Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi


on Friday, 25 February 2011 at 09:25

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

Futuuhaat al-Makkiyyah Jilid I  – Muhyiiddiin ‘Ibn ‘Arabi

 

JALAN KESUCIAN

Bab 130 (1), Maqom Pengabdian (‘Ubuuda)

 

Kugambarkan tentangku kepada diriku sendiri; dan setahuku, tidak pernah sempurna gambaran kita tentang Tuhan.

Bahwa apakah Dia harus menjadi sebuah Sebab (‘illa) bagi ciptaan, tidak diketahui karena ketinggian Derajat-Nya.

Sama sekali tiada  kebergantungan-Nya kepada siapapun: tiada faqir – Dia melimpahkan Rahmat-Nya kepada hamba yang faqir.

 

Demikianlah, aku telah menyebutkan secara umum penjelasan-penjelasan qur’an. Pelajarilah: di dalamnya engkau akan melihat penjelasan yang lebih detil sebagai berikut:

 

214.5 “Kepengabdian” (‘ubuudiyyah) bermakna sebuah pertalian/ hubungan (nasab) kepada “pengabdian” (‘ubuuda); “pengabdian” adalah hal murni, tanpa gambaran apapun, baik tentang Tuhan maupun pengabdi sendiri. Kata tersebut tidak berakhiran –iyy.

 

214.6 Terendah dari yang rendah (andhall al-adhillaa’),  disematkan kepada sesuatu yang rendah  dimana ketinggian (iftikhaar) melampauinya.

 

Qs. 67 : 15

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [٦٧:١٥]

 

Dialah Yang menjadikan bumi itu sangat rendah (dzaluul = sangat rendah -> tafsir Ibn ‘Arabi) bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

 

Dzaluul = sangat rendah, merupakan bentuk kata dari fa’ul yang menunjukkan ketersangatan kerendahan; terdapat hal rendah di atasnya (di atas bumi), sehingga lebih berlebih-lebihan kerendahan yang ada pada mereka (hal yang berada di atas bumi).

 

214.7 Maqom kepengabdian merupakan sebuah maqom kerendahan dan kefaqiran (iftiqaar); bukan merupakan atribut Ilaahi (na’t Ilaahi). Abu Yazid al-Bistami menyatakan bahwa tiada sebab yang membuat ia memperoleh kedekatan (taqorrub) kepada Rabb. Ia melihat bahwa Ketuhanan (al-uluuhiyyah) masuk ke dalam setiap atribut tempat melekatnya kedekatan. Manakala ia menemukan dirinya tak berdaya, ia bermunajah, “Duhai, Rabb, melalui apa aku bisa dekat kepada-Mu?” Rabb menjawab munajahnya melalui para Sahabat-Nya (awliyaa), “Raihlah kedekatan dengan-Ku melalui dua hal yang tidak melekat pada-Ku, yaitu kerendahan dan kefaqiran.”

 

214.13 Makna dari “abdi” adalah “rendah” (dhaliil).

 

Qs. 51 : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

 

 

Ayat di atas memberikan  penjelasan kepada kita, memberikan perhatian lebih, bahwa tiada ciptaan-Nya yang memiliki sifat takabur kecuali dua makhluk (jin dan manusia) tersebut. Selain keduanya, setiapnya selalu beriman bahwa “tiada Rabb selain Allah” dan tiada sedikitpun ketakaburan .

 

Ibn ‘Abbas menyampaikan,

“Makna kalimat ‘melayaniku’ adalah ‘mengenalku’.”

 

Ibn ‘Abbas tidak menafsirkan kalimat di atas dalam konteks realitas yang bagaimana kemunculannya. Penjelasannya hanya: “untuk mendekati-Ku, merendahlah”; tetapi seseorang tiada  bisa ‘rendah’ hingga mengenal-Nya, sehingga kebutuhan pertama kita adalah mengenal-Nya, lalu mendapatkan bukti bahwa Dia Maha Kuasa (‘izza). Berikut Ibn ‘Abbas mengalihkan penjelasannya lebih jauh tentang ilmu “pengabdian”:

 

214.17 Tidak seorang pun menyadari (tahaqquq) maqom pengabdian sesempurna kesadaran para Utusan-Nya. Abdi sempurna (‘abd mahd), adalah mereka yang melepaskan (zaahid) kondisi-kondisi penyebab lepasnya mereka dari derajat kepengabdian. Rabb memberikan bukti bahwa mereka merupakan abdi-Nya dengan cara : mereka senantiasa memanggil-Nya dengan kesadaran dan selalu menyadari keter-Dia-an.

 

Contoh ayat memanggil-Nya:

 

Qs. 72 : 19

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [٧٢:١٩]

 

Dan bahwasanya tatkala abdi Allah (‘abdu Allaah) berdiri memanggil-Nya, hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Contoh ayat keter-Dia-an:

 

Qs. 17 : 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١]

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Dia membawanya pada malam hari sebagai seorang abdi.

 

214.20 Ketika ia diperintahkan untuk memperhatikan kondisinya pada saat Hari Kebangkitan nanti, ia mampu. Pernyataannya, “Aku adalah Rabb dari anak-anak Adam, tanpa rasa bangga.” Pernyataan senada, “Aku menunjukkan Ketuhananku tanpa ada tujuan berbangga kepadamu.” Tapi ada pernyataan lawannya, “Aku berkehendak untuk memerintahkanmu, dan itu merupakan kabar gembira bagimu, sejak awal mula engkau diperintah untuk mentaati-Ku.” “Tanpa keterusterangan”, “Aku tidak menyatakan hal tersebut dengan terus-terang; Aku tidak seperti itu,” seperti berbangga terhadap kesalahan seolah-olah benar.

 

214.23 Hubungan abdi dengan Rabb dalam kondisi pengabdian bagaikan sebuah bayangan dengan orang (yang menggerak-gerakkannya) di depan sebuah lampu: semakin dekat ia bergerak menuju lampu, semakin besar bayangan; tiada kedekatan dengan Rabb melalui lebih dengan atribut kemakhlukan (akhass) mu, bukan atribut-Nya. Semakin menjauh engkau dari lampu, semakin kecil bayangan; tiada engkau bergerak jauh dari Rabb melainkan dengan kau tinggalkan atribut-atribut kemakhlukanmu demi untuk menjadi perkasa (al-‘aziiz) dan mulia (al-kariim). Engkau menghendaki Atribut-atribut yang hanya layak dikenakan-Nya.

