Psikologi


Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Ketertarikan awal mengulik masalah ini berawal dari pikiran mengenai kegilaan. Bukan gila dalam definisi schizophrenia, tapi ‘gila’ yang biasa kita sebutkan kalau ada orang yang berasa, berpikir, dan bertindak di luar kebiasaan, berani keluar dari realitas yang ada dengan bertindak kreatif melebihi imajinasi, dan lebih seringnya perlekatan gila pada tindakan bodoh dan nekad yang dilakukan. Walaupun schizophrenia juga begitu, sih. Ya, karena kepikiran schizophrenia ada begitunya juga, sih, maka tertarik juga ngulik schizophrenia. Akhirnya merembet ke hal pikiran, dimana tak seorang pun manusia di dunia bisa melepaskan diri dari makhluk misterius ini. Pikiranmu mampu membawamu ke manapun kau mau.

Pikiran dan proses-prosesnya begitu menakjubkan; mampu keluar dari yang tak teradakan secara fisik. Mampu membentuk segerombolan impresi-persepsi yang memahamkan pengalaman tak sama pada tiap orang. Menjelma ke dalam bentuk-bentuk yang diyakini nyaman, untuk menghindarkan keterpecahan diri. Mempertahankan keaslian dalam kemampuan yang dimiliki, walau seringkali terlihat bagi orang lain adalah sesuatu yang aneh. Aneh, bukan unik, karena keteranehan dimaknai berada di bawah standar normal, sementara keunikan berada di atasnya. Namun, jikalau definisi normal bukanlah hanya sebatas dimaknai suatu garis lurus dan berlaku universal, tetapi normal pada batas tiap orang, maka adalah benar dan nyata bahwa “tiap orang adalah unik”. Nah, tentang keunikan, harus lebih dipikirkan lagi apa maksudnya. Apakah manfaat dari keunikan? Keunikan; begitu luas, begitu beragam sebanyak manusia di dunia, yang mampu saling mengisi ruang kosong pada orang lain, dan bersifat kreatif. Tetapi kenapa dari dulu hingga sekarang pola sejarah dunia tidak berubah? Bukankah seharusnya dengan keunikan yang dimiliki oleh tiap manusia akan mampu melahirkan karya-karya besar, yang tentunya akan membuat peradaban menjadi semakin baik? Hm, jikalau pun keunikan didefinisikan sebagai sesuatu yang selalu mengacu kepada kebaikan, tampaknya tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh berharap bahwa peradaban akan selalu baik. Sama sekali tidak boleh. Karena tiap orang harus menjalankan peran gandanya yang bolak-balik berada di antara dua jemari Tuhan, maka keunikan sebenarnya adalah pasangan pertentangan tiap orang; sehat-penyakit. Betulkah begitu? Tetapi bagaimana meletakkan definisi keduanya dengan benar demi pengobatan, jika bersandar kepada ‘keunikan’? Dimana letak universalitas dalam hal ini? Wallahu a’lam.

Berbicara soal pikiran, tidak dapat dilepaskan dengan otak dan (hati?). Masih membingungkan sebenarnya apakah definisi hati itu. Letaknya dimana? Apakah sama letaknya dengan otak, di pikiran? Heart bahasa inggrisnya, bukan liver. Heart, adalah jantung; sebagai tempat untuk memompa darah. Bersifat panas, memiliki api. Api yang menghidupi, yang menghembusi. Menghidupi dan menghembusi apa? Otak? Jadi yang pertama yang menjadi sebab siapa? Otak? Hati? Hati yang berotak? Otak yang berhati? Mengapa orang bisa terkena serangan jantung? Mengapa kecepatan denyut jantung berbeda pada saat kita duduk dan berlari? Dan tentu saja beda juga kecepatannya pada saat kita sedang menunggu giliran untuk wawancara pekerjaan dengan dikejar-kejar perampok. Kesimpulannya: akitivitas dan rasa beraktivitas mempengarui kecepatan denyut jantung. Tapi, apakah yang mempengaruhi rasa itu? Otak yang tak lepas dengan temannya, pikiran itu? Bagaimana proses mempengaruhinya? Bersifat imajiner ataukah nyata bisa dijelaskan secara fisiologis? Juga psikologis? Kembali ke kalimat awal pada paragraph ini; jadi dimanakah letaknya hati? Silahkan coba dibuka situs di bawah ini:

http://kontaktuhan.org/meditasi/meditasi_10_kelenjar_pineal.htm
http://kontaktuhan.org/news/news161/ss1.htm
http://sraddhawan.tripod.com/ilmu_pengetahuan_bio.htm

Bagaimana teman-teman menanggapinya? Memahami seperti apa/ bagaimanakah?

Saya hanya bisa berkata, “masih begitu banyak pengetahuan yang belum Allah bukakan bagi kita, sementara tugas kita adalah membukanya satu persatu sesuai dengan bidang kita.”

Caranya:

QS. 10 : 100
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ [١٠-١٠٠]

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan ‘aql (ya’qiluun) nya.”

‘Aql. Otak dengan hati? Hati dengan otak? Ada definisi lain? Dan balik lagi: letak semuanya dimana?

Silahkan jawab dulu semua pertanyaan di atas, baru lanjut tulisannya ke bagian 2.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.
Wiwik Ikbal

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Apakah yang menjadi kelemahanmu dalam hidup, Teman? Itu adalah perjuanganmu untuk menegakkannya menjadi kuat. Tapi sebelumnya engkau harus tahu asal dan bentuknya.

Neurosis Masa Kecil


Freud mengambil kesimpulan bahwa neurosis yang paling berpengaruh dalam kehidupan setiap orang adalah hal seksual. Ia mengambil kesimpulan ini berdasarkan hubungan tidak mengenakkan antar ayah-ibunya, dan orang-orang terdekat lainnya seperti kakak-kakaknya. Pemikiran Freud pada kasus-kasus tertentu bisa dibenarkan, dan tidak untuk kasus lainnya. Kasus Ryan si penjagal termasuk bisa dianalisis dengan pemikiran Freud satu ini. Hubungan pernikahan tidak bahagia termasuk yang cukup sering dianalisa melalui pemikiran Freud, walau sebenarnya menurut saya tidak semuanya.

