Maret 2011


on Friday, 25 February 2011 at 09:25

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

Futuuhaat al-Makkiyyah Jilid I  – Muhyiiddiin ‘Ibn ‘Arabi

 

JALAN KESUCIAN

Bab 130 (1), Maqom Pengabdian (‘Ubuuda)

 

Kugambarkan tentangku kepada diriku sendiri; dan setahuku, tidak pernah sempurna gambaran kita tentang Tuhan.

Bahwa apakah Dia harus menjadi sebuah Sebab (‘illa) bagi ciptaan, tidak diketahui karena ketinggian Derajat-Nya.

Sama sekali tiada  kebergantungan-Nya kepada siapapun: tiada faqir – Dia melimpahkan Rahmat-Nya kepada hamba yang faqir.

 

Demikianlah, aku telah menyebutkan secara umum penjelasan-penjelasan qur’an. Pelajarilah: di dalamnya engkau akan melihat penjelasan yang lebih detil sebagai berikut:

 

214.5 “Kepengabdian” (‘ubuudiyyah) bermakna sebuah pertalian/ hubungan (nasab) kepada “pengabdian” (‘ubuuda); “pengabdian” adalah hal murni, tanpa gambaran apapun, baik tentang Tuhan maupun pengabdi sendiri. Kata tersebut tidak berakhiran –iyy.

 

214.6 Terendah dari yang rendah (andhall al-adhillaa’),  disematkan kepada sesuatu yang rendah  dimana ketinggian (iftikhaar) melampauinya.

 

Qs. 67 : 15

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [٦٧:١٥]

 

Dialah Yang menjadikan bumi itu sangat rendah (dzaluul = sangat rendah -> tafsir Ibn ‘Arabi) bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

 

Dzaluul = sangat rendah, merupakan bentuk kata dari fa’ul yang menunjukkan ketersangatan kerendahan; terdapat hal rendah di atasnya (di atas bumi), sehingga lebih berlebih-lebihan kerendahan yang ada pada mereka (hal yang berada di atas bumi).

 

214.7 Maqom kepengabdian merupakan sebuah maqom kerendahan dan kefaqiran (iftiqaar); bukan merupakan atribut Ilaahi (na’t Ilaahi). Abu Yazid al-Bistami menyatakan bahwa tiada sebab yang membuat ia memperoleh kedekatan (taqorrub) kepada Rabb. Ia melihat bahwa Ketuhanan (al-uluuhiyyah) masuk ke dalam setiap atribut tempat melekatnya kedekatan. Manakala ia menemukan dirinya tak berdaya, ia bermunajah, “Duhai, Rabb, melalui apa aku bisa dekat kepada-Mu?” Rabb menjawab munajahnya melalui para Sahabat-Nya (awliyaa), “Raihlah kedekatan dengan-Ku melalui dua hal yang tidak melekat pada-Ku, yaitu kerendahan dan kefaqiran.”

 

214.13 Makna dari “abdi” adalah “rendah” (dhaliil).

 

Qs. 51 : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

 

 

Ayat di atas memberikan  penjelasan kepada kita, memberikan perhatian lebih, bahwa tiada ciptaan-Nya yang memiliki sifat takabur kecuali dua makhluk (jin dan manusia) tersebut. Selain keduanya, setiapnya selalu beriman bahwa “tiada Rabb selain Allah” dan tiada sedikitpun ketakaburan .

 

Ibn ‘Abbas menyampaikan,

“Makna kalimat ‘melayaniku’ adalah ‘mengenalku’.”

 

Ibn ‘Abbas tidak menafsirkan kalimat di atas dalam konteks realitas yang bagaimana kemunculannya. Penjelasannya hanya: “untuk mendekati-Ku, merendahlah”; tetapi seseorang tiada  bisa ‘rendah’ hingga mengenal-Nya, sehingga kebutuhan pertama kita adalah mengenal-Nya, lalu mendapatkan bukti bahwa Dia Maha Kuasa (‘izza). Berikut Ibn ‘Abbas mengalihkan penjelasannya lebih jauh tentang ilmu “pengabdian”:

 

214.17 Tidak seorang pun menyadari (tahaqquq) maqom pengabdian sesempurna kesadaran para Utusan-Nya. Abdi sempurna (‘abd mahd), adalah mereka yang melepaskan (zaahid) kondisi-kondisi penyebab lepasnya mereka dari derajat kepengabdian. Rabb memberikan bukti bahwa mereka merupakan abdi-Nya dengan cara : mereka senantiasa memanggil-Nya dengan kesadaran dan selalu menyadari keter-Dia-an.

