Hikmah Pribadi


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

kucoba untuk meletakkan kepercayaan kepada-Mu,

mencoba mengikuti hati dengan mempelajari alirannya;

seberapa jauh ia bisa dipercaya untuk mempercayai-Mu?

kucoba menepis gurat kekhawatiran yang sesedikit apapun,

mencoba meletakkan kepercayaan kepada-Mu

tanpa sedikit keraguan;

mencari-Mu…

menemukan-Mu…

Adakah Engkau?

sebenar Adakah Engkau?

Adakah Engkau?

bagaimana aku bisa mempercayai-Mu dengan penuh

jika tak berani aku melepaskan ketakutan yang walau hanya sedikit,

jika tak berani melepaskan sandaran lahiriyyah?

Kau, Yang sedang di manapun,

apakah yang akan Engkau buktikan

jika aku sedang berusaha untuk sebenar mempercayai-Mu,

sebenar mempercayai-Mu…

melepaskan selain-Mu?

akankah Engkau Memang Ada?

semua yang Engkau berikan,

dan yang tak Engkau berikan,

setelah sekian usiaku,

masa tidak mampu membuat aku berserah diri penuh kepada-Mu?

maluku di mana?

tak tahu maluku di mana?

saat terbaik,

adalah kesempatan yang begitu berharga,

dan harus dipergunakan dengan begitu penuh kehormatan.

kehormatan itu adalah ketika Engkau Ada.

tak akan kujual dengan remeh temeh memalukan.

maafkanlah aku, ya, Allah,

dan mohon Pertolongan-Mu.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Jum’at, 24 September 2010,  pukul 15 an

Bismillaahirrahmaaniirahiim.

Assalaamu’alaykum wr.wb.

Melalui Mereka

Begitu memasuki ruang check in Bandara Abu Dhabi, mataku langsung menangkap begitu banyak sosok wanita berkulit coklat dengan postur tubuh sedang. Banyak dari mereka yang menutup kepalanya, dengan jilbab atau selendang. Sebagian besar dari mereka asyik bercengkrama dengan temannya, sesekali diselingi dengan tawa dan senyum. Bahasanya aku kenal. Ada juga yang cuma diam memandangi sekeliling. Ada juga yang lebih tertarik memandangi orang-orang yang lewat di depannya.

Indonesisch, bathinku. Senangnya melihat begitu banyak saudara seibu pertiwi. Maksud hati ingin sekali duduk bareng mereka, ngobrol apa saja. Ngobrol tentang diri mereka. Ngobrol tentang keluarga mereka. Ngobrol tentang pekerjaan mereka. Ngobrol tentang kehidupan mereka. Namun hawa nafsuku berkata, “Apa mau nanti dianggap sebagai kelompok mereka?” Kesombongan tidak perlu memaksaku untuk menjauhi mereka. Kesombongan hanya tinggal mengingatkan sambil berbisik saja, maka aku sudah takluk kepadanya. Kesombongan merenggut diriku, mengambil diriku tanpa susah payah. Ia sudah mendarah daging. Astaghfirullah al´adzhiim. Istighfar yang tidak ikhlas, buktinya aku tetap menjauhi mereka.

“Mbak Wiwik dah ngobrol apa saja dengan mereka? Apa mereka semua mau kembali ke Indonesia dan tidak kembali lagi ke sini?” tanya temanku, seorang peserta training komputer di Jerman yang baru saja selesai check in. Aku tersentak. Ngobrol? Boro-boro ngobrol, duduk bareng mereka saja aku tidak mau. Aku malu sekali. Duduk 2 jam di ruang tunggu ini tidak ngobrol apapun dengan mereka. Masa punya saudara tidak diajak ngobrol? Tidak ditemani? Keterlaluan sekali diriku.

“Udah tadi,” jawabku, “Tapi ngobrol yang lain. Mereka bilang pesawat telat sampai jam 5, dan mereka dapat makanan. Tapi mereka tidak menginginkan makanan. Yang mereka inginkan adalah pesawat segera berangkat.” Duh. Itu bukan ngobrol. Itu cuma sekedar info dari mereka. Cuma ada informasi dari sepihak, aku tidak berbicara apa-apa. Tuhan, ampuni aku. Perbaiki kesalahanku, Tuhan.

