Mei 2011


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Al-Ghuruur… (Tertipu..)  – Hatim Al-Asham

Hatim Al-Asham berkata,

“1. Jangan engkau terperdaya oleh tempat yang baik, karena tidak ada tempat yang terbaik selain surga. Dan Nabi Adam AS telah mendapatkan di dalam surga apa yang telah ia dapatkan (buah kuldi, yang membuatnya bersama Hawa diturunkan ke bumi).

2. Dan engkau jangan terperdaya dengan banyak ibadah, sesungguhnya iblis sesudah lama ia beribadah maka ia dapatkan apa yang telah ia dapatkan (yaitu dijauhkan dari الله تعالى).

3. Dan jangan engkau terperdaya oleh banyak ilmu, sesungguhnya Bal’am (1) mengetahui dengan baik Al-Asmaaul Husna (nama-nama الله Yang Maha Agung), maka perhatikanlah apa yang telah ia dapatkan (mati dalam kekufuran).

4. Dan janganlah engkau terperdaya dengan melihat orang-orang salih.  Tiada seorangpun yang lebih besar tingkatannya di sisi الله selain Nabi Muhammad SAW yang terpilih, dan tidak dapat diambil manfaat oleh keluarganya dan musuhnya dengan menemuinya (diantara keluarga seperti abu Jahal dan Abu Lahab, meskipun mereka bertemu dan melihat رسول الله SAW akan tetapi mereka tidak dapat mengambil manfaat / beriman kepada رسول الله SAW).

Keterangan:

(1) Bal’am bin Baura adalah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah2nya ia telah mencapai posisi tinggi dan mengenal Asma Allah yang Agung dan doa2nyapun selalu dikabulkan. Ketika Musa as. diutus sebagai Nabi, ia terjangkiti rasa sombong dan iri. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan2nya sendiri. Dan dia mencari pendukung kepada Fir’aun.

Copas dari statusnya Mbak Anita Rini, yang di copas ke Notes http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150194733082300#!/note.php?note_id=10150194733082300&notif_t=like

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Apa yang menahan kita untuk tidak ikut menari seperti partikel-partikel debu?

– Jalaluddin Rumi (The Music and the Silence of the Heart)

Mengapa jiwa tidak terbang ketika ia mendengar panggilan?

Mengapa seekor ikan, yang terdampar di pantai, tetapi dekat dengan air, tidak bergerak kembali masuk ke laut?

Apa yang menahan kita untuk tidak ikut menari seperti partikel-partikel debu?

Lihat gerakan-gerakan lembut mereka dalam sinar matahari.

Kita keluar dari sarang-sarang dengan kepakan sayap terbentang. Sebelumnya sayap tidak terangkat.

Kita terus mengumpulkan batu-batu dan memecahkan tembikar seperti anak-anak kecil yang membohongi pedagang.

Kita harus merobek-robek karung kebiasaan kita dan mengeluarkan kepala kita.

Lihatlah sekeliling. Tingkalkan masa kanak-kanakmu.

Ulurkan tangan kananmu dan ambil buku ini. Tapi, tahukah engkau mana kanan dan mana kiri?

Sebuah suara berbicara untuk memberikan penjelasan kepadamu. Bergerak menuju saat-saat kematianmu.

Periksa apa yang sebenar menjadi keinginanmu.

Sekarang  dirimu diperintah oleh panggilan dari dalammu sendiri.

Engkaulah raja. Ungkapkan pertanyaanmu, dan harapkan keindahan sebuah jawaban.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Tukang Jagal dan Dombanya – Jalaluddin Rumi ( (The Music and The Silence of The Heart)

Janganlah berputus asa ketika kekasih mengusirmu jauh-jauh.

Hari ini penolakan, barangkali besok berganti panggilan.

Jika pintu menutup, janganlah pergi jauh.

Sabarlah, bahkan jika tampak tiada pintu yang terbuka.

Tiada yang mengetahui jalan selain si empunya jalan-jalan rahasia.

