بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi  bukanlah seorang astronom, dan sama sekali tidak pernah tertarik dengan astronomi sebagai sains. Tetapi sebagai seorang sufi dan teologis mistis, beliau mengambangkan pengajaran kosmologi dan simbolisme  melalui al-quran dan al-hadits. Beliau menjelaskan planet-planet, lintasan, dan pergerakan mereka sebagai struktur yang Allah ciptakan untuk menggambarkan Citra-Nya dan hubungan mereka dengan Nama-nama Illaahiyyah. Bagi beliau, kosmologi merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Dan pada beberapa risalah beliau memperbincangkan astronomi secara falsafah dan teologis. Tidak ada buku yang benar-benar khusus membicarakan langit beserta isinya. Tentang kosmologi, salah satunya dapat ditemui pada beberapa paragraph dari Futuuhat Al-Makkiyyah (bab 371, 198).

Kosmos mengalami perubahan; bintang-bintang tidak diam, tetapi bergerak – berputar dan berjalan. Alasan utama diciptakannya kosmos adalah ‘Cinta’.

Hadis Nabi Muhammad saw. ,

“Aku adalah harta karun tersembunyi.”

Hadits tersebut  bermkna bahwa Allah ‘cinta’ untuk dikenal; bahwasanya Allah menganugerahi setiap ciptaan hak istimewa untuk mengenal-Nya.  Pernyataan Allah cinta untuk dikenal  merupakan asma Rahmaan yang ingin Dia anugerahi kepada makhluk-Nya. Kerahmanan merupakan anugerah pertama dari manifestasi kehadiran Allah kepada alam semesta ketika tercipta, dan darinya membentuk ‘tempat abstrak’  yang menandakan kemunculan ciptaan-ciptaan berikutnya. ‘Tempat abstrak’ itu oleh Ibn ‘Arabi dinamakan dengan al-‘amaa’ (awan). Realitas al-‘amaa’ menerima bentuk-bentuk dari al-arwaah al-muhayyamaa (ruh-ruh yang mengembara) yang Allah ciptakan langsung tanpa perantara. Penciptaan langsung ini menyebabkan para Ruh  mengembara di dalam kehadiran Allah, tidak mengenal apapun bahkan diri mereka sendiri selain Allah. Allah menetapkan satu dari para ruh dan menganugerahinya kemampuan istimewa epifani dari tajalli ‘ilm (Pengetahuan Illaahiiyyah) dimana padanya tercetak semua kehendak Allah untuk mencipta di dalam alam semesta hingga Hari Kiamat. Ruh-ruh lainnya tidak mengetahui hal itu. Kemampuan istimewa tersebut,  menyebabkan Ruh-ruh, yang disebut dengan al-‘aql al-kulli atau al-‘aql al-awwal atau jika merujuk kepada Al-Quran, memiliki pengertian yang sama dengan al-qalam al-a’alaa, yaitu diciptakan dengan tujuanu untuk membantu dirinya sendiri dan para Ruh lainnya mengenal Allah.

Melalui epifanilah al-‘aql al-awwal mampu menyusun struktur dirinya dan kemampuannya untuk menyadari Allah. Ia juga yang mampu melihat ‘bayangan’ yang disebabkan oleh adanya Cahaya dari  epifani yang terwujud dalam al-nuur.  ‘Bayangan’ ini disebut sebagai ‘nafs (jiwa)’nya, tepatnya al-nafs al-kuliyya atau al-nafs al-‘uulaa (jiwa pertama), atau al-lawh al-a’alaaa/ al-mahfuudz, dimana ia menuliskan segala sesuatu yang ia ketahui hingga Hari Kiamat. Isi alam semesta – merujuk pada perumpamaan dalam al-quran – merupakan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah yang dikeluarkan melalui Nafas Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.  Sementara dasar bangunan terbentangnya alam semesta adalah getaran atau suara, atau disebut juga dengan rijaal al-anfaas. Bukan hanya sebagai symbol semata bahwa alam semesta berisikan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah, yang dituliskan oleh al-qolam al-a’ala ke dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz. Al-‘amaa’ (awan) beserta isinya turun ke ‘Arsy al-Istiwaa’, yang tentu saja pengertiannya berbeda dengan ‘Arsy.  ‘Arsy al-Istiwaa’ merupakan ‘Arsy tempat Allah melaksanakan kekuasaan-Nya; Perumpamaannya dapat dilihat pada kalimat ‘ar-Rahmaan ‘ala aal-‘arsh istawaa’.