Sekarang coba kita amati kehidupan kita masing-masing, mulai dari hubungan terkecil keluarga bati, persahabatan, hingga hubungan-hubungan lainnya termasuk dengan Tuhan. Dan amati menjadi bagaimana kita sekarang ini. Sedang berada di mana sekarang ini? Berdiri tegak dengan kokoh, mencari topangan agar sanggup berdiri, membungkuk menahan beban, ataukah jatuh karena kepenatan tak tertahankan? Dan sedang bersama siapa-siapa saja kita sekarang? Bagaimana keadaan mereka yang menjalin hubungan dengan kita? Apakah mereka menjadi topangan kita ataukah sebaliknya? Ataukah saling menopang satu sama lain? Ataukah malah menjatuhkan karena sama-sama tidak ingin ditopangi? Ataukah sama-sama terjatuh karena sama-sama tidak bisa menjadi topangan? Bagaimana fungsi Tuhan itu sendiri dalam mengantarai kehidupan kita? Mungkin tidak tepat jikalau ‘mengantarai’, karena Tuhan seharusnya menjadi bagian diri tak terpisahkan. Tetapi dikarenakan kenyataan terbanyak saat ini adalah Tuhan ‘hanya’ menjadi ‘mengantarai’, maka begitulah fungsi Tuhan sampai saat ini. ‘Mengantarai’ jika muncul eling waspada.

Eling waspada. Tiap orang memiliki kewaspadaan yang berbeda. Mereka sadar harus waspada terhadap sesuatu jika mereka sadar memiliki kelemahan akan hal tertentu. Kelemahan, yang menumbuhkan akarnya sedari kecil, menguatkan akar dan membesarkan pohon beserta merimbunkan dedaunannya, sebenarnya merupakan jalan bagi diri untuk menjadi orang yang kuat. Menunjukkan kekuatan-kekuatan dan kemampuan sebenarnya dirimu. Kelemahan yang dipelajari dan terus dipelajari, menjadi ilmu. Bagaimana tidak menjadi ilmu, jika engkau berusaha melawan kelemahanmu. Pengetahuan akan kelemahan, pengetahuan untuk melawan kelemahan, pengharapan kepada Tuhan untuk menguatkanmu, ketakberdayaanmu; dengan itu semua engkau menjalankan kehidupanmu. Sementara kekuatanmu sebagai pendukung. Kekuatan membantu melahirkan hikmah-hikmah, mengembangkan akal baik akal pikiran/ rasio/ logika maupun akal hati (‘aql, akal jiwa) sebagai sarana Mengenal-Nya lebih dekat. Karena itu, Tuhan menganugerahkan sebuah bentuk neurosis kepada tiap orang. Neurosis yang mulai dimunculkan penyebabnya sejak kecil. Bentuk neurosis bermacam-macam, tergantung secara umum dari psikis yang ditanamkan Tuhan beserta lingkungan-lingkungan yang engkau masuki , yang selanjutnya akan turut membantu perkembangan tipe kepribadianmu, yang sebenarnya sebanyak jiwa. Oleh psikologi hanya dikelompokkan tak pernah dikelompokkan lebih banyak dari 16.

Kelemahanmu, malah menjadi racun jika kau lawan dengan kekuatan-kekuatan semu. Memberikan kekuatan, tetapi sebenarnya hanya menjadi mekanisme pertahananmu kala menghadapi alarm bahaya. Entah itu ketika dilecehkan, digunjingkan, disanjung, ditiadakan.

Benarkah begitu? Sekarang coba kita amati kehidupan kita sejak kecil hingga sekarang. Apakah yang menjadi kelemahan-kelemahan kita? Mungkin itu adalah sebuah bentuk neurosis. Bersyukurlah, Tuhan memperhatikanmu. Responlah dengan bersegera kembali kepada-Nya, sebelum kelemahanmu memunculkan rahwana karena ketergantunganmu kepada kekuatanmu…

Wallahu a’lam.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Death and Dying


Death belongs to life as birth does
The walk is in the rising of the foot as in the laying of it down.

(Tagore)

Kematian dan kelahiran selalu ada setiap hari, silih berganti dan bersamaan. Tak sadar, hanya menjadi sesuatu yang biasa, seperti makan dan minum. Apalagi dikarenakan tak seorangpun tahu saat tiba ajalnya, kecuali orang-orang tertentu yang diberi pengetahuan oleh Allah.
Anak kecil riang gembira bermain, kebanyakan tak tahu bagaimana itu mati. Apa yang akan dibawa pada kematian dan apa yang akan ditinggalkannya di dunia. Remaja merasa lebih baik mati jika pacarnya direbut sahabatnya sendiri, tanpa ia sadar bahwa kehidupan sebenarnya adalah mati itu sendiri. Kematian tidak akan menyelesaikan masalahnya di dunia. Sementara si 20 tahun tidak mau mati karena sedang asyik mengejar cita-cita setinggi dan sebanyak gugusan bintang di langit dunia. Si 30 tahun terkadang suka teringat mati jika merasa berbuat kesalahan, tapi lebih memilih hidup 1000 tahun lagi dengan segala kesenangan duniawinya. Si 40, ketika masa kecil, remaja dan dewasa mudanya lebih banyak dikelilingi dengan penderitaan, mungkin sudah terbiasa dekat dengan kematian sehingga sudah lebih siap didatangi malaikat maut walaupun ketakutan mati terkadang menghampiri karena memikirkan dosa yang banyak atau karena sayang meninggalkan segala kemapanan: relasi sosial, pekerjaan, jabatan, dan barang-barang yang dicintainya. Si usia tua yang selama hidupnya banyak mengabdikan diri kepada Tuhan mungkin menghadapi kematian lebih efektif dibandingkan dengan yang sepanjang hidupnya lebih banyak mementingkan diri sendiri.