Dua orang dari mereka pindah tempat duduk, beralih ke barisan belakang tempat dudukku. Seorangnya, dia yang memberiku info tadi. Tekadku, „Baiklah, Bismillah, aku akan mencoba meruntuhkan kesombonganku dengan ngobrol bersama mereka.“

„Dari mana, Mbak?“ tanyaku.

„Magelang,“ tersenyum Dia menjawab. Ramah sekali. Aku suka.

„Wong Jowo, tho. Aku juga orang Jawa, tapi gak bisa Bahasa Jawa. Jadi jangan ajak aku ngomong jawa, ya.“

Dia tertawa, „Kok ndak bisa bahasa jawa, Mbak?“

„Aku lahir di Palembang, dibesarkan di Pekanbaru. Orang tuaku, satunya Jawa to´, satunya lagi Jawa-Sunda. Tapi keduanya gak pernah ngajak ngomong anaknya pake Bahasa Jawa. Lalu aku di Bandung sejak 1995.”

“Ooh, jadi begitu, ya, Mbak.”

“Iya. Hmm … pulang abis, Mbak? Atau balik lagi ke sini?“

“Ndak balik lagi. Pulang aja. Kerja lebih enak di Arab Saudi daripada di sini. Nanti aku coba ngelamar ke Arab Saudi aja.”

“Begitu, ya? Kenapa enaknya di Arab Saudi?”

„Karena uang gaji kalau belum setahun kerja gak dipotong. Kalau di sini, dipotong 2 bulan. Aku, ya, Mbak, juga capek kerja di sini, 24 jam. Maunya aku istirahat jam 10 malam. Tapi ndak, tuh. Aku lagi bobo suka dibangunin cuma untuk mbuatin kopi. Ndak kuat aku, Mbak. Aku juga kan butuh istirahat.“ Dia berkata, tapi sepertinya tanpa kesal. Tanpa luka. Karena kulihat senyum tetap saja tersungging di bibirnya.

„Iya, setiap kita memang butuh istirahat.“ Aku mencoba berempati. „Sudah berapa lama Mbak kerja di sini?“

„Tujuh bulan.“

Hmm, 7 bulan dengan kerja rodi 24 jam seperti itu tabah juga … kalau aku mungkin sudah nangis berderaikan darah. Jangan-jangan malah aku mendatangi polisi demi menuntut hakku, „Tolong aku, aku telah dizalimi. Dipekerjakan dengan sewenang-wenangnya.“

***

Dari kelompok barisan kursi samping, seorang Petugas kebersihan datang, lalu serta merta mengusir mereka dengan kasar, “Awas! Mau nyapu dan ngepel!“ serunya keras, menggunakan Bahasa Arab, „Pindah sana duduknya!“ sambil langsung menyapu lantai tempat duduk mereka, padahal mereka masih duduk di sana. Aku tercenung. Aku, keluargaku, dan 2 orang temanku, yang sedari tadi berada di sini, tidak pernah disuruh pindah seperti mereka, padahal petugas kebersihan membersihkan barisan tempat duduk di belakang kami.

Aku lihat mereka yang diusir itu tetap mengenakan wajah ceria. Senyum mereka sama saja dengan senyum ketika mereka asyik bercengkrama dengan teman mereka. Kalau aku jadi mereka, aku yakin aku akan bersungut-sungut sambil ngomel, „Apa gak bisa menegur dengan lebih sopan, Mas?“

***

Akhirnya, waktu menunggu 4 jam segera lunas. Petugas bandara berdiri di mejanya untuk memeriksa surat-surat keberangkatan seperti paspor dan tiket. Antrian mereka, para wanita yang selalu tersenyum itu, panjang sekali. Dalam hati aku mengeluh, „Waduh! Kalau begini mau sampai berapa jam, nih, ngantrinya? Mana aku ngendong Rahman dari tadi. Berat, letih, dan ngantuk, euy. Aku … “

Belum habis keluhku, tiba-tiba barisan panjang dari depanku dengan ´gagah´nya berjalan mendahului mereka yang sudah ngantri awal. Nyerobot, istilahnya. Aku kaget. Kok bisa-bisanya nyerobot begitu, sih? Mengingat iklan antrian di TV Indonesia, bebek aja katanya suka ngantri.

