Kisah Para Nabi


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Bagian (1)

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=904580092#!/notes/dwi-afrianti-arifyanto/kisah-nabi-yunus-as1-tentang-azab-yang-dibatalkan-karena-kasih-sayang-nya-buku-d/421943427299

Abu Ja’far al-Baqir as. berkata, “Gunung-gunung itu adalah yang sekarang ini berada di wilayah Moushil, dan ia menjadi besi sampai hari kiamat. Kemudian ketika kaum Nabi Yunus as. melihat bahwasanya azab itu tealh dipalingkan dari m kea rah ereka, mereka turun dari puncak-puncak gunujg ke rumah mereka masing-masing bersama istri-istri, anak-anak, dan harta benda mereka seraya memuji Allah karena telah menghilangkan azab itu dari mereka. Keesokan hari, Kamis, Nabi Yunus as. dan Tanukha menuju kota yang mereka yakini telah binasa tersebut. Di sana mereka malah berjumpa dengan para tukang kayu, para penjaga kota, dan para penggembala dengan domba-domba mereka, dan keduanya melihat penduduk kota itu dalam keadaan tenang. Maka Nabi Yunus as. berkata kepada Tanukha, “Wahai, Tanukha, wahyu telah mendustakanku dan aku telah mendustai janjiku kepada kaumku, maka tiada lagi kemuliaan bagiku dan mereka tidak akan lagi memandangku setelah wahyu mendustakanku.”

Nabi Yunus as. pun pergi meninggalkan kaumnya keadaan marah karena Tuhannya. Dia lari kea rah laut dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir aka nada seorang dari kaumnya yang melihatnya lalu akan berkata kepadanya ‘seorang pendusta’.

Adapun Tanukha, ia pulang ke kota, lalu berjumpa dengan Raubil yang berkata kepadanya, “Wahai, Tanukha, manakah di antara pendapat yang lebih benar dan lebih patut diikuti: pendapatku atau pendapatmu?” Tanukha menjawab, “Pendapatmu, dan sesungguhnya kamu telah membeikan saran dengan pendapat orang-orang yang bijak dan orang-orang yang ‘alim. Sesungguhnya kemarin-kemarin aku masih berpandangan bahwasanya aku ini lebih utama daripada kamu karena kezuhudanku dan keutamaan ibadahku sampai kemudian jelas keutamaanmu karena ilmumu; dan apa yang telah diberikan Tuhanmu kepadamu berupa hikmah yang disertai dengan ketaqwaan adalah lebih utama daripada kezuhudan dan ibadah tanpa ‘ilm.”

Diriwayatkan oleh Abu Abdillah as., “Sesungguhnya Nabi Dawud as, pernah berkata, Wahai, Tuhanku, beritahukanlah kepadaku siapakah temanku di dalam surge dan padananku dalam kedudukanku?” Allah Tabaroka w  Ta’ala mewahyukan kepadanya as., “Sesungguhnya ia adalah Matta ayah Yunus.” Maka Nabi Dawud as. meminta izin kepada Allah untuk mengunjunginya dan Allah pun mengizinkannya. Nabi Dawud as. pergi bersama Nabi Sulaiman as. ke tempat Matta, dan mereka mendapati rumahnya terbuat dari pelepah pohon kurma.

Matta sedang pergi ke pasar, maka kepada orang yang mereka temui, mereka berdua bertanya ke mana Matta. Dijawab, “Carilah ia di antara penjual kayu bakar. Kami sedang menunggunya, dan sekarang ini ia akan datang. Keduanya pun duduk menunggu Matta.

Tidak lama, Matta datang. Di atas kepalanya terdapat seikat kayu bakar, maka orang-orang berdiri menghormati kedatangannya. Kemudian Matta melemparkan kayu bakar sambil mengucakan, “Alhamdulillah.” Kemudian tanyanya, “Siapakah yang akan membeli barang yang baik dengan barang yang baik?” Ia menawarnya satu dan menambah dengan lainnya sampai kemudian menjualnya pada sebagian mereka.

Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. mengucapkan salam kepada Matta, lalu Matta berkata kepada keduanya, “Marilah pergi bersama kami ke rumah.” Matta membeli makanan dengan apa yang ada padanya, kemudian menumbuk dan mengadoninya, lalu dimasaknya. Sambil menunggu masak, ia berbincang-bincang dengan Nabi Dawud as. dan Nabi Sulaiman as. Setelah roti masak, ia mengambil sesuap dari roti. Sebelum tiap suap, ia membaca “BIsmillaah”, dan setelah memakannya, ia mengucapkan “Alhamdulillaah”. Begitu seterusnya dengan kegiatan yang lain.

Ia pun bermunajah, “Wahai, Tuhanku, siapakah orang yang telah Engkau berikan ni’mat kepadanya, Engkau perhatian dengan sungguh-sungguh seperti Engkau telah perhatikan aku dengan sungguh-sungguh? Sungguh, Enggkau telah sehatkan penglihatanku, pendengaranku, dan badanku, dan Engkau telah berikan aku kekuatan sehingga aku dapat pergi ke pohon yang aku tidak menanamnya dan tidak pula aku perhatikan penjagaannya. Engkau jadikan pohon itu sebagai rezeki bagiku, dan Engkau kirimkan kepadaku orang yang membelinya, lalu aku membeli dengan harganya makanan yang aku tidak menanamnya. Engkau tundukkan bagiku api sehingga aku dapat memasaknya, dan Engkau jadikan aku bisa memakannya dengan selera yang dengannya aku menjadi kuat untuk melakukan ketaatan kepada-Mu, maka ‘Alhamdulillaah’.” Matta pun menangis.

Nabi Dawud as. berkata kepada Nabi Sulaiman as., “Wahai, Anakku, berdirilah, mari kita pulang. Sesungguhnya belum pernah aku melihat seorang hamba yang lebih bersyukur daripada Matta. Semoga Allah bersholawat bagi mereka berdua.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Iklan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diriwayatkan dalam Tafsir Ali bin Ibrahim (al-Qummi) dari Ibn Abi Umair bin Jamil, dia berkata:
Abu Abdillaah as berkata kepadaku: Allah tidaklah pernah membatalkan siksa (terhadap suatu kaum) kecuali terhadap kaum Nabi Yunus as. Nabi Yunus as. menyeru kaumnya untuk memeluk agama Islam, tetapi kaumnya itu menolak, maka Nabi Yunus as. bermaksud mendo’akan kebinasaan terhadap kaumnya. Tatkala itu, di dalam kaum Nabi Yunus as. terdapat dua orang laki-laki, satu ahli ibadah dan satunya lagi orang ‘alim.

Tanukha, ahli ibadah, menyarankan kepada Nabi Yunus as. agar mendo’akan kebinasaan terhadap kaumnya, sedangkan orang ‘alim mencegahnya untuk melakukan hal itu. Ia berkata, “Janganlah kamu mendo’akan kebinasaan terhadap mereka, karena sesungguhnya Allah akan mengabulkan do’amu, padahal Dia tidak suka kebinasaan akan hamba-hamba-Nya.” Akan tetapi, Nabi Yunus as. lebih menerima saran ahli ibadah. Maka Allah pun mewahyukan kepada Nabi Yunus as. bahwa Dia akan mendatangkan azab kepada mereka pada tahun ‘anu’.

Tatkala waktu kedatangan azab seudah dekat, Nabi Yunus as. keluar dari negeri itu bersama ahli ibadah, sementara orang ‘alim tetap tinggal di dalam negeri itu. Kemudian tatkala azab datang, Raubil, orang ‘alim berkata kepada kaum yang tinggal, “Wahai, Kaumku, berlindunglah kalian kepada Allah, mudah-mudahan Dia akan menyayangi kalian dan membatalkan azab itu dari kalian.” Mereka bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Dijawab oleh orang ‘alim, “Keluarlah kalian ke padang pasir, dan pisahkanlah antara kaum perempuan dan anak-anak, antara unta dan anak-anaknya, antara sapid an anak-anaknya, dan antara domba dan anak-anaknya. Kemudian hendaklah kalian menangis dan memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh.”

