekerjaan yang mapan, merasa dirinya tidak
berharga karena merasa selalu gagal dalam berbagai bidang, ketika
dipeluk istrinya, maka insya Allah rasa percaya dirinya tumbuh kembali
dan merasa memiliki sahabat setia yang tak kan meninggalkannya ketika
ia berada dalam kesusahan.

KEBERSAMAAN KHUSUS : Sexualitas dan Hubungan Seksual

Seksual, bukan sesuatu yang langsung identik
dengan kelamin. Bukan sesuatu yang dijalani hanya di kasur. Seksual,
terkait mulai dari kebersamaan umum sederhana seperti cara bertegur
sapa, berbicara, memandang, berjalan, menyentuh, memeluk, makan,
sholat, berdoa, bercanda, tidur, dll bersama pasangan hingga ke
kebersamaan khusus, yaitu hubungan intim (yang hanya bisa dilakukan
oleh pasangan itu). Semuanya harus dijalani dengan baik dan benar.
Kesemuanya itu merupakan bagian dari amal. Itu semua juga yang
sebenarnya dinamakan komunikasi. Coba perhatikan, di dalamnya ada
proses penyampaian informasi berupa emosi, afeksi, pikiran, dan
perilaku dari si penyampai ke penerima. Kesemuanya berfungsi untuk
menumbuhkembangkan „cinta” di dalam rumah tangga.

Hubungan seksual, apabila dilakukan
dengan benar akan memberikan kesehatan jasmani, rohani juga tentunya.
Jadi ingat pepatah, „Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.

Seorang Sahabat pernah bercerita kepada saya, bahwa dia tidak akan bisa
bekerja apabila belum berhubungan seksual dengan pasangannya (mereka
pasangan menikah tentunya). Pernah dia lama menahan kebutuhannya itu,
yang akibatnya urat-urat syaraf kepalanya harus dibenerin oleh seorang ajengan. Ajengan tersebut sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat para urat
syaraf yang morat-marit ke sana ke mari, melintir-lintir. Seorang
Sahabat lain, tersembuhkan congek di telinganya setelah ia menikah,
padahal baru menikah 2 bulanan. Sembuh total. Tidak pernah lagi
keluar lendir-lendir kuning kecoklatan. Di samping itu, ia merasakan
penglihatannya menjadi lebih jernih dan telinganya lebih tajam
mendengar. Saya tidak tahu apakah itu hasil dari riyadloh atau karena
berhubungan seksual, tapi ia bercerita bahwa ia mendapatkan hal
tersebut setelah ia menikah. Teman-teman sendiri tentunya mempunyai
pengalaman dengan hal tersebut.

Berhubungan seksual, 2 atau 3 kali seminggu. Rutin. Seperti minum obat
yang menyembuhkan. Atau vitamin yang menyehatkan. Silahkan mau minum
yang mana, keduanya berkhasiat.

Tiap orang punya gaya dan durasi waktu masing-masing dalam
menyampaikan cintanya di dalam berhubungan seksual. Setiapnya harus
mencari yang pas, sesuai kadarnya. Tiap sesuatu memiliki ´pakaian´. Kebersamaan harian juga memerankan hal penting di sini. Jadi usahakan untuk tetap menjaga kebersamaan harian
(umum) dan kebersamaan 2 atau 3 kali seminggu (khusus) ini. Kuantitas
sama pentingnya dengan kualitas. Tidak menjaga kuantitas, kualitas
sukar juga diperoleh. Sama halnya dengan mempelajari sesuatu, baru
terasa berkualitas kalau sudah belajar lama. Dan kalau perlu, cari
ahli terpercaya. Jangan membeberkan rahasia pribadimu kepada orang
yang kurang terpercaya (apalagi bukan ahlinya), karena urusanmu bisa
tambah hancur.

***

Laki-laki dan Perempuan. Suami dan istri. Pasangan. Keduanya memiliki
keunikan karena berasal dari ´planet´ berbeda yang sekarang sedang ke
bumi, namun juga memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama tidak suka
dituntut, namun keduanya sama-sama suka menuntut. Keduanya sama-sama
minta diberi pengertian atas segala tindak tanduk pasangan dan
keduanya sama –sama minta dipahami kondisinya. Tapi satu paling
penting, harus selalu yakinkan hati kita bahwa, „aku dan engkau
sama-sama sedang Mencari Allah,” karena dengan begitu kita akan selalu
ingat ada ´Tangan´ Tuhan Yang Bermain dalam setiap langkah kehidupan
kita. Jadi kita tidak pernah menyalahkan pasangan kita. Jangan
menghakimi, ceunah. Apabila sudah terlanjur sering menyalahkan,
istighfar saja. Semoga Allah mengampuni dosa kita dan tidak
mengqishashnya bagi kita, terutama saya. Amin.

Seorang sahabat bertanya kabar kepada sahabatnya, „Apa kabar?”

„Baik. Bertengkar dengan pasangan sudah jarang.”

„Hmm. Aku jadi ingat inti pengajian halal bihalal. Inti
halal bihalal adalah memaafkan.”

Halal bihalal : Memaafkan. Mengikhlaskan. Sebuah kata yang memerlukan
kata pendahuluan : sabar, tawakal, syukur.

