Bismillaahirrahmaaniirahiim.

Assalaamu’alaykum wr.wb.

Melalui Mereka

Begitu memasuki ruang check in Bandara Abu Dhabi, mataku langsung menangkap begitu banyak sosok wanita berkulit coklat dengan postur tubuh sedang. Banyak dari mereka yang menutup kepalanya, dengan jilbab atau selendang. Sebagian besar dari mereka asyik bercengkrama dengan temannya, sesekali diselingi dengan tawa dan senyum. Bahasanya aku kenal. Ada juga yang cuma diam memandangi sekeliling. Ada juga yang lebih tertarik memandangi orang-orang yang lewat di depannya.

Indonesisch, bathinku. Senangnya melihat begitu banyak saudara seibu pertiwi. Maksud hati ingin sekali duduk bareng mereka, ngobrol apa saja. Ngobrol tentang diri mereka. Ngobrol tentang keluarga mereka. Ngobrol tentang pekerjaan mereka. Ngobrol tentang kehidupan mereka. Namun hawa nafsuku berkata, “Apa mau nanti dianggap sebagai kelompok mereka?” Kesombongan tidak perlu memaksaku untuk menjauhi mereka. Kesombongan hanya tinggal mengingatkan sambil berbisik saja, maka aku sudah takluk kepadanya. Kesombongan merenggut diriku, mengambil diriku tanpa susah payah. Ia sudah mendarah daging. Astaghfirullah al´adzhiim. Istighfar yang tidak ikhlas, buktinya aku tetap menjauhi mereka.

“Mbak Wiwik dah ngobrol apa saja dengan mereka? Apa mereka semua mau kembali ke Indonesia dan tidak kembali lagi ke sini?” tanya temanku, seorang peserta training komputer di Jerman yang baru saja selesai check in. Aku tersentak. Ngobrol? Boro-boro ngobrol, duduk bareng mereka saja aku tidak mau. Aku malu sekali. Duduk 2 jam di ruang tunggu ini tidak ngobrol apapun dengan mereka. Masa punya saudara tidak diajak ngobrol? Tidak ditemani? Keterlaluan sekali diriku.

“Udah tadi,” jawabku, “Tapi ngobrol yang lain. Mereka bilang pesawat telat sampai jam 5, dan mereka dapat makanan. Tapi mereka tidak menginginkan makanan. Yang mereka inginkan adalah pesawat segera berangkat.” Duh. Itu bukan ngobrol. Itu cuma sekedar info dari mereka. Cuma ada informasi dari sepihak, aku tidak berbicara apa-apa. Tuhan, ampuni aku. Perbaiki kesalahanku, Tuhan.

Dua orang dari mereka pindah tempat duduk, beralih ke barisan belakang tempat dudukku. Seorangnya, dia yang memberiku info tadi. Tekadku, „Baiklah, Bismillah, aku akan mencoba meruntuhkan kesombonganku dengan ngobrol bersama mereka.“

„Dari mana, Mbak?“ tanyaku.

„Magelang,“ tersenyum Dia menjawab. Ramah sekali. Aku suka.

„Wong Jowo, tho. Aku juga orang Jawa, tapi gak bisa Bahasa Jawa. Jadi jangan ajak aku ngomong jawa, ya.“

Dia tertawa, „Kok ndak bisa bahasa jawa, Mbak?“

„Aku lahir di Palembang, dibesarkan di Pekanbaru. Orang tuaku, satunya Jawa to´, satunya lagi Jawa-Sunda. Tapi keduanya gak pernah ngajak ngomong anaknya pake Bahasa Jawa. Lalu aku di Bandung sejak 1995.”

“Ooh, jadi begitu, ya, Mbak.”

“Iya. Hmm … pulang abis, Mbak? Atau balik lagi ke sini?“

“Ndak balik lagi. Pulang aja. Kerja lebih enak di Arab Saudi daripada di sini. Nanti aku coba ngelamar ke Arab Saudi aja.”

“Begitu, ya? Kenapa enaknya di Arab Saudi?”