Mereka pun pergi ke padang pasir dan melakukan semua yang dikatakan oleh orang ‘alim. Mereka berteriak histeris dan menangis. Maka Allah mengasihani mereka dan memalingkan azab itu dari mereka, dan Dia mencerai-beraikan azab itu ke gunung-gunung. Pada hari itu, azab itu hanya turun di dekat mereka (tidak menimpa mereka). Nabi Yunus as. mulai melihat-lihat, bagaimana Allah membinasakan kaumnya itu. Nabi Yunus as. malah melihat para petani sedang bercocok tanam di tanah mereka, maka ia pun bertanya, “Apa yang telah terjadi pada kaum Yunus?”

Mereka menjawab, sedang mereka tidak lagi mengenali Nabi Yunus as. “Sesungguhnya Yunus telah mendo’akan kebinasaan terhadap mereka, maka Allah mengabulkan do’anya dan Dia menurunkan azab kepada mereka. Mereka berkumpul dan menangis serta memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah mengasihani mereka dan memalingkan azab itu dari mereka serta mencerai-beraikan azab itu di gunung-gunung. Dan sekarang ini mereka sedang mencari nabi Yunus as. untuk beriman kepadanya.”

Nabi Yunus pergi dalam keadaan marah hingga sampai di tepian laut. Kemudian ia melihat sebuah kapal yang telah bersiap-siap hendak berangkat, maka Nabi Yunus as. meminta mereka untuk mengangkutnya dan mereka pun mengangkutnya bersama mereka. Tatkala mereka telah sampai di tengah laut, Allah mengutus seekor ikan besar, lalu ikan itu menahan geraknya kapal. Nabi Yunus as. melihat ikan besar itu, maka ia pun menjadi ketakutan. Kemudian Nabi Yunus as. pergi ke belakang kapal, tetapi ikan besar it uterus berputar mengelilinginya dan membuka mulutnya. Maka orang-orang yang berada di dalam kalap keluar, dan berkata, “Di tengah-tengah kita ada seorang durhaka.” Kemudia mereka mengundi, maka keluarlah Nama Nabi Yunus as . dalam undian itu.

Qs. 37 : 141

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ [٣٧:١٤١]

“kemudian ia ikut berundi, lalu ia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.”

Mereka lalu mengeluarkan Nabi Yunus as. dan melemparkannya ke laut, maka ia pun ditelan ikan besar yang membawanya pergi ke dalam air.

Seorang Yahudi pernah bertanya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. tentang sebuah penjara yang membawa keliling penghuninga ke segenap penjuru bumi. Amirul Mukminin as. menjawab, “Wahai, Yahudi, penjara yang membawa keliling penghuninya ke segenap
Penjuru bumi adalah ikan besar yang memenjarakan Nabi Yunus as. di dalam perutnya. Ikan itu masuk ke dalam Laut Qalzam, kemudian pergi ke laut Mesir, kemudian masuk ke laut Thabristan, kemudian masuk ke Dajlah al-‘Aura’ (Nama dari Dajlah Bashrah).

Tatkala Nabi Yunus as. berada dalam perut ikan itu, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap.

Qs. 21 : 87

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ [٢١:٨٧]

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’.”

Maka Allah memperkenankan do’anya dan memerintahkan ikan besar itu untuk mengeluarkannya ke pantai. Tatkala itu, kulit dan daging Nabi Yunus as. telah berubah, lalu Allah menumbuhkan pohon labu, maka pohon labu itu menaunginya dari panas mataharo. Maka Nabi Yunus as. pun menjadi tenang. Kemudian Allah memerintahkan pohon itu untuk menyingkir darinya, maka pohon itu pun menyingkir darinya sehingga panas matahari mengenainya, maka ia pun menjadi gelisah.

Allah mewahyukan kepadanya, “Hai, Yunus, mengapa kamu tidak mengasihani 100.000 orang atau lebih, sedangkan kamu merasa gelisah dari rasa sakit sesaat?” Nabi Yunus as. berkata, “Wahai, Tuhanku, aku mohon ampunan-Mu.” Maka Allah mengembalikan kesehatan badannya, kemudian ia pulang kepada kaumnya dan mereka pun beriman kepadanya. Nabi Yunus as. tinggal dalam perut ikan selama 9 jam.

Diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwasanya Nabi Yunus as. tinggal dalam perut ikan selama 3 jam.

