بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

 

Seni merupakan semua bentuk keahlian dalam membuat atau melakukan sesuatu, mulai dari tool making dan carpentry hingga musik, puisi, dan tarian (sumber lupa). Seni merupakan alat untuk mewujudkan sosial politik yang ideal.

Pendidikan estetika dapat memiliki sebuah arti yang sempit dan sebuah arti yang luas. Dalam arti yang sempit, ia adalah pendidikan seni, sementara dalam arti yang luas mengacu pada pendidikan yang menyediakan semua nilai-nilai estetika.

Tujuan pendidikan seni adalah untuk menjaga moral. Seni musik sendiri, dalam arti luas, meliputi reading, arithmetic, basic ilterary skill, choral song, painting, play music instrument, and poetry (Plato). Filsafat merupakan seni musik tertinggi. Dalam arti sempit, “mousike” mengacu pada musik dalam arti modern.

Seni dan Pengetahuan Moral

Pekerjaan seni dapat menghasilkan sebuah pengetahuan. Tapi, bagaimana bisa menjadi demikian? Seniman bukan seorang ultimate authority apabila pengetahuan atau keahliannya tidak ditransfer secara langsung kepada pekerjaan seni. Dan, walaupun jika pengetahuan atau keahliannya ditransfer langsung dengan jelas, hal itu tidak selalu akan diinterpretasikan oleh si pengamat dengan makna atau cara yang standar atau signifikan. Hal itu dikarenakan gambaran intrinsik dari sebuah pekerjaan seni tidak selalu teridentifikasi dengan jelas. Apa yang diketahui oleh seorang seniman dan bagaimana yang lainnya berpengalaman terhadap seni, tidak cukup menunjukkan hubungan langsung kepada perolehan pengetahuan seorang pengamat atau penikmat seni. Jadi, pengetahuan yang kita dapat dari seni, sebenarnya lebih banyak yang berhubungan dengan objek seni dan konsumennya daripada maksudnya.

Cara lain yang membuat kita setuju bahwa pengetahuan dapat diperoeh dari seni adalah dengan menolak the justified true belief account of knowledge. Mungkin ada banyak cara daripada sekedar satu cara yang kita tahu, dengan kata lain, lebih daripada satu cara untuk belajar; Yakini bahwa seni dapat memberikan kita pengetahuan moral. Argumen ini didasarkan bahwa seni dapat memberikan pengalaman dan stimulasi emosi, dan bahwa tidak gampang untuk menyusun pengetahuan moral.  Melalui seni, maka kita dapat mengetahui nilai-nilai ideal.

Ketika terdapat pengetahuan di dalam seni, maka terdapat kebenaran di dalamnya, maka ketika itu pula seni dapat dinilai. Semakin dekat seni mewujudkan keindahan sesuatu, maka semakin tinggi nilai kebenarannya. Adapun tiga kualitas (kompetensi) yang harus dimiliki oleh seorang penilai seni, yaitu :

  1. Memiliki sebuah pengetahuan tentang ciri-ciri orisinalitas
  2. Memiliki sebuah pengetahuan tentang ciri-ciri kesempurnaan dari suatu hasil imitasi
  3. Memegang memiliki sebuah pengetahuan tentang keunggulan dari sebuah hasil imitasi

Kekuatan Seni, Pengaruhnya dalam Pendidikan

Pendidikan seni merupakan pendidikan terbaik, sebagai dasar untuk persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Semua seni harus berpusat pada etika, karena seni berpengaruh dalam pendidikan moral. Seni harus hanya diberikan untuk mengajarkan moral yang tepat, dan tentunya memiliki unsur kesenangan. Sifat seni seperti ini membantu seseorang untuk menjadi warga negara yang berkarakter baik dan memberikannya pengetahuan tentang bentuk keindahan abadi, yang tertinggi;  Namun riskannya, sekarang sudah cukup banyak model-model seni yang dapat membuat orang larut dalam kesedihan,  mengajarkan orang tentang moral yang buruk, seperti menjelek-jelekkan pemerintah dan kata-kata yang buruk. Seni seperti ini sama sekali tidak boleh ada, karena seni yang buruk dapat meruntuhkan ajaran agama dan moral suatu bangsa, namun sebaliknya, seni yang baik dapat membangkitkan kebaikan agama dan moral suatu bangsa.  Untuk membentuk masyarakat yang lebih baik, philosopher-kings harus menentukan seni “seperti apa” yang harus diberikan dalam pendidikan masyarakat.