Bukankah seorang tukang jagal yang membunuh domba tidak pernah meletakkan tubuhnya sembarangan?

Ia membungkuk, mendekati domba ketika menjagalnya.

Hidup domba pun berganti menjadi kehidupan tukang jagal.

Maksudnya:  betapa besar kemurahan hati yang terdapat di dalam pembunuhan yang dilakukan oleh kekasih.

Kerajaan Sulaiman berubah menjadi seekor semut.

Dunia-dunia menjadi satu di hati.

Aku berjalan ke mana-mana  dan tidak menemukan ada yang mirip seperti kawan.

Apakah kau menemukannya?

Kediaman ini memberikan sebuah rasa;

Apapun anggur yang kawan sediakan, ia akan datang ketika tiada lagi bahasa.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Aku di Sini Bukan untuk Walnut – Jalaluddin Rumi (the Book of Love)

Para filsuf berkata,

“Kami suka musik karena ia mirip suara-suara bulat penyatuan.

Sebelumnya kami merupakan bagian dari sebuah harmoni, sehingga saat-saat treble dan bass dibunyikan membawa ingatan kami kepadanya.

Tapi bagaimana hal itu dapat terjadi di dalam tubuh padat yang penuh dengan lupa, keraguan, dan duka? Hanya akan seperti air yang mengalir dalam tubuh kita. Memang akan menjadi lebih asam dan lebih pahit, tapi tetap sebagai urin yang membendung kualitas air.

Itu akan memadamkan api!

Jadi, ada musik itu yang mengalir melalui tubuh-tubuh kita yang akan mencari-cari kegelisahan jiwa.

Mendengar suara, kita mengumpulkan kekuatan. Cinta menyala dengan melodi. Kepada pecinta, musik memberikan ketenangan dan menyediakan bentuk imajinasi. Musik bernafas pada api diri, dan membuat kita menjadi lebih peka.

Genangan air ini sungguh-sungguh dalam.

Seorang manusia haus memanjat sebuah pohon walnut untuk ke kolam renang dan melemparkan satu persatu walnut ke air. Begitu seksama, dia mendengarkan suara yang berdentum dan mengamati balon-balon yang muncul dari dentuman itu.

Seorang manusia yang lebih rasional berkata,

“Kau akan menyesal melakukan ini. Begitu jauh kau dari air tempat walnut-walnut kau lemparkan. Begitu kau turun, air akan membawa mereka jauh.”

Seorang filsuf menjawab, “Aku di sini bukan untuk walnut, aku menginginkan musik yang ditimbulkan oleh walnut yang kulemparkan ke dalam air.”

The Book of Love oleh Jalaluddin Rumi. Terjemahan ke Inggris oleh Coleman Barks.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sekumpulan Nyamuk – 1 : 200 – 201 oleh Bahauddin, Ayah dari Jalaluddin Rumi.

Aku usai membaca awal sebuah surat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Membuatku ingin menangisi seorang Turkis yang melewati sepanjang harinya dengan melakukan pekerjaan sambil marah-marah.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

Bodoh, laki-laki malam yang tidak memiliki kesadaran,

pemabuk, dan tidak mengikatkan dirinya dengan Tuhan Pencipta cahaya.

Aku takut nantinya kecerobohan muncul dan menggoyangnya.

Dalam samudra cahaya subuh, barangkali kita akan bertemu seekor buaya

Atau seekor anjing laut yang seramah anjing rumahan.

Barangkali kita akan menemukan sebutir mutiara atau cangkang kerang tanpa isi.

Sebagaimana hari-hari dibangun dan terbagi-bagi,

datangnya akibat karena adanya sebab.

Seseorang bertanya, “Mengapa Tuhan menyebabkan jalan yang satu adalah jalan keberhasilan, namun sebaliknya?”

