Agustus 2010


Doa Selasa Pagi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Rabbi, celupkan aku ke dalam lautan (bahr) ahadiyyah-Mu dan ke dalam perairan yang berasal dari lautan ahadiyyah-Mu, dan kuatkan aku (qowwanii) di dalam Kekuatan (Quwwah) sath-wah (Tertinggi)-Mu dan Kekuasaan (sulthoon) fardaaniyyah (yang berasal dari KeWahidan-Mu) hingga mengeluarkan tebaran luas Rahmat-Mu dan di dalam wajah bercahaya yang disinari oleh kilatan cahaya al-Qarb, sebagai gelombang (atsar) Rahmat-Mu.  Terpesona (mahabbah) aku oleh Keindahan-Mu; aku perkasa (‘aziz) di dalam ‘Aziz-Mu; aku berkuasa (mu’aanaa) di dalam Kekuasaan-Mu; aku mampu menerima Ketetapan takdir yang Engkau gariskan; mikraj melalui Pengangkatan-Mu; aku Engkau hargai dan hormati melalui Perintah (makarromaa), di dalam Pendidikan (ta’liim)-Mu, dan Pemurnian (tazkiyyah) dari-Mu.

Hiasi aku dengan jubah Keagungan dan Penerimaan-Mu. Permudah (Sahhl) bagiku Jalan (manaahaj) al-washilah dan al-wushuul. Mahkotai aku dengan mahkota yang berasal dari al-Karoomah dan al-waqhoor. Dan jinakkan bagiku di antara pintu dunia rendah dan keabadian. Melalui Cahaya Nama-Mu, rezekikan aku Nama-nama sathwah (Tertinggi)-Mu yang membawa al-quluub dan al-arwaah untuk membimbingku; dan di alam sebelumnya jiwa-jiwa (an-Nufuus) dan raga-raga (asybaah) telah dibawa kepada penyerahan diri kepada-Mu.

Illaahi, para penindas merasa karhan dalam menyerahkan diri kepada-Mu, namun akhirnya mereka pun menyesal, dan berserah diri kepada-Mu. Wahai, Sang Raja!

Tiada keselamatan selain di Dalam-Mu. Tiada Pertolongan selain Pertolongan-Mu. Tiada yang dapat benar-benar dipercaya selain-Mu.

Jauhkan aku dari kedengkian dan kegelapan kejahatan yang berasal dari keangkuhan! Gembirakan  aku di bawah naungan Cinta kasih-Mu, wahai, Engkau Yang Maha Dermawan (al-akroom) di antara para dermawan.

Illaahi, karuniakan Pertolongan kepada lahir dan bathinku, bahwa aku akan menerima Pembebasan dari-Mu dan karuniakan cahaya (nuur) dan rahasia (sirr) ke dalam qalb ku yang mampu membuatku sadar akan cara-cara (manaahaj) Kerja-Mu.

Illaahi,  bagaimana aku bisa kecewa kepadamu ketika telah sampai aku pada Pintu-Mu?

Dan bagaimana aku  berputus asa dari Rahmat-Mu ketika Kau menawarkan kepadaku untuk bermohon di Dalam-Mu? Di sinilah aku, abdi-Mu – setia mengabdi kepada-Mu, menerima perlindungan-Mu.

Jauhkan aku dari musuh-musuhku, seperti Engkau telah menjauhkan jarak antara Timur (al-Masyriqh) dan Barat (al-maghrib). Silaukan mata (abshor) mereka, guncangkan (zalzala) kaki mereka dan jauhkan kejahatan dan bahaya mereka dariku, di Dalam Nuur Quds-Mu dan Keagungan Kemuliaan-Mu.

Engkaulah Allah, Yang menghadiahkan karunia, menganugerahkan keberkahan, Maha Menghargai makhluk-Mu, Maha Memuliakan hamba yang memilih Kedekatan bersama-Mu dibandingkan dengan makhlukmu.