„Karena uang gaji kalau belum setahun kerja gak dipotong. Kalau di sini, dipotong 2 bulan. Aku, ya, Mbak, juga capek kerja di sini, 24 jam. Maunya aku istirahat jam 10 malam. Tapi ndak, tuh. Aku lagi bobo suka dibangunin cuma untuk mbuatin kopi. Ndak kuat aku, Mbak. Aku juga kan butuh istirahat.“ Dia berkata, tapi sepertinya tanpa kesal. Tanpa luka. Karena kulihat senyum tetap saja tersungging di bibirnya.

„Iya, setiap kita memang butuh istirahat.“ Aku mencoba berempati. „Sudah berapa lama Mbak kerja di sini?“

„Tujuh bulan.“

Hmm, 7 bulan dengan kerja rodi 24 jam seperti itu tabah juga … kalau aku mungkin sudah nangis berderaikan darah. Jangan-jangan malah aku mendatangi polisi demi menuntut hakku, „Tolong aku, aku telah dizalimi. Dipekerjakan dengan sewenang-wenangnya.“

***

Dari kelompok barisan kursi samping, seorang Petugas kebersihan datang, lalu serta merta mengusir mereka dengan kasar, “Awas! Mau nyapu dan ngepel!“ serunya keras, menggunakan Bahasa Arab, „Pindah sana duduknya!“ sambil langsung menyapu lantai tempat duduk mereka, padahal mereka masih duduk di sana. Aku tercenung. Aku, keluargaku, dan 2 orang temanku, yang sedari tadi berada di sini, tidak pernah disuruh pindah seperti mereka, padahal petugas kebersihan membersihkan barisan tempat duduk di belakang kami.

Aku lihat mereka yang diusir itu tetap mengenakan wajah ceria. Senyum mereka sama saja dengan senyum ketika mereka asyik bercengkrama dengan teman mereka. Kalau aku jadi mereka, aku yakin aku akan bersungut-sungut sambil ngomel, „Apa gak bisa menegur dengan lebih sopan, Mas?“

***

Akhirnya, waktu menunggu 4 jam segera lunas. Petugas bandara berdiri di mejanya untuk memeriksa surat-surat keberangkatan seperti paspor dan tiket. Antrian mereka, para wanita yang selalu tersenyum itu, panjang sekali. Dalam hati aku mengeluh, „Waduh! Kalau begini mau sampai berapa jam, nih, ngantrinya? Mana aku ngendong Rahman dari tadi. Berat, letih, dan ngantuk, euy. Aku … “

Belum habis keluhku, tiba-tiba barisan panjang dari depanku dengan ´gagah´nya berjalan mendahului mereka yang sudah ngantri awal. Nyerobot, istilahnya. Aku kaget. Kok bisa-bisanya nyerobot begitu, sih? Mengingat iklan antrian di TV Indonesia, bebek aja katanya suka ngantri.

Aku terdiam. Hanya diam. Aku sudah cukup banyak belajar budaya ngantri selama di Jerman. Di Jerman, sepertinya semuanya tertib dan teratur. Semua orang saling menghargai dan menghormati, siapapun dan apapun pekerjaan orang itu.

„Kita duluan juga, yuk,“ tiba-tiba ajak temanku. Eit! Bukannya dia sudah 4 tahun belajar di Jerman?

„Jangan, ah. Lebih baik mengantri saja. Malu. Kita kan sudah belajar ngantri cukup lama di Jerman.“

Kalimat di atas tidak bertahan lama, karena, „Kita manfaatin aja Rahman, yuk. Bilang, ´Hei, bawa bayi, nih. Kasian …´ Gimana?“ tanyaku. Maksudku sih bercanda saja, tapi ditimpali serius oleh temanku. Aa sendiri tentu saja tidak setuju. Dia memang salik yang sadar sedang Berjalan.

„Iya, mending begitu. Tapi tampaknya gak perlu bawa-bawa nama bayi juga, kayaknya kita gak pa-pa ngedahuluin, deh. Liat aja, tuh, di sana, numpuk yang mendahului.“

Benar juga. Tapi aku segera meralat keinginanku, „Gak usah aja, deh. Kasian yang udah ngantri. Kasian mereka. Mereka sudah lebih lama nunggu di sini daripada kita, lho, dari jam 7 malam.“

„Udahlah. Gak pa-pa … kasian Rahman,“ katanya.