Qs. 20 : 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]

Merujuk kepada Bab 371 Futuuhaat Al-Makkiyyah, bahwa alam semesta muncul di dalam al-nafs al-kulliyya melalui al-‘aql al-kulli, yang disebut dengan nikaah ma’nawi. Hal itu dikarenakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan hasil dari sebab sesuatu; seperti seorang anak yang dihasilkan dari pernikahan ayah dan ibunya. Seperti halnya kita semua merupakan ‘anak-anak’ dari Nabi Adam as dan Siti Hawa; sehingga dapat pula dikatakan bahwa segala sesuatunya yang terdapat di alam semesta merupakan ‘anak-anak’ yang dilahirkan dari al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya.

Al-nafs al-kuliyya memiliki dua kekuatan, yaitu:

1.      Quwwa ‘ilmiyya; merupakan kemampuan untuk menerima pengetahuan.

2.      Quwwa ‘amaliyyaa; merupakan kekuatan aktif yang menerima keberadaan amal melalui gerakannya.

Hal pertama yang dimunculkan/ dilahirkan oleh Al-nafs al-kuliyya, yaitu:

1.      Martabat al-tabii’a (4 elemen pembentuk alam semesta: air, udara/ angin, tanah, api)

2.      Al-Habaa’ (debu) atau al-hayuulaa al-uulaa

Lalu kedua hal di atas melahirkan ‘anak’ pertama mereka yang dinamakan dengan al-jism al-kull (dunia fisik/ terinderai). Proses simbolik kelahiran dari alam semesta berlansung konstan terus-menerus  dalam jangka waktu yang panjang dengan serangkaian sebab dan akibat hingga melahirkan turaab (tanah). Selanjutnya, dunia fisik yang lain pun bermunculan…

Dunia fisik dibentuk oleh (bukan ‘dalam’) al-jism al-kull karena, seperti halnya pernikahan al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya, al-jism al-kull bisa disebut sebagai Tubuh  Pertama karena merupakan tubuh pertama yang tercipta. Antara dunia material dan spiritual dibentuk oleh prinsip ahadiyyah melalui kemunculan konstan Bulan tersebut. Tubuh Pertama merupakan ‘bagian pelengkap’ yang dibentuk oleh keahadan, sementara dunia fisik dibentuk oleh Tubuh Pertama tersebut. Tubuh Pertama adalah sejenis awan tebal yang merupakan material utama, yang kemudian lalu mengembang menjadi bintang-bintang dan galaksi; Jelaslah kini, bahwa dunia fisik dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull. Hal pertama yang dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull adalah al-‘Arsy, tempat Allah melaksanakan kuasa (istiwaa’) dari Nama al-Rahmaan, dimana setiap ciptaan yang berada di bawah al-‘Arsy Allah anugerahi Rahmaaniyyah-Nya. Karena itulah maka hal pertama yang al-qalam al-a’ala (versi quran) atau  (versi Ibn ‘Arabi) tuliskan di dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz adalah al-‘Arsy tempat alam semesta muncul.

Di bawah al-‘Arsy Illaahiyyah terdapat al-Kursiyy, yang memiliki dimensi-dimensi relatif dan penuh. Perumpamaan al-Kursiyy dengan al-‘Arsy adalah bagaikan sebuah cincin kecil yang beradadi dalam gurun sahara yang luas. Di dalam al-Kursiyy terdapat al-falaq al-atlas (lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit) yang berisikan bagian-bagian dari langit, yaitu al-falaq al-buruuj (zodiak) dan al-falaq al-mukawkab (bola langit bintang-bintang), sementara di bawahnya lagi terdapat lintasan-lintasan dari lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, Bulan, dan Bumi.