Ya, Hayyu Ya, Qoyyuum! Penyibak rahasia-rahasia (asroor) dan Yang Mengenalkan al-ilm.

Washollaallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa  aalihi washohbihi ajma’iin.  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari

Sumber:

1. The Seven Days of the Heart, terj. Inggris oleh Pablo Beneito dan Stephen Hirtenstein.

2. Kitab Awraad al-Yawm wa al-Layl, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

Hari Selasa

“Jika harimu adalah Selasa, maka Harun as. dan Yahya as. merupakan temanmu,

tempat melekat Petunjuk Yang Haqq. ”

Hari Selasa diciptakan dari asma-Nya ‘Melihat’ (Bashaar): karena itu tiadalah bagian apapun di dunia ini yang sungguh tidak melihat Sang Pencipta – dalam hubungannya secara hakikat, bukan Zat-Nya, karena Zat Allah tidak mungkin bisa dilihat. Dia terlihat melalui manifestasi dari asma-asma-Nya melalui insan kamil.

Asma ‘Pemaksa’ (al-Qaahar) dibawa ke langit ketiga (ketiga dari Bumi); sehingga Dia telah menyebabkan kemunculan haqq, bersama dengan planet Mars (al-Marriikh) dan langitnya. Dan Nabi Harun as. yang Nabi Yahya as. menempati langit ini. Wujuud palnet dan pergerakannya berada dalam manzilah ‘Awwa (yang merupakan stasiun ke-13 dari 28 stasiun Bulan). Huruuf LAAM muncul dari pergerakan langit ke-3.

Bola langit ke-4 (Matahari), dengan sifatnya yang panas dan kering, pada hari Selasa (yang juga bersifat panas dan kering) ikut membantu jiwa dengan seluruh kekuatannya. Hal itu membantu jiwa untuk menaikkan (su’uud) spiritualitasnya dengan ¼ kali dari kekuatan bola langit ke-4 dengan berbagai caranya. Dengan kata lain, Planet Merkurius (dengan elemen api, air, udara, tanah) membantu mengeringkan dan meningkatkan panas hari Selasa yang sudah panas.

Selasa, hari ketiga, mengekspresikan prinsip-prinsip dari angka 3, angka ganjil pertama atau angka-angka tunggal, dan hubungan antara Nabi dan ketunggalan dijelaskan pada Bab Nabi Muhammad saw. dalam Buku Fuhsuus al-Hikam:

Hikmah dari nama “Muhammad” adalah ketunggalan (fardhiyya), karena ia merupakan gambaran eksistensi yang paling sempurna dari seorang manusia, dan Aturan dimulai darinya dan berakhir darinya. Elemen Adam as terdiri antara air dan tanah liat, sementara elemen Nabi Muhammad saw. adalah tanah, dan merupakan Segel dari para Nabi. Angka tunggal pertama adalah tiga, darinya semua angka-angka tunggal diturunkan. Jadi Nabi Muhammad saw merupakan simbol terbesar dari Tuhan, sebagaimana kepada beliau saw. telah diberikan seluruh Kata-kata (jawaami’ al-kalim), yang berisi nama-nama (yang Tuhan telah mengajarkan pada) Adam as.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari

Sumber:

1. Time and Cosmology – Muhyiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan inggris dan analisa oleh Mohamed Haj Yousef.

2. The Seven Days of the Heart – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris oleh Pablo Beneito dan Hirtenstein.

3. Al-Tanazzulaat Al-Mawsiliyya – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=904580092#!/notes/paramartha-channel/download-pedoman-kesiapsiagaan-menghadapi-gempa-bumi-buku-saku/118288191557036

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng bumi: lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik (lihat Gambar 1). Disadari atau tidak, area pertemuan lempeng tektonik bagaikan ‘tungku raksasa’ yang terus bergejolak (lihat Gambar 2). Pada satu sisi, dapat memicu gempa dan tumbuhnya gunung berapi. Tetapi disisi lain, merupakan ‘tungku’ produksi mineral berharga, dan itu sebabnya Indonesia merupakan daerah yang kaya akan emas, perak, mangan dan bahan tambang lainnya.