Tampak bahwa orang-orang yang belum siap mati berada dalam rentang usia 20 – 39 tahun. Menurut Kalish (1976), hal itu dikarenakan orang yang lebih tua memiliki aspirasi dunia lebih rendah daripada orang muda. Mereka sudah lebih mau menerima takdir-takdir yang menimpa dirinya, tidak ngoyo terhadap yang dicita-citakan. Orang lebih tua juga sudah lebih mempersiapkan diri akan kehidupan masa tuanya dengan memperbanyak beribadah. Sementara anak muda masih lebih senang memenuhi ambisinya dibanding beribadah. Anak muda juga masih belum banyak mengalami penderitaan, merasakan hal-hal berbau kematian, dan melihat kematian orang lain.

Dari semua usia di atas, secara umum masyarakat beranggapan bahwa kebanyakan manusia akan meninggal di usia tua (Bengston, Cuellar & Ragan, 1977; Kalish & Johnson, 1972; Kalish & Raynolds, 1976; Riley, 1970). Jadi tidak aneh juga jika banyak sekali manusia yang memuas-muaskan dirinya dengan segala kesenangan yang dengan gampang diperolehnya, mumpung belum tua. Jika pada usia 40 tahun belum bertaubat, lalu kapan memperbaiki dirinya? Banyak qisash yang harus dibayar untuk menebus kesalahannya selama hidup, jika tidak akan dibayar nanti di alam setelah mati. Padahal rata-rata usia orang Indonesia hanya 65 tahun. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jika orang belum bertaubat pada saat usianya 40 tahun, maka bersiaplah untuk menemui neraka.”

Jangan pula yang masih 30 tahun apalagi yang 20an merasa masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Jangan-jangan ia termasuk yang akan meninggal sebelum berusia 30 atau 40 tahun. Atau mungkin satu jam ke depan. Ataukah hitungan detik? Menit?

Sikap Menghadapi Kematian

Ada orang-orang yang dikehendaki dan diizinkan sang pemilik ruh untuk ‘menikmati’ aroma kematian; berjalan-jalan sejenak di alam barzakh melalui mimpi atau yang namanya mati suri, lalu kembali ke dunia untuk selanjutnya berusaha keras menjadi orang baik yang sangat hati-hati memiliki rasa, bertuturkata, bersikap, dan bertingkah laku. Setiap hendak melakukan dosa segera tersadar langsung istighfar. Ketika melakukan kesalahan, memohon ampunnya teramat dalam. Memang Rasulullah juga bersabda bahwa “Obat tidak berkaratnya hati ada dua, yaitu mengingat mati dan membaca al-quran.” Mungkin akan beda derajat keyakinan akan kematian orang yang hanya mengingat mati dengan yang diperlihatkan kematian atau alam kematian. Sama halnya dengan orang yang hanya membaca al-quran dengan yang benar-benar diperlihatkan tujuh lapis makna al-quran. Tetapi dengan mengingat mati dan membaca al-quran saja bisa mengobati karat hati, apalagi jika diperlihatkan kematian dan mempelajari al-quran dengan benar. Atau maksud dari hadits tersebut sebenarnya adalah membaca dengan pemahaman dan pemaknaan.

Mengingat mati pun bukan sekedar mengingat saja. Selain dengan cara memandikan jenazah, menshalatinya, menziarahi kuburnya, mendoakan jenazah, mengingat mati juga bisa dilakukan dengan banyak berkunjung dan memberi ke panti asuhan. Bagi orang tua seperti diingatkan mumpung belum mati sebenar-benarnyalah memberikan pengasuhan kepada anak, berusaha keras memberikan terbaik kepada mereka. Begitupun suami terhadap istri dan sebaliknya. Penuhi amanah selagi masih diberi kesempatan hidup oleh Allah. Berikan anak-anak bekal kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan taqwa, sebagaimana Qs…. “Takutlah engkau jika meninggalkan anak-anak yang lemah.” . Bagi anak-anak semakin sayang dan hormat kepada orang tuanya. Bayangan menjadi yatim piatu seperti anak-anak panti yang mereka kunjungi membuat mereka sedih, rasanya ingin segera memeluk kedua orang tua dan berterima kasih atas segala kasih sayang mereka selama ini. Kematian juga membuat mereka takut berbuat kesalahan. Bisa dimengerti, bahwa orang yang mengingat mati dan membaca al-quran hatinya tidak berkarat karena sering diupayakan untuk digosok dengan kebaikan dan pengendalian diri dari melakukan salah dan dosa.

Tetapi tidak semua orang mampu secara efektif menghadapi kematian. Ada yang begitu ketakutan hingga paranoid, sehingga merusak aktivitas sehari-harinya. Tidak berani kemana-mana karena takut maut men jemput tatkala ia sedang tidak bersama keluarga misalnya. Ada lagi yang lebih banyak mencari-cari atau lebih tepatnya mengada-ada pertanda daripada melakukan sesuatu sebagai upaya pensucian dirinya. Terasa fisiknya sakit sedikit merasa ruhnya sedang proses dicabut. Tercekatnya kerongkongan menandakan ruhnya sudah hampir keluar. Dingin yang dirasakan ia tandai sebagai ruhnya tak lama lagi akan berpisah dari tubuhnya. Kicau burung dirasakan sebagai pertanda akan ada yang meninggal di rumahnya, yaitu dirinya. Lantai kamar mandi yang licin pun dicurigai sebagai penyebab kematiannya, sehingga untuk wudhu pun minta ditemani orang. Detak jarum jam pun menjadi sensitive baginya kini. Sepertinya kematian hanya tinggal membalik sebelah telapak tangan. Betapa tak enaknya dihantui seperti itu. Betul-betul hanya akan menyusahkan diri sendiri. Apalagi jika sampai menyusahkan orang lain, misalnya suaminya atau anaknya tidak boleh berangkat kerja, anggota keluarganya tidak boleh tidur agar jangan sampai membiarkan ia sendiri pada saat sakaratul maut. Biarlah ia masih menikmati keduniaannya dengan ditemani cinta kasih sayang orang-orang terdekatnya. Saking ketakutan meninggalkan yang ia cintai, ia bahkan tidak mengira-ngira apa yang akan ditemuinya di alam sesudah kematiannya yang lebih abadi. Harapannya hanya segala yang dicintainya yang ada di dunia seyogyanya ada pula di alam barzakh nanti.