Seni dapat mengambarkan dunia dalam banyak cara; dari pengalaman dunia fisik menuju dunia emosional bahkan supernatural.  Seni dapat membangitkan emosi atau aktivitas tertentu yang mampu memfasilitasi atau menghasilkan pengetahuan. Ada beberapa aspek dari pekerjaan seni yang dapat menolong untuk menghasilkan pemahaman lebih baik tentang dunia sekitar kita. Seni terlihat sebagai sumber dari insight dan awareness yang tidak dapat diperoleh melalui bahasa atau kata-kata, dan membantu kita untuk melihat dunia dengan cara baru  atau berbeda; hal itu dikarenakan jenis pekerjaan seni itu sendiri, yaitu :

1.      Memproduksi objek aktual

2.      Memproduksi imej

Di China, ide pendidikan seni berasal dari Confucius. Menurutnya terdapat enam jenis seni,yaitu :

  1. li (ritual)
  2. yue (music)
  3. she (archery)
  4. yu (driving)
  5. shu (calligraphy)
  6. shu (maths)

Yue merupakan seni murni.  Yue dalam tradisional China  tidak hanya meliputi musik, puisi, dan tari, namun juga termasuk painting, sculpture, dan arsitektur, bahkan ritual keagamaan, perburuan, dan pelayaran. Yue樂(musik) merupakan sebuah kesenangan le樂(pleasure), karena itu semuanya dapat memberikan kenikmatan dan kesenangan kepada seseorang. Sementara menurut Plato, Musik meliputi letters, basic literary skill, reading, writing, choral singing, poetry,  panting, play music instrument, dan dancing.

Semua jenis seni dapat menyetir emosi kita, terutama puisi, drama, musik, dan tari. Seni dengan kuat menggerakkan setiap orang. Mereka mampu dengan kuat mempengaruhi tingkah laku, bahkan karakter kita. Karena itu, maka seni, khususnya musik, bersama dengan puisi dan drama dan jenis seni lainnya, harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak, dengan catatan mensensor bagian model yang jeleknya dengan memberikan model seni yg baik.

Cerita-cerita dan imej-imej memang terlihat nyata dapat membentuk karakter, namun bagaimana hal itu dapat terlihat pada musik? Plato menjelaskannya melalui teori Phythagoras dan nomor mistisnya. Rhythm dan pitch mampu diekspresikan sebagai formula matematika; dan musisi mengetahui teknik-teknik untuk menghasilkan suara tertentu. Rasio geometri merupakan bagian yang terinspirasi oleh rangkaian dari nada-nada yang berhubungan dengan getaran sebuah string. Sebuah string, ketika ditarik, bergetar bersama keseluruhan panjangnya, namun juga didalamnya memberikan oktaf, dan dalam divisi lain memberikan kelima, ketiga, dan semua rangkaian nada-nada. Suara-suara yang dihasilkan oleh pemain string akan benar-benar menjadi indah apabila mereka bermain dengan “harmonis”. Musik yang baik akan menolong jiwa menjadi harmonis. Tapi itu berarti kita harus menentukan model-model musik tertentu yang boleh ada di dalam Negara; yang kondusif untuk keharmonisan jiwa.  Hanya ketika anak-anak muda benar-benar siap, yang memiliki karakter kuatlah yang sudah dapat dibukakan gambaran tentang keburukan dan kejahatan, dan pencampuran pelbagai model musik.

Confucius maupun Plato sangat menekankan pentingnya pendidikan seni ini, bahkan mereka berpendapat bahwa setiap warga negara harus memiliki pendidikan seni yang harus menjadi dasar hukum suatu Negara. Hukum Negara merupakan refleksi dari gerakan konstan alam semesta, dan aktivitas sosial disesuaikan gerakannya dengan gerakan alam semesta. Tujuan dari setiap warga Negara yang bernyanyi, menari, dan bermain musik adalah untuk mendukung dan mengikuti hukum yang berlaku. Pemberian pendidikan seni dapat dikombinasikan dengan pendidikan dalam area lain.