Gempa tidak terjadi tiba-tiba dan bukan tanpa sebab, tetapi lahir dari proses alam. Karena itu sudah saatnya kita semakin mengenali negeri yang kita tinggali ini, memahami segala potensi dan tantangannya, serta memiliki mental siapsiaga terhadap segala ancamannya. Buku saku “Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi”, merupakan satu sumbangan kecil bagi masyarakat Indonesia untuk semakin mengenal, dan bersiap hidup dalam fitrah alamnya yang unik.

Download E-Book (PDF)

Versi Cetak v.s. Versi E-Book

Divisi Managemen Bencana (DMB Paramartha) sedianya akan mencetak buku ini dalam waktu dekat. Buku ini nantinya dapat disebarluaskan ke kalangan umum. Namun karena masih terus diperbaiki dan disempurnakan, untuk versi ebook ini baru diumumkan di lingkungan salik Kadisiyah.

Divisi Managemen Bencana – Paramartha

  • Primary Email: mitigasi@paramartha.org (http://mitigasi.paramartha.org/)
  • Contact Person: Tubagus Furqon Sofhani (ketua), Ahmad Shalahuddin Zulfa, Danny Daud Setiana

Bila sahabat-sahabat memiliki kritik dan saran, silahkan tuangkan dalam comment di bawah atau melalui email: mitigasi@paramartha.org.

Gambar 1: Lempeng-Lempeng Utama di Dunia
Lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan; lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat; dan Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah timur-laut.
Gambar 2: Subduksi Lempeng
Subduksi lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia membentuk Palung Jawa yang dalam di Samudra Hindia, dan rangkaian gunung berapi di sepanjang Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara (re-drawing from indiaeng.com).

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Terima kasih banyak untuk Teman-teman sekalian…

Tafsir Qs. Al-‘Ashr –Muyiiddiin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ [١٠٣:١]

Demi masa.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ [١٠٣:٢]

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣:٣]

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

———–

Satu

وَالْعَصْرِ [١٠٣:١]

Demi al-‘Ashr.

TAFSIR:

Al-‘Ashr, adalah kata benda yang berarti “perasan”, diambil dari kata kerja “memeras atau menyaring”.

Demi “perasan” Allah terhadap manusia dengan ujian, mujaahadah, dan riyadhoh sehingga memunculkan manusia pilihan.

Hadits Nabi Muhammad saw.

“Ujian tunduk kepada para nabi, lalu para wali, kemudian sejenisnya, dan kemudian sejenisnya.”

“Ujian adalah salah satu cambuk Allah yang dengannya Dia mengarahkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya.”

Allah bersumpah “demi al-‘Ashar”, yakni dengan bentangan masa berikut peristiwa-peristiwa di dalamnya, peristiwa-peristiwa yang terjadi bersamanya berikut penyebabnya yang tak lain dari bentangan masa itu (dahr).Pada umumnya, manusia menisbatkan pelbagai perubahan kondisi dan situasi pada masa, dan menyangka masa sebagai penyebab haqq yang sangat mengesankan akal mereka, padahal penyebab haqq hanya Allah.

Hadits Rasulullaah saw.

“Janganlah engkau mencela masa, karena Allah swt. Sesungguhnya Allah adalah masa.”

Allah Sang Maha Agung, selalu menampilkan shifat danaf-al-Nya di dalam lokus masa.

Dua

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ [١٠٣:٢]

Sesungguhnyamanusia itu benar-benar dalam kerugian,

TAFSIR:

Allah bersumpah, bahwa sesungguhnya orang yang ter “hijab oleh masa dari-Nya benar-benar merugi. Mereka merugi karena “modal hartanya”, yaitu cahaya fitrahnya telah diganti dengan kehidupan dunia. Mereka senang menyia-nyiakan sesuatu yang haqq hanya untuk hal-hal fana.Sifat Mereka telah terhijab oleh sesuatu yang bersifat duniawi.

