on Friday, 25 February 2011 at 09:25

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

Futuuhaat al-Makkiyyah Jilid I  – Muhyiiddiin ‘Ibn ‘Arabi

 

JALAN KESUCIAN

Bab 130 (1), Maqom Pengabdian (‘Ubuuda)

 

Kugambarkan tentangku kepada diriku sendiri; dan setahuku, tidak pernah sempurna gambaran kita tentang Tuhan.

Bahwa apakah Dia harus menjadi sebuah Sebab (‘illa) bagi ciptaan, tidak diketahui karena ketinggian Derajat-Nya.

Sama sekali tiada  kebergantungan-Nya kepada siapapun: tiada faqir – Dia melimpahkan Rahmat-Nya kepada hamba yang faqir.

 

Demikianlah, aku telah menyebutkan secara umum penjelasan-penjelasan qur’an. Pelajarilah: di dalamnya engkau akan melihat penjelasan yang lebih detil sebagai berikut:

 

214.5 “Kepengabdian” (‘ubuudiyyah) bermakna sebuah pertalian/ hubungan (nasab) kepada “pengabdian” (‘ubuuda); “pengabdian” adalah hal murni, tanpa gambaran apapun, baik tentang Tuhan maupun pengabdi sendiri. Kata tersebut tidak berakhiran –iyy.

 

214.6 Terendah dari yang rendah (andhall al-adhillaa’),  disematkan kepada sesuatu yang rendah  dimana ketinggian (iftikhaar) melampauinya.

 

Qs. 67 : 15

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [٦٧:١٥]

 

Dialah Yang menjadikan bumi itu sangat rendah (dzaluul = sangat rendah -> tafsir Ibn ‘Arabi) bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

 

Dzaluul = sangat rendah, merupakan bentuk kata dari fa’ul yang menunjukkan ketersangatan kerendahan; terdapat hal rendah di atasnya (di atas bumi), sehingga lebih berlebih-lebihan kerendahan yang ada pada mereka (hal yang berada di atas bumi).

 

214.7 Maqom kepengabdian merupakan sebuah maqom kerendahan dan kefaqiran (iftiqaar); bukan merupakan atribut Ilaahi (na’t Ilaahi). Abu Yazid al-Bistami menyatakan bahwa tiada sebab yang membuat ia memperoleh kedekatan (taqorrub) kepada Rabb. Ia melihat bahwa Ketuhanan (al-uluuhiyyah) masuk ke dalam setiap atribut tempat melekatnya kedekatan. Manakala ia menemukan dirinya tak berdaya, ia bermunajah, “Duhai, Rabb, melalui apa aku bisa dekat kepada-Mu?” Rabb menjawab munajahnya melalui para Sahabat-Nya (awliyaa), “Raihlah kedekatan dengan-Ku melalui dua hal yang tidak melekat pada-Ku, yaitu kerendahan dan kefaqiran.”

 

214.13 Makna dari “abdi” adalah “rendah” (dhaliil).

 

Qs. 51 : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

 

 

Ayat di atas memberikan  penjelasan kepada kita, memberikan perhatian lebih, bahwa tiada ciptaan-Nya yang memiliki sifat takabur kecuali dua makhluk (jin dan manusia) tersebut. Selain keduanya, setiapnya selalu beriman bahwa “tiada Rabb selain Allah” dan tiada sedikitpun ketakaburan .

 

Ibn ‘Abbas menyampaikan,

“Makna kalimat ‘melayaniku’ adalah ‘mengenalku’.”

 

Ibn ‘Abbas tidak menafsirkan kalimat di atas dalam konteks realitas yang bagaimana kemunculannya. Penjelasannya hanya: “untuk mendekati-Ku, merendahlah”; tetapi seseorang tiada  bisa ‘rendah’ hingga mengenal-Nya, sehingga kebutuhan pertama kita adalah mengenal-Nya, lalu mendapatkan bukti bahwa Dia Maha Kuasa (‘izza). Berikut Ibn ‘Abbas mengalihkan penjelasannya lebih jauh tentang ilmu “pengabdian”:

 

214.17 Tidak seorang pun menyadari (tahaqquq) maqom pengabdian sesempurna kesadaran para Utusan-Nya. Abdi sempurna (‘abd mahd), adalah mereka yang melepaskan (zaahid) kondisi-kondisi penyebab lepasnya mereka dari derajat kepengabdian. Rabb memberikan bukti bahwa mereka merupakan abdi-Nya dengan cara : mereka senantiasa memanggil-Nya dengan kesadaran dan selalu menyadari keter-Dia-an.

 

Contoh ayat memanggil-Nya:

 

Qs. 72 : 19

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [٧٢:١٩]

 

Dan bahwasanya tatkala abdi Allah (‘abdu Allaah) berdiri memanggil-Nya, hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Contoh ayat keter-Dia-an:

 

Qs. 17 : 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١]

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Dia membawanya pada malam hari sebagai seorang abdi.