Menurut Simpson (1979), orang takut mati bisa disebabkan oleh proses kematian itu sendiri, yang berhubungan dengan masalah biologis seperti kesakitan fisik, dan masalah sosial seperti perasaan ketergantungan, kesepian dan ditinggalkan pada saat akan mengalami kematian; takut kehilangan eksistensi diri; takut akan kehilangan hal-hal yang sudah direncanakan; ketidakpastian akan hal-hal yang ditemukan setelah mati; takut kehilangan orang-orang yang dicintai.

Namun tidak seperti tokoh-tokoh yang disebutkan namanya di atas, CG. Jung mempunyai pendapat yang berbeda. Ia menemukan, kebanyakan neurosis pada remaja dikarenakan takut pada hidup, sementara orang yang lebih tua bersembunyi dari kematian. Hal itu dikarenakan labilitas emosi yang dimiliki para remaja, apalagi pada zaman sekarang, apapun segalanya tersedia dengan gampang tanpa usaha lebih keras untuk mencapainya. Mendapatkan masalah sedikit saja sudah merasa menjadi orang termalang di dunia. Penelitian di Indonesia juga membuktikan bahwa beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sampai remaja yang melakukan bunuh diri. Alasannya macam-macam: aspirasi orang tua terlalu tinggi terhadap prestasi anaknya, ditinggal pacar, kalah bersaing dalam bidang akademis di sekolah, orang tua bertengkar terus, merasa sangat malu dengan teman sekolah karena merasa miskin, tidak mempunyai teman, tidak mampu menghadapi masalah karena biasa dimanja, dan lain sebagainya.

Pada orang yang lebih tua (40 tahun ke atas), pengetahuan tentang diri yang banyak dosa, amal yang tak banyak dan kehidupan sesudah mati membuat mereka takut akan kematian. Neurosis pada masa tua lebih banyak tentang berita kematian. Mereka takut tatkala mati tidak membawa amal apapun kecuali dosa yang bertumpuk. Mereka pun takut orang-orang yang mereka cintai tidak lagi mencintai mereka sehingga lupa mendoakan keselamatan mereka di alam barzakh. Mereka pun takut orang-orang yang pernah mereka zalimi terus-menerus mengingat dosa mereka dan tak henti menjerit kepada Tuhan untuk memberikan balasan setimpal atas dosa yang pernah mereka perbuat. Kalau diizinkan, Tuhan mengutus malaikat maut kepada mereka biarlah pada saat mereka telah benar-benar bertaubat, meminta maaf kepada yang pernah dizalimi dan memohon ampun kepada Allah. Juga mereka menginginkan telah banyak melakukan kebaikan berupa amal shaleh pada saat maut itu menjemput.

Memikirkan kematian, hanya sekedar sebuah transisi belaka – satu bagian dari proses kehidupan. Manusia mungkin akan lebih siap meninggalkan dunia ketika mereka meyakini bahwa di alam barzakh ada klon suami atau istri dan anak-anaknya. Tetapi bisakah kita, haruskah kita, mencoba meyakinkan diri untuk percaya bahwa ada yang lebih baik di sana? Merasa sudah selamatkah kita?

Setidaknya, ada sebuah doa yang harus dipanjatkan,

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya, Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslimiin) kepada-Mu.” (QS. Al-A’raaf : 126). Amiin, ya, Robbal ‘aalamiin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Pelbagai sumber yang terbaca dan terdengar, namun tak tercatat..

Salaam.
Dwi Afrianti. Jum’at, 23 Januari 2009, Pk. 16.31 wib.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

PENDAHULUAN
Fenomena anak gifted sekarang sudah cukup banyak, semarak bagaikan kembang api yang memberikan letusan aneka warna. Mengangkasa aneka bentuk, mewarnai aneka cahaya. Melecutkan pikiran, mencuatkan perasaan, menuntut untuk bersikap sangat hati-hati. Mewaspadai setiap mimik wajah, kata yang keluar, tingkah laku yang terlakukan, bahkan bisikan hati. Mereka seakan-akan bisa membaca lintasan hati seseorang. Jadi jangan pernah ‘membohongi’ anak gifted dengan cara apapun.

Mendapati mempunyai anak atau anak-anak yang gifted, menyadari seperti mendapatkan sebuah kutukan atau berkah? Anak-anak gifted biasanya berasal dari orang tua yang gifted juga. Nah, mendapati diri gifted, apakah sebuah kutukan atau berkah?

Gifted mind? Plato berkata, “adalah sebuah neraka.” Ingat, gifted mind. Hanya mind-nya. Manusia toh tidak hanya hidup dalam mind-nya. Nanti insya Allah akan dibahas apa isi dari mind beserta proses-prosesnya.

Tuhan menganugerahi obat pada setiap ‘penyakit’. Saya tidak bermaksudkan gifted adalah sebuah penyakit. Tetapi pemberian-Nya di atas normal, ada kalanya bisa menjadi ‘penyakit’ bagi yang terkena dan orang lain yang berada bersamanya, karena agak berbeda dari kebanyakan orang umum. Sesuatu yang berbeda terbiasa dilabeli ‘penyakit’ atau ‘anomali’. Tetapi karena juga membutuhkan perlakuan yang khusus bagi mereka. Layaknya obat, hanya diberikan kepada pasien.

Oke, sekarang saya mencoba mengupas tentang giftedness, terkait dengan fenomena yang pernah ditemui.