Aku terdiam. Hanya diam. Aku sudah cukup banyak belajar budaya ngantri selama di Jerman. Di Jerman, sepertinya semuanya tertib dan teratur. Semua orang saling menghargai dan menghormati, siapapun dan apapun pekerjaan orang itu.

„Kita duluan juga, yuk,“ tiba-tiba ajak temanku. Eit! Bukannya dia sudah 4 tahun belajar di Jerman?

„Jangan, ah. Lebih baik mengantri saja. Malu. Kita kan sudah belajar ngantri cukup lama di Jerman.“

Kalimat di atas tidak bertahan lama, karena, „Kita manfaatin aja Rahman, yuk. Bilang, ´Hei, bawa bayi, nih. Kasian …´ Gimana?“ tanyaku. Maksudku sih bercanda saja, tapi ditimpali serius oleh temanku. Aa sendiri tentu saja tidak setuju. Dia memang salik yang sadar sedang Berjalan.

„Iya, mending begitu. Tapi tampaknya gak perlu bawa-bawa nama bayi juga, kayaknya kita gak pa-pa ngedahuluin, deh. Liat aja, tuh, di sana, numpuk yang mendahului.“

Benar juga. Tapi aku segera meralat keinginanku, „Gak usah aja, deh. Kasian yang udah ngantri. Kasian mereka. Mereka sudah lebih lama nunggu di sini daripada kita, lho, dari jam 7 malam.“

„Udahlah. Gak pa-pa … kasian Rahman,“ katanya.

„Ah, tidak, „ bathinku. Rahman tidak bermasalah dengan itu. Lihat saja, ia masih asyik tidur digendonganku. Yang bermasalah itu ya kami yang mengaku diri sudah dewasa ini.

Kami nyerobot juga akhirnya. Aku maluuuuuu sekali …. gak berani aku menatap setiap wajah wanita yang memandang kami dari depan. Duh, Gusti. Aa sampai mengucapkan, „Maaf,“ berulangkali dengan pelan.

***

Paspor dan tiket kami tidak diperiksa sama sekali. Kami bisa lewat begitu saja. Sudahlah menyerobot, kami bisa masuk tanpa harus diperiksa-periksa segala. Petugas itu membiarkan kami ´slonong boy´. Betapa kagetnya aku. Kenapa bisa begini? Nyatakah kejadian ini? Tidakkah aku sedang bermimpi? Apakah ini adalah Uni Emirat Arab? Manakah Islamnya? Kenapa kami tidak diperiksa sama sekali? Bagaimana kalau kami adalah para gerombolan siberat?

Sementara para wanita itu …. — aku pandang wajah-wajah, masih dengan senyum mereka, masih antri — satu persatu diperiksa dengan ketat paspor dan tiketnya. Lama.

Menyaksikannya, aku lemas. Lemas sekali. Aku mau menangis.

Gila!!! Aku benci bandara ini. Benci!

„Aku ingin memeluk kalian,“ lirihku pelan, „tidak,“ ralatku, „kalian tidak perlu dipeluk kalau tujuanku cuma ingin menenangkan kalian. Kulihat wajah kalian tetap ceria, walau telah berulang kali mendapatkan perlakuan yang kurang pantas dari orang lain. Akulah yang perlu ditenangkan, dipeluk-peluk jika aku diperlakukan seperti itu.

***

Di ruang tunggu, sedang asyik-asyiknya aku mencari tempat duduk, seorang petugas menggebrak mejanya dengan keras. Aku kaget. Petugas itu memukul mejanya sebagai tanda agar sekelompok wanita itu diam. Kudengar mereka memang ribut sekali, tapi kan bisa memberitahunya dengan cara yang sopan. Jangan dengan cara menggebrak meja. Tapi lihatlah, lagi-lagi para wanita itu tetap hanya tersenyum dengan terdiamnya.

„Kerja di mana, Mbak?“ tanyaku pada seorang wanita yang duduk di sampingku.

