Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu´alaykum wr. wb,

Sahabatku tercinta sekalian.

Tadinya saya mau menulis tentang „Bakti Istri kepada Suami“, tapi langsung pada saat itu juga saya menggelengkan kepala, „Tidak, saya harus menulis „Bakti Suami kepada Istri“ , karena selama ini suami sayalah yang telah berbakti kepada saya. Salaam, Aa … ^-^
————————–

———————

Wahai, para istri … hal apa dari suamimu yang pernah kamu merasa tidak puas darinya? Lalu kamu menuntutnya terus-menerus sehingga detik demi detik yang terdengar hanya lolongan serigalamu? Tapi kamu lihatlah … suamimu tetap TEGAR. Tetap SABAR. Tetap TERSENYUM. KOKOH. Dan satu yang pasti, ia tetap MENCINTAImu. Jika ia adalah jiwa, maka benar kamu adalah raga. Jika ia adalah ´aql, maka benar kamu adalah jiwa. Jadi, tunduk dan taat serta patuhlah kepada yang lebih ´atas´ daripadamu. Ia adalah pemimpinmu.

Wahai, para istri, jika engkau selama ini sering mempertanyakan kemapanan kepada suamimu, sungguh! Selama ini ia senantiasa memikirkanmu, „makanan apa yang bisa kupersembahkan untuk keluargaku, pakaian apa yang bisa kupakaikan untuk keluarga, barang-barang apa yang bisa membuat keluargaku bahagia,“ dll. Tapi sungguh, hal itu merupakan hal remeh temeh. Jangan tanyakan tentang kemapanan kepadanya. Sekali lagi jangan. Hidup ini sungguh penuh dengan warna-warna (semuanya indah), sungguh penuh dengan khazanah Tuhan; karena itu, malu apabila menanyakan masalah kemapanan kepadanya. Tanyalah hal-hal lain yang lebih berbobot, yang bisa mengangkat kalian untuk ´menikah´ benar-benar secara jiwa, yang nanti dengannya kalian berdua dapat membuka khazanah Ilahiyyah.

Wahai, para istri, Sahabatku Tercinta, Apapun yang diinginkan oleh suamimu, penuhilah. Yakinlah, sungguh, tak pernah yang diinginkannya itu adalah suatu keburukan bagi dirimu. Ia selalu menginginkan kebaikan bagi dirimu. Karena itu, apabila engkau mau selalu memenuhi keinginannya, maka kebaikan bagimu akan datang. Secara berlimpah. Jangan kamu tak pernah merasa menerima kebaikan apapun. Baca dirimu, lihat dirimu, dengar dirimu. Selama ini, kebaikan itu kamu pandang seperti apa? Kalau kebaikan itu kamu pandang sebagai kesenangan hidup (syahwatiyyah) di dunia, maka kamu akan selalu terjungkal. Yakinlah.

QS. 3 : 14 :
„Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.“

Kebaikan, adalah sesuatu yang dapat menumbuhkan kesabaran, ketawakalan, kesyukuran, dan keikhlasanmu, yang nantinya berujung kepada KEBERSERAHAN diri kepada ALLAH. Tiada di dunia akhirat, dimanapun juga, selain Allah.

Wahai, para istri Tercinta, Sahabat seperjalananku,
hapuskanlah peluhnya : peluh yang senantiasa terkucur karena selalu memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kita. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kita, para istri, banyak sekali. Jika kita mau Mencari Allah, maka Allah termasuk Yang berhubungan dengan kita. Jika kita memperhatikan Allah, maka Allah juga akan Memperhatikan kita. Ia, suami kita, bekerja (pekerjaan apapun itu), menghasilkan uang atau tidak, jangan pusingkan. Kalau ia bekerja untuk Allah, maka itu adalah kebaikan untuk kalian berdua. Jangan pusingkan apakah pekerjaannya itu dapat menghasilkan uang atau tidak. Pusingkanlah dirimu sendiri yang terkadang masih berkeluh kesah dengan semua itu. Hapuskanlah peluhnya, jadilah sapu tangan putih yang mewangi dengan kelembutan hatimu kepadanya. Ia membutuhkannya. Percayalah. Karena baginya, engkau adalah Sahabat Sejati-Nya. Di dalam dirimu, wahai para istri, ia mensyahadahkan Tuhan. Dan sebaliknya. Jika engkau tidak putih mewangi, bagaimana Tuhan akan terlihat olehnya? Lalu, bagaimana dengan ´nasib´mu sendiri, apakah kamu dapat melihat Tuhan jika kamu tidak putih mewangi?

Bukankah kalian berdua Mencari Tuhan? ….. katanya …..

Makasih banyak … ^_^

Wassalamu´alaykum wr. wb.
dwi afrianti