 

Qs. 40 : 35

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ [٤٠:٣٥]

 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (aamanu). Demikianlah Allah mengunci mati qalb orang yang sombong (mutakabbiir) dan sewenang-wenang.

Qs. 44 : 49

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [٤٤:٤٩]

 

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa (al-‘aziiz) lagi mulia (al-kariim).

 

Atribut Rabb yang hanya layak dimiliki oleh-Nya, yaitu: Takabbur, al-‘Aziiz dan al-Kariim.

 

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

“Aku mencari perlindungan di Dalam-Mu dari Diri-Mu Sendiri.”

 

214.26 Maqom pengabdian tidak diberikan kepadamu dengan atribut yang secara eksklusif dan semata-mata hanya milik-Nya dan tiada kau dibagi dari yang menjadi semata milik-Nya – tanpa sebenar mengetahui  kepemilikan maqom tersebut. Tetapi , Rasa (dzawq) kepemilikan itu jarang; saat ketika engkau menyadari dan berdiri teguh di dalam atribut-atribut khusus  (al-wasf al-akhass) dirimu, dan saat engkau menyerap Rabb melalui atribut-atributmu.  Dia menghadapimu (maqaabala) hanya dengan Atribut-atribut khusus-Nya, yang tak boleh engkau miliki. Namun manakala engkau datang dengan atribut-atribut-Nya yang boleh, terlebih khusus untukmu, maka Dia muncul kepada-Mu dengan atribut-atribut-Nya yang sama; sehingga kenallah engkau dengan rahasia akan Hubungan-Nya (nisbah) denganmu  melalui hubunganmu dengan-Nya. Sungguh pengetahuan menakjubkan; kau pun akan menemukan segelintir mereka yang menemukan-Nya. Ya, tergantung kepadamu, terbanyak atribut khusus mana yang melekat kepadamu. Mengetahui atributmu dan menyadari maqom ketakaburan (juga rasa ingin perkasa dan mulia), merupakan jalan yang akan membimbingmu kepada maqom kepengabdian.

 

214.31 Pada maqom pengabdian, kau tidak akan mengenal ilmu-ilmu tempat kau melaksanakan pengabdianmu, yang, di dalamnya engkau berlepas dari penggambaran tentang-Nya dan untuk memun culkan wujuud. Merupakan maqom yang teramat langka, dimana  wujuud harus hidup, muncul dalam kemungkinannya tanpa penggambaran apapun, karena tidak dapat dipisahkan (bi’l-dhaat) “kebutuhan melalui Yang Lain” (waajib bi’l ghayr). Hal itu yang menjadikan seseorang selalu waspada dan siaga pada maqom ini, merupakan bukti bahwa, di dalam lokus manifestasi (mahzar), Sang Mannifes (al-Zaahir) digambarkan oleh atribut-atribut sang abdi,  yang dengannya Sang Manifest menjadi diwarnai oleh realitas dari lokus manifestasi, apapun hal itu. Tetapi Sang Manifes tidak menjejakkan kemurniannya kepada kepengabdian, karena tiada apa-apa yang lebih rendah daripada akhirnya, dan karena menjejaki kemurniannya kepada sesuatu yang lebih rendah derajatnya. Tetapi Sang Manifes hanya menjejaki kemurnian-Nya kepada sesuatu yang tergambarkan, sejak akibat (athar) menyadari bahwa entitas dari lokus manifestasi bukanlah apa-apa dibandingkan Sang Manifes itu Sendiri.

 

“Tiada Tujuan selain Rabb. “

 

Sebab itulah, maka “pengabdian” tidak memiliki –iyy dari penggambaran. Dikatakan, “Seorang manusia antara kepengabdian dan pengabdian,” hakikatnya manifest, tapi gambarannya tidak diketahui, sehingga ia tidak tergambar, sehingga tiada “untuk menjadi-dan-menjadi”, Jadi, ia adalah seorang abdi/ bukan abdi (‘abd laa ‘adb).

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sumber:

The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.

on Sunday, 27 February 2011 at 12:10

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Futuuhaat al-Makkiyah Jilid I

Bab 351 Rela Mati (Mawt Iraadii)

Kerelaan (suka rela) seorang hamba kembali kepada Tuhannya, merupakan suatu hal yang sangat disyukuri.

Allah berfirman dalam Qs. 11 : 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [١١:١٢٣]

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit (as-Samaawaat) dan di bumi (al-Ardh) dan kepada-Nya-lah dikembalikan (yurja’) al-Amr semuanya, maka mengabdilah kepada Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Berdasarkan ayat di atas, ketika kau datang pada-Nya dengan suka rela, maka kau tak akan datang dengan cara dipaksa. Tiada tempat bersembunyi dari-Nya, dank au pasti akan bertemu dengan-Nya, baik dengan cara suka rela ataupun dengan (terpaksa) melawan kehendakmu. Dia bertemu denganmu dalam (bentuk) atribut-atribut, tiada cara selain dengan cara itu – jadi, silakan periksa dirimu, sahabatku!

Rasulullah Muhammad saw. bersabda,

“Barangsiapa yang menyukai bertemu Rabb, maka Rabb pun menyukai bertemu dengannya; dan barangsiapa enggan bertemu  Rabb, maka Rabb pun enggan bertemu dengannya…”

Kita bisa bertemu Rabb hanya melalui kematian, dan dikarenakan kematian memiliki makna bathin , maka kita harus bersegera membawa makna tersebut dalam kehidupan kita saat ini di dunia: dalam setiap apa-apa yang menjadi fokus, kegiatan, dan keinginan-keinginan kita, sehingga ketika kematian mendatangi kita – sepanjang kehidupan, kita menghabiskan hidup dengan mengagungkan dan memuji-Nya  – kita bertemu Rabb dan Dia bertemu kita. Dan barangsiapa yang senang bertemu dengan-Nya, maka Dia juga senang bertemu kita.