Tiga

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣:٣]

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supayamentaati di dalam haqq dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

TAFSIR:

Mereka mengetahui bahwa tidak ada penyebab haqq melainkan Allah, dan mereka lepas dari hijab masa.

Sesungguhnya manusia yang hanyut di dalam hijab duniawi sungguhlah merugi, kecuali mereka yang memiliki ilmu dan amal. Mereka berupaya keras beramal shaleh sehingga mereka menjadi hamba yang beruntung dengan bertambahnya cahaya fitrah menjadi cahaya kesempurnaan.

Mereka saling menasehati di dalam haqq dan juga saling menasehati untuk bersabar atas “perasan” Allah kepada tiap diri yang pada akhirnya akan menyaring mereka menjadi manusia pilihan Allah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tafsir Qs. al-Falaq – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar

بِسْمِاللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

———–

Satu

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

TAFSIR:

Falaq adalah cahaya subuh yang mendahului terbitnya matahari.

Aku berlindung kepada Tuhan penguasa “cahaya subuh” penampakan shifat-shifat-Nya (Asma Pemberi Petunjuk) yang mendahului “terbitnya” cahaya Zat = Aku berlindung kepada dan dengan asma Tuhan Yang Maha Pemberi Petunjuk, dengan cara meniru sifat-Nya dan menghubungkan diri dengan ruh al-Quds yang berada dalam wujuud asma-asma.

Setiap orang yang berlindung kepada Tuhan dari kejahatan segala sesuatu, maka sesungguhnya ia berlindung dengan asma-Nya tertentu terkait dengan kejahatan sesuatu itu.

Misal:

–      Berlindungnya seorang sakit kepada Tuhan, maka ia berlindung kepada asma Yang Maha Mengobati (al-Syaafi).

–      Berlindungnya orang bodoh dari kebodohannya, maka ia berlindung kepada asma Yang MahaMengetahui (al-‘Aliim).

Dua

ِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

TAFSIR:

Dari kejahatanketerhijaban oleh makhluk dan dari pengaruh makhluk atas hijab itu.

Tiga

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

TAFSIR:

Dari kejahatan keterhijaban oleh raga yang gelap, ketika kegelapannya merasuki segala sesuatu,menguasai, dan mempengaruhi berbagai keadaan segala sesuatu agar tampak mempesona karena kecintaan hati dan kecenderungannya serta ketertarikannya ke arah yang bersifat ragawi/ syahwati.

Empat

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yangmenghembus pada buhul-buhul,

TAFSIR:

Yang dimaksud dengan “wanita-wanita tukang sihir”, adalah hawa nafsu seperti waham,angan-angan panjang, amarah, iri – dengki, berprasangka buruk, dll yang tak henti menghembus-hembuskan berbagai bujuk rayu bisikan setan kepada para penempuh jalan ruhani dengan cara mengendurkan, memudarkan, dan memutuskantekad perjalanan.

Lima

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki (hasad)”.

TAFSIR:

Yang dimaksud pendengki di sini adalah hawa nafsu yang merasa dengki kepada hati yangbercahaya, sehingga hawa nafsu itu mengklain shifat dan pengetahuan hati dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan pelbagai shifat dan pengetahuannya; lalu ia mengalahkan dan menghijabkan hati dari segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Maka di hati pun terjadi kegoyahan iman.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tiada Aku Dapat Menempuh Jalan selain dengan Rahmat-Mu – Pelayan faqir Allah, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Kenakanlah pakaian, terbaiknya tentu saja pakaian taqwa;
itulah pencapaian tertinggi dan pengikatan terkuat.