Confucius,

“Beri puisi untuk menstimulasi pendidikan lain, jalani ritual keagamaan dengan baik, dan sempurnakan dengan pemberian musik” (The Analects, Book VIII)

Dengan kata lain, pendidikan seseorang harus dimulai dari puisi, dan melalui ritual keagamaan, kemudian disukseskan dalam musik. Tujuan mereka adalah untuk menajamkan hati dan pikiran demi mencapai inner peace. Ritual-ritual keagamaan memiliki pendidikan moral, dan terikat erat dengan pendidikan estetika. Plato juga percaya bahwa pendidikan estetika dan pendidikan umum saling mengisi satu sama lain, dan terdapat sebuah keseluruhan yang homogen.

Seni Merupakan Imitasi dari Sesuatu

Perubahan dunia fisik, rasionalitas, keabadian, ketiadaperubahan orisinalitas, keindahan setangkai bunga, atau sinar matahari terbit, rangkaian musik atau sebuah peristiwa cinta adalah merupakan imitasi sangat sempurna dari keindahan itu sendiri. Sebuah lingkaran, dan semua bentuk geometri lainnya, merupakan suatu bentuk ideal matematika. Tidak mungkin untuk menggambar sebuah lingkaran sempurna, namun adalah mungkin jika gambar tersebut hanya merupakan sebuah imitasi dari bentuk fisik lingkaran yang sangat sempurna.

Vsari, dalam “Kehidupan Para Pelukis”,

“Melukis hanya merupakan imitasi dari semua bentuk kehidupan

dengan warna dan desain yang sama dengan alam”

Keindahan dan lingkaran merupakan contoh dari Form (bentuk) atau Ideals. Forms merupakan “the Really Real”. Seni mengimitasi objek-objek dan kejadian-kejadian luar biasa dalam kehidupan.

Dunia Forms adalah dunia yang rasional dan tidak berubah; sementara dunia dari penampilan fisik mengalami perubahan dan tidak rasional, dan hanya memiliki realitas kepada tingkat keberhasilannya dalam mengintimasi Forms. Pikiran atau jiwa dimiliki oleh dunia Ideal; jasad dan keinginan-keinginannya merupakan kotoran dunia fisik. Jadi, kehidupan terbaik manusia adalah menjadi seorang yang berjuang untuk memahami dan untuk mengimitasi Forms sesuai kemampuannya. Kehidupan itu adalah kehidupan dari pikiran, kehidupan seorang filsuf. Kontrol diri, khususnya kontrol keinginan, merupakan hal penting bagi jiwa yang menginginkan untuk menghindari godaan dari sensualitas, ketamakan, dan ambisi, lalu kemudian menuju Ideal World dalam kehidupan selanjutnya.

Ketika seni mengimitasi benda-benda fisik (pengalaman), lalu berganti mengimitasi Forms, maka seni selalu merupakan sebuah imitasi dari sebuah imitasi; ia membimbing kita, bahkan bisa lebih jauh dari sebuah kebenaran  menuju ilusi. Ketika hal itu terjadi, maka seni dapat menjadi berbahaya.

Namun, bagaimana jika seni pada suatu saat mampu untuk membuat sebuah imitasi sempurna yang berasal dari Forms daripada dari pengalaman hebat kita sekalipun? Plato menjelaskannya dalam dialognya, “Ion”. Seorang seniman puisi  bernama Homer mendeklamasikan sebuah puisi berjudul “Ion” dengan baik, namun tidak dengan puisi yng lain. Socrates memberikan penjelasan tentang hal ini; terlihat padanya bahwa jika Homer memiliki pengetahuan keahlian terhadap puisi, maka seharusnya ia mampu mengaplikasikan pengetahuan keahliannya terhadap puisi yang lain, sebaik ketika ia mendeklamasikan “Ion”. Socrates menyimpulkan bahwa Homer tidak sungguh-sungguh memiliki pengetahuan keahlian.