Ada orang tua merasakan bahwa giftedness merupakan sebuah kutukan, sebuah keburukan orang tua yang menjelma ke dalam diri anak-anaknya, membentuk superiotas berlebihan (sudah super, berlebihan pula..). Pemikiran-pemikiran tertentu yang tidak mau berhenti, tidak mau tidur karena ingin belajar terus. Selalu ingin ada yang dilakukan, tidak bisa mau diam. Minimal diam berpikir. Selalu berbicara sambil melakukan sesuatu. Pokoknya hampir tidak pernah diam. Hampir-hampir mempertanyakan banyak hal, kalau tidak mau dibilang hampir segala hal. Bertanya terus, menjawab terus, begitu terus hingga mentok. Nanti entah kapan kembali lagi ke topik yang mentok tersebut. Nyari terus. Sementara kalau dikasih tahu orang tidak bisa langsung percaya kecuali kalau orang itu benar-benar kualified menurutnya. Kriteria kualified pun dibuatnya sendiri. Disebut orang rese, mungkin bisa. Alias keras kepala dan suka sekali membantah. Konfrontasi. Suka malah membingungkan diri sendiri, karena dia pun tidak terlalu mempercayai ‘apa’ yang telah diperolehnya. Sukanya main perintah karena memang bakat pemimpinnya kental. Harapan terhadap kesempurnaan besar, karena itu suka dengan hal detil yang akan mengarahkan pada penarikan kesimpulan universal.

Selain kognitif yang sensitive, emosinya juga. Pemikiran dengan imajinasi yang berkembang ke mana-mana terkadang – namun seringkali – menjadi racun bagi emosinya, yang, jika berada di tempat yang benar, misalnya dalam sublimasi seni, bisa menjelma menjadi sebuah karya unik. Giftedness, memang terlahir dengan pengiringan bakat seni, untuk menumpahruahkan kebebasan dan kesibukan pikiran dan emosi yang tidak akan mendapatkan celaan dari orang lain karena keunikannya. Dalam seni ia bebas berekspresi. Namun giftedness tidak terlahir dengan hanya bakat seninya. Seni tampaknya lebih kepada obat bagi ‘penyakit’ tersebut. Banyak kemampuan yang dimilikinya, dan tentunya harus dikembangkan. Kemampuan yang banyak atau beberapa, sebenarnya hanyalah sebagai pendukung dari ‘diri’ nya sebenarnya. Namun, salah asuh akan mengakibatkan giftednya tersembunyi, yang tampak hanyalah kebengalannya.

Di mata orang awam, anak gifted lebih sering terlihat sebagai anak yang bermasalah (trouble maker). Di sekolah cepat bosan karena dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Alih-alih untuk mengeluarkan sisa energinya yang tampak tak pernah habis, ia melampiaskannya dengan misalnya mengganggu guru dan teman-temannya, mengajak gurunya berdiskusi, menginterupsi guru yang sedang menjelaskan sesuatu kepada siswa, membuat pelajaran sendiri yang lebih menarik daripada yang diberikan guru untuk menarik perhatian siswa lainnya, dll. Acapkali lebih senang berteman dengan anak yang lebih besar daripadanya, aktif, dan kreatif, juga yang mau diajak kerjasama baik dalam hal positif seperti berdiskusi maupun negatif seperti bertengkar. Anak gifted tipe verbal akan mengeluarkan kata-kata ‘sakti’ mandraguna untuk melawan , dan mampu membalikkan kata-kata pembalasan dari lawannya.

IQ gifted:
# 125-134 – Gifted
# 135-144 – Highly gifted
# 145-154 – Genius
# 155-164 – Genius
# 165-179 – High genius
# 180-200 – Highest genius
# >200 – “Unmeasurable genius”

Standar di atas jarang digunakan untuk ‘menempatkan’ seseorang sebagai gifted. Hasil tes IQ sebuah perguruan tinggi negri paling ternama di Indonesia, rata-rata mahasiswanya memiliki IQ 128 – 130. Adaptasi terhadap lingkungan cukup baik, masalah emosi terutama pada hal kurang empati. Justru terbalik dari anak gifted, yang, sebenarnya memiliki empati besar. Hanya saja sering kurang bisa menempatkan dengan benar.

Standar lain, sebagai perbandingan:
130-145 – moderately gifted or just plain “gifted”
145 and 160 – “highly” gifted
160 and 180 – “exceptionally” or “profoundly” gifted

Pada IQ di sini, seseorang lebih terlihat gifted nya. ‘Kekacauan’ mulai terlihat pada IQ 140. Semakin ke atas semakin ‘kacau’, semakin sulit untuk dipahami.

IQ tinggi tidak selaras dengan emosi. Misalnya seorang anak gifted usia 3 tahun. Ia memiliki emosi anak usia 5 tahun, motorik usia 4 tahun, sementara IQ 160. Ingin melakukan sesuatu sesuai dengan pemikirannya, tetapi apa daya karena motoriknya tidak mendukung. Misalnya ingin menuliskan pemikirannya, tapi belum sanggup menulis sementara besar keinginan untuk menulis. Ditambah dengan emosi anak-anak yang masih labil, pemenuhan keinginan segera, bisa dibayangkan bagaimana perang yang berkecamuk dalam dirinya. Orang yang tidak mengerti, malah akan mengasingkannya. Kebanyakan mereka tidak mengerti bagaimana memahami apalagi mengasuh anak gifted.