„Kuwait.“

„Sekarang pulang sementara, ya? Maksud saya sekarang Mbak lagi libur kerjanya.“

„Ndak. Saya mau pulang beneran.“

„Kok? Kenapa?“

„Dari dulu juga saya ndak betah kerja di sini. Dua bulan kerja saya kabur, tapi saya ketangkep. Saya gak diizinkan untuk berhenti kerja, tapi Alhamdulillah sekarang setelah 1 tahun 2 bulan saya boleh berhenti.”

“Waah .. hebat, dong, bisa bertahan selama itu.”

“Ndak tahan saya sebenarnya. Saya sering kabur, tapi ketangkep terus. Ya udah, saya ndak bisa apa-apa. Anak majikan saya 10 orang, udah itu pekerjaan saya berat-berat. Tiap Jumat saya nyuci mobil.”

“Gak ada pekerja laki-laki?”

“Ngirit dia. Jadinya saya yang ngerjain semua pekerjaan. Capek saya. Saya mulai kerja jam 6 pagi, selesai jam 12 malam.”

“Tapi Mbak kan kerja demi keluarga?“

„Iya, sih. Alhamdulillah dapat uang banyak. Tapi saya ndak mau lagi kerja di sini. Saya mau kerja di Indonesia aja,“ sambil tersenyum memberikan penjelasan kepadaku. Nada bicaranya tidak kesal. Bagaimana mungkin ia bisa menceritakan ´penderitaan´nya dengan tetap tanpa kesal, lalu dengan iringan senyum pula? Aku cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalaku (dalam bayangan) karena kagum.

„Iya, gak pa-pa.“

***

Gak taulah aku … kenapa mereka bisa selalu memperlihatkan senyumnya dalam situasi dan kondisi apapun? Sementara aku … disapa orang dengan sangat sopan saja belum tentu bisa selalu tersenyum.

Wassalaamu’alaykum wrwb.
dwi afrianti

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Dengan selalu mengendalikan marah, maka timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Wahai, adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?”
– Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi –

Lama aku mengagumi salah satu karakter penuh cinta Rasulullah Muhammad saw. Bayangkan! Manusia seperti bagaimana beliau saw.? Wajah beliau dilempari oleh kotoran, beliau hanya tersenyum dan sama sekali tidak ada niat untuk membalas. Dimaki-maki oke, dihujat oke, tetap menunjukkan cinta kasihnya; dan malah mendoakan kebaikan bagi orang tersebut. Bagaimana perbandingan beliau dengan seseorang yang gampang sekali terkena ‘sentuhan’, bagai sumbu berminyak tersulut api, yang kobarannya lebih besar daripada sulutannya? Hanya air yang akan mampu memadamkan kobaran tersebut, perlahan.

Menurut Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, marah bagaikan tali kekang yang tadinya ada di atas kepala kita, lalu dibuang jauh-jauh sehingga selanjutnya begitu banyak keburukan keluar berhamburan. Isi kepala, adalah pikiran. Seseorang marah dikarenakan pikirannya memaknai ‘sesuatu’ yang membangkitkan kemarahannya. Kenapa ‘sesuatu’ dapat membangkitkan kemarahannya, itu dikarenakan menyakitkan bagi hawa nafsu yang letaknya di hati. Pikirannyalah yang membantu menyatakan, memaknai bahwa sesuatu itu menyakitkan. Jika pikiran baik, berpikiran positif, logis, tidak penuh dengan prasangka dan waham, maka hawa nafsu tidak akan berkutik. Karena itu carilah pengetahuan yang berhubungan dengan dirimu baik tentang syahwat, hawa nafsu, kelebihan dan kekurangan diri, bakat-bakat berikut sebab akibat dan penanggulangannya. Pengetahuan bagai tali kekang yang dikembalikan ke atas kepala. Pengetahuan itulah air yang akan membasuh kotoran diri.