Lalu ketika datang apa yang selama ini kita ketahui tentang kematian fisik:

(lihat) Qs. 50 : 22

….فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ [٥٠:٢٢]

“………… maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,”

ahwal kita tidak akan berubah dan tidak ada yang lebih besar kepastiannya daripada yang selama ini pernah kita alami selain dalam pengalaman kematian. Yang kita rasakan sekarang bukanlah mati, tapi kematian pertama, yang, kita telah mati dalam kehidupan kita selama ini di dunia, karena:

(Lihat) Qs. 44 : 56 – 57

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ [٤٤:٥٦]

mereka tidak akan merasakan mati (al-mawt) di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka (56),

َضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٤٤:٥٧

sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar (al-fauzul ‘adzhiim) (57).

Untuk orang seperti itu, kehidupan di dunia (dengan mati sebelum mati fisik) sama saja dengan kamtian fisik. Digambarkan oleh Sayyidina Ali ra. berikut,

“Bahkan jika singkap diangkat pun, tidak akan menambah sedikitpun keyakinanku.”

Manusia yang datang kepada Rabb dalam keadaan ayat di atas, sungguh telah diberkati. Dia bahkan tidak memaknai bahwa kematian itu adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dan suatu keterpaksaan, karena kematian, bermakna datang, kembali kepada Tuhan; dengan kematian, ia telah berada di sana dengan Rabb. Baginya, kematian juga bermakna kembali terjaganya jiwanya bersama Rabb, dan menjaga jiwanya dari kekuasaan raga. Sama halnya dengan kondisi ketika raga kembali kepada asal mulanya, debu (asal mula ciptaan adalah debu (al-haba): fut. Al-Makkiyyah I.1).

Qs. 3 : 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [٣:٥٩]

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Kun, faya kun.

Jiwa kembali ke rumahnya setelah melakukan perjalanan yang jauh; lalu Raja membawanya bersama-Nya ke sebuat tempat/ posisi yang kokoh.

Qs. 54 : 55

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ [٥٤:٥٥]

di tempat yang kokoh (صِدْقٍ = kokoh, kuat, tetap – > tafsir Ibn ‘Arabi) di sisi Maliik Yang Berkuasa.

Qs. 23 : 100

إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ [٢٣:١٠٠]

“…. sampal hari mereka dibangkitkan.

Dan kondisinya ketika ia dibangkitkan akan seperti itu: tidak akan berubah sejauh mana ia membawa Rabb dalam kehidupannya atau tergantung pemberian Rabb pada saat-saat tertentu.

Kondisinya juga akan tetap seperti itu hingga saat al-hasr al-‘aamm (Hari Kebangkitan), di tempat  kediamannya di Surga nanti, dan dalam realitas (nash’a) tempatnya tinggal. Di sana ia melihat sebuah realitas tanpa bentuk, sebuah realitas sebagai manifestasi dari realitas apa yang dihadirkan dalam bathin dan khoyaal (form, ide: Plato, alastu???) nya sewaktu di dunia. Mengendalikan dimensi bathin, merupakan jalannya untuk mengendalikan dimensi lahirnya nanti di kehidupan setelah mati. Terbaik adalah menikmati semua yang ia miliki (baik – buruk) dalam setiap saat. Tiada apapun yang sebenar menjadi miliknya, baik istrinya atau apapun itu, adalah hal terpisah darinya, begitupun ia terpisah dari mereka; gampangnya, ia hanya sedang berada di antara mereka melalui keinginan kemakhlukannya, dan mereka bersamanya juga sedang berada bersamanya melalui keinginan kemakhlukan mereka.

Dunia lain (kematian) merupakan sebuah tempat persinggahan yang harus kita sikapi dengan bersegera untuk bertaubat, tanpa ada penundaan dengan melewatkan kekhawatiran yang ada dalam dimensi bathin dunia sekarang ini. Selain itu, perkembangan bathin seseorang selama di dunia akan dilanjutkan ke dunia lain setelah mati, sehingga dimensi bathinnya secara terus-menerus membentuk dirinya di alam lain – seperti dimensi lahirnya – sementara bentuk-bentuk dimensi lahirnya akan mengalami transformasi yang cepat seperti dimensi bathinnya di alam lain.

Qs. 26 : 227

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ [٢٦:٢٢٧]

kecuali orang-orang  yang beriman (aamanuu) dan beramal saleh (‘amilu ash-shoolihaat) dan banyak mendzikiri Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika kita mengalami transformasi di dunia, tidak ada sesuatu yang akan bertambah saat kematian nanti selain transformasi itu sendiri. Jadi pahamilah…

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Bab 351. The Voluntary Death, The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

(Hadits Qudsi) Tiga Kelompok Pertama yang Akan Masuk Api Neraka – collected by Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi


Hr. ath-Thirmidzi.

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

Ketika Hari Perhitungan tiba, Allah Ta’ala turun kepada manusia untuk mengevaluasi mereka. Setiap anggota kelompok spiritual akan berlutut dalam ketakberdayaan. Manusia pertama yang dipanggil adalah mereka yang mengajarkan al-quran. Manusia kedua adalah mereka yang mati di jalan Allah, sedangkan ketiga adalah mereka yang melimpah ruah hartanya. Allah pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada yang tiga pertama.

Kelompok Pertama

“Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu hikmah-hikmah dan pengetahuan yang berasal dari qalb para utusan-Ku?”

“Ya, Tuhanku.”

“Adakah perilaku lahir batinmu sesuai dengan hikmah dan pengetahuan yang telah engkau ketahui itu?”

“Aku melaksanakannya selalu, Tuhan.”

“Kau berdusta kepada-Ku, dan para malaikat pun akan melaporkan, ‘Kau berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau suka dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Orang ini pengajar al-quran’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.“

Kelompok Kedua

“Bagaimana engkau mati di jalan-Ku? Dengan cara seperti bagaimana?”

“Wahai, Tuhan, Engkau perintahkan aku untuk berperang dan aku mati karena mengikuti perintah-Mu.”

“Kau berdusta, dan para malaikat pun akan melaporkan, ‘Kau telah berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau suka dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Orang ini begitu luar biasa keberaniannya’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.”

Kelompok Ketiga

“Apakah telah Aku berikan kepadamu harta yang sangat banyak sehingga tiada pernah engkau meminta-minta kepada orang lain?”