Pengasuhan Anak Gifted

A. Salah Kaprah Pengasuhan Anak Gifted

Anak gifted atau lainnya, ketika orang tua mendapatkan anaknya cerdas, seringkali yang terpikir pertama kali adalah “bagaimana caranya agak kecerdasan anaknya optimal, tidak tersia-siakan”. Seribu satu cara seperti memberi kursus pelbagai bidang pun dilakukan orang tua. Matematika, bahasa asing, gambar, musik, komputer, dan lain-lain acapkali menjadi pilihan orang tua. Mereka merasa, jika tidak mengoptimalkan kecerdasan anaknya, maka murka tuhan jatuh kepada mereka. Seakan-akan takut keduluan murka tuhan, mereka tanpa berpikir panjang lagi menyediakan buku agenda kegiatan bertumpuk bagi anaknya. Bagaikan seorang pengikut buta, tanpa pandang keinginan dan usia anak, anak pun akhirnya menjadi mesin obsesi orang tua. Kalaupun tidak dikursuskan, stimulasi di rumah gencar dilakukan. Memasuki rumah, seperti sebuah laboratorium percobaan kepada seekor orang utan. Bergelantung dan bergelantung ke sana kian ke mari, sebelum dan setelah menjalankan pelbagai eksperiman melakukan pekerjaan rutin; makan mengambil pisang, memakannya, membuang kulitnya dan lain-lain. Begitu saja seharian. Ia tak tahu, bahwa di luar sana ada hutan yang merupakan tempat hidup sesungguhnya. Di sana ia bisa memandang aneka warna, merasakan aneka cuaca, mendengarkan aneka suara, berpikir dan berperasaan lebih. Memahami lebih luas dan jauh. Sebuah laboratorium, bagaimanapun hanyalah buatan manusia yang disesuaikan dengan keinginan manusia yang terkontaminasi dengan syahwat dan hawa nafsu. Sesuatu yang alami lebih menyegarkan lagi menghidupkan.

B. Sebaiknya Bagaimana?

Anak cerdas, jika sudah cerdas, ya tetap cerdas saja. Dikarenakan naluri setiap orang adalah mencari pengetahuan, maka tanpa distimulasi pun mampu. Kita mencari sendiri apa yang kita butuhkan. Tidak perlu stimulasi, yang perlu adalah fasilitasi. Fasilitasi adalah memberikan apa yang dibutuhkan. Yang dibutuhkan anak adalah penyelesaian terhadap masalah-masalahnya, agar ia mampu mengoptimalkan sendiri apa yang menjadi kemampuan dan kelebihannya.

Pada anak gifted, masalah emosi, yang, tentunya berdampak pada sosialisasi, menjadi hal yang menjadi perhatian utama. Seyogyanya orang tua mampu menjadi ‘sahabat’ anak dalam hal itu, bukan malah memusuhinya dengan label negatif. Membantunya dalam regulasi emosi dengan cara memperhatikannya secara indivual akan membantu orang tua itu sendiri untuk memahami anaknya, pun sang anak ikut terbantu memahami dirinya. Seringkali mereka bertanya, “Mengapa aku berpikir seperti ini? Mengapa aku melakukan hal ini? Mengapa aku merasakan hal ini?” Pertanyaan tersebut jika dilihat sepintas lalu memang merupakan area kognitif, pun proses pencariannya. Namun di dalam pencarian jawaban, akan memunculkan ketidakseimbangan. Ketegangan. Jika sampai frustrasi tak menemukan jawaban, maka yang muncul adalah agresivitas dalam bentuk kemarahan. Itulah yang kita kenal dengan kenakalan ‘luar biasa’. Gifted hilang, yang tampak troublenya saja.

Kita hanya bisa mengikuti jalan pikir anak sesuai metoda mereka sendiri, karena diharapkan kita yang sudah hidup jauh lebih dahulu daripada anak sudah mampu menjadi pembimbing mereka. Pada kasus di atas, cobalah untuk memperhatikan anak dengan sebenar-benarnya tanpa diselingi pekerjaan lain. Beri mereka waktu yang pantas untuk menyelesaikan pemikiran mereka dengan cara mereka. Mereka ingin berdiskusi, layani. Jangan lupa, bahwa kita sebagai orang tua juga perlu memberikan pemahaman kepada anak bahwa mengharhai orang lain juga perlu. Orang tua juga perlu waktu untuk melaksanakan pekerjaan lain. Seperti dirinya, orang tua juga perlu belajar atau bekerja misalnya. Persoalan waktu anak gifted terletak pada “tidak ingin diselingi oleh hal lain”. Jadi, berikan mereka waktu yang kita tidak sedang mengerjakan hal lain. Misalnya beri waktu dua jam untuk menuntaskan pembelajaran yang mereka inginkan, lalu berhenti. Orang tua bisa beristirahat sejenak atau mengerjakan hal lain. Dan siap-siap saja, ketika memasuki waktu berikutnya, tampaknya orang tua akan mendapati, bahwa pemikiran mereka ternyata belum selesai dengan topik yang sama. Seringkali topik yang sama dengan munculnya asumsi-asumi baru yang berbeda. Dan bisa berhari-hari lamanya. Tetaplah mencoba untuk tidak memperlihatkan kebosanan. Pastikan bahwa orang tua memperhatikan dengan baik, menambah pengetahuannya tentang topik tersebut, dan jika tampaknya ‘urusan’ tidak bakal selesai, berhentikan saja dengan mengatakan, “Setiap orang diberikan pengetahuan yang berbeda, karena itu kita tidak bisa mengetahui segala hal. Begitu pula dengan ibu/ bapak. Begitu pula dengan kakak. Kita tidak bisa mengetahui segala hal. Hanya Allah Yang Super. Dan seringkali untuk mengetahui sesuatu, dibutuhkan pengalaman kita, yang, tentunya dipengaruhi oleh umur juga. Tentang apa yang ingin kakak ketahui, bagaimana kalau kita hentikan dulu?” Dengan penjelasan yang LOGIS, anak gifted mau mengerti. Dan ingat, jangan pernah menjanjikan jika sebenarnya kita tidak mampu memenuhinya. Misalnya dengan menjanjikannya untuk mendiskusikan hal tersebut lagi kapan-kapan. Berjanji dalam hati saja, jika kita sudah menemukan jawabannya, maka kita akan memberitahukannya. Mereka akan menyambutnya dengan suka cita. Anak gifted senang menampakkan emosinya. Respon mereka dengan tulus. Balas pelukan mereka dengan erat. Pembelajaran emosi ini selain penting bagi sosialisasi dalam keluarga, juga penting bagi sosialisasinya dalam lingkungan luar. Setelah merasa nyaman berada di rumah, ia akan merasa nyaman di lingkungan luar, tidak gampang menghakimi.