Diriwayatkan dari Abu Abdillaah as., dia berkata, “Ummu Salamah pernah mendengar Nabi Saw. mengucapkan di dalam do’anya, ‘Allaahumma la takilni ila nafsi tharfata ‘ainin abadan’, yang artinya: Ya, Allah, janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri sekejap mata pun selamanya.

Maka Ummu Salamah menanyakan hal itu kepada Nabi saw., lalu beliau saw. menjawab, “Wahai, Ummu Salamah, apa yang menyebabkan aku merasa aman (jika Allah menyerahkan urusanku kepada diriku sendiri sekejap mata pun)? Sesungguhnya Allah telah menyerahkan urusan Yunus bin Matta kepada dirinya sendiri sekejap mata, maka terjadilah padanya apa yang telah terjadi padanya itu.”

Diriwayatkan dalam ‘Uyun al-Akhbar berkenaan dengan kabar Ibn al-Jahm bahwasanya al-Ma’mun bertanya kepada ar-Ridha as. tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla,   “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’.” (Qs. 21 : 87).

Ar-Ridha as. menjawab, “Itu adalah Yunus bin Matta, ia pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya, lalu ia menyangka dengan yakin bahwa Allah tidak akan mempersempitnya, yakni bahwasanya Allah sekali-kali tidak akan menyulitkannya dalam rezekinya.”

Diriwayatkan dalam Tafsir al-‘Iyasyi dari al-Baqir as. dalam sebuah hadits, di antaranya al-Baqir as. berkata, ‘Bahwasanya setelah Nabi Yunus as. memohon kepada Allah agar menurunkan azab kepada kaumnya,

Allah mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya di anatara mereka itu terdapat perempuan yang sedang mengandung, bayi, anak kecil, orang tua laki-laki yang sudah tua, dan perempuan yang lemah, sedangkan Aku adalah Hakim Yang Maha Adil. Rahmat-Ku mendahului murka-Ku. Aku tidak menyiksa anak-anak kecil lantaran dos-dosa orang dewasa dari kaummu. Mereka itu adalah hamba-hamba-Ku. Aku menyukai bersabar terhadap mereka dan bersikap lembut terhadap mereka, dan Aku menunggu tobat mereka. Sesungguhnya Aku mengutusmu kepada kaummu adalah agar kamu berlaku lembut terhadap mereka. Hendaklah kamu terhadap mereka itu seperti seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya dan seorang ‘alim yang mengobati penyakit. Kamu telah bertentangan dengan mereka, dan kamu tidak memperlakukan hati mereka dengan kelembutan. Kemudian kamu bermohon kepada-Ku disebabkan oleh kejelekan pandanganmu agar Aku menurunkan azab kepada mereka karena sedikitnya kesabaranmu. Sesungguhnya hamba-Ku Nuh lebih sabar daripada kamu terhadap kaumnya, lebih baik dalam bergaul dengan mereka, dan lebih tidak tergesa-gesa, maka Aku murka untuknya ketika ia murka untuk-Ku, dan Aku memperkenankan do’anya ketika ia memohon kepada-Ku.”

Nabi Yunus as. berkata, “Wahai, Tuhanku, sesungguhnya aku marah terhadap mereka karena Engkau, dan sesungguhnya aku mendo’akan kebinasaan terhadap mereka ketika mereka telah durhaka kepada Engkau. Oleh karena itu, demi keagungan-Mu, aku tidak akan menaruh iba dan tidak akan berlaku lembut terhadap mereka selamanya. Maka, turunkanlah azab-Mu kepada mereka karena sesungguhnya mereka tidak akan beriman kepada-Mu selamanya.”

Allah berfirman, “Wahai, Yunus, sesungguhnya mereka itu berjumlah 100.000 lebih dari makhluk-Ku yang mendiami negeri-Ku dan melahirkan hamba-hamba-Ku, dan kasih sayang-Ku adalah tidak tergesa-gesa menurunkan azab kepada mereka karena telah ada ketetapan terdahulu dari ilmu-Ku berkenaan dengan mereka dan dirimu. Ketetapan-Ku berbeda dengan ilmumu dan ketetapanmu. Kamu adalah orang yang diutus, sedangkan Aku telah perkenankan permohonanmu untuk menurunkan azab kepada mereka, dan itu, wahai, Yunus, bukanlah sesuatu yang lebuh menguntungkanmu di sisi-Ku. Dan azab-Ku itu akan turun pada Bulan Syawal hari Rabu di pertengahan bulan setelah terbitnya matahari. Maka beritahukanlah mereka tentang itu.”