“Benar, Tuhanku.”

“Lalu, apa yang telah kau lakukan dengan pemberian-Ku itu?”

“Aku menguatkan ikatan/ hubungan kekeluargaan (silaturahiim menurut umum) dan berinfaq.”

“Kau berdusta, dan para malaikat akan melaporkan, ‘Kau telah berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau senang dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Betapa dermawannya orang ini’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.”

Rasulullaah Muhammad saw. memukul lututku dan berkata kepadaku, “wahai, Abu Hurayrah, ketiga kelompok ini adalah mereka pertama yang akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

sumber: 101 Diamonds from the Oral Tradition of the Glorious Messenger Muhammad, collected by Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi. Translated to english by Lex Hixon and Fariha al-Jerrahi.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi  bukanlah seorang astronom, dan sama sekali tidak pernah tertarik dengan astronomi sebagai sains. Tetapi sebagai seorang sufi dan teologis mistis, beliau mengambangkan pengajaran kosmologi dan simbolisme  melalui al-quran dan al-hadits. Beliau menjelaskan planet-planet, lintasan, dan pergerakan mereka sebagai struktur yang Allah ciptakan untuk menggambarkan Citra-Nya dan hubungan mereka dengan Nama-nama Illaahiyyah. Bagi beliau, kosmologi merupakan jalan bagi manusia untuk mengenal Allah. Dan pada beberapa risalah beliau memperbincangkan astronomi secara falsafah dan teologis. Tidak ada buku yang benar-benar khusus membicarakan langit beserta isinya. Tentang kosmologi, salah satunya dapat ditemui pada beberapa paragraph dari Futuuhat Al-Makkiyyah (bab 371, 198).

Kosmos mengalami perubahan; bintang-bintang tidak diam, tetapi bergerak – berputar dan berjalan. Alasan utama diciptakannya kosmos adalah ‘Cinta’.

Hadis Nabi Muhammad saw. ,

“Aku adalah harta karun tersembunyi.”

Hadits tersebut  bermkna bahwa Allah ‘cinta’ untuk dikenal; bahwasanya Allah menganugerahi setiap ciptaan hak istimewa untuk mengenal-Nya.  Pernyataan Allah cinta untuk dikenal  merupakan asma Rahmaan yang ingin Dia anugerahi kepada makhluk-Nya. Kerahmanan merupakan anugerah pertama dari manifestasi kehadiran Allah kepada alam semesta ketika tercipta, dan darinya membentuk ‘tempat abstrak’  yang menandakan kemunculan ciptaan-ciptaan berikutnya. ‘Tempat abstrak’ itu oleh Ibn ‘Arabi dinamakan dengan al-‘amaa’ (awan). Realitas al-‘amaa’ menerima bentuk-bentuk dari al-arwaah al-muhayyamaa (ruh-ruh yang mengembara) yang Allah ciptakan langsung tanpa perantara. Penciptaan langsung ini menyebabkan para Ruh  mengembara di dalam kehadiran Allah, tidak mengenal apapun bahkan diri mereka sendiri selain Allah. Allah menetapkan satu dari para ruh dan menganugerahinya kemampuan istimewa epifani dari tajalli ‘ilm (Pengetahuan Illaahiiyyah) dimana padanya tercetak semua kehendak Allah untuk mencipta di dalam alam semesta hingga Hari Kiamat. Ruh-ruh lainnya tidak mengetahui hal itu. Kemampuan istimewa tersebut,  menyebabkan Ruh-ruh, yang disebut dengan al-‘aql al-kulli atau al-‘aql al-awwal atau jika merujuk kepada Al-Quran, memiliki pengertian yang sama dengan al-qalam al-a’alaa, yaitu diciptakan dengan tujuanu untuk membantu dirinya sendiri dan para Ruh lainnya mengenal Allah.

Melalui epifanilah al-‘aql al-awwal mampu menyusun struktur dirinya dan kemampuannya untuk menyadari Allah. Ia juga yang mampu melihat ‘bayangan’ yang disebabkan oleh adanya Cahaya dari  epifani yang terwujud dalam al-nuur.  ‘Bayangan’ ini disebut sebagai ‘nafs (jiwa)’nya, tepatnya al-nafs al-kuliyya atau al-nafs al-‘uulaa (jiwa pertama), atau al-lawh al-a’alaaa/ al-mahfuudz, dimana ia menuliskan segala sesuatu yang ia ketahui hingga Hari Kiamat. Isi alam semesta – merujuk pada perumpamaan dalam al-quran – merupakan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah yang dikeluarkan melalui Nafas Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.  Sementara dasar bangunan terbentangnya alam semesta adalah getaran atau suara, atau disebut juga dengan rijaal al-anfaas. Bukan hanya sebagai symbol semata bahwa alam semesta berisikan ‘huruf-huruf’ dan ‘kata-kata’ Allah, yang dituliskan oleh al-qolam al-a’ala ke dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz. Al-‘amaa’ (awan) beserta isinya turun ke ‘Arsy al-Istiwaa’, yang tentu saja pengertiannya berbeda dengan ‘Arsy.  ‘Arsy al-Istiwaa’ merupakan ‘Arsy tempat Allah melaksanakan kekuasaan-Nya; Perumpamaannya dapat dilihat pada kalimat ‘ar-Rahmaan ‘ala aal-‘arsh istawaa’.

Qs. 20 : 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ [٢٠:٥]

Merujuk kepada Bab 371 Futuuhaat Al-Makkiyyah, bahwa alam semesta muncul di dalam al-nafs al-kulliyya melalui al-‘aql al-kulli, yang disebut dengan nikaah ma’nawi. Hal itu dikarenakan bahwa sesuatu yang terjadi merupakan hasil dari sebab sesuatu; seperti seorang anak yang dihasilkan dari pernikahan ayah dan ibunya. Seperti halnya kita semua merupakan ‘anak-anak’ dari Nabi Adam as dan Siti Hawa; sehingga dapat pula dikatakan bahwa segala sesuatunya yang terdapat di alam semesta merupakan ‘anak-anak’ yang dilahirkan dari al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya.