Orbit Isotoprik (yang arahnya sama)  atau bola langit merupakan sebutan yang bermakna bahwa tidak ada satu bintang pun yang memiliki ‘wajah’ lintasan yang berbeda, semuanya sama. Bola langit zodiak merupakan lintasan pertama yang diciptakan dalam orbit Isotoprik, dan permukaannya dibagi menjadi 12 bagian yang menjadi macam zodiak. Bab 371 Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah memberikan penjelasan tentang jauhnya jarak yang terbentang antara galaksi-galaksi dikarenakan ada bintang-bintang tetap di dalam galaksi Bima Sakti kita, sementara zodiak berada di dalam galaksi-galaksi lain yang jauh dari Bima Sakti. Di dalam  ruang angkasa Allah menciptakan tujuh ‘Taman’ (al-jinaan, jannah) dengan perbedaan keadaan dan tingkatan ‘tempat pertemuan’ antara realitas spiritual murni dari al-‘Arsy Illaahiyyah dan realitas terinderai dalam daerah al-Kursiyy.

Nama-nama spesifik ketujuh Taman terdapat di dalam quran dan hadits, dan pengertian mereka tidak sama dengan tujuh lelangit (samawaati), dimana dalam tujuh langit terdapat lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, dan Bulan; sementara tujuh taman terdiri dari:

1.     Iqomah (tempat tinggal) hamba

2.       Aslama (tempat keberserahdirian) hamba

3.      Al-Khuld

4.      Al-Ma’wa

5.      Al-Na’im

6.      Firdaus

7.      ‘Adn

Kata ‘al-Wasiiila’ melintasi ketujuh Taman sebanyak dua kali hingga ke level tertinggi, ‘Adn, milik Nabi Muhammad saw. Taman ‘Adn disebut juga sebagai al-maqoom al-mahmud (posisi mulia), dan disebut juga dengan Al-Wasiiila, yaitu perantara atau Jalan untuk Mendekati Allah: melalui Nabi Muhammad saw. lah Allah bisa didekati oleh makhluknya. Jadi, Nabi Muhammad saw. merupakan Jalan kita untuk Mendekati Allah.

Di bawah tujuh Taman terdapat lintasan dari bintang-bintang tetap, konstelasinya, dan tempat kedudukan (manaazil/ manzilah) Bulan. Yang mesti digarisbawahi, bahwa dikatakan bintang ‘tetap’ bukan dalam arti mereka tidak bergerak, tetapi lebih dikarenakan pandangan mata fisik manusia terbatas untuk melihat pergerakan mereka.

Lintasan bintang-bintang tetap dibagi menjadi 28 konstelasi atau manzilah berdasarkan gerak kemunculan Bulan. Di dalam bola lintasan bintang-bintang tetap ini, Allah menciptakan tujuh lelangit fisik (al-samawaat) dan Bumi. Perumpamaan Bumi beserta ketujuh lelangit dengan al-‘Arsy bagaikan sebuah cincin dalam gurun sahara yang luas – sama halnya ‘Arsy yang bagaikan sebuah cincin jika dibandingkan dengan Kursiiy.

Dalam Bab 371 Futuuhat Ibnu Arabi berbicara tentang panjang bagian-bagian dan tingkatan-tingkatan Surga dan Neraka serta gambaran-gambaran lain al-akhirat.

Ibnu Arabi pernah menyebut Matahari dan Bulan sebagai ‘planet-planet’, namun beliau juga membedakan antara sifat-sifat planet (termasuk Bulan) dengan Matahari; bahwa Matahari ‘bertanggung jawab untuk mencahayai semua planet yang berada di atas dan di bawahnya’ (II.170.22). Dalam konteks Astronomi, beliau juga menyebut bintang-bintang sebagai ‘planet-planet’ (kawkab), padahal beliau juga tahu bahwa bintang-bintang seperti Matahari yang  memiliki cahayanya sendiri (I.217.18).

Secara umum, pandangan kosmologi Ibnu Arabi sama dengan Aristoteles (geosentris), seperti kebanyakan kosmolog kuno  (dan juga al-Qur’an dan al-Hadits). Ibnu Arabi berbicara tentang ‘tujuh bola langit’  yang berada di sekitar bumi. Ketujuhnya disebuat sebagai planet (termasuk Matahari dan Bula). Tetapi juga, Ibnu Arabi menekankan dalam banyak tempat (III.548.21, I.123.17, II.441.33) bahwa itu hanya berdasarkan pandangan seseorang yang sedang berada di bumi, beda dengan kenyataan sebenarnya: bagaimana keberadaan bumi dan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang itu sendiri. Jadi, menurut Ibnu Arabi, pandangan Aristoteles adalah sebuah pandangan tentang dunia  sebagaimana yang kita lihat dengan mata telanjang, sementara kenyataannya tidaklah sedemikian (III.548.31).