 

214.20 Ketika ia diperintahkan untuk memperhatikan kondisinya pada saat Hari Kebangkitan nanti, ia mampu. Pernyataannya, “Aku adalah Rabb dari anak-anak Adam, tanpa rasa bangga.” Pernyataan senada, “Aku menunjukkan Ketuhananku tanpa ada tujuan berbangga kepadamu.” Tapi ada pernyataan lawannya, “Aku berkehendak untuk memerintahkanmu, dan itu merupakan kabar gembira bagimu, sejak awal mula engkau diperintah untuk mentaati-Ku.” “Tanpa keterusterangan”, “Aku tidak menyatakan hal tersebut dengan terus-terang; Aku tidak seperti itu,” seperti berbangga terhadap kesalahan seolah-olah benar.

 

214.23 Hubungan abdi dengan Rabb dalam kondisi pengabdian bagaikan sebuah bayangan dengan orang (yang menggerak-gerakkannya) di depan sebuah lampu: semakin dekat ia bergerak menuju lampu, semakin besar bayangan; tiada kedekatan dengan Rabb melalui lebih dengan atribut kemakhlukan (akhass) mu, bukan atribut-Nya. Semakin menjauh engkau dari lampu, semakin kecil bayangan; tiada engkau bergerak jauh dari Rabb melainkan dengan kau tinggalkan atribut-atribut kemakhlukanmu demi untuk menjadi perkasa (al-‘aziiz) dan mulia (al-kariim). Engkau menghendaki Atribut-atribut yang hanya layak dikenakan-Nya.

 

Qs. 40 : 35

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ [٤٠:٣٥]

 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (aamanu). Demikianlah Allah mengunci mati qalb orang yang sombong (mutakabbiir) dan sewenang-wenang.

Qs. 44 : 49

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [٤٤:٤٩]

 

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa (al-‘aziiz) lagi mulia (al-kariim).

 

Atribut Rabb yang hanya layak dimiliki oleh-Nya, yaitu: Takabbur, al-‘Aziiz dan al-Kariim.

 

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

“Aku mencari perlindungan di Dalam-Mu dari Diri-Mu Sendiri.”

 

214.26 Maqom pengabdian tidak diberikan kepadamu dengan atribut yang secara eksklusif dan semata-mata hanya milik-Nya dan tiada kau dibagi dari yang menjadi semata milik-Nya – tanpa sebenar mengetahui  kepemilikan maqom tersebut. Tetapi , Rasa (dzawq) kepemilikan itu jarang; saat ketika engkau menyadari dan berdiri teguh di dalam atribut-atribut khusus  (al-wasf al-akhass) dirimu, dan saat engkau menyerap Rabb melalui atribut-atributmu.  Dia menghadapimu (maqaabala) hanya dengan Atribut-atribut khusus-Nya, yang tak boleh engkau miliki. Namun manakala engkau datang dengan atribut-atribut-Nya yang boleh, terlebih khusus untukmu, maka Dia muncul kepada-Mu dengan atribut-atribut-Nya yang sama; sehingga kenallah engkau dengan rahasia akan Hubungan-Nya (nisbah) denganmu  melalui hubunganmu dengan-Nya. Sungguh pengetahuan menakjubkan; kau pun akan menemukan segelintir mereka yang menemukan-Nya. Ya, tergantung kepadamu, terbanyak atribut khusus mana yang melekat kepadamu. Mengetahui atributmu dan menyadari maqom ketakaburan (juga rasa ingin perkasa dan mulia), merupakan jalan yang akan membimbingmu kepada maqom kepengabdian.

 

214.31 Pada maqom pengabdian, kau tidak akan mengenal ilmu-ilmu tempat kau melaksanakan pengabdianmu, yang, di dalamnya engkau berlepas dari penggambaran tentang-Nya dan untuk memun culkan wujuud. Merupakan maqom yang teramat langka, dimana  wujuud harus hidup, muncul dalam kemungkinannya tanpa penggambaran apapun, karena tidak dapat dipisahkan (bi’l-dhaat) “kebutuhan melalui Yang Lain” (waajib bi’l ghayr). Hal itu yang menjadikan seseorang selalu waspada dan siaga pada maqom ini, merupakan bukti bahwa, di dalam lokus manifestasi (mahzar), Sang Mannifes (al-Zaahir) digambarkan oleh atribut-atribut sang abdi,  yang dengannya Sang Manifest menjadi diwarnai oleh realitas dari lokus manifestasi, apapun hal itu. Tetapi Sang Manifes tidak menjejakkan kemurniannya kepada kepengabdian, karena tiada apa-apa yang lebih rendah daripada akhirnya, dan karena menjejaki kemurniannya kepada sesuatu yang lebih rendah derajatnya. Tetapi Sang Manifes hanya menjejaki kemurnian-Nya kepada sesuatu yang tergambarkan, sejak akibat (athar) menyadari bahwa entitas dari lokus manifestasi bukanlah apa-apa dibandingkan Sang Manifes itu Sendiri.

 

“Tiada Tujuan selain Rabb. “

 

Sebab itulah, maka “pengabdian” tidak memiliki –iyy dari penggambaran. Dikatakan, “Seorang manusia antara kepengabdian dan pengabdian,” hakikatnya manifest, tapi gambarannya tidak diketahui, sehingga ia tidak tergambar, sehingga tiada “untuk menjadi-dan-menjadi”, Jadi, ia adalah seorang abdi/ bukan abdi (‘abd laa ‘adb).

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sumber:

The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.