Jikalau begitu, marah berhubungan dengan ego yang merupakan hasil interaksi antara pikiran dan hawa nafsu, sebagaimana Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi katakan. Ego terkait dengan arogansi diri, merasa diri penting dan benar. Padahal, bagi seorang pejalan, menguras dan menyikat bersih ego merupakan suatu keharusan jika ingin mati sebelum mati. Berarti, adalah suatu keniscayaan bahwa marah harus dikendalikan. Jika tidak mampu untuk tidak marah, maka berusahalah untuk tidak menunjukkan marah dengan cara menahan sekuat-kuatnya walau terasa menderita, berusahalah memaafkan, dan tetap memelihara silaturahim. Dari marah, banyak keburukan akan ke luar seperti mencaci maki, mendoakan atau mengharapkan keburukan bagi orang, menfitnah, bergunjing, dan terputusnya silaturahiim yang akan mengundang kemurkaan Allah. Al-Quran dan hadits Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa kita bahkan disuruh untuk memelihara silaturahiim dan menghubungkan kembali yang pernah terputus. Di dalam silaturahiim terhubung kesejatian diri satu sama lainnya, karena kita semua adalah ummatan wahidah (yang berasal dari kesatuan (wahid) kepingan bagian diri tiap orang). Tercerainya satu orang, akan menyamarkan kedirian kita; bagaimana melihat dengan jelas sedang sisi cermin yang lain tiada?

Qs. 4 : 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا [٤:١]

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Saya sering bertanya dan berpikir, “Mengapa seseorang bisa merasa layak marah kepada orang lain? Sesungguhnya tiada seorang pun yang layak memarahi seseorang, karena sungguh tidak seorang pun yang belum mencapai level sebenar ‘melihat’ Allah dapat dikatakan sedang berada dalam kebenaran ketika sedang marah. Tidak takutkah kita marah, menyalah-nyalahkan orang, dan mengatakan secara tegas bahwa kita benar dengan pelbagai alasan jadi berhak marah? Belum lagi nanti keluar penghakiman, sementara Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Tidak akan mati seseorang hingga ia berada dalam keadaan orang yang pernah dihakiminya.” Na’udzu billah min dzalik. Semoga Allah mengampuni dosa yang pernah kita lakukan, dan membantu kita untuk taubat dengan memperbaiki diri dan Allah menunjukkan kepada amal shaleh yang dapat membantu proses taubat kita. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.

Sekarang saya menyadari, dengan bercermin pada kaca besar Nafsul Wahidah kita, Rasulullah Muhammad saw. yang tidak pernah membalas orang-orang yang mendzaliminya. Sabda beliau saw., “Aku tidak diutus selain untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Betapa, akhlak mulia berasal dari kebersihan hati; senantiasa terjaga karena selalu merasakan Kehadiran Cinta Allah swt. Bagaimana mungkin hati yang dipenuhi Cinta Allah akan terdapat kobaran api kemarahan?

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dwi Afrianti Arifyanto.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

“Jikalau nanti Siti sudah menjadi ‘orang’, Siti gak akan minta bayaran, Pa. Gratis. Pengen punya yayasan sosial juga. Terserah apakah sekolah, panti jompo, panti asuhan, atau untuk anak-anak terlantar. Apapunlah yang tidak dimintai bayaran.” Suatu malam, Siti menyampaikan keinginan kepada ayahnya dalam suatu jamuan makan malam pada saat pulang kampung dalam rangka liburan kuliah.

Ayah, yang dipanggil “papa”, ringan menjawab, “Boleh, tapi kalau begitu Siti harus berusaha mencari suami yang kaya karena bagaimana Siti bisa membuat yayasan gratis atau bekerja tidak dibayar jika suaminya tidak kaya?”

Siti hanya tersenyum. Baginya, suami yang baik sudah cukup. Namun sebuah doa tentang sosok seorang suami yang diberikan oleh ibunya tak pernah lupa ia panjatkan kepada Tuhan, “Ya, Allah, berikan aku suami yang baik, pengasih dan penyayang, pintar, shaleh, kaya, berilmu, dekat kepada Engkau dan dekat kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan yang Engkau cintai. Amiin, ya, Rabbal ‘alamiin.” Sekarang ia suka ketawa, apa bedanya pintar dengan berilmu? Oh, pintar mah dominan akal luar, sementara berilmu udah main akal jiwa. Gitu kali, ya…