 

Contoh ayat memanggil-Nya:

 

Qs. 72 : 19

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [٧٢:١٩]

 

Dan bahwasanya tatkala abdi Allah (‘abdu Allaah) berdiri memanggil-Nya, hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Contoh ayat keter-Dia-an:

 

Qs. 17 : 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١]

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Dia membawanya pada malam hari sebagai seorang abdi.

 

214.20 Ketika ia diperintahkan untuk memperhatikan kondisinya pada saat Hari Kebangkitan nanti, ia mampu. Pernyataannya, “Aku adalah Rabb dari anak-anak Adam, tanpa rasa bangga.” Pernyataan senada, “Aku menunjukkan Ketuhananku tanpa ada tujuan berbangga kepadamu.” Tapi ada pernyataan lawannya, “Aku berkehendak untuk memerintahkanmu, dan itu merupakan kabar gembira bagimu, sejak awal mula engkau diperintah untuk mentaati-Ku.” “Tanpa keterusterangan”, “Aku tidak menyatakan hal tersebut dengan terus-terang; Aku tidak seperti itu,” seperti berbangga terhadap kesalahan seolah-olah benar.

 

214.23 Hubungan abdi dengan Rabb dalam kondisi pengabdian bagaikan sebuah bayangan dengan orang (yang menggerak-gerakkannya) di depan sebuah lampu: semakin dekat ia bergerak menuju lampu, semakin besar bayangan; tiada kedekatan dengan Rabb melalui lebih dengan atribut kemakhlukan (akhass) mu, bukan atribut-Nya. Semakin menjauh engkau dari lampu, semakin kecil bayangan; tiada engkau bergerak jauh dari Rabb melainkan dengan kau tinggalkan atribut-atribut kemakhlukanmu demi untuk menjadi perkasa (al-‘aziiz) dan mulia (al-kariim). Engkau menghendaki Atribut-atribut yang hanya layak dikenakan-Nya.

 

Qs. 40 : 35

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ [٤٠:٣٥]

 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (aamanu). Demikianlah Allah mengunci mati qalb orang yang sombong (mutakabbiir) dan sewenang-wenang.

Qs. 44 : 49

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [٤٤:٤٩]

 

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa (al-‘aziiz) lagi mulia (al-kariim).

 

Atribut Rabb yang hanya layak dimiliki oleh-Nya, yaitu: Takabbur, al-‘Aziiz dan al-Kariim.

 

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

“Aku mencari perlindungan di Dalam-Mu dari Diri-Mu Sendiri.”

 

214.26 Maqom pengabdian tidak diberikan kepadamu dengan atribut yang secara eksklusif dan semata-mata hanya milik-Nya dan tiada kau dibagi dari yang menjadi semata milik-Nya – tanpa sebenar mengetahui  kepemilikan maqom tersebut. Tetapi , Rasa (dzawq) kepemilikan itu jarang; saat ketika engkau menyadari dan berdiri teguh di dalam atribut-atribut khusus  (al-wasf al-akhass) dirimu, dan saat engkau menyerap Rabb melalui atribut-atributmu.  Dia menghadapimu (maqaabala) hanya dengan Atribut-atribut khusus-Nya, yang tak boleh engkau miliki. Namun manakala engkau datang dengan atribut-atribut-Nya yang boleh, terlebih khusus untukmu, maka Dia muncul kepada-Mu dengan atribut-atribut-Nya yang sama; sehingga kenallah engkau dengan rahasia akan Hubungan-Nya (nisbah) denganmu  melalui hubunganmu dengan-Nya. Sungguh pengetahuan menakjubkan; kau pun akan menemukan segelintir mereka yang menemukan-Nya. Ya, tergantung kepadamu, terbanyak atribut khusus mana yang melekat kepadamu. Mengetahui atributmu dan menyadari maqom ketakaburan (juga rasa ingin perkasa dan mulia), merupakan jalan yang akan membimbingmu kepada maqom kepengabdian.