Ibnu Arabi menekankan posisi inti (sentral) Matahari sebagai ‘qalb’ bagi ketujuh bola langit, dan superioritas Matahari melampaui planet-planet dalam hubungannya dengan Bumi.

Jadi,  gerak lintas Matahari berasal dari qalb lintasan-lintasan, sehingga merupakan tempat yang tinggi untuk kedudukan dan lintasan-lintasan yang berada di atasnya berada dalam jarak dengan konteks jarak pandang kita.” (III.441.33). Pandangan sebenar Ibnu Arabi lebih mendekati ‘heliosentris), setidaknya dalam hubungannya dengan kedudukan unik inti (pusat) atau ‘kedudukan (makaana) dari Matahari.

Area-area dari bola langit bintang-bintang tetap (fixed stars)  dan konstelasi secara umum yang dibagi menjadi 12 tanda zodiak atau 28 ‘rumah’ (manzilah: tempat edar) Bulan oleh Ibnu Arabi dikatakan bahwa itu murni sebuah ketentuan, yang tidak penting untuk menghubungkannya dengan posisi-posisi aktual dari bintang-bintang dalam rasi itu .

Pernyataan beliau,

“Zodiak (konstelasi) merupakan posisi yang dikira-kira, tidak tepat benar, dan mereka merupakan ‘rumah-rumah’ untuk pergerakan planet-planet.” (III.37.27).

Tentang Bulan sendiri, Ibnu Arabi berkata,

“Bintang-bintang itu (zodiak) disebut sebagai ‘rumah-rumah’ hal itu dikarenakan planet-planet bergerak melalui mereka; selain hal itu tidak ada perbedaan antara planet-planet dengan bintang-bintang selain zodiak… tentang mereka baru sekedar asumsi-asumsi dan perbandingan dalam tubuh (dari langit).” (III.436.30)

Pada sisi lain, kita tidak bisa memisahkan dengan tegas dunia material dari dunia abstrak atau dunia spiritual. Mereka saling tumpang tindih – atau, keseluruhan dunia-dunia material (dari ‘Kursiiy’ dan Lelangit serta Bumi) berisikan apa-apa yang berada di dalam ‘Arsy’, dengan sifat illaahiyyah. Hal itu menjadi alasan mengapa Ibnu Arabi terkadang mencampur kedua  pandangan:

Contoh.

Ibnu Arabi menggambar sebuah pilar (tiang) untuk menjelaskan tentang Insan Kamil, yang dimaksudkannya sebagai ‘Manifestasi al-Haqq (Rabb)’ dalam kosmos, sehingga tanpa-Nya kosmos akan runtuh. Secara simbolik, tujuh langit ‘didukung’ oleh tujuh (tingkat atau area-are dari) bumi. Namun Ibnu Arabi tidak  berpendapat bahwa itu menjadi gambaran aktual fisik dari sesuatu, karena beliau dengan jelas menggambarkan bumi sebagai bola dan berotasi (berputar) mengelilingi pusatnya.

“Tetapi kita tidak dapat merasakan gerak berputar Bumi , dan gerakannya berputar mengelilingi pusatnya karena ia adalah sebuah bola’.” (I.123.17)

Mengapa kita tidak bisa merasakan gerakan Bumi dan bintang-bintang?

“Kita dan makhluk ciptaan lain tidak bisa merasakan gerakan Bumi dan bintang-bintang dikarenakan semuanya bergerak. Matahari merupakan posisi utama, bagaikan qalb, menjadi pusat bagi ketujuh lelangit. Ciptaan-Nya tidak merasakan gerakan kosmos dikarenakan semuanya bergerak, dan dikarenakan Bumi bergerak: berjalan dan berputar mengelilingi Sang Pusat, Matahari.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Time and Cosmology – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris dari Arab oleh Mohamed Haj Yousef.

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.