“Waktu” ketika  “Ion” dibawakan oleh Homer, maka merupakan “waktu” ketika  ia sedang terinspirasi oleh Tuhan (divine inspiration). Ketika seseorang mengalami divine inspiration, maka ia membuat imitasi dari sebuah kebenaran dengan lebih baik. Ketika hal itu terjadi, maka seorang seniman merupakan bagian dari kenabian.

Banyak seniman pada zaman dahulu, medieval, dan modern serta estetikawan berpendapat bahwa seni adalah sesuatu yang menarik yang diperoleh dari inspirasi ketuhanan. Kreativitas jenius para seniman sering menghasilkan  sesuatu yang menakjubkan, dimana tentang hal tersebut para seniman hanya akan berkata, “Saya tidak tahu bagaimana saya melakukannya.” Padahal, seniman sering menunjukkan kepada kita inti dari sesuatu, dan membuka kebenaran-kebenaran yang sebelumnya tidak kita lihat.

Seniman sering terinpirasi oleh Tuhan (divinely inspired); bahkan sampai menjadi ´gila´. Terdapat beberapa model seni yang merupakan kombinasi dari inspirasi dan imitasi yang menunjukkan bahwa seorang seniman atau musisi mengalami kontemplasi sebuah divine ideal, dan menghasilkan sebuah karya seni.

Ketika rasio dan logika seseorang memimpin pengendalian, maka kemudian mata bathinnya akan terfokus pada realitas transcendent seperti kebenaran, dan seni yang dihasilkannya akan mampu untuk menyusun dan mengharmonisasi emosi yang berlawanan dan kebiasaan-kebiasan buruk; dengan cara demikian akan menghasilkan kekuatan dinamis  untuk memenuhi hasratnya akan peningkatan dan kenaikan transendentnya.

Tidak gampang untuk mau apalagi mampu merespon sesuatu secara emosional dan kognisi. Sebelumnya kita harus mau memberikan mata kita ´makanan bernutrisi´, dan membuka telinga lebar-lebar untuk menikmati suara-suara yang sengaja maupun tak sengaja yang kita dengar. Kedua indera itu, yaitu mata dan telinga, sebagai indera utama penangkap pengetahuan. Kemudian hati akan memprosesnya menjadi suka – tidak suka, senang – tidak senang, ingin – tidak ingin, baik – buruk, benar – salah, dll; kemudian di dalam otak akan mengalami proses seleksi berdasarkan pengalaman-pengalaman signifikan masa lalu, menganalisa lalu mensintesanya. Ketiga indera lain sebagai pendukung, dimana jika tak ada, mungkin, akan kurang melengkapi cita rasa terhadap sesuatu, walapun tidak selalu. Namun, adalah suatu kepastian bahwa semuanya memerlukan latihan yang rutin dan kontinu untuk direspon dan merespon.

Berikut di bawah ini merupakan media dan metoda yang dapat digunakan, karena  memiliki unsur-unsur yang dibutuhkan untuk pengembangan emosi dan pikiran, yaitu :

1.   Music & Movement (termasuk gymnastic)

a.      Musik

b.      Dance

c.       Drama

2. Visual Arts

a.      Drawing/ Painting

b.      Architecture

c.       Photography & Cinema

3. Crafts

a.      Sculpture

b.      Plastic Arts

c.       Decorative Arts

d.      Fashion Design

Socrates,

“Agar setiap individu atau masyarakat dapat merasakan suasana spiritual, maka mereka harus menjadikan musik sebagai bagian dalam kehidupan.”

Plato,

“Musik memberikan jiwa menuju alam semesta, sayap-sayap menuju pikiran,

terbang menuju imajinasi.”

Pendidikan musik merupakan dasar untuk mewujudkan politik ideal.  Pendidikan musik menempati sebuah posisi khusus dalam pendidikan seni.

“Bernyanyi dan bermain musiklah terus-menerus.”

Menurut Plato, musik memiliki 3 komponen, yaitu :

1. the words

2. the tune : Lydian, Ionian, Dorian, dan Phyrian

Lydian bernada lembut dan penuh kesedihan; nada ini tidak boleh diberikan bahkan untuk seorang wanita dengan latar belakang keluarga yang baik sekalipun, juga tidak dapat dipakai untuk mendidik seorang lelaki. Ionian bernada lemah dan mendayu-dayu, hal itu tidak baik untuk memelihara suatu negara.