 

214.31 Pada maqom pengabdian, kau tidak akan mengenal ilmu-ilmu tempat kau melaksanakan pengabdianmu, yang, di dalamnya engkau berlepas dari penggambaran tentang-Nya dan untuk memun culkan wujuud. Merupakan maqom yang teramat langka, dimana  wujuud harus hidup, muncul dalam kemungkinannya tanpa penggambaran apapun, karena tidak dapat dipisahkan (bi’l-dhaat) “kebutuhan melalui Yang Lain” (waajib bi’l ghayr). Hal itu yang menjadikan seseorang selalu waspada dan siaga pada maqom ini, merupakan bukti bahwa, di dalam lokus manifestasi (mahzar), Sang Mannifes (al-Zaahir) digambarkan oleh atribut-atribut sang abdi,  yang dengannya Sang Manifest menjadi diwarnai oleh realitas dari lokus manifestasi, apapun hal itu. Tetapi Sang Manifes tidak menjejakkan kemurniannya kepada kepengabdian, karena tiada apa-apa yang lebih rendah daripada akhirnya, dan karena menjejaki kemurniannya kepada sesuatu yang lebih rendah derajatnya. Tetapi Sang Manifes hanya menjejaki kemurnian-Nya kepada sesuatu yang tergambarkan, sejak akibat (athar) menyadari bahwa entitas dari lokus manifestasi bukanlah apa-apa dibandingkan Sang Manifes itu Sendiri.

 

“Tiada Tujuan selain Rabb. “

 

Sebab itulah, maka “pengabdian” tidak memiliki –iyy dari penggambaran. Dikatakan, “Seorang manusia antara kepengabdian dan pengabdian,” hakikatnya manifest, tapi gambarannya tidak diketahui, sehingga ia tidak tergambar, sehingga tiada “untuk menjadi-dan-menjadi”, Jadi, ia adalah seorang abdi/ bukan abdi (‘abd laa ‘adb).

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sumber:

The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.

Iklan

on Sunday, 27 February 2011 at 12:10

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Futuuhaat al-Makkiyah Jilid I

Bab 351 Rela Mati (Mawt Iraadii)

Kerelaan (suka rela) seorang hamba kembali kepada Tuhannya, merupakan suatu hal yang sangat disyukuri.

Allah berfirman dalam Qs. 11 : 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [١١:١٢٣]

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit (as-Samaawaat) dan di bumi (al-Ardh) dan kepada-Nya-lah dikembalikan (yurja’) al-Amr semuanya, maka mengabdilah kepada Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Berdasarkan ayat di atas, ketika kau datang pada-Nya dengan suka rela, maka kau tak akan datang dengan cara dipaksa. Tiada tempat bersembunyi dari-Nya, dank au pasti akan bertemu dengan-Nya, baik dengan cara suka rela ataupun dengan (terpaksa) melawan kehendakmu. Dia bertemu denganmu dalam (bentuk) atribut-atribut, tiada cara selain dengan cara itu – jadi, silakan periksa dirimu, sahabatku!

Rasulullah Muhammad saw. bersabda,

“Barangsiapa yang menyukai bertemu Rabb, maka Rabb pun menyukai bertemu dengannya; dan barangsiapa enggan bertemu  Rabb, maka Rabb pun enggan bertemu dengannya…”

Kita bisa bertemu Rabb hanya melalui kematian, dan dikarenakan kematian memiliki makna bathin , maka kita harus bersegera membawa makna tersebut dalam kehidupan kita saat ini di dunia: dalam setiap apa-apa yang menjadi fokus, kegiatan, dan keinginan-keinginan kita, sehingga ketika kematian mendatangi kita – sepanjang kehidupan, kita menghabiskan hidup dengan mengagungkan dan memuji-Nya  – kita bertemu Rabb dan Dia bertemu kita. Dan barangsiapa yang senang bertemu dengan-Nya, maka Dia juga senang bertemu kita.

Lalu ketika datang apa yang selama ini kita ketahui tentang kematian fisik:

(lihat) Qs. 50 : 22

….فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ [٥٠:٢٢]

“………… maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,”

ahwal kita tidak akan berubah dan tidak ada yang lebih besar kepastiannya daripada yang selama ini pernah kita alami selain dalam pengalaman kematian. Yang kita rasakan sekarang bukanlah mati, tapi kematian pertama, yang, kita telah mati dalam kehidupan kita selama ini di dunia, karena:

(Lihat) Qs. 44 : 56 – 57

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ [٤٤:٥٦]

mereka tidak akan merasakan mati (al-mawt) di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka (56),

َضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٤٤:٥٧

sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar (al-fauzul ‘adzhiim) (57).