„Ah, tidak, „ bathinku. Rahman tidak bermasalah dengan itu. Lihat saja, ia masih asyik tidur digendonganku. Yang bermasalah itu ya kami yang mengaku diri sudah dewasa ini.

Kami nyerobot juga akhirnya. Aku maluuuuuu sekali …. gak berani aku menatap setiap wajah wanita yang memandang kami dari depan. Duh, Gusti. Aa sampai mengucapkan, „Maaf,“ berulangkali dengan pelan.

***

Paspor dan tiket kami tidak diperiksa sama sekali. Kami bisa lewat begitu saja. Sudahlah menyerobot, kami bisa masuk tanpa harus diperiksa-periksa segala. Petugas itu membiarkan kami ´slonong boy´. Betapa kagetnya aku. Kenapa bisa begini? Nyatakah kejadian ini? Tidakkah aku sedang bermimpi? Apakah ini adalah Uni Emirat Arab? Manakah Islamnya? Kenapa kami tidak diperiksa sama sekali? Bagaimana kalau kami adalah para gerombolan siberat?

Sementara para wanita itu …. — aku pandang wajah-wajah, masih dengan senyum mereka, masih antri — satu persatu diperiksa dengan ketat paspor dan tiketnya. Lama.

Menyaksikannya, aku lemas. Lemas sekali. Aku mau menangis.

Gila!!! Aku benci bandara ini. Benci!

„Aku ingin memeluk kalian,“ lirihku pelan, „tidak,“ ralatku, „kalian tidak perlu dipeluk kalau tujuanku cuma ingin menenangkan kalian. Kulihat wajah kalian tetap ceria, walau telah berulang kali mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari orang lain. Akulah yang perlu ditenangkan, dipeluk-peluk jika aku diperlakukan seperti itu.

***

Di ruang tunggu, sedang asyik-asyiknya aku mencari tempat duduk, seorang petugas menggebrak mejanya dengan keras. Aku kaget. Petugas itu memukul mejanya sebagai tanda agar sekelompok wanita itu diam. Kudengar mereka memang ribut sekali, tapi kan bisa memberitahunya dengan cara yang sopan. Jangan dengan cara menggebrak meja. Tapi lihatlah, lagi-lagi para wanita itu tetap hanya tersenyum dengan terdiamnya.

„Kerja di mana, Mbak?“ tanyaku pada seorang wanita yang duduk di sampingku.

„Kuwait.“

„Sekarang pulang sementara, ya? Maksud saya sekarang Mbak lagi libur kerjanya.“

„Ndak. Saya mau pulang beneran.“

„Kok? Kenapa?“

„Dari dulu juga saya ndak betah kerja di sini. Dua bulan kerja saya kabur, tapi saya ketangkep. Saya gak diizinkan untuk berhenti kerja, tapi Alhamdulillah sekarang setelah 1 tahun 2 bulan saya boleh berhenti.”

“Waah .. hebat, dong, bisa bertahan selama itu.”

“Ndak tahan saya sebenarnya. Saya sering kabur, tapi ketangkep terus. Ya udah, saya ndak bisa apa-apa. Anak majikan saya 10 orang, udah itu pekerjaan saya berat-berat. Tiap Jumat saya nyuci mobil.”

“Gak ada pekerja laki-laki?”

“Ngirit dia. Jadinya saya yang ngerjain semua pekerjaan. Capek saya. Saya mulai kerja jam 6 pagi, selesai jam 12 malam.”

“Tapi Mbak kan kerja demi keluarga?“

„Iya, sih. Alhamdulillah dapat uang banyak. Tapi saya ndak mau lagi kerja di sini. Saya mau kerja di Indonesia aja,“ sambil tersenyum memberikan penjelasan kepadaku. Nada bicaranya tidak kesal. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan ´penderitaan´nya dengan tetap tanpa kesal, lalu dengan iringan senyum pula? Aku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku (dalam bayangan) karena kagum.

„Iya, gak pa-pa.“

***

Gak taulah aku … kenapa mereka bisa selalu memperlihatkan senyumnya dalam situasi dan kondisi apapun? Sementara aku … disapa orang dengan sangat sopan saja belum tentu bisa selalu tersenyum.

Wassalaamu’alaykum wrwb.
dwi afrianti