Setapak demi setapak Siti pun merintis ‘karir gratisnya’ di sebuah kota jauh dari orang tuanya. Mulai dari menghabiskan uang untuk diberikan kepada yang membutuhkan walau ia sendiri harus menyisihkan 5 hari dalam seminggu untuk berpuasa, walau harus berjalan kaki dalam keadaan puasa dan letih dari ujung ke pangkal demi seorang pengemis, walau harus membagi dua makan siang dengan malam, walau harus makan nasi hanya dengan kecap, walau harus makan nasi saja, walau harus makan dengan nasi dan lauk yang mungkin sudah tak cukup layak, walau jarang punya makanan di kos, walau banyak menahan keinginan makan ini-itu, walau pernah hanya bisa minum selama tiga hari tanpa makan apapun, walau harus bekerja dan terus bekerja hingga larut malam ke larut malam lagi – apapun yang halal demi berusaha mencukupi kehidupan; hingga masuk ke beberapa kegiatan tanpa bayaran. Ketika bekerja pun, dengan gaji di bawah umr, dijalaninya. Seringkali kekurangan, tapi tak pernah orang lain tahu karena ia tak pernah berkisah, meminta, ataupun berhutang kepada siapapun. Malu kepada Tuhan. Jika ia meminta kepada orang lain, seakan-akan tak mempercayai Tuhan. Dibiarkannya Tuhan bergerak dengan lembut… tanpa ia sendiri menanti apa yang akan terjadi. Senyum yang terpancar dari kebahagiaan di hati merupakan hadiah tak terkira dari Tuhan. Kehadiran Tuhan adalah kawannya.

Dilihat dari kondisi orang tua, bisa dibilang cukup mampu jika Siti minta tambahan kiriman uang perbulan, tapi tampaknya sama sekali tak pernah terpikirkan hal itu olehnya. Entah kenapa. Mungkin karena pengen tahu sejauhmana batas kekuatannya dalam bergantung kepada Tuhan.

Entah sejak kapan, ketika seringkali keinginan-keinginan atau lintasan hatinya terkabul langsung atau kapanpun. Hanya baru menginginkan makanan atau minuman tapi ditahan karena merasa tak semua keinginan harus dipenuhi, datanglah teman yang membawakan makanan dan minuman yang sesuai pas dengan keinginannya. Pernah menabung untuk bisa membeli hewan qurban, tapi beberapa hari menjelang qurban, uangnya pun dipinjam. Eh, gak tahunya ada yang tiba-tiba datang dua hari sebelum qurban mengembalikan pinjaman uang sebulan lalu yang tak dipikirkannya lagi. Alhamdulillah. Tapi memang ia tidak pernah menginginkan yang aneh-aneh. Keinginannya ya sederhana aja, kayak contoh yang tadi. Sekarang-sekarang bahkan baru sebatas niat untuk berbuat baik, Allah sudah memberikan hadiahnya. Namun bukannya tidak pernah kebingungan ketika uang sudah hampir habis. Dalam kondisi begini, biasanya keinginan menjadi lebih banyak ingin ini-itu tapi tiada daya. Ya, harus menahan keinginan dengan lebih kuat… (dalam keadaan sedang kecukupan juga sebenarnya). Pada suatu kehamilan, tak punya biaya untuk melahirkan di rumah sakit dengan bantuan dokter/ bidan bahkan seperempat atau di bawah itu. Adalah suatu rezeki/ hadiah juga ketika dimunculkan Allah keberanian untuk berani melahirkan di bidan klinik, kesehatan untuk bisa melahirkan di bidan, dan dipertemukan dengan bidan terpercaya.Dan lain-lain banyak sekali ‘hadiah’. Kemampuan mensyukuri tiap jenis ‘hadiah’ adalah hadiah itu sendiri.

Selain kepada manusia, kepada hewan pun ia senang memberi. Makan di manapun tak lupa ia membawa sisa-sisa tulang atau nasi untuk kucing peliharaannya. Dalam doa pun disertakan, “Tolong kasih hewan-hewan di luar sana makanan dan minuman yang cukup, Tuhan. Jaga mereka.” Doa yang polos, padahal ia tahu Tuhan Maha Cinta Kasih. Sampai-sampai ketika kuliah, kucingnya sering mengantarkannya ke sebrang jalan sampai naik angkot.