Untuk orang seperti itu, kehidupan di dunia (dengan mati sebelum mati fisik) sama saja dengan kamtian fisik. Digambarkan oleh Sayyidina Ali ra. berikut,

“Bahkan jika singkap diangkat pun, tidak akan menambah sedikitpun keyakinanku.”

Manusia yang datang kepada Rabb dalam keadaan ayat di atas, sungguh telah diberkati. Dia bahkan tidak memaknai bahwa kematian itu adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dan suatu keterpaksaan, karena kematian, bermakna datang, kembali kepada Tuhan; dengan kematian, ia telah berada di sana dengan Rabb. Baginya, kematian juga bermakna kembali terjaganya jiwanya bersama Rabb, dan menjaga jiwanya dari kekuasaan raga. Sama halnya dengan kondisi ketika raga kembali kepada asal mulanya, debu (asal mula ciptaan adalah debu (al-haba): fut. Al-Makkiyyah I.1).

Qs. 3 : 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [٣:٥٩]

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Kun, faya kun.

Jiwa kembali ke rumahnya setelah melakukan perjalanan yang jauh; lalu Raja membawanya bersama-Nya ke sebuat tempat/ posisi yang kokoh.

Qs. 54 : 55

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ [٥٤:٥٥]

di tempat yang kokoh (صِدْقٍ = kokoh, kuat, tetap – > tafsir Ibn ‘Arabi) di sisi Maliik Yang Berkuasa.

Qs. 23 : 100

إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ [٢٣:١٠٠]

“…. sampal hari mereka dibangkitkan.

Dan kondisinya ketika ia dibangkitkan akan seperti itu: tidak akan berubah sejauh mana ia membawa Rabb dalam kehidupannya atau tergantung pemberian Rabb pada saat-saat tertentu.

Kondisinya juga akan tetap seperti itu hingga saat al-hasr al-‘aamm (Hari Kebangkitan), di tempat  kediamannya di Surga nanti, dan dalam realitas (nash’a) tempatnya tinggal. Di sana ia melihat sebuah realitas tanpa bentuk, sebuah realitas sebagai manifestasi dari realitas apa yang dihadirkan dalam bathin dan khoyaal (form, ide: Plato, alastu???) nya sewaktu di dunia. Mengendalikan dimensi bathin, merupakan jalannya untuk mengendalikan dimensi lahirnya nanti di kehidupan setelah mati. Terbaik adalah menikmati semua yang ia miliki (baik – buruk) dalam setiap saat. Tiada apapun yang sebenar menjadi miliknya, baik istrinya atau apapun itu, adalah hal terpisah darinya, begitupun ia terpisah dari mereka; gampangnya, ia hanya sedang berada di antara mereka melalui keinginan kemakhlukannya, dan mereka bersamanya juga sedang berada bersamanya melalui keinginan kemakhlukan mereka.

Dunia lain (kematian) merupakan sebuah tempat persinggahan yang harus kita sikapi dengan bersegera untuk bertaubat, tanpa ada penundaan dengan melewatkan kekhawatiran yang ada dalam dimensi bathin dunia sekarang ini. Selain itu, perkembangan bathin seseorang selama di dunia akan dilanjutkan ke dunia lain setelah mati, sehingga dimensi bathinnya secara terus-menerus membentuk dirinya di alam lain – seperti dimensi lahirnya – sementara bentuk-bentuk dimensi lahirnya akan mengalami transformasi yang cepat seperti dimensi bathinnya di alam lain.

Qs. 26 : 227

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ [٢٦:٢٢٧]

kecuali orang-orang  yang beriman (aamanuu) dan beramal saleh (‘amilu ash-shoolihaat) dan banyak mendzikiri Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika kita mengalami transformasi di dunia, tidak ada sesuatu yang akan bertambah saat kematian nanti selain transformasi itu sendiri. Jadi pahamilah…

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Bab 351. The Voluntary Death, The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.