بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Risalah Sang Merpati (Ruh al-Quds) – al-Ittihaad al-Kawn,ii Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Diterjemahkan oleh Dwi Afrianti dari Buku “The Universal Tree and the Four Birds,

Terjemahan Inggris oleh Angela Jaffray, dengan komparasi ke teks Arab “Kitab “al-Ittihaad al-Kawnii fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah”, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

Ketika Sang Merpati (Ruh al-Quds) usai mendengarkan risalah Pohon Semesta dan pengenalan haqiqat yang dibawanya, dia pun menangis dalam taman kesucian sambil diri (nafs) miliknya memperkenalkan diri:

Ketika Allah Berkehendak (arooda) untuk membawa diriku kepada penyaksian, Dia pun membuatku ’melihat’ haqiqat jiwaku. Dia (Allah) melingkari leherku dengan cincin kemuliaan dan menganugerahiku ”Sidratul Muntahaa” sebagai tempat tinggal. Dia (Allah) memanggil Sang Elang, memberikan jaminan kepadanya bahwa dia akan selamat dari hukuman. Sang Elang, yang berada di balik tembok tepat di depan pintu, menjawab patuh, ”Hamba mendengar panggilan-Mu.”

Dia (Allah) berkata kepadanya, “Sekarang kau sedang berada di dalam pengasingan, walaupun kau sekarang dekat dengan-Ku. Aku tidak seperti yang engkau inginkan, jadi pasti kau tetap merasa kesepian. Tetapi kau adalah qurrota ‘ayn. Maka munculkanlah Sang Merpati (Ruh al-Quds) dalam realitasmu. Ni’mati kelompoknya dan bersemangatlah setiap mendengarkan kata-katanya, karena tidak ada hubungan kekeluargaan antara Aku dan engkau; Aku lah daya dan kekuatan tanpa batas.”

Sang Elang menjawab, “Bagaimana sesuatu bisa manifest dariku jika sekarang aku sedang berada dalam maqom lemah, tiada daya dan kekuatan yang kumiliki, wahai, Allah?”

Dia (Allah) menjawab, “Teruslah memanggil-Ku dengan penuh harap dan takut; penuh dengan kesedihan mendalam, maka kau akan berhadapan langsung dengan kuasa-Ku. Inilah harmoni kedua dan penyatuan.”

Sang Elang mematuhi-Nya. Dia pun melipatgandakan harap dan takut serta sedu-sedan panggilan-panggilan kepada-Nya. Lalu muncullah “aku”; Al-Haqq memanggilku dan aku bergegas menghampiri-Nya. Bagaimanapun, Sang Elang tidak memahami apa yang sedang terjadi; dia tampak khusyuk dengan mahar dan kedatanganku. Manakala dia mendengar aku menjawab panggilan Illaahi, dia bertanya, “Apa ini yang datang?”

Segera dia melihatku, dan dia pun jatuh cinta kepadaku. Keindahan Allah memelukku dan membuatnya mabuk cinta. Gairah cinta menjadikan kepedihan luar biasa, “Aku terbakar! Aku tenggelam!” Dia bagai seekor burung bulbul, mendendangkan ratap kesedihannya, mencoba untuk mengobati perih cinta, tetapi bakaran itu hanya semakin berkobar saja. Tampaknya, tak ada siapapun yang dapat menghibur dukanya. Tak kuizinkan pula dia untuk menciumku, meskipun dia akan terobati dengan berbaring sambil memelukku. Hijab keraguan tersingkap, dan dari belakang kemah-kemah besar al-Ghayb, seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang salah denganmu sehingga dia (aku) tidak mengizinkanmu untuk mencapainya dan meni’mati nyanyiannya? Mengapa kau (Sang Elang) tidak melihat dia (aku) melalui sifat-sifat dan kebesaran hikmahnya?”

Dia (Sang Elang) memanggilku kepadanya, “Inilah aku!”
Aku mendatangi panggilannya. Dia memerintahkanku untuk duduk, sebelum dia sendiri yang duduk. Dia berkata, “Aku terbakar dengan gelora semangat yang tampak pada wujuudmu; betapa aku telah mengamati kualitas dari pengetahuan spiritualmu. Kuasa Illaahi telah datang sehingga kau mengenalku dan sebuah cahaya dari cahaya mataharimu menyinariku.”

