Seni – Musik


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Perkembangan Musik Anak Usia 2 – 3 Tahun

Ketika anak-anak mulai belajar untuk memahami hubungan antara kata-kata dengan maknanya, orang dewasa dapat menyediakan hal-hal menyenangkan dan latihan-latihan mendidik yang akan memperkuat pemahaman mereka. Perkenalkanlah frase-frase musikal atau lagu-lagu singkat disertai gerakan.  

Ames (1970, p. 85),  

“Pada usia 21 bulan, kata “atas” dan “bawah” merupakan bagian dari kata-kata favorit anak.”

 

Selama periode preschool, kita sebaiknya mengakomodasi ritme tubuh  anak-anak daripada memaksa anak-anak untuk mengikuti beat yang diperdengarkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pertama kali mengamati dan mendengarkan secara penuh perhatian ketika mereka bertepuk tangan, berjalan, berlari, melompat, berputar, menjinjit, dan sejenisnya, kemudian sediakan hal-hal pendukung yang dapat disesuaiikan dengan ritme tubuh  mereka sendiri.

Mereka memilih sendiri jumlah ketukan  mereka. Mereka menyukai lagu-lagu lucu, bereksperimen dengan pelbagai instrumen musik walaupun belum cukup mampu untuk secara rutin bermain musik dalam waktu pendek sekalipun. Perkenalkan banyak instrumen musik, mulai dari suara, bentuk, dan namanya, sehingga anak-anak lama kelamaan mampu membedakan suara-suara instrumen tanpa harus melihat. Perkenalkan juga bagaimana cara memproduksi efek suara-suara tertentu yang sering didengar sehari-hari dalam lagu-lagu, cerita, atau permainan bersama mereka.

Konsep yang minimal dikuasai :

Atas – bawah, Berputar : naik-turun, terbang, tikus mengendap, lompat, bouncing, berayun, rocking, berputar berkeliling.

Perkembangan Musik Anak Usia 3 – 4 Tahun 

 

Menikmati permainan dalam bentuk nyanyian dan warna instrumen musik  (untuk seterusnya memerlukan eksplorasi, ekspreimen, dan memanipulasinya). Suka mendengarkan cerita, bahkan menyimaknya agar dapat diceritakan kembali. Sudah cukup mampu memainkan instrumen musik dalam waktu lebih lama.

Anak-anak mulai mampu beradaptasi dan mengendalikan respons rhytmic mereka – sementara

menggerakkan tubuh mereka dalam pola rhytmic yang diminta atau sambil memainkan instrumen musik. Perkenalkan secara rutin ritme dan melodi instrumen untuk meningkatkan aktivitas musik mereka. Bermain musik bersama (ensemble) teman-teman lebih disukai daripada bermain solo.

Konsep yang minimal dikuasai :

Angka dan warna dalam musik, perbedaan titi nada, mengulang-ulang melodi, pola irama, staccato singing & playing.

Perkembangan Musik Anak Usia 4 – 7 Tahun

 

Menikmati aktivitas musik dapat menghasilkan keseimbangan lahir dan bathin. Mereka suka mendramatisasi lagu-lagu, cerita, dan puisi. Mereka senang mendengar cerita tentang musik, dan bermain peran dalam drama musikal. suka berbicara hal-hal ‘tinggi’, sangat menyukai kalender (almanak), dan hampir dapat menyebutkan nama hari dalam seminggu. Mereka menyukai jam juga, walalupun belum dapat menyebutkan waktunya. Hampir sangat dapat beradaptasi dengan bunyi kata-kata dan membentuk matematika komputasi. Berminat terhadap lingkungan sekitar dan komunitas bermainnya, juga lingkungan tempat orang-orang dikenalnya berada. Tidak terlalu berminat terhadap lingkungan yang jarang dikunjungi. Sudah lebih gampang dan siap untuk bermain dalam kelompok lebih besar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Jangan terlalu sering menggunakan lagu bernada tinggi.

5. Rhythm dan melody instruments harus terbuat dari bahan yang berkualitas baik dan bersuara bagus.

 

Konsep yang harus dikuasai :

Memperkenalkan notasi musik melalui permainan matematika. Konsep dan terminologi musik, seperti lembut dan keras, nada tinggi dan rendah, beat teratur dan tidak teratur, datar dan tidak datar, dapat menjadi bagian dari kosa kata dan pemahaman anak-anak dalam nyanyian, gerakan, bermain alat musik, mencipta lagu, puisi, dan gerakan. Ketika anak-anak belajar menyanyi, mereka harus diberi kesempatan untuk melatih tangga nada suara mereka. Latihan dan kematangan belajar akan menolong untuk  mengetahui tangga nada suara mereka sesungguhnya.