Tiada buah dari bertaqwa kepada-Nya selain hikmah,
terpilih dan terbimbing oleh-Nya:
Dia menghentikan putaran malam dengan shalat hamba;
seorang hamba yang menempuh waktu-waktu pekat malam dengan kantuk dan sedu sedannya,
“Tuhanku, wahai, Harapan Terakhirku, siapakah selain Engkau Yang akan merahmati hamba-Mu ini?”

Rahmat-Nya meliputi segala ciptaan dan atribut Diri-Nya;
bagi mereka yang memanggil-Nya, Dia pun patuh mendatangi!
Jika bukan demi-Nya, bumi tidak akan tertawa dengan mekarnya bunga,
dan akan mencemooh gulungan awan hitam yang membawa tangisnya.

Tuhan adalah Dia Yang hadir dalam hal terbaik,
Yang melengkapi ketaksempurnaan,
menyeimbangkan dan meletakkan segala sesuatu sesuai urusannya.

Wahai, Engkaulah haqiqat ber-ad-diin,
Kau lah ad-diin itu:
Dan Tuhan, Semerbak wangi surga berasal dari wewangian Nama-Mu!

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber: Nasab al-Khirqoh dari Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terj. inggris oleh Gerald Elmore.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu´alaykum wr. wb,

Sahabatku tercinta sekalian.

Tadinya saya mau menulis tentang „Bakti Istri kepada Suami“, tapi langsung pada saat itu juga saya menggelengkan kepala, „Tidak, saya harus menulis „Bakti Suami kepada Istri“ , karena selama ini suami sayalah yang telah berbakti kepada saya. Salaam, Aa … ^-^
————————–

———————

Wahai, para istri … hal apa dari suamimu yang pernah kamu merasa tidak puas darinya? Lalu kamu menuntutnya terus-menerus sehingga detik demi detik yang terdengar hanya lolongan serigalamu? Tapi kamu lihatlah … suamimu tetap TEGAR. Tetap SABAR. Tetap TERSENYUM. KOKOH. Dan satu yang pasti, ia tetap MENCINTAImu. Jika ia adalah jiwa, maka benar kamu adalah raga. Jika ia adalah ´aql, maka benar kamu adalah jiwa. Jadi, tunduk dan taat serta patuhlah kepada yang lebih ´atas´ daripadamu. Ia adalah pemimpinmu.

Wahai, para istri, jika engkau selama ini sering mempertanyakan kemapanan kepada suamimu, sungguh! Selama ini ia senantiasa memikirkanmu, „makanan apa yang bisa kupersembahkan untuk keluargaku, pakaian apa yang bisa kupakaikan untuk keluarga, barang-barang apa yang bisa membuat keluargaku bahagia,“ dll. Tapi sungguh, hal itu merupakan hal remeh temeh. Jangan tanyakan tentang kemapanan kepadanya. Sekali lagi jangan. Hidup ini sungguh penuh dengan warna-warna (semuanya indah), sungguh penuh dengan khazanah Tuhan; karena itu, malu apabila menanyakan masalah kemapanan kepadanya. Tanyalah hal-hal lain yang lebih berbobot, yang bisa mengangkat kalian untuk ´menikah´ benar-benar secara jiwa, yang nanti dengannya kalian berdua dapat membuka khazanah Ilahiyyah.

Wahai, para istri, Sahabatku Tercinta, Apapun yang diinginkan oleh suamimu, penuhilah. Yakinlah, sungguh, tak pernah yang diinginkannya itu adalah suatu keburukan bagi dirimu. Ia selalu menginginkan kebaikan bagi dirimu. Karena itu, apabila engkau mau selalu memenuhi keinginannya, maka kebaikan bagimu akan datang. Secara berlimpah. Jangan kamu tak pernah merasa menerima kebaikan apapun. Baca dirimu, lihat dirimu, dengar dirimu. Selama ini, kebaikan itu kamu pandang seperti apa? Kalau kebaikan itu kamu pandang sebagai kesenangan hidup (syahwatiyyah) di dunia, maka kamu akan selalu terjungkal. Yakinlah.

