بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sekumpulan Nyamuk – 1 : 200 – 201 oleh Bahauddin, Ayah dari Jalaluddin Rumi.

Aku usai membaca awal sebuah surat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Membuatku ingin menangisi seorang Turkis yang melewati sepanjang harinya dengan melakukan pekerjaan sambil marah-marah.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

Bodoh, laki-laki malam yang tidak memiliki kesadaran,

pemabuk, dan tidak mengikatkan dirinya dengan Tuhan Pencipta cahaya.

Aku takut nantinya kecerobohan muncul dan menggoyangnya.

Dalam samudra cahaya subuh, barangkali kita akan bertemu seekor buaya

Atau seekor anjing laut yang seramah anjing rumahan.

Barangkali kita akan menemukan sebutir mutiara atau cangkang kerang tanpa isi.

Sebagaimana hari-hari dibangun dan terbagi-bagi,

datangnya akibat karena adanya sebab.

Seseorang bertanya, “Mengapa Tuhan menyebabkan jalan yang satu adalah jalan keberhasilan, namun sebaliknya?”

Kujawab, “Kita tidak tahu atau tidak dapat mencampuri urusan itu. Kita hanya tahu bahwa ada sebuah jalan yang selalu kita bisa tempuh, yaitu “’Alhamdulillah’. Jalan itu adalah perpanjangan dari apa-apa yang kita rencanakan. Semua kejadian dan kehendak akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang gembala membiarkan sekumpulan ternaknya menyebar merumput dan menjelang malam digiring semuanya ke kandang. Sebagaimana sekawanan nyamuk tidak memilih darah yang akan dihisapnya dan sibuk kembali ke sarangnya di air, jadi engkau dan aku juga sudah ditetapkan untuk dikumpulkan pada al-kiamat (Qs. 4 : 87).”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

THE DROWNED BOOK ECSTATIC AND

EARTHY REFLECTIONS OF BAHAUDDIN,

THE FATHER OF RUMI

Translated into english by COLEMAN BARKS and JOHN MOYNE.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.