Anak gifted, juga suka memanipulasi lingkungan untuk mendapatkan keinginannya. Entah itu dengan menggunakan kognitif atau emosinya. Untuk itu, buatlah aturan yang konsisten. Jangan pernah memberikan reward setelah ia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Bagi saya pribadi, tampaknya reward lebih efektif untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan daripada pemberian hukuman untuk menurunkan perilaku yang tidak diharapkan. Jikalau anak melakukan kesalahan, lebih baik iming-imingi dengan hadiah jika ia mau berjanji untuk berbuat hal lebih baik daripada kesalahan yang telah dilakukannya. Mengancam dengan hukuman, bagi anak-anak, khususnya anak gifted, malah akan membuatnya memperlakukan hal sedemikian kepada anak/ orang lain. Imajinasi bercampur dengan emosi, ditakutkan malah ‘menghukum’ anak/ orang lain secara berlebihan.

Mereka juga selalu ingin menang, lebih unggul daripada anak/ orang lain. Lingkungan kompetitif tampaknya baik bagi anak gifted jika kemenangan tidak selalu berada pada pihaknya. Dan memang manusia tidak selalu lebih unggul walaupun dia gifted sekalipun. Beri penjelasan kepadanya dengan LOGIS bahwa ia kalah karena…, temannya menang karena… Dengan penjelasan secara logislah mereka lebih bisa menerima penjelasan.

Jikalau ditanya, sekolah yang bagaimana yang tepat bagi anak gifted? Sekolah khusus gifted, sekolah swasta fullday, inklusi, ataukah sekolah negri yang pulangnya cepat? Saya pribadi, lebih memilih sekolah dengan aneka ragam siswanya, dan yang memberikan tantangan bahwa tidak segala hal gampang diperoleh. Entah itu karena adanya perbedaan kecerdasan kognisi, emosi, cara bersosialisasi, tingkat perekonomian siswa, ataupun aneka ragam kebudayaan. Membiarkan mereka lepas dan mempelajari perbedaan.

Terakhir, sebagai bahan perenungan bagi kita semua orang tua

Tak banyak anak gifted yang menjadi manusia berhasil pada saat dewasanya, seringkali tak menjadi apa-apa. Itu dikarenakan beban kognitif yang ditumpuk-tumpuk orang tua kepada mereka sedari kecil tanpa memperhatikan kesejahteraan emosi dan sosialisasinya. Bagaimanapun, mereka adalah anak kecil yang tentunya bermain merupakan cara untuk mengeksplorasi kognitif, emosi, dan sosialisasi. Jangan khawatirkan dengan kognitif mereka. Khawatirkanlah masalah emosi dan sosialisasi mereka. Kebahagiaan tumbuh dari kekayaan emosi yang terkendali baik, mampu berhubungan dengan diri dan orang lain dengan baik sehingga kemampuan dan kelebihan mereka dapat diaktualisasikan dengan cara yang baik pula. Bukan hanya menjadi diri yang soliter. Dan selalu ingin menang sendiri. Sesungguhnya itu malah akan menumbuhkan ketakaburan, kesombongan, perasaan takjub diri yang akan menjauhkannya dari Allah swt. Na’udzubillah min dzalik.

Sesungguhnyalah Kebenaran milik Allah, kesalahan dari saya pribadi. Mohon maaf jika terdapat kesalahan.

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

Wassalaamu’alaykum wrwb.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Oleh Dwi Afrianti

Merebaknya begitu banyak masalah di Indonesia hingga menjadi masalah sosial menimbulkan keprihatinan yang cukup dalam. Jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka akan menjadi penyakit sosial yang dikenal dengan nama patologi sosial. Jika patologi sosial tidak segera diatasi, lama kelamaan akan menjadi hal biasa sehingga standar nilai masyarakat pun berubah. Orang normal bukan lagi orang yang menjalankan hukum-hukum agama dan budaya, tetapi adalah yang berperilaku terganggu. Maka yang dipandang aneh adalah orang yang melakukan hukum agama. Agama tak lagi mampu menuntun perikehidupan setiap orang karena dipandang tidak berharga.

Sejak kecil setiap kita sudah disuguhi oleh nilai-nilai agama melalui pelajaran agama di sekolah, di tpa (taman pendidikan alquran), di media, dan di manapun juga termasuk di rumah kita sendiri dengan aneka metode, media, bahkan pengajar dengan tujuan berakhlak berprestasi, generasi rabbani, generasi syurgawi, insan kamil, dan lain sebagainya tujuan mulia. Tetapi tampaknya suguhan tersebut hanya dalam tataran pengetahuan saja, tidak terinternalisasi ke dalam hati tiap orang. Atau bahkan hanya dalam tataran mengetahui saja tanpa memahami. Atau paling mengenaskan hanya dalam tataran informasi tak penting. Tahu sebentar untuk kemudian hilang berganti informasi lain. Pelajaran yang diperdengarkan dan dibincangkan pun sebenarnya tidak dimengerti. Kosong tanpa makna.

Sebenarnya bukannya di rumah-rumah dan di sekolah-sekolah juga masyarakat belum pernah ada pendidikan agama. Jadi kita pun tidak bisa mengusulkan ‘adanya pendidikan agama atau penanaman moral’ bagi siswa sebagai solusi atas krisis moral yang terjadi di bumi tercinta terutama di negeri pertiwi ini. Karena hal itu diberikan. Lagipula, siswa bukan satu-satunya anggota masyarakat. Orang tua, keluarga, pemimpin, aparat pemerintah, guru, dan lainnya juga merupakan anggota masyarakat. Butuh kerjasama semuanya untuk membentuk suatu masyarakat beradab. Dalam pelbagai bidang. Setiapnya harus beradab.