Dorian adalah model musik yang dengan tepat mengimitasi ucapan dan perilaku seorang manusia pemberani yang terlibat dalam perang atau urusan pemberani lain; dan seseorang, ketika ia mengalami kegagalan, terluka atau meninggal atau kecelakaan, dimana dalam semua kondisi demikian ia mampu menghadapinya dengan kuat, tabah dan sabar dan mampu menangkis segala kesakitan.”

Skala pentatonik, yang biasa ditemukan pada lagu-lagu tradisional/ rakyat, begitu umum dan alami bagi anak-anak. Anak-anak seharusnya memang lebih banyak dilatih untuk bernyanyi dan memainkan musik dalam skala pentatonik, karena kefamiliaran nada tersebut bagi mereka. Dalam skala pentatonik terdapat nada-nada yang membuat jiwa tak harmoni menjadi berusaha untuk diharmonikan. Ketenangan dan kedataran nada-nadanya membuat kita menyusuri sebuah negri kedamaian. Sebelum skala mayor, ada baiknya kita lebih banyak melatih irama kita dulu dengan skala pentatonik Skala pentatonik digunakan pada minor ketiga (dalam kunci C), yaitu (hanya) not C, D, E, G, dan A.

Anak-anak yang sedang senang-senangnya belajar berbicara dan bernyanyi, sebaiknya diberikan lagu yang berfungsi untuk percakapan sehari-hari. Dengan kata lain, lirik lagu tersebut berceritakan tentang benda, orang,  perasaan, dan kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan anak.

  1. the rhythm

Confucius, tidak hanya mengatakan bahwa yue merupakan pendidikan yang lembut, namun ia juga berhubungan secara luas dengan masyarakat dan alam semesta. Apa yang kita pahami sebagai yue bukan dibatasi kepada musik instrumental dan menyanyi saja. Musik tidak hanya mengacu kepada suara-suara yang menyenangkan dari sebuah atau beberapa bell dan drum atau alat musik lannya, namun yang lebih penting adalah bahwa musik merupakan media untuk membuka spirit tertentu.

Musik dapat mengembangkan kecintaan akan keindahan, dan menyediakan disiplin mental dan moral yang diperlukan untuk menghasilkan pengetahuan secara filosofi. Ia berperan sebagai benteng dari suatu negeri.  Jaga benteng baik-baik. Jaga kualitas musik yang masuk ke suatu negri agar tetap baik, karena musik yang didengar akan mempengaruhi stamina moral dan mental pendengar.

Socrates,

“Musik tertentu dapat berbahaya untuk keseluruhan masyarakat, dan harus dilarang penggunaannya. Ketika model musik berubah, maka dasar hukum negara pun turut mengalami perubahan sesuai dengan model musiknya” (Aristotle, The Politics, translated by T. A. Sinclair, revised by T. J. Saunders, London: Penguin, 1981, book 8, section 5, page 466)

Menurut Zhu Guangqian 朱光潛, Confucius memberikan dua dasar dari musik, yaitu :

  1. Spirit dari musik (berbentuk harmoni)
  2. Spirit dari ritual-ritual (berbentuk aturan)

Untuk setiap individu, harmoni berguna untuk menjaga pikiran, pengetahuan, emosi, dan tingkah laku dalam pencapaian inner peace, sementara ritual keagamaan melatih seseorang untuk berperilaku tepat sesuai ajaran agama.

Pergerakan the tune dan rhythm dalam musik sesuai dengan aktivitas psikologis manusia. Pelatihan musik merupakan instrumental potensial dan lebih efektif daripada jenis seni lainnya adalah karena rhythm dan harmoninya akan merasuki sisi bathin terdalam dan pikiran terindah manusia, masuk ke dalam jiwa; dengan cepat dan begitu kuat. Disamping itu, musik merupakan refleksi dari pergerakan hukum dari alam semesta, dan  terdapat harmoni didalamnya.