Nabi Yunus as. menjadi seang karena hal itu, dan ia tidak tahu akibatnya. Nabi Yunus as. pergi ke Tanukha, ahli ibadah, lalu ia mengabarkan kepadanya tentang apa yang telah diwahyukan Allah kepadanya, yaitu tentang akan turunnya azab kepada kaumnya pada hari itu. Nabi Yunus as. berkata kepada Tanukha, “Pergilah kamu kepada mereka dan beritahukanlah kepada mereka tentang apa yang telah Allah wahyukan kepadaku, yaitu tentang turunnya azab kepada mereka.” Tanukha berkata, “Kalau begitu, biarkanlah mereka dalam kesesatan mereka dan kedurhakaan mereka sehingga Allah mengazab mereka.” Nabi Yunus as. berkata kepadanya, “Akan tetapi, kita mesti berjumpa dengan Raubil dan bermusyawarah  dengannya karena sesungguhnya ia adalah seorang ‘alim yang bijak dari keluarga nubuwwah.”

Keduanya pun pergi menjumpai Raubil. Nabi Yunus as. mengabarkan kepadanya tentang apa yang Allah telah wahyukan kepadanya, yaitu tentang akan turunnya azab kepada kumnya pada Bulan Syawal, hari rabu di pertengahan bulan setelahnya matahari terbit. Nabi Yunus as. berkata kepada Raubil, “Bagaimana menurutmu? Marilah pergi bersama kami sehingga aku mengabarkan hal itu kepada mereka.”

Raubil menjawab, “Kembalilah kamu kepada Tuhanmu sebagai kembalinya seorang nabi yang bijaksana, dan mohonlah kepada-Nya agar Dia memalingkan azab itu dari mereka karena sesungguhnya Dia tidak membutuhkan untuk menurunkan azab kepada mereka. Sebab, Dia menyukai berlaku lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Barangkali kaummu itu setelah mendengar dan melihat kekafiran mereka dan keingkaran mereka, mereka akan beriman pada suatu hari nant. Oleh karena itu, hendaklah kamu bersabar terhadap mereka dan janganlah kamu tergesa-gesa memohon kepada Allah agar menurunkan azab kepada mereka.”

Tanukha berkata kepada Raubil, “Celaka kamu, wahai, Raubil, atas dasar apa kamu member saran dan kamu perintahkan Yunus setelah kekafiran mereka kepada Allah dan keingkaran mereka kepada nabi-Nya dan pendustaan mereka terhadapnya serta pengusiran mereka terhadapnya dari tempat tinggalnya, dan mereka tidak berbelas kasihan kepadanya.”

Raubil menjawab, “Diamlah kamu, karena sesungguhnya kamu adalah seorang ahli ibadah yang tidak memiliki pengetahuan.”

Kemudia Raubil menghadap kepada Nabi Yunus as. dan berkata, “Wahai, Yunus, jika Allah menurunkan azab kepada kaummu, apakah Dia akan membinasakan mereka semuanya ataukah Dia akan membinasakan sebagian mereka dan membiarkan selamat sebagian yang lain?”

Nabi Yunus as. menjawab, “Allah akan membinasakan mereka semuanya, dan demikianlah aku mohon kepada-Nya. Aku tidak menaruh belas iba kepada mereka sehingga aku tidak akan kembali kepada Allah untuk memalingkan azab itu dari mereka.”

Raubil kembali berkata, “Apakah kamu mengetahui, wahai, Yunus, barangkali jika Allah menurunkan azab kepada mereka, lalu mereka mengetahui itu dan bertobat kepada-Nya, lalu Allah mengasihani mereka karena sesungguhnya Dia adalah ar-Rohmaan ar-Rohiim, dan Dia menghilangkan azab itu dari mereka setelah kamu mengabarkan kepada mereka dari Allah bahwasanya Dia akan menurunkan azab kepada mereka pada hari Rabu, maka jadilah kamu dalam pandangan mereka itu sebagai pendusta.”

