بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diterjemahkan oleh Dwi Afrianti dari Buku “The Universal Tree and the Four Birds,

Terjemahan Inggris oleh Angela Jaffray, dengan komparasi ke teks Arab “Kitab “al-Ittihaad al-Kawnii fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.
.

Aku adalah sebuah Pohon Semesta dari al-jaama’ah dan al-mitsal. Akar-akarku menghujam dalam-dalam dengan cabang-cabang yang menjulang begitu tinggi ke atas. Tangan al-Ahad menanamku dalam sebuah Taman Keabadian (al-abd), terlindung dari lapuknya waktu. Aku memiliki ruh (ruuh) dan tubuh. Tak sebuah tanganpun yang pernah menyentuh buah-buahanku. Nutrisi dari buah-buahanku lebih daripada sekedar ilmu (al-‘ilm) dan pengenalan (al-ma’ruf)  yang selama ini pernah dimakan oleh ‘aql dan asroor (rahasia-rahasia). Dedaunanku bagai bentangan dipan yang tebal lagi empuk, aku tidak pernah berhenti berbuah dan tiada larangan untuk memetikku. Bagian tengahku adalah tujuan yang Dikehendaki. Terus-menerus antar cabang saling mendekat dan menambah rimbunnya dedaunan; Beberapa ke bawah untuk memberikan manfaat (al-ifdah) dan pertolongan (shoo’idah), sementara yang saling mendekat secara bertahap bertugas memberikan anugerah (al-istaadah). Hukum keteraturanku seperti bola langit dalam lingkarannya (manzilah: tempat perputarannya), dan cabang-cabangku merupakan rumah-rumah bagi ruh-ruh (ar-Rowaaha) bersayap. Bunga-bungaku bagai bintang-bintang (al-kawkab) yang memancarkan mineral-mineral, mengalir dalam tubuh-tubuh mereka.

Aku lah Pohon Cahaya (an-Nuur), perkataan (al-Kalaam), dan penyejuk mata (qurrota ‘ayn) Musa as.  Petunjuk-petunjuk untukku berasal dari Tangan Kanan al-A’la, tempat-tempat untukku berada di lembah (al-waadii) suci (al-maqdis), Thuwa. Aku memiliki waktu-waktu l(al-zamaan) lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Tempat tinggalku (Al-masaakin) di kutub ‘Arsy (khatt al-istiwaa’)) dan dalam keadaan i’tidaal (berdiri tuma’ninah). Sifatku konstan, abadi, bahagia tanpa pernah ada kesedihan. Buah-buahan dari kedua tamanku gampang dipetik oleh tangan dan ranting buahnya berayun-ayun kencang tampak gembira. Dan hal itu memberkahi semua makhluk hidup dengan sifat anggun dan lembutnya. Cabang-cabangku selalu menawarkan wewangin kesturi kepada ruh-ruh (al-Arwaah) dari Uluuhiyyah-Nya, dan ukiran pada daunku merupakan alat untuk melindungi mereka dari sinar-sinar yang berpendaran di waktu siang (al-yawmiyyah). Rerimbunan daunku melebar jauh menaungi mereka yang diselimuti Tuhan di dalam ketakutannya dan sayap-sayapku membentangi mereka yang suci. Angin al-Arwaah  menghembusiku dari beberapa arahnya dan menyusun kembali (membuat tertib) jalinan cabang-cabangku. Dari belitannya terdengar suara-suara bermelodi . Begitu mempesona ‘aql-‘aql dengan kekuatan melodinya dan mengarahkan mereka untuk membuat ukiran di atas daun.

Aku lah musik (muusiiq) hikmah (al-hikmah) yang menghapus ketakutan (yakhsa) melalui keindahan irama musiknya. Aku lah cahaya (an-Nuur) terang berkilauan. Milikku adalah karpet hijau lembut – tebal dan wajah bundar cemerlang. Ditolong oleh kekuatan-kekuatan dan diperkuat oleh ketinggian al-Ahad yang duduk di ‘Arsy, aku bagaikan materi utama, menerima setiap bentuk alam akhirat dan alam dunia. Tidaklah aku terlalu dekat untuk bisa memiliki sesuatu apapun! Tidaklah aku pernah menjadi bagian dari sebuah cahaya  al-haqq yang menyinariku; hmmm, hal itu setidaknya cukup menghibur seseorang yang, bersandar kepadaku.

Aku lah “bentangan atap”, kelompok pohon-pohon berdaun rimbun, maksud yang dituju, kalimat dari al-wujuud, keindahan tertinggi dari sebuah keazalian, mikraj tertinggi dari makhluk yang diciptakan dengan keterbatasannya. Kekuatanku adalah kelemahanku, tempatku adalah kesucian tertinggiku, lampuku adalah kemuliaan tertinggi. Aku adalah sumber dari tempat terbitnya (al-Manaar) cahaya-cahaya (al-Anwaar), perpaduan (jawaami’) dari al-kalaam Illaahiyyah yang berisikan al-asroor (rahasia-rahasia) dan al-hikmah.

Bumi (al-Ardh) al-ardhiyyah dan langit  (as-samaa-i) adalah milikku.
Dan di dalam inti qalbku terdapat keseimbangan dan kelurusan.
Kemuliaan (al-Majid) yang berasal dari Sumber, keagungan, rahasia semesta alam, dan kenaikan derajat adalah milikku.
Manakala pikiran-pikiran mengganggu haqiqatku,
Maka jarak dan awan prasangka akan menyesatkan mereka.
Tidak satu makhluk pun di alam semesta yang mengetahui wujuudku,
dan tiada batasan bagi Kebesaran-Nya;
Dia menetapkan takdir dan membangun diri kita.
Pilihan adalah Dia – Dia adalah apa yang Dia Kehendaki.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