Lebih jauh, banyak musik sebagaimana adanya, diadaptasi pada bunyi suara dan pada sense of hearing dapat membantu untuk tercapainya harmoni kita. Pendidikan musik dengan harmoni yang baik bisa memberikan kita keinginan untuk melaksanakan perilaku-perilaku baik. Semua seni yang baik merupakan produk dari pikiran yang rasional yang berpasangan dengan semua moral-moral ideal. Harmoni memiliki gerak yang sama dengan revolusi jiwa-jiwa manusia, dan sepertinya  selama ini telah berhasil menyatukan  ´petarungan-petarungan´ yang berkembang dalam diri kita menjadi sesuatu yang berguna untuk menunjukkan “siapa aku”.

Dalam sebuah dunia dimana terdapat pelbagai perbedaan dimana sering terjadi pertentangan nilai-nilai, musik mampu menyebrangi hambatan bahasa dan menyatukan masyarakat dengan perbedaan latar belakang budaya. Dan begitu, melalui musik, semua orang bisa bersama bersama untuk membuat dunia sebagai tempat yang lebih harmonis.

Musik memberikan penyelesaian damai terhadap konflik sehingga anggota dari suatu masyarakat dapat hidup dalam keharmonisan; sementara ritual keagamaan memberikan aturan dalam chaos, sehingga setiap orang dapat mematuhi setiap peraturan dan institusi yang berlaku. Musik dan ritual keagamaan juga dijalankan oleh alam semesta. Langit adalah sesuatu yang tinggi, dan bumi adalah sesuatu yang rendah; benda-benda bergerak dan menetap sesuai aturannya,adan mereka dibedakan dalam kelompok — inilah ritual keagamaan alam semesta. Langit dan bumi saling bersesuaian satu sama lain, memukul dalam hujan badai, bersenang dengan hujan dan angin, bergerak selama 4 musim secara bergantian, menghangatkan dengan matahari dan bulan; itulah musik alam semesta.

Plato,

“Memahami apa yang baik dalam lagu dan tarian, kita demikian juga tahu

siapa yang telah terdidik dengan baik dan siapa yang tidak.”

Musik berada di antara bentuk-bentuk dan merefleksikan suatu masyarakat. Penari mengikuti  ketukannya, demonstran menggunakannya untuk menyuarakan hati mereka. Ia bisa memberikan dukungan ke hal ideal – seperti perdamaian dan solidaritas – namun ia juga dapat mempersiapkan tentara menuju peperangan. Ia merupakan bagian yang penting pada peristiwa pribadi individu dan kelompok. Namun musik juga sesuatu yang misterius.

Gymnastik

Gymnastik bertujuan untuk pengendalian diri terhadap kesenangan-kesenangan, pembentukan karakter dan perkembangan fisik yang baik. Gymnastik meliputi pengaturan makanan dan latihan-latihan fisik yang dapat memberikan keuntungan bagi jiwa. Untuk mengurangi sifat tamak, maka makanan sebaiknya dimakan secara bersama-sama dengan orang lain dengan menu yang sederhana. Latihan fisik dapat mengembangkan keberanian, ketabahan, dan keuletan; Olahraga  yang dapat dilakukan seperti berenang, senam, anggar, memanah, lempar lembing, dan mengendarai kuda. Kombinasi dari musik dan gymnastik akan menghasilkan sebuah keseimbangan harmonis antara jiwa dan jasad.

Sastra

Puisi memiliki kekuatan besar dalam pembentuk karakter, maka anak-anak harus — hanya — membaca puisi-puisi dan cerita-cerita yang benilai kebenaran, kepatuhan kepada otoritas, keberanian, dan mengontrol emosi.

Anak-anak tidak dapat diberikan cerita tentang perbedaan antara fiksi dan realita karena mereka belum dapat membedakan yang benar dari yang salah. Anak-anak harus membuat puisi yang nyata, keseharian hidupnya, agar nanti jangan menilai kebenaran dari “Apa kata orang” atau opini semata.

a.      Tema

b.      Simbol

c.       Garis

d.      Irama

e.       Warna

f.        Tekstur

g.      Ukuran

h.      Struktur tertutup dan terbuka

i.        Bentuk

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dwi Afrianti