Al-nafs al-kuliyya memiliki dua kekuatan, yaitu:

1.      Quwwa ‘ilmiyya; merupakan kemampuan untuk menerima pengetahuan.

2.      Quwwa ‘amaliyyaa; merupakan kekuatan aktif yang menerima keberadaan amal melalui gerakannya.

Hal pertama yang dimunculkan/ dilahirkan oleh Al-nafs al-kuliyya, yaitu:

1.      Martabat al-tabii’a (4 elemen pembentuk alam semesta: air, udara/ angin, tanah, api)

2.      Al-Habaa’ (debu) atau al-hayuulaa al-uulaa

Lalu kedua hal di atas melahirkan ‘anak’ pertama mereka yang dinamakan dengan al-jism al-kull (dunia fisik/ terinderai). Proses simbolik kelahiran dari alam semesta berlansung konstan terus-menerus  dalam jangka waktu yang panjang dengan serangkaian sebab dan akibat hingga melahirkan turaab (tanah). Selanjutnya, dunia fisik yang lain pun bermunculan…

Dunia fisik dibentuk oleh (bukan ‘dalam’) al-jism al-kull karena, seperti halnya pernikahan al-‘aql al-kulli dan al-nafs al-kuliyya, al-jism al-kull bisa disebut sebagai Tubuh  Pertama karena merupakan tubuh pertama yang tercipta. Antara dunia material dan spiritual dibentuk oleh prinsip ahadiyyah melalui kemunculan konstan Bulan tersebut. Tubuh Pertama merupakan ‘bagian pelengkap’ yang dibentuk oleh keahadan, sementara dunia fisik dibentuk oleh Tubuh Pertama tersebut. Tubuh Pertama adalah sejenis awan tebal yang merupakan material utama, yang kemudian lalu mengembang menjadi bintang-bintang dan galaksi; Jelaslah kini, bahwa dunia fisik dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull. Hal pertama yang dibentuk ‘di dalam’ al-jism al-kull adalah al-‘Arsy, tempat Allah melaksanakan kuasa (istiwaa’) dari Nama al-Rahmaan, dimana setiap ciptaan yang berada di bawah al-‘Arsy Allah anugerahi Rahmaaniyyah-Nya. Karena itulah maka hal pertama yang al-qalam al-a’ala (versi quran) atau  (versi Ibn ‘Arabi) tuliskan di dalam al-lawh al-a’alaa/ al-mahfuudz adalah al-‘Arsy tempat alam semesta muncul.

Di bawah al-‘Arsy Illaahiyyah terdapat al-Kursiyy, yang memiliki dimensi-dimensi relatif dan penuh. Perumpamaan al-Kursiyy dengan al-‘Arsy adalah bagaikan sebuah cincin kecil yang beradadi dalam gurun sahara yang luas. Di dalam al-Kursiyy terdapat al-falaq al-atlas (lintasan/ orbit Isotoprik atau bola langit) yang berisikan bagian-bagian dari langit, yaitu al-falaq al-buruuj (zodiak) dan al-falaq al-mukawkab (bola langit bintang-bintang), sementara di bawahnya lagi terdapat lintasan-lintasan dari lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, Bulan, dan Bumi.

Orbit Isotoprik (yang arahnya sama)  atau bola langit merupakan sebutan yang bermakna bahwa tidak ada satu bintang pun yang memiliki ‘wajah’ lintasan yang berbeda, semuanya sama. Bola langit zodiak merupakan lintasan pertama yang diciptakan dalam orbit Isotoprik, dan permukaannya dibagi menjadi 12 bagian yang menjadi macam zodiak. Bab 371 Kitab Al-Futuuhaat Al-Makkiyyah memberikan penjelasan tentang jauhnya jarak yang terbentang antara galaksi-galaksi dikarenakan ada bintang-bintang tetap di dalam galaksi Bima Sakti kita, sementara zodiak berada di dalam galaksi-galaksi lain yang jauh dari Bima Sakti. Di dalam  ruang angkasa Allah menciptakan tujuh ‘Taman’ (al-jinaan, jannah) dengan perbedaan keadaan dan tingkatan ‘tempat pertemuan’ antara realitas spiritual murni dari al-‘Arsy Illaahiyyah dan realitas terinderai dalam daerah al-Kursiyy.

Nama-nama spesifik ketujuh Taman terdapat di dalam quran dan hadits, dan pengertian mereka tidak sama dengan tujuh lelangit (samawaati), dimana dalam tujuh langit terdapat lima planet (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, saturnus), Matahari, dan Bulan; sementara tujuh taman terdiri dari:

1.     Iqomah (tempat tinggal) hamba

2.       Aslama (tempat keberserahdirian) hamba

3.      Al-Khuld

4.      Al-Ma’wa

5.      Al-Na’im

6.      Firdaus

7.      ‘Adn

Kata ‘al-Wasiiila’ melintasi ketujuh Taman sebanyak dua kali hingga ke level tertinggi, ‘Adn, milik Nabi Muhammad saw. Taman ‘Adn disebut juga sebagai al-maqoom al-mahmud (posisi mulia), dan disebut juga dengan Al-Wasiiila, yaitu perantara atau Jalan untuk Mendekati Allah: melalui Nabi Muhammad saw. lah Allah bisa didekati oleh makhluknya. Jadi, Nabi Muhammad saw. merupakan Jalan kita untuk Mendekati Allah.

Di bawah tujuh Taman terdapat lintasan dari bintang-bintang tetap, konstelasinya, dan tempat kedudukan (manaazil/ manzilah) Bulan. Yang mesti digarisbawahi, bahwa dikatakan bintang ‘tetap’ bukan dalam arti mereka tidak bergerak, tetapi lebih dikarenakan pandangan mata fisik manusia terbatas untuk melihat pergerakan mereka.

Lintasan bintang-bintang tetap dibagi menjadi 28 konstelasi atau manzilah berdasarkan gerak kemunculan Bulan. Di dalam bola lintasan bintang-bintang tetap ini, Allah menciptakan tujuh lelangit fisik (al-samawaat) dan Bumi. Perumpamaan Bumi beserta ketujuh lelangit dengan al-‘Arsy bagaikan sebuah cincin dalam gurun sahara yang luas – sama halnya ‘Arsy yang bagaikan sebuah cincin jika dibandingkan dengan Kursiiy.

