Tafsir Qs. al-Falaq – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar

بِسْمِاللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

———–

Satu

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

TAFSIR:

Falaq adalah cahaya subuh yang mendahului terbitnya matahari.

Aku berlindung kepada Tuhan penguasa “cahaya subuh” penampakan shifat-shifat-Nya (Asma Pemberi Petunjuk) yang mendahului “terbitnya” cahaya Zat = Aku berlindung kepada dan dengan asma Tuhan Yang Maha Pemberi Petunjuk, dengan cara meniru sifat-Nya dan menghubungkan diri dengan ruh al-Quds yang berada dalam wujuud asma-asma.

Setiap orang yang berlindung kepada Tuhan dari kejahatan segala sesuatu, maka sesungguhnya ia berlindung dengan asma-Nya tertentu terkait dengan kejahatan sesuatu itu.

Misal:

–      Berlindungnya seorang sakit kepada Tuhan, maka ia berlindung kepada asma Yang Maha Mengobati (al-Syaafi).

–      Berlindungnya orang bodoh dari kebodohannya, maka ia berlindung kepada asma Yang MahaMengetahui (al-‘Aliim).

Dua

ِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

TAFSIR:

Dari kejahatanketerhijaban oleh makhluk dan dari pengaruh makhluk atas hijab itu.

Tiga

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

TAFSIR:

Dari kejahatan keterhijaban oleh raga yang gelap, ketika kegelapannya merasuki segala sesuatu,menguasai, dan mempengaruhi berbagai keadaan segala sesuatu agar tampak mempesona karena kecintaan hati dan kecenderungannya serta ketertarikannya ke arah yang bersifat ragawi/ syahwati.

Empat

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yangmenghembus pada buhul-buhul,

TAFSIR:

Yang dimaksud dengan “wanita-wanita tukang sihir”, adalah hawa nafsu seperti waham,angan-angan panjang, amarah, iri – dengki, berprasangka buruk, dll yang tak henti menghembus-hembuskan berbagai bujuk rayu bisikan setan kepada para penempuh jalan ruhani dengan cara mengendurkan, memudarkan, dan memutuskantekad perjalanan.

Lima

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki (hasad)”.

TAFSIR:

Yang dimaksud pendengki di sini adalah hawa nafsu yang merasa dengki kepada hati yangbercahaya, sehingga hawa nafsu itu mengklain shifat dan pengetahuan hati dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan pelbagai shifat dan pengetahuannya; lalu ia mengalahkan dan menghijabkan hati dari segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Maka di hati pun terjadi kegoyahan iman.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