بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bagian (1)

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=904580092#!/notes/dwi-afrianti-arifyanto/kisah-nabi-yunus-as1-tentang-azab-yang-dibatalkan-karena-kasih-sayang-nya-buku-d/421943427299

Abu Ja’far al-Baqir as. berkata, “Gunung-gunung itu adalah yang sekarang ini berada di wilayah Moushil, dan ia menjadi besi sampai hari kiamat. Kemudian ketika kaum Nabi Yunus as. melihat bahwasanya azab itu tealh dipalingkan dari m kea rah ereka, mereka turun dari puncak-puncak gunujg ke rumah mereka masing-masing bersama istri-istri, anak-anak, dan harta benda mereka seraya memuji Allah karena telah menghilangkan azab itu dari mereka. Keesokan hari, Kamis, Nabi Yunus as. dan Tanukha menuju kota yang mereka yakini telah binasa tersebut. Di sana mereka malah berjumpa dengan para tukang kayu, para penjaga kota, dan para penggembala dengan domba-domba mereka, dan keduanya melihat penduduk kota itu dalam keadaan tenang. Maka Nabi Yunus as. berkata kepada Tanukha, “Wahai, Tanukha, wahyu telah mendustakanku dan aku telah mendustai janjiku kepada kaumku, maka tiada lagi kemuliaan bagiku dan mereka tidak akan lagi memandangku setelah wahyu mendustakanku.”

Nabi Yunus as. pun pergi meninggalkan kaumnya keadaan marah karena Tuhannya. Dia lari kea rah laut dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir aka nada seorang dari kaumnya yang melihatnya lalu akan berkata kepadanya ‘seorang pendusta’.

Adapun Tanukha, ia pulang ke kota, lalu berjumpa dengan Raubil yang berkata kepadanya, “Wahai, Tanukha, manakah di antara pendapat yang lebih benar dan lebih patut diikuti: pendapatku atau pendapatmu?” Tanukha menjawab, “Pendapatmu, dan sesungguhnya kamu telah membeikan saran dengan pendapat orang-orang yang bijak dan orang-orang yang ‘alim. Sesungguhnya kemarin-kemarin aku masih berpandangan bahwasanya aku ini lebih utama daripada kamu karena kezuhudanku dan keutamaan ibadahku sampai kemudian jelas keutamaanmu karena ilmumu; dan apa yang telah diberikan Tuhanmu kepadamu berupa hikmah yang disertai dengan ketaqwaan adalah lebih utama daripada kezuhudan dan ibadah tanpa ‘ilm.”

Diriwayatkan oleh Abu Abdillah as., “Sesungguhnya Nabi Dawud as, pernah berkata, Wahai, Tuhanku, beritahukanlah kepadaku siapakah temanku di dalam surge dan padananku dalam kedudukanku?” Allah Tabaroka w  Ta’ala mewahyukan kepadanya as., “Sesungguhnya ia adalah Matta ayah Yunus.” Maka Nabi Dawud as. meminta izin kepada Allah untuk mengunjunginya dan Allah pun mengizinkannya. Nabi Dawud as. pergi bersama Nabi Sulaiman as. ke tempat Matta, dan mereka mendapati rumahnya terbuat dari pelepah pohon kurma.

Matta sedang pergi ke pasar, maka kepada orang yang mereka temui, mereka berdua bertanya ke mana Matta. Dijawab, “Carilah ia di antara penjual kayu bakar. Kami sedang menunggunya, dan sekarang ini ia akan datang. Keduanya pun duduk menunggu Matta.

Tidak lama, Matta datang. Di atas kepalanya terdapat seikat kayu bakar, maka orang-orang berdiri menghormati kedatangannya. Kemudian Matta melemparkan kayu bakar sambil mengucakan, “Alhamdulillah.” Kemudian tanyanya, “Siapakah yang akan membeli barang yang baik dengan barang yang baik?” Ia menawarnya satu dan menambah dengan lainnya sampai kemudian menjualnya pada sebagian mereka.

Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. mengucapkan salam kepada Matta, lalu Matta berkata kepada keduanya, “Marilah pergi bersama kami ke rumah.” Matta membeli makanan dengan apa yang ada padanya, kemudian menumbuk dan mengadoninya, lalu dimasaknya. Sambil menunggu masak, ia berbincang-bincang dengan Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. Setelah roti masak, ia mengambil sesuap dari roti. Sebelum tiap suap, ia membaca “BIsmillaah”, dan setelah memakannya, ia mengucapkan “Alhamdulillaah”. Begitu seterusnya dengan kegiatan yang lain.

Ia pun bermunajah, “Wahai, Tuhanku, siapakah orang yang telah Engkau berikan ni’mat kepadanya, Engkau perhatian dengan sungguh-sungguh seperti Engkau telah perhatikan aku dengan sungguh-sungguh? Sungguh, Enggkau telah sehatkan penglihatanku, pendengaranku, dan badanku, dan Engkau telah berikan aku kekuatan sehingga aku dapat pergi ke pohon yang aku tidak menanamnya dan tidak pula aku perhatikan penjagaannya. Engkau jadikan pohon itu sebagai rezeki bagiku, dan Engkau kirimkan kepadaku orang yang membelinya, lalu aku membeli dengan harganya makanan yang aku tidak menanamnya. Engkau tundukkan bagiku api sehingga aku dapat memasaknya, dan Engkau jadikan aku bisa memakannya dengan selera yang dengannya aku menjadi kuat untuk melakukan ketaatan kepada-Mu, maka ‘Alhamdulillaah’.” Matta pun menangis.

Nabi Dawud as. berkata kepada Nabi Sulaiman as., “Wahai, Anakku, berdirilah, mari kita pulang. Sesungguhnya belum pernah aku melihat seorang hamba yang lebih bersyukur daripada Matta. Semoga Allah bersholawat bagi mereka berdua.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