Dalam Bab 371 Futuuhat Ibnu Arabi berbicara tentang panjang bagian-bagian dan tingkatan-tingkatan Surga dan Neraka serta gambaran-gambaran lain al-akhirat.

Ibnu Arabi pernah menyebut Matahari dan Bulan sebagai ‘planet-planet’, namun beliau juga membedakan antara sifat-sifat planet (termasuk Bulan) dengan Matahari; bahwa Matahari ‘bertanggung jawab untuk mencahayai semua planet yang berada di atas dan di bawahnya’ (II.170.22). Dalam konteks Astronomi, beliau juga menyebut bintang-bintang sebagai ‘planet-planet’ (kawkab), padahal beliau juga tahu bahwa bintang-bintang seperti Matahari yang  memiliki cahayanya sendiri (I.217.18).

Secara umum, pandangan kosmologi Ibnu Arabi sama dengan Aristoteles (geosentris), seperti kebanyakan kosmolog kuno  (dan juga al-Qur’an dan al-Hadits). Ibnu Arabi berbicara tentang ‘tujuh bola langit’  yang berada di sekitar bumi. Ketujuhnya disebuat sebagai planet (termasuk Matahari dan Bula). Tetapi juga, Ibnu Arabi menekankan dalam banyak tempat (III.548.21, I.123.17, II.441.33) bahwa itu hanya berdasarkan pandangan seseorang yang sedang berada di bumi, beda dengan kenyataan sebenarnya: bagaimana keberadaan bumi dan pergerakan planet-planet dan bintang-bintang itu sendiri. Jadi, menurut Ibnu Arabi, pandangan Aristoteles adalah sebuah pandangan tentang dunia  sebagaimana yang kita lihat dengan mata telanjang, sementara kenyataannya tidaklah sedemikian (III.548.31).

Ibnu Arabi menekankan posisi inti (sentral) Matahari sebagai ‘qalb’ bagi ketujuh bola langit, dan superioritas Matahari melampaui planet-planet dalam hubungannya dengan Bumi.

Jadi,  gerak lintas Matahari berasal dari qalb lintasan-lintasan, sehingga merupakan tempat yang tinggi untuk kedudukan dan lintasan-lintasan yang berada di atasnya berada dalam jarak dengan konteks jarak pandang kita.” (III.441.33). Pandangan sebenar Ibnu Arabi lebih mendekati ‘heliosentris), setidaknya dalam hubungannya dengan kedudukan unik inti (pusat) atau ‘kedudukan (makaana) dari Matahari.

Area-area dari bola langit bintang-bintang tetap (fixed stars)  dan konstelasi secara umum yang dibagi menjadi 12 tanda zodiak atau 28 ‘rumah’ (manzilah: tempat edar) Bulan oleh Ibnu Arabi dikatakan bahwa itu murni sebuah ketentuan, yang tidak penting untuk menghubungkannya dengan posisi-posisi aktual dari bintang-bintang dalam rasi itu .

Pernyataan beliau,

“Zodiak (konstelasi) merupakan posisi yang dikira-kira, tidak tepat benar, dan mereka merupakan ‘rumah-rumah’ untuk pergerakan planet-planet.” (III.37.27).

Tentang Bulan sendiri, Ibnu Arabi berkata,

“Bintang-bintang itu (zodiak) disebut sebagai ‘rumah-rumah’ hal itu dikarenakan planet-planet bergerak melalui mereka; selain hal itu tidak ada perbedaan antara planet-planet dengan bintang-bintang selain zodiak… tentang mereka baru sekedar asumsi-asumsi dan perbandingan dalam tubuh (dari langit).” (III.436.30)

Pada sisi lain, kita tidak bisa memisahkan dengan tegas dunia material dari dunia abstrak atau dunia spiritual. Mereka saling tumpang tindih – atau, keseluruhan dunia-dunia material (dari ‘Kursiiy’ dan Lelangit serta Bumi) berisikan apa-apa yang berada di dalam ‘Arsy’, dengan sifat illaahiyyah. Hal itu menjadi alasan mengapa Ibnu Arabi terkadang mencampur kedua  pandangan:

Contoh.

Ibnu Arabi menggambar sebuah pilar (tiang) untuk menjelaskan tentang Insan Kamil, yang dimaksudkannya sebagai ‘Manifestasi al-Haqq (Rabb)’ dalam kosmos, sehingga tanpa-Nya kosmos akan runtuh. Secara simbolik, tujuh langit ‘didukung’ oleh tujuh (tingkat atau area-are dari) bumi. Namun Ibnu Arabi tidak  berpendapat bahwa itu menjadi gambaran aktual fisik dari sesuatu, karena beliau dengan jelas menggambarkan bumi sebagai bola dan berotasi (berputar) mengelilingi pusatnya.

“Tetapi kita tidak dapat merasakan gerak berputar Bumi , dan gerakannya berputar mengelilingi pusatnya karena ia adalah sebuah bola’.” (I.123.17)

Mengapa kita tidak bisa merasakan gerakan Bumi dan bintang-bintang?

“Kita dan makhluk ciptaan lain tidak bisa merasakan gerakan Bumi dan bintang-bintang dikarenakan semuanya bergerak. Matahari merupakan posisi utama, bagaikan qalb, menjadi pusat bagi ketujuh lelangit. Ciptaan-Nya tidak merasakan gerakan kosmos dikarenakan semuanya bergerak, dan dikarenakan Bumi bergerak: berjalan dan berputar mengelilingi Sang Pusat, Matahari.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Time and Cosmology – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris dari Arab oleh Mohamed Haj Yousef.

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Doa Selasa Pagi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Rabbi, celupkan aku ke dalam lautan (bahr) ahadiyyah-Mu dan ke dalam perairan yang berasal dari lautan ahadiyyah-Mu, dan kuatkan aku (qowwanii) di dalam Kekuatan (Quwwah) sath-wah (Tertinggi)-Mu dan Kekuasaan (sulthoon) fardaaniyyah (yang berasal dari KeWahidan-Mu) hingga mengeluarkan tebaran luas Rahmat-Mu dan di dalam wajah bercahaya yang disinari oleh kilatan cahaya al-Qarb, sebagai gelombang (atsar) Rahmat-Mu.  Terpesona (mahabbah) aku oleh Keindahan-Mu; aku perkasa (‘aziz) di dalam ‘Aziz-Mu; aku berkuasa (mu’aanaa) di dalam Kekuasaan-Mu; aku mampu menerima Ketetapan takdir yang Engkau gariskan; mikraj melalui Pengangkatan-Mu; aku Engkau hargai dan hormati melalui Perintah (makarromaa), di dalam Pendidikan (ta’liim)-Mu, dan Pemurnian (tazkiyyah) dari-Mu.