Awal menikah, ia diuji dengan kekikiran. Sulit sekali rasanya untuk memberi. Aneh. Ia yang dulu suka ngasih, tetapi sekarang menjadi begitu kikir. Apalagi jika suami memberi kepada keluarganya, ia akan sewot. Ada apa ini? Ia pun berusaha mencari tahu.

Mungkin ini (salah satu) jawabannya:
Hmm, banyak ibadah yang dulu sebelum menikah setelah menikah sudah tak lagi dilakukannya seperti shalat malam, shalat dhuha, bahkan shalat sunat rawatib, berpuasa sunat senin-kamis dan puasa dawud, berdzikir dan berdoa tiap usai shalat, dan berdzikir selalu setiap saat mengingati-Nya Sang Maha Baik Hati (hiks!), serta membaca Al-Qur’an. Keletihan hati dan pikiran yang melumpuhkan jiwa dan raga membuatnya malas beribadah. Kemalasan beribadah pun pada akhirnya semakin melumpuhkan jiwa dan raganya. Baru tersadar. “Wahai, Sang Pemilik diri, bangkitkan aku karena-Mu!”
Dan entah mulai kapan… perlahan Tuhan mengangkat kembali keterpurukannya dalam ibadah lahir (dan sekarang sedang berusaha untuk bangkit dan istiqomah)… dengan Rahmat-Nya yang tiada terkira… “Terima kasih, Tuhan, kehendaki dan izinkan hamba senantiasa menempuh perjalanan ini demi diri-Mu semata. Amiin, ya, Rabbal ‘alamiin. Aku tak punya apa-apa selain diri-Mu.”

Mungkin memang benar, shalat (dan ibadah lainnya?) mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar. Orang tak akan berbuat keji dan munkar jika hatinya senantiasa mengingati Tuhan dan secara otomatis senantiasa terhubung kepada Tuhan. Hati yang bersih penuh Cinta Kasih.

Setiap awal bulan, ia akan membagi-bagikan uang untuk orang-orang tertentu yang memang sudah dirutinkan. Jangan pikirkan pada bulan ini mendapatkan uang berapa, baru memberi. Pastikan (insya Allah) saja bahwa mereka selalu mendapatkan uang, tekadnya.

Sekarang, ketika makan, hatinya seringkali remuk redam. Bagaikan menelan bara api rasanya. Apalagi jika perut terasa penuh. Hanya Tuhan yang merasakan pedih sembilu tertusuk duri hatinya. Di sini ia bisa makan enak, sementara di luar banyak yang tak mampu makan walau hanya berkecukupan dari nasi atau mengumpulkan sisa-sisa sampah. Betapa zalim diri ini, tak tahu malu; menumpuk bangkai di dalam perut. Karena itu ia pun berniat untuk meng’hukumi’ tiap makanan yang dimakan dengan ‘pembayaran’ tertentu tergantung makanannya. Kelak pengumpulan uang itu akan diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan. Lebih banyak baru niat, karena masih belum jelas bagaimana mengkadar tiap makanan. Dan mungkin belum cukup dengan cara seperti itu, karena ia masih mempunyai tabungan untuk ‘masa depan’: rumah (yang uangnya semakin berkurang karena diambil terus), tabungan pendidikan anak-anak. Toh dulu ia berpikir, “Untuk apa punya rumah sendiri, toh hidup nanti hanya singgah sebentar untuk istirahat di dalam rumah. Selebihnya adalah bekerja di luar. Rumah sewa saja.” Tapi mungkin tidak bisa seperti itu banget, ya… (tentang ini Siti belum paham ilmunya).

Hm, tampaknya bagi Siti, memberi bukan lagi kewajiban tetapi sudah merupakan kebutuhan. Sudah menjadi bagian dari diri yang tak terpisahkan hingga ia pun disadarkan dari berbagai arah bahwa “apakah dengan selalu gampang memberi kepada orang lain adalah suatu kebaikan bagi diri dan orang tersebut?” Tuhan belum menjawabnya… namun semoga dengan adanya kebutuhan untuk senantiasa memberi, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya untuk mampu memberi. Amiin, ya, Rabbal ‘alamiin.

Semoga Allah semakin dekat kepada kita semua. Amiin, ya, Rabbal ‘alamiin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Seperti yang diceritakan Siti…