Tanukha berkata kepada Raubil, “Celaka kamu, wahai, Raubil! Sungguh, kamu telah mengucapkan kata-kata yang besar (dosa yang besar). Nabi yang diutus telah mengabarkan kepadamu, sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadanya bahwasanya Dia akan menurunkan azab kepada mereka, maka kamu membantah firman Allah dan kamu ragu tentangnya dan tentang ucapan rasul Allah. Pergilah kamu, karena sesungguhnya Allah telah menghapus pahala amal-amalmu!”

Raubil berkata kepada Tanukha, “Sungguh, amatlah lemah pendapatmu itu.” Kemudia Raubil menghadap kepada Nabi Yunus as. seraya berkata kepadanya, “Jika telah turun wahyu dan perintah dari Allah kepadamu, yaitu turunnya azab terhadap mereka dan perkataan-Nya itu adalah benar, bukankah kamu tahu jika hal itu terjadi, lalu kaummu itu binasa seluruhnya dan kotamu itu menjadi hancur, bukankah Allah akan menghapus namamu dari kenabian dan membatalkan risalahmu, dan jadilah kamu seperti orang-orang lainnya yang lemah dan binasa melaluimu 100.000?” Tampak, Nabi Yunus as. masih enggan menerima nasihat Raubil.

Kemudian Nabi Yunus as. pergi bersama Tanukha, ke luar dari kota itu. Keduanya menyingkir ke suatu tempat yang tidak jauh dari mereka. Kemudian Nabi Yunus as. pulang kepada kaumnya dan mengabarkan kepada mereka, sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku bahwasanya Dia akan emnurunkan azab kepada mereka pada B ulan Syawal hari Rabu, pada pertengahan bulan setelah matahari terbit. Maka mereka menolak perkataaan Nabi Yunus as, dan mendustakannya, dan mereka mengusirnya dari kota mereka secara kejam. Maka Nabi Yunus as. ke luar dari kota itu bersama Tanukha, dan keduanya menyingkir ke suatu tempat yang tidak jauh dari mereka. Keduanya tinggal di tempat itu sambil menunggu turunnya azab kepada kaumnya.

Sementara itu Raubil tetap tinggal bersama kaumnya di kota mereka. Setelah mask Bulan Syawal, Raubil berteriak dengan suara sekerasnya kepada kaumnya dari atas puncak gunung, “Aku adalah raubil, orang yang menaruh bels kasihan dan sangat menyayangi kalian, dan ini Bulan Syawal. Sesungguhnya nabi dan rasul kalian, Nai Yunus as. telah mengabarkan bahwasanya azab itu akan turun kepada kalian pada Bulan Syawal, hari Rabu, pada pertengahan bulan setelah matahari terbit. Dan sesungguhnya Allah tidak akan emngingkari janji-Nya, dan demikian pula rasul-Nya. Mak aperhatikanlah apa yang harus kalian lakukan!”

Ucapan Raubil benar-benar membuat mereka takut, dan mereka pun merasakan kebenaran akan turunnya azab kepada mereka. Maka mereka menuju Raubil dan berkata, “Apa saranmu kepada kami, wahai, Raubil, karena sesungguhnya kamu adalah seorang ‘alim yang bijak. Kami senantiasa mengetahui belas kasihan dan kasih sayangmu kepada kami. Telah sampai kepada kami tentang apa yang telah kamu sarankan kepada Yunus berkenaan dengan kami. Oleh karena itu, perintahlah kami dengan perintahmu dan berikanlah saranmu kepada kami.”

Raubil berkata kepada mereka, “Kalau begitu, sesungguhnya aku akan memberikan pandangan dan saran kepada kalian, yaitu perhatikanlah jika fajar telah terbit pada hari Rabu pertengahan bulan, maka pisahkanlah anak-anak kecil dan ibu mereka di lereng gunung di jalan yang menuju ke lembah, dan tempatkanlah kaum perempuan di kaki gunung. Hendaklah kalian lakukan semua itu sebelum matahari terbit. Kemudia jika kalian melihat angin kuning telah datang dari arah timur, maka hendaklah kalian semuany, baik orang-orang dewasa maupun anak-anak kecil, berteriak dengan teriakan yang keras, menangis, merendah diri kepada Allah, bertobat kepada-Nya, dan tengadahkanlah kepala kalian ke langit sambil mengucapkan do’a, ‘Ya, Tuhan kami, kami telah emndzalimi diri kami sendiri dan kami telah mendustakan nabi kami. Kami bertobat kepada-Mu dari semua dosa kami. Jika Engkau tidak memberi ampun kepada kami dan tidak pula menaruh belas kasihan kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang merugi dan orang-orang yang disiksa. Maka terimalah tobat kami dan sayangilah kami, wahai, Tuhan Yang Maha Penyayang’.”