Hiasi aku dengan jubah Keagungan dan Penerimaan-Mu. Permudah (Sahhl) bagiku Jalan (manaahaj) al-washilah dan al-wushuul. Mahkotai aku dengan mahkota yang berasal dari al-Karoomah dan al-waqhoor. Dan jinakkan bagiku di antara pintu dunia rendah dan keabadian. Melalui Cahaya Nama-Mu, rezekikan aku Nama-nama sathwah (Tertinggi)-Mu yang membawa al-quluub dan al-arwaah untuk membimbingku; dan di alam sebelumnya jiwa-jiwa (an-Nufuus) dan raga-raga (asybaah) telah dibawa kepada penyerahan diri kepada-Mu.

Illaahi, para penindas merasa karhan dalam menyerahkan diri kepada-Mu, namun akhirnya mereka pun menyesal, dan berserah diri kepada-Mu. Wahai, Sang Raja!

Tiada keselamatan selain di Dalam-Mu. Tiada Pertolongan selain Pertolongan-Mu. Tiada yang dapat benar-benar dipercaya selain-Mu.

Jauhkan aku dari kedengkian dan kegelapan kejahatan yang berasal dari keangkuhan! Gembirakan  aku di bawah naungan Cinta kasih-Mu, wahai, Engkau Yang Maha Dermawan (al-akroom) di antara para dermawan.

Illaahi, karuniakan Pertolongan kepada lahir dan bathinku, bahwa aku akan menerima Pembebasan dari-Mu dan karuniakan cahaya (nuur) dan rahasia (sirr) ke dalam qalb ku yang mampu membuatku sadar akan cara-cara (manaahaj) Kerja-Mu.

Illaahi,  bagaimana aku bisa kecewa kepadamu ketika telah sampai aku pada Pintu-Mu?

Dan bagaimana aku  berputus asa dari Rahmat-Mu ketika Kau menawarkan kepadaku untuk bermohon di Dalam-Mu? Di sinilah aku, abdi-Mu – setia mengabdi kepada-Mu, menerima perlindungan-Mu.

Jauhkan aku dari musuh-musuhku, seperti Engkau telah menjauhkan jarak antara Timur (al-Masyriqh) dan Barat (al-maghrib). Silaukan mata (abshor) mereka, guncangkan (zalzala) kaki mereka dan jauhkan kejahatan dan bahaya mereka dariku, di Dalam Nuur Quds-Mu dan Keagungan Kemuliaan-Mu.

Engkaulah Allah, Yang menghadiahkan karunia, menganugerahkan keberkahan, Maha Menghargai makhluk-Mu, Maha Memuliakan hamba yang memilih Kedekatan bersama-Mu dibandingkan dengan makhlukmu.

Ya, Hayyu Ya, Qoyyuum! Penyibak rahasia-rahasia (asroor) dan Yang Mengenalkan al-ilm.

Washollaallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa  aalihi washohbihi ajma’iin.  الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari

Sumber:

1. The Seven Days of the Heart, terj. Inggris oleh Pablo Beneito dan Stephen Hirtenstein.

2. Kitab Awraad al-Yawm wa al-Layl, Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi.

Hari Selasa

“Jika harimu adalah Selasa, maka Harun as. dan Yahya as. merupakan temanmu,

tempat melekat Petunjuk Yang Haqq. ”

Hari Selasa diciptakan dari asma-Nya ‘Melihat’ (Bashaar): karena itu tiadalah bagian apapun di dunia ini yang sungguh tidak melihat Sang Pencipta – dalam hubungannya secara hakikat, bukan Zat-Nya, karena Zat Allah tidak mungkin bisa dilihat. Dia terlihat melalui manifestasi dari asma-asma-Nya melalui insan kamil.

Asma ‘Pemaksa’ (al-Qaahar) dibawa ke langit ketiga (ketiga dari Bumi); sehingga Dia telah menyebabkan kemunculan haqq, bersama dengan planet Mars (al-Marriikh) dan langitnya. Dan Nabi Harun as. yang Nabi Yahya as. menempati langit ini. Wujuud palnet dan pergerakannya berada dalam manzilah ‘Awwa (yang merupakan stasiun ke-13 dari 28 stasiun Bulan). Huruuf LAAM muncul dari pergerakan langit ke-3.

Bola langit ke-4 (Matahari), dengan sifatnya yang panas dan kering, pada hari Selasa (yang juga bersifat panas dan kering) ikut membantu jiwa dengan seluruh kekuatannya. Hal itu membantu jiwa untuk menaikkan (su’uud) spiritualitasnya dengan ¼ kali dari kekuatan bola langit ke-4 dengan berbagai caranya. Dengan kata lain, Planet Merkurius (dengan elemen api, air, udara, tanah) membantu mengeringkan dan meningkatkan panas hari Selasa yang sudah panas.

Selasa, hari ketiga, mengekspresikan prinsip-prinsip dari angka 3, angka ganjil pertama atau angka-angka tunggal, dan hubungan antara Nabi dan ketunggalan dijelaskan pada Bab Nabi Muhammad saw. dalam Buku Fuhsuus al-Hikam:

Hikmah dari nama “Muhammad” adalah ketunggalan (fardhiyya), karena ia merupakan gambaran eksistensi yang paling sempurna dari seorang manusia, dan Aturan dimulai darinya dan berakhir darinya. Elemen Adam as terdiri antara air dan tanah liat, sementara elemen Nabi Muhammad saw. adalah tanah, dan merupakan Segel dari para Nabi. Angka tunggal pertama adalah tiga, darinya semua angka-angka tunggal diturunkan. Jadi Nabi Muhammad saw merupakan simbol terbesar dari Tuhan, sebagaimana kepada beliau saw. telah diberikan seluruh Kata-kata (jawaami’ al-kalim), yang berisi nama-nama (yang Tuhan telah mengajarkan pada) Adam as.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti dari

Sumber:

1. Time and Cosmology – Muhyiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan inggris dan analisa oleh Mohamed Haj Yousef.