Dalam Mastnawi Rumi, tentang pernikahan, intinya dikatakan bahwa :
“terimalah setiap tuntutan pasangan kita, karena itu akan mensucikan
hati kita. Terimalah setiap keinginan pasangan kita. Terimalah setiap
caci maki pasangan kita. Mengalahlah untuk kemenangan jiwa. Maafkan
segala yang dilakukannya yang menurut kita (mungkin menurut hawa nafsu
kita) salah. Ikhlaskan ´ketidakadilan´ nya kepada kita.”

Sebenarnya, ada hak antar pasangan. Setiap tuntutan dari lainnya,
insya Allah akan dapat dipenuhi oleh pasangannya. Namun karena kita
memiliki syahwat dan hawa nafsu, maka jadinya tuntutan pasangan kita
sering tidak dapat kita penuhi. Misalnya, pasangan kita yang tinggal
di Jakarta meminta kita yang tinggal di Bandung untuk sekali seminggu
pada akhir pekan untuk mengunjunginya. Kita tidak dapat memenuhinya
dengan alasan tidak selalu mempunyai uang untuk ongkos. Apakah benar
kita tidak bisa memenuhi tuntutannya? Coba ingat-ingat lagi, uang kita
selama ini dibelanjakan ke mana saja? Apakah lebih banyak untuk
menyediakan kebutuhan pribadi yang tertier daripada kebutuhan sekunder
pasangan? Apakah tidak ada angkutan yang sangat murah sekali yang bisa
membawa kita ke Jakarta? Mungkin memang akan lebih latihan sabar jika
kita yang biasanya terbiasa menggunakan KA argo gede, tiba-tiba
sekarang harus naik bis yang sangat murah sekali : sebentar-sebentar
berhenti lama untuk mengangkut penumpang hingga penuh membludak dengan
segala jenis pedagang yang berteriak-teriak tepat di samping telinga
kita; belum lagi bau dan gerahnya udara yang menggigit. Perjalanan
Bandung-Jakarta dengan KA argo gede yang cuma 2 jam itu, harus diganti
dengan 6-7 jam mengendarai bis butut. Apakah itu bisa disebut
membuang-buang waktu?

Lalu, bagaimana apabila kita benar-benar tidak bisa memenuhi tuntutan
atau keinginan pasangan, yang disampaikannya dengan kesal pula?
Misalnya, pasangan kita yang ada di Yogya menuntut kita yang tinggal
di Kalimantan untuk sebulan sekali mengunjunginya, sementara gaji kita
sebulan Cuma 800 ribu erpe. Untuk sering-sering nelpon saja kita masih
keteteran, apalagi harus sebulan sekali ke sana. Apabila kita sudah
benar-benar tidak bisa memenuhi tuntutannya, maka katakanlah alasannya
dengan cara yang baik. Jangan malah membalas dengan kesal, apalagi
marah-marah, lalu menghindar (lari); tidak teguran berhari-hari. Marah
itu bisa dengan dua cara : mendiamkan atau mengomel dengan kata-kata.
Tapi kalau „mendiamkan” bisa efektif sampai emosi dan pikiran keduanya
tenang, ya, silahkan. Keduanya yang lebih paham masing-masingnya.

Saya teringat kata-kata dalam buku „Guru Sejati dan Murid Sejati” Bawa
Muhayyadeen, bahwa (kurang lebihnya), „dalam berinteraksi bersama
Guru, janganlah lari. Ketika engkau melihat Gurumu membakar-bakarmu
bagaikan api membakar kapas, kau tidak rela. Lalu kau marah, dan
meninggalkannya. Apabila engkau lakukan itu, maka kau akan semakin
menjauh darinya; semakin menjauh dari pembersihan, dari pensucian.
Kapas-kapasmu, yang dibakarnya, adalah syahwat dan hawa nafsu mu. Jadi
kalau kau ingin bersih, ingin suci, maka datanglah kepadanya. Berikan
kapas-kapasmu kepadanya untuk dibakar.„

Gurumu merupakan Cerminmu, yang akan senantiasa memantulkan „siapa”
dirimu.

Begitu pula halnya dengan pasangan kita. Ia adalah Guru sekaligus
Cermin kita juga, walau bukan Mursyid🙂. Bukankah semua hal di dunia
ini adalah Guru dan Cermin bagi kita? Guru dan Cermin bisa memberikan
dan menunjukkan hal menyenangkan dan tidak menyenangkan. Terimalah
keduanya. Terimalah pasangan kita, sebagai Guru yang kan membakar
kapas, yang kan memantulkan kedirian kita. Pandanglah agung pasangan
kita, selayaknya seorang Guru. Kalau itu kita lakukan, insya Allah
usaha kita untuk tetap konsisten menjaga kebersamaan umum dan
kebersamaan khusus akan lebih gampang. Dan semoga cinta antara kedua
mempelai, dengan Bantuan Sang Pemilik Cinta Yang Agung Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, semakin tumbuh subur dan berkembang dengan wangi
semerbak dan warna yang menyedapkan mata memandangnya. Semoga Allah
mudahkan. Amin.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin.

Wassalamu´alaykum wr. wb.