Kujawab, “Kita tidak tahu atau tidak dapat mencampuri urusan itu. Kita hanya tahu bahwa ada sebuah jalan yang selalu kita bisa tempuh, yaitu “’Alhamdulillah’. Jalan itu adalah perpanjangan dari apa-apa yang kita rencanakan. Semua kejadian dan kehendak akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang gembala membiarkan sekumpulan ternaknya menyebar merumput dan menjelang malam digiring semuanya ke kandang. Sebagaimana sekawanan nyamuk tidak memilih darah yang akan dihisapnya dan sibuk kembali ke sarangnya di air, jadi engkau dan aku juga sudah ditetapkan untuk dikumpulkan pada al-kiamat (Qs. 4 : 87).”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

THE DROWNED BOOK ECSTATIC AND

EARTHY REFLECTIONS OF BAHAUDDIN,

THE FATHER OF RUMI

Translated into english by COLEMAN BARKS and JOHN MOYNE.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sekumpulan Nyamuk – 1 : 200 – 201 oleh Bahauddin, Ayah dari Jalaluddin Rumi.

<Photo 1>

Aku usai membaca awal sebuah surat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Membuatku ingin menangisi seorang Turkis yang melewati sepanjang harinya dengan melakukan pekerjaan sambil marah-marah.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

Bodoh, laki-laki malam yang tidak memiliki kesadaran,

pemabuk, dan tidak mengikatkan dirinya dengan Tuhan Pencipta cahaya.

Aku takut nantinya kecerobohan muncul dan menggoyangnya.

Dalam samudra cahaya subuh, barangkali kita akan bertemu seekor buaya

Atau seekor anjing laut yang seramah anjing rumahan.

Barangkali kita akan menemukan sebutir mutiara atau cangkang kerang tanpa isi.

Sebagaimana hari-hari dibangun dan terbagi-bagi,

datangnya akibat karena adanya sebab.

Seseorang bertanya, “Mengapa Tuhan menyebabkan jalan yang satu adalah jalan keberhasilan, namun sebaliknya?”

Kujawab, “Kita tidak tahu atau tidak dapat mencampuri urusan itu. Kita hanya tahu bahwa ada sebuah jalan yang selalu kita bisa tempuh, yaitu “’Alhamdulillah’. Jalan itu adalah perpanjangan dari apa-apa yang kita rencanakan. Semua kejadian dan kehendak akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang gembala membiarkan sekumpulan ternaknya menyebar merumput dan menjelang malam digiring semuanya ke kandang. Sebagaimana sekawanan nyamuk tidak memilih darah yang akan dihisapnya dan sibuk kembali ke sarangnya di air, jadi engkau dan aku juga sudah ditetapkan untuk dikumpulkan pada al-kiamat (Qs. 4 : 87).”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

THE DROWNED BOOK ECSTATIC AND EARTHY REFLECTIONS OF BAHAUDDIN,

THE FATHER OF RUMI

Translated into english by COLEMAN BARKS and JOHN MOYNE.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sunyi di Antara Kilat – Jalaluddin Rumi (the Music and the Silence of the Heart)


Ketika seekor singa ingin meminum darah kami, kami biarkan saja.

Setiap saat kami menawarkan satu jiwa baru.

Seorang datang untuk mengumpulkan sorban dan sepatu.

Sunyi  di antara kilat,

bergantunglah kepada Penyebabnya.

Jalan yang kulihat begitu rapuh,

dan ia sebagai jaminan keabadian.

Seekor ular menggelandang mencari sebuah samudra.

Apa yang akan dilakukannya dengan samudra itu?

Jika untuk menebus dosa engkau memeras anggur, minumlah perasanmu.

Kau bayangkan bahwa para sufi tua

memiliki batu endapan hitam dalam cangkir-cangkir mereka.

Tidak masalah apapun yang kau pikirkan.

Bunga tidak tersenyum

kepada cabang yang mengagumkan.

Syams Tabris bersinar seperti matahari. Sekarang.

Apakah yang sebenar menjadi tujuan dari menghitung bintang-bintang?

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Laman Berikutnya »