Aku menjawab, “Allah membawaku kepada wujuudmu, kita saling berhadapan sekarang. Dan Dia membuat aku sebagai manifestasi dari wujuudmu, mengikuti kecenderungan (kesamaan, kemiripan) kita satu sama lainnya. Aku keluar dari kuasamu dan manifest melalui wujuudmu. Allah mempercayakanku dengan dua realitas dan dua ikatan:
Satu realitas, adalah apa-apa yang aku ketahui. Satunya lagi, adalah apa-apa yang aku bawa menuju wujuud yang aku kehendaki kapanpun hal itu dibutuhkan.
Satu ikatan, adalah yang melekat denganmu; dikirim kepadaku ketika aku menghendakimu dan membawaku kepada kehadiranmu. Satunya lagi, keikutsertaanku bersama-Nya, dan dikirim kepadaku ketika Dia memanggilku kepada-Nya.”

Ketika dia mendengar satu ikatan adalah untuk mendekatkannya kepadaku, dan telah diuji kebenaran (haqq) dari cinta, maka Sang Elang menukik turun mendekat untuk bersamaku. Haqiqatku bercampur dengannya, atributku menghilang di dalamnya, dan kami terserap di dalam keni’matan penyatuan, merasa teramat berbahagia tak terkira dengan harmoni yang ada. Hymne pernikahan pun mengalun. Dua pancuran air mengalir bersama dalam rahim, yang menerima keduanya dalam Kebijaksanaan Illaahi yang menganugerahi kebahagiaan kepada sebagian orang dan kesedihan kepada sebagian lainnya. Pecinta disembuhkan dari sakitnya dan beristirahat dalam sebuah hasrat untuk memenuhi panggilan Illaahi. Goyah dalam dua hasrat: terbenam dalam dua barat dan terbit dalam dua timur.

Ketika dia sembuh dari penderitaannya dan telah berangkat ke kediamannya, kudapati diriku berada dalam keadaan yang belum pernah aku kenal sebelumnya: paripurna. Jalan-jalan tertutup baginya. Ikatan Illaahi mengikat kuat, dan aku berkata, “Wahai, Allah, Tuhanku, gerangan apa yang sedang menimpaku?”

Dia (Allah) menjawab, “Bernafas beratlah ketika engkau mendzikiriku sehingga kata-kata perintahku termanifestasi darimu.”

Begitulah, aku pun lalu bernafas seperti seorang yang terhimpit beban berat. Dan di sana, ada Sang Debu (‘Anqaa’) yang memenuhi tempat perlindunganku dengan kehidupan. Tanyakan kepada Sang Debu tentang dirinya dan dia akan memberitahukanmu apa-apa yang Allah telah titipkan ke dalam kemenarikan sifat-sifatnya dan pengenalan apa yang telah Dia bukakan baginya.

Aku lah Ruhul Quds dari kesyukuran yang acapkali ‘dilantuni’ hamba.
Kediamanku, di dalam Taman Ruhaniyyah.
Aku lah sebuah haqiqat dalam wujuud-wujuud. Tiada yang kumiliki selain dualitas.
Mereka memanggilku “Wahai, Kedua!” – tetapi aku bukan “kedua”.
Setiap ciptaan berakhir pada wujuudku.
Aku datang setelah seseorang mencapai haqiqat yang terlampau tinggi untuk dimaknai.
Kekuasaanku berguna untuk melihat yang jauh dan dekat.
Tidaklah aku dapat dimitsalkan dengan seseorang yang bahkan jika sifatnya mirip dengan yang aku miliki.
Dekati aku jika engkau mengharapkan lidahku membawa apa-apa yang berasal dari-Nya:
Perkataan yang mendekatkanmu kepada Keindahan al-Haqq,
Menuju lubb-lubb yang berganti hiasan dari Taman-taman-Nya,
Dalam pencarian seseorang yang tak terbatasi oleh waktu,
Dia al-Wahiid, al-A’la. Tiada seorang pun yang menyamai-Nya.
Dia al-Ahad Yang memilihku;
Dia al-Ahad yang memilihku.
Dia telah menempatkanku dalam keseimbangan antara tembikar dan pembuatnya.
Aku menghapuskan setiap jarak dan mendekatkan satu dengan lainnya.
Aku menjadi sahabat dari para sahabat dan menjadi penyebab dari segala penderitaan.
Manakala aku menukik jauh ke bawah, aku menukik dengan ruh yang menyebar,
Dan manakala aku terbang tinggi ke atas, tubuh pun menjadi hancur.
Ini lah aku, yang memberikan tempat tinggal yang nyaman (maghaanii) dan meninggalkan tempat-tempat yang tak nyaman.

Sumber:
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari “The Universal Tree and the Four Bird”, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Angela Jaffray dari Kitab “al-Ittihaad al-Kawni fi Hadrat al-Ishhaad al-‘Aynii bi-Mahduur al-Shajara al-Insaaniyyah wa-l-Tuyuur al-Arba’a al-Ruhaaniyyah, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