QS. 3 : 14 :
„Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“

Kebaikan, adalah sesuatu yang dapat menumbuhkan kesabaran, ketawakalan, kesyukuran, dan keikhlasanmu, yang nantinya berujung kepada KEBERSERAHAN diri kepada ALLAH. Tiada di dunia akhirat, dimanapun juga, selain Allah.

Wahai, para istri Tercinta, Sahabat seperjalananku,
hapuskanlah peluhnya : peluh yang senantiasa terkucur karena selalu memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kita, para istri, banyak sekali. Jika kita mau Mencari Allah, maka Allah termasuk Yang berhubungan dengan kita. Jika kita memperhatikan Allah, maka Allah juga akan Memperhatikan kita. Ia, suami kita, bekerja (pekerjaan apapun itu), menghasilkan uang atau tidak, jangan pusingkan. Kalau ia bekerja untuk Allah, maka itu adalah kebaikan untuk kalian berdua. Jangan pusingkan apakah pekerjaannya itu dapat menghasilkan uang atau tidak. Pusingkanlah dirimu sendiri yang terkadang masih berkeluh kesah dengan semua itu. Hapuskanlah peluhnya, jadilah sapu tangan putih yang mewangi dengan kelembutan hatimu kepadanya. Ia membutuhkannya. Percayalah. Karena baginya, engkau adalah Sahabat Sejati-Nya. Di dalam dirimu, wahai para istri, ia mensyahadahkan Tuhan. Dan sebaliknya. Jika engkau tidak putih mewangi, bagaimana Tuhan akan terlihat olehnya? Lalu, bagaimana dengan ´nasib´mu sendiri, apakah kamu dapat melihat Tuhan jika kamu tidak putih mewangi?

Bukankah kalian berdua Mencari Tuhan? ….. katanya …..

Makasih banyak … ^_^

Wassalamu´alaykum wr. wb.
dwi afrianti

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bagian (1)

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=904580092#!/notes/dwi-afrianti-arifyanto/kisah-nabi-yunus-as1-tentang-azab-yang-dibatalkan-karena-kasih-sayang-nya-buku-d/421943427299

Abu Ja’far al-Baqir as. berkata, “Gunung-gunung itu adalah yang sekarang ini berada di wilayah Moushil, dan ia menjadi besi sampai hari kiamat. Kemudian ketika kaum Nabi Yunus as. melihat bahwasanya azab itu tealh dipalingkan dari m kea rah ereka, mereka turun dari puncak-puncak gunujg ke rumah mereka masing-masing bersama istri-istri, anak-anak, dan harta benda mereka seraya memuji Allah karena telah menghilangkan azab itu dari mereka. Keesokan hari, Kamis, Nabi Yunus as. dan Tanukha menuju kota yang mereka yakini telah binasa tersebut. Di sana mereka malah berjumpa dengan para tukang kayu, para penjaga kota, dan para penggembala dengan domba-domba mereka, dan keduanya melihat penduduk kota itu dalam keadaan tenang. Maka Nabi Yunus as. berkata kepada Tanukha, “Wahai, Tanukha, wahyu telah mendustakanku dan aku telah mendustai janjiku kepada kaumku, maka tiada lagi kemuliaan bagiku dan mereka tidak akan lagi memandangku setelah wahyu mendustakanku.”

Nabi Yunus as. pun pergi meninggalkan kaumnya keadaan marah karena Tuhannya. Dia lari kea rah laut dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir aka nada seorang dari kaumnya yang melihatnya lalu akan berkata kepadanya ‘seorang pendusta’.