2. The Seven Days of the Heart – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi, terjemahan Inggris oleh Pablo Beneito dan Hirtenstein.

3. Al-Tanazzulaat Al-Mawsiliyya – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Tafsir Qs. Al-‘Ashr –Muyiiddiin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ [١٠٣:١]

Demi masa.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ [١٠٣:٢]

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣:٣]

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

———–

Satu

وَالْعَصْرِ [١٠٣:١]

Demi al-‘Ashr.

TAFSIR:

Al-‘Ashr, adalah kata benda yang berarti “perasan”, diambil dari kata kerja “memeras atau menyaring”.

Demi “perasan” Allah terhadap manusia dengan ujian, mujaahadah, dan riyadhoh sehingga memunculkan manusia pilihan.

Hadits Nabi Muhammad saw.

“Ujian tunduk kepada para nabi, lalu para wali, kemudian sejenisnya, dan kemudian sejenisnya.”

“Ujian adalah salah satu cambuk Allah yang dengannya Dia mengarahkan hamba-hamba-Nya kepada-Nya.”

Allah bersumpah “demi al-‘Ashar”, yakni dengan bentangan masa berikut peristiwa-peristiwa di dalamnya, peristiwa-peristiwa yang terjadi bersamanya berikut penyebabnya yang tak lain dari bentangan masa itu (dahr).Pada umumnya, manusia menisbatkan pelbagai perubahan kondisi dan situasi pada masa, dan menyangka masa sebagai penyebab haqq yang sangat mengesankan akal mereka, padahal penyebab haqq hanya Allah.

Hadits Rasulullaah saw.

“Janganlah engkau mencela masa, karena Allah swt. Sesungguhnya Allah adalah masa.”

Allah Sang Maha Agung, selalu menampilkan shifat danaf-al-Nya di dalam lokus masa.

Dua

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ [١٠٣:٢]

Sesungguhnyamanusia itu benar-benar dalam kerugian,

TAFSIR:

Allah bersumpah, bahwa sesungguhnya orang yang ter “hijab oleh masa dari-Nya benar-benar merugi. Mereka merugi karena “modal hartanya”, yaitu cahaya fitrahnya telah diganti dengan kehidupan dunia. Mereka senang menyia-nyiakan sesuatu yang haqq hanya untuk hal-hal fana.Sifat Mereka telah terhijab oleh sesuatu yang bersifat duniawi.

Tiga

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُواالصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [١٠٣:٣]

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supayamentaati di dalam haqq dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

TAFSIR:

Mereka mengetahui bahwa tidak ada penyebab haqq melainkan Allah, dan mereka lepas dari hijab masa.

Sesungguhnya manusia yang hanyut di dalam hijab duniawi sungguhlah merugi, kecuali mereka yang memiliki ilmu dan amal. Mereka berupaya keras beramal shaleh sehingga mereka menjadi hamba yang beruntung dengan bertambahnya cahaya fitrah menjadi cahaya kesempurnaan.

Mereka saling menasehati di dalam haqq dan juga saling menasehati untuk bersabar atas “perasan” Allah kepada tiap diri yang pada akhirnya akan menyaring mereka menjadi manusia pilihan Allah.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tafsir Qs. al-Falaq – Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi

Penerjemah: Cecep Ramli Bihar Anwar

بِسْمِاللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.

———–

Satu

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai falaq,

TAFSIR:

Falaq adalah cahaya subuh yang mendahului terbitnya matahari.

Aku berlindung kepada Tuhan penguasa “cahaya subuh” penampakan shifat-shifat-Nya (Asma Pemberi Petunjuk) yang mendahului “terbitnya” cahaya Zat = Aku berlindung kepada dan dengan asma Tuhan Yang Maha Pemberi Petunjuk, dengan cara meniru sifat-Nya dan menghubungkan diri dengan ruh al-Quds yang berada dalam wujuud asma-asma.

Setiap orang yang berlindung kepada Tuhan dari kejahatan segala sesuatu, maka sesungguhnya ia berlindung dengan asma-Nya tertentu terkait dengan kejahatan sesuatu itu.

Misal:

–      Berlindungnya seorang sakit kepada Tuhan, maka ia berlindung kepada asma Yang Maha Mengobati (al-Syaafi).

–      Berlindungnya orang bodoh dari kebodohannya, maka ia berlindung kepada asma Yang MahaMengetahui (al-‘Aliim).

Dua

ِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ [١١٣:٢]

dari kejahatan makhluk-Nya,

TAFSIR:

Dari kejahatanketerhijaban oleh makhluk dan dari pengaruh makhluk atas hijab itu.

Tiga

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

TAFSIR:

Dari kejahatan keterhijaban oleh raga yang gelap, ketika kegelapannya merasuki segala sesuatu,menguasai, dan mempengaruhi berbagai keadaan segala sesuatu agar tampak mempesona karena kecintaan hati dan kecenderungannya serta ketertarikannya ke arah yang bersifat ragawi/ syahwati.

Empat

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِيالْعُقَدِ [١١٣:٤]

dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yangmenghembus pada buhul-buhul,

TAFSIR:

Yang dimaksud dengan “wanita-wanita tukang sihir”, adalah hawa nafsu seperti waham,angan-angan panjang, amarah, iri – dengki, berprasangka buruk, dll yang tak henti menghembus-hembuskan berbagai bujuk rayu bisikan setan kepada para penempuh jalan ruhani dengan cara mengendurkan, memudarkan, dan memutuskantekad perjalanan.

Lima

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ [١١٣:٥]

dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki (hasad)”.

TAFSIR:

Yang dimaksud pendengki di sini adalah hawa nafsu yang merasa dengki kepada hati yangbercahaya, sehingga hawa nafsu itu mengklain shifat dan pengetahuan hati dengan cara sembunyi-sembunyi mendengarkan pelbagai shifat dan pengetahuannya; lalu ia mengalahkan dan menghijabkan hati dari segala sesuatu yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Maka di hati pun terjadi kegoyahan iman.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Laman Berikutnya »