Pada zaman modern (postmodern, ding) sekarang ini di mana segala sesuatunya instan, akselerasi, quantum, dan hasil segera dengan kesalahpahaman pemaknaan di hampir semua bidang, menjadikan tujuan-tujuan mulia setiap pendidikan tenggelam. Pendidikan di bidang apapun itu. Tiap kelompok mendewakan konsep tertentu, melahapnya mentah-mentah tanpa berpikir dampak jangka panjangnya. Ditambah lagi dengan penyakit latah yang memang merupakan penyakit khas bangsa asia termasuk Indonesia sudah meluas menjadi hysteria atau dalam agama mengatakan dengan bahasa kesurupan.

Keburukan-keburukan membungkus pikiran dan hati dengan kegelapan demi kegelapan sehingga rasio dan logika tidak lagi mampu memegang kendali atas perasaan yang dominan dimiliki oleh perempuan. Mencari sifat laki-laki yang penuh dengan pertimbangan kebijakan sudah sulit karena laki-lakinya sendiri pun sudah terwarnai oleh sifat perempuan. Atau malah sudah menjadi perempuan; walau sosok tubuhnya jantan tapi pikiran dan perasaannya adalah perempuan. Sekarang juga penyakit amuk, yang juga merupakan penyakit bangsa asia tengah menjadi trend. Kekerasan dan kekasaran dipandang sebagai solusi cerdas dan tepat. Karena pengalaman yang mereka tangkap seperti itu. Ternyata, pembelajaran yang salah dari pengalaman mampu menyesatkan. Tak selamanya pengalaman merupakan guru yang baik. Dibutuhkan itikad yang baik dari murid untuk menerima ajaran-ajaran kebaikan gurunya.

Perilaku konsumerisme, pelbagai obsesi dan keinginan telah meluluhlantakkan kesederhanaan yang tadinya menjadi kepribadian bangsa. Padahal kesederhanaan bisa menumbuhkan kebajikan-kebajikan seperti keseimbangan dalam menakar diri, pola hidup berderma, tolong-menolong, bersabar, bersyukur, tawakal, dan ikhlas. Dengan tumpulnya kesederhanaan, maka orang akan selalu berpikir ke atas, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah di dapat. Hati selalu panas jika belum bisa menjadi orang unggul, minimal menurut persepsinya. Masing-masing kemudahan, kelebihan, kemampuan, dan perolehan diri tidak menjadikan kesyukuran, tapi malah membentuk api yang semakin terus berkobar karena gasnya tak pernah berhenti menyembur. Menyembur di mana-mana menangkap siapapun tanpa pandang rasa kasih sayang yang merupakan dasar dari kemanusiaan. Orang-orang susah serba kekurangan juga membentuk apinya sendiri. Dengan kayu bakar yang mereka panggul dari hutan. Sudah letih mengangkutnya, pulang ke rumah malah menghabiskan bakarannya dengan sesuatu tak bermoral.

Neraka ada di mana-mana. Ketika penyakit psikologis telah menjadi epidemi, apakah ada tempat untuk mengkarantinanya? Apakah dijamin tidak menular? Bagaimana jika dalam satu keluarga, signifikan personnya (ibu, ayah) yang terkena? Bagaimana nasib anak-anaknya? Lalu ada keluarga-keluarga lain yang banyaknya membentuk sebuah desa hingga negara. Padahal menurut Aristoteles, “ perkembangan sebuah keluarga tidak hanya akan mempengaruhi perkembangan negara, tapi proses dan hasil transisi dari pembentukan keluarga menuju negara diperlukan pemerintahan untuk membuat suatu aturan atau hukum masyarakatnya.” Dapat dikatakan bahwa secara umum, gambaran suatu negara adalah gambaran keluarga-keluarga dalam negara tersebut. Negara yang dulunya bersahaja bisa bergeser menjadi negara yang mengejar dunia karena tidak memandang tinggi, memperlakukan dengan hormat disertai penuh rasa syukur adat istiadat, budaya bangsa, dan hukum-hukum agama sehingga ketika kebudayaan barbar negara lain masuk melalui media apapun, negara tidak cukup memiliki kendali. Terlebih jika negara itu sendiri tidak memahami idealisme yang telah dibentuk oleh para pahlawannya terdahulu. Alih-alih ingin modern malah kembali ke purba. Makhluk purba yang tinggal dalam situasi dan kondisi modern, bisa dibayangkan betapa kaget dan tercengang-cengangnya. Dalamnya tak berpakaian, pikiran dan hatinya berteriak-teriak, sementara luarnya berpakaian dengan tingkah laku terkendalikan oleh pelbagai keinginan. Terkilaukan oleh cahaya-cahaya buatan tangan manusia yang juga menyimpan pelbagai keinginan. Membentuk penyakit-penyakit pribadi yang pada akhirnya menjadi penyakit masyarakat. Dunia tinggal menunggu bersatunya neraka untuk membakar orang-orang yang memiliki kayu bakar di pikiran dan hatinya.

Mau dibawa ke mana bangsa besar ini? Kemerdekaan yang juga baru sebentar akankah kembali dijajah oleh anak bangsa sendiri dengan kegelapan demi kegelapannya? Kita tentunya tidak mau hal seperti itu terjadi. Kita tentunya ingin bangsa kita selalu bersinar. Ingin cahaya ketuhanan senantiasa menaungi hati dan pikiran tiap kita, menguatkan rasa pengabdian kepada-Nya yang akan mengantarkan tiap diri mendekat kepada-Nya menuju fitrah. Menuju pengenalan akan diri sendiri dan Tuhan kita. Tapi keinginan saja tidak cukup. Pertama kali dibutuhkan pengetahuan yang menumbuhkan kesadaran bahwa apa yang selama ini kita yakini mungkin salah sehingga butuh perbaikan mulai dari aspek rasa, karsa, cipta dan kelakuan. Bertobat, meningkatkan keimanan, memperbaiki diri, dan tetap berada dalam petunjuk-Nya dalam hidup dan kehidupan. Amin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