Adapun Tanukha, ia pulang ke kota, lalu berjumpa dengan Raubil yang berkata kepadanya, “Wahai, Tanukha, manakah di antara pendapat yang lebih benar dan lebih patut diikuti: pendapatku atau pendapatmu?” Tanukha menjawab, “Pendapatmu, dan sesungguhnya kamu telah membeikan saran dengan pendapat orang-orang yang bijak dan orang-orang yang ‘alim. Sesungguhnya kemarin-kemarin aku masih berpandangan bahwasanya aku ini lebih utama daripada kamu karena kezuhudanku dan keutamaan ibadahku sampai kemudian jelas keutamaanmu karena ilmumu; dan apa yang telah diberikan Tuhanmu kepadamu berupa hikmah yang disertai dengan ketaqwaan adalah lebih utama daripada kezuhudan dan ibadah tanpa ‘ilm.”

Diriwayatkan oleh Abu Abdillah as., “Sesungguhnya Nabi Dawud as, pernah berkata, Wahai, Tuhanku, beritahukanlah kepadaku siapakah temanku di dalam surge dan padananku dalam kedudukanku?” Allah Tabaroka w  Ta’ala mewahyukan kepadanya as., “Sesungguhnya ia adalah Matta ayah Yunus.” Maka Nabi Dawud as. meminta izin kepada Allah untuk mengunjunginya dan Allah pun mengizinkannya. Nabi Dawud as. pergi bersama Nabi Sulaiman as. ke tempat Matta, dan mereka mendapati rumahnya terbuat dari pelepah pohon kurma.

Matta sedang pergi ke pasar, maka kepada orang yang mereka temui, mereka berdua bertanya ke mana Matta. Dijawab, “Carilah ia di antara penjual kayu bakar. Kami sedang menunggunya, dan sekarang ini ia akan datang. Keduanya pun duduk menunggu Matta.

Tidak lama, Matta datang. Di atas kepalanya terdapat seikat kayu bakar, maka orang-orang berdiri menghormati kedatangannya. Kemudian Matta melemparkan kayu bakar sambil mengucakan, “Alhamdulillah.” Kemudian tanyanya, “Siapakah yang akan membeli barang yang baik dengan barang yang baik?” Ia menawarnya satu dan menambah dengan lainnya sampai kemudian menjualnya pada sebagian mereka.

Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. mengucapkan salam kepada Matta, lalu Matta berkata kepada keduanya, “Marilah pergi bersama kami ke rumah.” Matta membeli makanan dengan apa yang ada padanya, kemudian menumbuk dan mengadoninya, lalu dimasaknya. Sambil menunggu masak, ia berbincang-bincang dengan Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. Setelah roti masak, ia mengambil sesuap dari roti. Sebelum tiap suap, ia membaca “BIsmillaah”, dan setelah memakannya, ia mengucapkan “Alhamdulillaah”. Begitu seterusnya dengan kegiatan yang lain.

Ia pun bermunajah, “Wahai, Tuhanku, siapakah orang yang telah Engkau berikan ni’mat kepadanya, Engkau perhatian dengan sungguh-sungguh seperti Engkau telah perhatikan aku dengan sungguh-sungguh? Sungguh, Enggkau telah sehatkan penglihatanku, pendengaranku, dan badanku, dan Engkau telah berikan aku kekuatan sehingga aku dapat pergi ke pohon yang aku tidak menanamnya dan tidak pula aku perhatikan penjagaannya. Engkau jadikan pohon itu sebagai rezeki bagiku, dan Engkau kirimkan kepadaku orang yang membelinya, lalu aku membeli dengan harganya makanan yang aku tidak menanamnya. Engkau tundukkan bagiku api sehingga aku dapat memasaknya, dan Engkau jadikan aku bisa memakannya dengan selera yang dengannya aku menjadi kuat untuk melakukan ketaatan kepada-Mu, maka ‘Alhamdulillaah’.” Matta pun menangis.

Nabi Dawud as. berkata kepada Nabi Sulaiman as., “Wahai, Anakku, berdirilah, mari kita pulang. Sesungguhnya belum pernah aku melihat seorang hamba yang lebih bersyukur daripada Matta. Semoga Allah bersholawat bagi mereka berdua.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Laman Berikutnya »