بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diterjemahkan dan dijelaskan oleh Dwi Afrianti.

SATU

Allaahummaa yaa Hayyu yaa Qoyyuumu bika tahasshontu faahminiyi bihimaayati kifaayati wiqooyati haqiiqoti burhaani hirzi amaani بِسْمِ اللَّهِِ

Terjemahan:

Allaahumma ya Hayyu ya Qoyyuum. Di Dalam-Mu lah Benteng Tempat aku Berlindung; Perisaiku adalah pemenuhan kewajibanku akan-Mu, jaminan (akan Janji-Mu), haqiqat, bukti, pengawasan, keselamatan بِسْمِ اللَّهِ

Makna:

Allaahumma merupakan suatu bentuk seruan dari Nama Allaah, menunjukkan sifat Illaahiyyah yang jauh di atas melampaui apapun (uluuha), pengakuan bahwa tiada yang lain selain Dia Yang sungguh-sungguh memiliki Kekuasaan.

HAYYU, bermakna hidup.  Dikatakan hidup jika memiliki nafakh ruh (tiupan ruh), keperluan, tempat tinggal, bergerak. Tidak semua yang hidup memiliki kehidupan. Memiliki kehidupan hanya jika terlekat padanya qayyuum.

QAYYUUM ( ﻗﻴﻮﻡ )   berasal dari akar Q – W – M, yang bermakna ada, naik, dan berdiri, juga berarti mengawasi dengan cermat dan tepat. Adanya suatu keterhubungan antara Kekuatan Tuhan yang memanggil setiap nafs yang berada pada Jalan Tuhan untuk mikraj dengan Pengawasan-Nya yang berdasar atas semua Pemahaman dan Pengetahuan-Nya.

Huruf Qoof, melambangkan ‘Arsy, Yang Meliputi segalanya, di bawahnya terletak Kursiyy.

Qs. 20 : 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]

“Ar-Rohmaan. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”

Ketika seseorang mencapai pengetahuan rahasia dari Waaw, melaluinya orang itu membuat ruh-ruh tertinggi naik ke dalam ketersingkapan tertinggi. Huruf waaw juga menekankan pada eksistensi dari Bentuk Ilahiyyah dalam diri masing-masing manusia. Allah berkata, “Tuhan menciptakan Adam berdasarkan Bentuk-Nya.”

Huruf waaw ( ﻮ  ) diucapkan pada bagian luar dari mulut dimana kedua bibir bertemu. Bunyi waaw ( ﻮ  ) sendiri  dimiliki oleh semua bunyi-bunyi yang lain. Nafas melewati semua titik-titik dari pengucapan agar mencapai “tempat” waaw ( ﻭ ). Hal itu kemudian membentuk dan menambah kekuatan semua huruf. Untuk alasan ini Ibn ‘Arabi menentukan bahwa waaw ( ﻮ ) merupakan simbol dari Manusia Sempurna (insan kamil).

Ibnu ‘Arabi menyebut alif sebagai “akar tempat tegak berdirinya huruf-huruf” (qayyuum al-huruuf) : segala sesuatu bergantung pada alif, sementara alif tidak bergantung kepada apapun”

Penegasan seorang hamba yang mengatakan bahwa “Di Dalam-Mu lah Benteng Tempat aku Berlindung” dengan menyeru menggunakan asma Hayyu dan Qoyyuum Allah

Qs. 28 : 24

فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ [٢٨:٢٤]

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat khoyron faqiirun yang Engkau turunkan kepadaku’.”

Hakikat manusia berada dalam jiwanya (nafs)
Sebagaimana cahaya, hakikatnya adalah gelap sebelum kedatangan pagi.
Pahamilah hal ini sebenar paham dengan membuktikan adanya
yang bagaikan alarm peringatan mara bahaya yang membangunkan tidur-tidur malam panjangmu.
Jiwalah yang menerima petunjuk
tentang Jalan menemukan Ruh Suci.
Ruh Suci akan menghapus segala ketakutan dan kecemasanmu,
akan mengenalkanmu tentang Allah.
Ruh Suci muncul kepada seorang hamba
yang hanya mencari Sumber nyala api (pada batu bara).
Hamba itu sebenarnya tak lain hanya melihat Nyala api (bukan batu baranya)
yang menyinari langkah-langkahnya menuju Sang Raja pada perjalanan malam-malamnya.
Jika engkau memang sebenar memahami apa yang Aku katakan,
maka kefaqiranlah yang engkau rasakan; karena Yang kau Cari tak kunjung kau Temukan!
Apakah Musa ada melihat yang lain selain Api ketika melihat Api?
Tiada yang dilihatnya selain Api, karena ia berada di dalam-Nya. Bukan yang lain.

Huruf Miim melambangkan manusia, ciptaan-Nya yang terbuat dari tanah liat. Dari Waaw-nya, dengan Miim-nya manusia menjalankan tugasnya.

Tahasshontu = stronghold, benteng

Qs. 59 : 14

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ [٥٩:١٤]

“Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan berjama’ah, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu berjama’ah, sedang qalb mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak ber’aql.”

insya Allah bersambung.

Sumber:
MUhyiiddiin Ibn ‘Arabi dari buku:
1. Al-Dawr al-a’laa.
2. Risalat-ul-anwar fima yumnah sahib al-khalwa min al-asrar Meccan Revelations (Futuhat) at chapters 167 and 367, terjemahan Inggris oleh John G. Sullivan.
3. The 7 Days of the Heart, terjemahan Inggris oleh Pablo Beneito dan Hirtenstein.
4. Fushuush al-Hikam Bab Hikmah ‘Isawiyyah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dwi Afrianti.
Bukit Dago Utara – BDO, Selasa, 13 Juli 2010, 1 Sya’ban 1431 H. Menit-menit menjelang waktu Ashar…