“Kemudian janganlah kalian bosan menangis, berteriak, dan merendahkan diri kepada Allah sampai matahari itu tertutup dari pandangan dan Allah menghilangkan azab dari kalian sebelum itu.” Maka semua orang menyepakati saran Raubil.

Tatkala tiba hari Rabu, Raubil menyingkir dari kota itu pada waktu mendengar teriakan mereka dan melihat azab itu telah turun. Tatkala fajar telah terbit, kaum Nabi Yunus as. mengerjakan apa-apa yang telah diperintahkan Raubail kepada mereka. Kemudian tatkala terbit matahari, datanglah angin kuning yang gelap yang memiliki bunyi, desisan, dan suara gaduh. Tatkala mereka melihat itu, maka mereka pun semuanya mulai berteriak dengan teriakan yangkeras, menangis, merendahkan diri kepada Allah, dan bertobat kepada-Nya. Sementara itu, anak-anak kecil menjerit-jerit mencari ibu mereka, anak-anak kambing mengembik mencari susu, dan binatang-binatang ternak meraung mencari padang rumput.

Mereka terus-menerus seperti itu, sementara Nabi Yunus as. dan Tanukha mendengar jeritan dan teriakan mereka, dan keduanya terus-menerus berdo’a kepada Allah akan Allah menurunkan azab yang keras kepada mereka. Adapaun Raubil, maka ia di tempatnya mendengar teriakan dan jeritan mereka, dan ia melihat azab yang turun kepada mereka, sementara ia berdo’a kepada Allah agar menghilangkan azab itu dari mereka.

Tatkala matahari telah tergelincir, pintu-pintu langit telah terbuka, dan kemurkaan Tuhan Yang Maha Tinggi telah mereda, maka Allah memperkenankan do’a mereka dan menerima tobat mereka. Allah mewahyukan kepada Malaikat Isrofil, “Turunlah kamu kepada kaum Yunus, karena sesungguhnya mereka telah berteriak kepada-Ku dengan tangisan, merendahkan diri kepada-Ku, dan bertobat kepada-Ku, maka Aku pun merahmati mereka. Dan Aku adalah Tuhan Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Hamba-Ku Yunus telah memohon kepada-Ku agar Aku menurunkan azab kepada kaumnya, dan Aku adalah Yang paling patut memenuhi janji-Ku. Dan sesungguhnya Yunus tidaklah mensyaratkan kepada-Ku ketika memohon kepada-Ku agar Aku menurunkan azab kepada mereka bahwasanya Aku harus membinasakan mereka. Oleh karena itu, Aku memalingkan azab itu dari mereka setelah Aku menurunkannya kepada mereka.”

Malaikat Isrofil berkata, “Wahai, Tuhanku, sesungguhnya azab-Mu telah mencapai pundak mereka dan hamper membinasakan mereka, dan aku tidaklah melihat kecuali azab itu telah turun di halaman mereka, maka bagaimana aku dapat memalingkannya dari mereka?”

Allah berfirman, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Aku telah memerintahkan para malaikat-Ku untuk menghentikan azab itu dan tidak menurunkannya kepada mereka sehingga datang perintah-Ku berkenaan dengan mereka dan ketetapan-Ku. Oleh karena itu, turunlah kamu, wahai, Isrofil, kepada mereka dan palingkanlah azab itu dari mereka, hamparkanlah azab itu ke gunung-gunung ke tempat mata air yang luas dan saluran-saluran air banjirt di gunung0gunung yang jauh dan panjang, lalu kikislah lereng-lereng gunung itu sehingga ia menjadi dataran besi yang keras.” Maka Isrofil turun kepada mereka, lalu dia membentangkan sayap-sayapnya, mengambil azab itu dan melemparkannya ke arah gunung-gunung itu.

Insya Allah bersambung…

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