on Sunday, 27 February 2011 at 12:10

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Futuuhaat al-Makkiyah Jilid I

Bab 351 Rela Mati (Mawt Iraadii)

Kerelaan (suka rela) seorang hamba kembali kepada Tuhannya, merupakan suatu hal yang sangat disyukuri.

Allah berfirman dalam Qs. 11 : 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [١١:١٢٣]

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit (as-Samaawaat) dan di bumi (al-Ardh) dan kepada-Nya-lah dikembalikan (yurja’) al-Amr semuanya, maka mengabdilah kepada Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Berdasarkan ayat di atas, ketika kau datang pada-Nya dengan suka rela, maka kau tak akan datang dengan cara dipaksa. Tiada tempat bersembunyi dari-Nya, dank au pasti akan bertemu dengan-Nya, baik dengan cara suka rela ataupun dengan (terpaksa) melawan kehendakmu. Dia bertemu denganmu dalam (bentuk) atribut-atribut, tiada cara selain dengan cara itu – jadi, silakan periksa dirimu, sahabatku!

Rasulullah Muhammad saw. bersabda,

“Barangsiapa yang menyukai bertemu Rabb, maka Rabb pun menyukai bertemu dengannya; dan barangsiapa enggan bertemu  Rabb, maka Rabb pun enggan bertemu dengannya…”

Kita bisa bertemu Rabb hanya melalui kematian, dan dikarenakan kematian memiliki makna bathin , maka kita harus bersegera membawa makna tersebut dalam kehidupan kita saat ini di dunia: dalam setiap apa-apa yang menjadi fokus, kegiatan, dan keinginan-keinginan kita, sehingga ketika kematian mendatangi kita – sepanjang kehidupan, kita menghabiskan hidup dengan mengagungkan dan memuji-Nya  – kita bertemu Rabb dan Dia bertemu kita. Dan barangsiapa yang senang bertemu dengan-Nya, maka Dia juga senang bertemu kita.

Lalu ketika datang apa yang selama ini kita ketahui tentang kematian fisik:

(lihat) Qs. 50 : 22

….فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ [٥٠:٢٢]

“………… maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,”

ahwal kita tidak akan berubah dan tidak ada yang lebih besar kepastiannya daripada yang selama ini pernah kita alami selain dalam pengalaman kematian. Yang kita rasakan sekarang bukanlah mati, tapi kematian pertama, yang, kita telah mati dalam kehidupan kita selama ini di dunia, karena:

(Lihat) Qs. 44 : 56 – 57

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ [٤٤:٥٦]

mereka tidak akan merasakan mati (al-mawt) di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka (56),

َضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٤٤:٥٧

sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar (al-fauzul ‘adzhiim) (57).

Untuk orang seperti itu, kehidupan di dunia (dengan mati sebelum mati fisik) sama saja dengan kamtian fisik. Digambarkan oleh Sayyidina Ali ra. berikut,

“Bahkan jika singkap diangkat pun, tidak akan menambah sedikitpun keyakinanku.”

Manusia yang datang kepada Rabb dalam keadaan ayat di atas, sungguh telah diberkati. Dia bahkan tidak memaknai bahwa kematian itu adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dan suatu keterpaksaan, karena kematian, bermakna datang, kembali kepada Tuhan; dengan kematian, ia telah berada di sana dengan Rabb. Baginya, kematian juga bermakna kembali terjaganya jiwanya bersama Rabb, dan menjaga jiwanya dari kekuasaan raga. Sama halnya dengan kondisi ketika raga kembali kepada asal mulanya, debu (asal mula ciptaan adalah debu (al-haba): fut. Al-Makkiyyah I.1).

Qs. 3 : 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [٣:٥٩]

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Kun, faya kun.

Jiwa kembali ke rumahnya setelah melakukan perjalanan yang jauh; lalu Raja membawanya bersama-Nya ke sebuat tempat/ posisi yang kokoh.

Qs. 54 : 55

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ [٥٤:٥٥]

di tempat yang kokoh (صِدْقٍ = kokoh, kuat, tetap – > tafsir Ibn ‘Arabi) di sisi Maliik Yang Berkuasa.

Qs. 23 : 100

إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ [٢٣:١٠٠]

“…. sampal hari mereka dibangkitkan.

Dan kondisinya ketika ia dibangkitkan akan seperti itu: tidak akan berubah sejauh mana ia membawa Rabb dalam kehidupannya atau tergantung pemberian Rabb pada saat-saat tertentu.

Kondisinya juga akan tetap seperti itu hingga saat al-hasr al-‘aamm (Hari Kebangkitan), di tempat  kediamannya di Surga nanti, dan dalam realitas (nash’a) tempatnya tinggal. Di sana ia melihat sebuah realitas tanpa bentuk, sebuah realitas sebagai manifestasi dari realitas apa yang dihadirkan dalam bathin dan khoyaal (form, ide: Plato, alastu???) nya sewaktu di dunia. Mengendalikan dimensi bathin, merupakan jalannya untuk mengendalikan dimensi lahirnya nanti di kehidupan setelah mati. Terbaik adalah menikmati semua yang ia miliki (baik – buruk) dalam setiap saat. Tiada apapun yang sebenar menjadi miliknya, baik istrinya atau apapun itu, adalah hal terpisah darinya, begitupun ia terpisah dari mereka; gampangnya, ia hanya sedang berada di antara mereka melalui keinginan kemakhlukannya, dan mereka bersamanya juga sedang berada bersamanya melalui keinginan kemakhlukan mereka.

Dunia lain (kematian) merupakan sebuah tempat persinggahan yang harus kita sikapi dengan bersegera untuk bertaubat, tanpa ada penundaan dengan melewatkan kekhawatiran yang ada dalam dimensi bathin dunia sekarang ini. Selain itu, perkembangan bathin seseorang selama di dunia akan dilanjutkan ke dunia lain setelah mati, sehingga dimensi bathinnya secara terus-menerus membentuk dirinya di alam lain – seperti dimensi lahirnya – sementara bentuk-bentuk dimensi lahirnya akan mengalami transformasi yang cepat seperti dimensi bathinnya di alam lain.

Qs. 26 : 227

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ [٢٦:٢٢٧]

kecuali orang-orang  yang beriman (aamanuu) dan beramal saleh (‘amilu ash-shoolihaat) dan banyak mendzikiri Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika kita mengalami transformasi di dunia, tidak ada sesuatu yang akan bertambah saat kematian nanti selain transformasi itu sendiri. Jadi pahamilah…

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Bab 351. The Voluntary Death, The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.