 

Perkembangan Musik Anak Usia 7 Tahun

 

Boleh saja  melakukan kegiatan yang dilakukan untuk anak usia 4 – 7 tahun, namun lebih sering langsung bereksplorasi dengan alat musik untuk permainan yang lebih serius dan menuntut konsentrasi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Buku “MUSIC: A Way of Life for The Young Child”, Bayless and Ramsey.

Buku “Teaching Music in Today´s Secondary Schools”, Bessom, Tatarunis, and Forcucci, 1980 .

Perkembangan Musik Anak Usia 2 – 7 Tahun

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Perkembangan Musik Anak Usia 1 – 2, dan 2 – 3 Tahun

Ketika anak-anak mulai belajar untuk memahami hubungan antara kata-kata dengan maknanya, orang dewasa dapat menyediakan hal-hal menyenangkan dan latihan-latihan mendidik yang akan memperkuat pemahaman mereka. Perkenalkanlah frase-frase musikal atau lagu-lagu singkat disertai gerakan.

Ames (1970, p. 85),

“Pada usia 21 bulan, kata “atas” dan “bawah” merupakan bagian dari kata-kata favorit anak.”

Selama periode preschool, kita sebaiknya mengakomodasi own body rhythm anak-anak daripada memaksa anak-anak untuk mengikuti beat yang diperdengarkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pertama kali mengamati dan mendengarkan secara penuh perhatian ketika mereka bertepuk tangan, berjalan, berlari, melompat, berputar, menjinjit, dan sejenisnya, kemudian sediakan hal-hal pendukung yang dapat dimatchkan dengan own body rhythm mereka.

Mereka memilih sendiri pitch range mereka. Mereka menyukai lagu-lagu lucu, bereksperimen dengan pelbagai instrumen musik walaupun belum cukup mampu untuk secara rutin bermain musik dalam waktu pendek sekalipun. Perkenalkan banyak instrumen musik, mulai dari suara, bentuk, dan namanya, sehingga anak-anak lama kelamaan mampu membedakan suara-suara instrumen tanpa harus melihat. Perkenalkan juga bagaimana cara memproduksi efek suara-suara tertentu yang sering didengar sehari-hari dalam lagu-lagu, cerita, atau permainan bersama mereka.

Konsep yang minimal dikuasai :

Atas – bawah, Berputar : naik-turun, terbang, tikus mengendap, lompat, bouncing, berayun, rocking, berputar berkeliling.

Perkembangan Musik Anak Usia 3 – 4 Tahun

Menikmati singing games dan rhythm instruments (untuk seterusnya memerlukan eksplorasi, ekspreimen, dan memanipulasinya). Suka mendengarkan cerita, bahkan menyimaknya agar dapat diceritakan kembali. Sudah cukup mampu memainkan instrumen musik dalam waktu lebih lama.

Anak-anak mulai mampu beradaptasi dan mengendalikan respons rhytmic mereka – sementara

menggerakkan tubuh mereka dalam pola rhytmic yang diminta atau sambil memainkan instrumen musik. Perkenalkan secara rutin rhythm dan melodi instrumen untuk meningkatkan aktivitas musik mereka. Bermain musik bersama (ensemble) teman-teman lebih disukai daripada bermain solo.

Konsep yang minimal dikuasai :

Rasa angka dan warna dalam musik, pitch differences, repeated melody & rhythmic pattern, staccato singing & playing.

Perkembangan Musik Anak Usia 4 – 7 Tahun

Menikmati aktivitas musik dapat menghasilkan keseimbangan lahir dan bathin. Mereka suka mendramatisasi lagu-lagu, cerita, dan puisi. Mereka senang mendengar cerita tentang musik, dan bermain peran dalam drama musikal. suka berbicara hal-hal ‘tinggi’, sangat menyukai kalender (almanak), dan hampir dapat menyebutkan nama hari dalam seminggu. Mereka menyukai jam juga, walalupun belum dapat menyebutkan waktunya. Hampir sangat dapat beradaptasi dengan bunyi kata-kata dan membentuk matematika komputasi. Berminat terhadap lingkungan sekitar dan komunitas bermainnya, juga lingkungan tempat orang-orang dikenalnya berada. Tidak terlalu berminat terhadap lingkungan yang jarang dikunjungi. Sudah lebih gampang dan siap untuk bermain dalam kelompok lebih besar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Jangan terlalu sering menggunakan lagu bernada tinggi.

5. Rhythm dan melody instruments harus terbuat dari bahan yang berkualitas baik dan bersuara bagus.

Konsep yang harus dikuasai :

Introducing notes with mathematical computation. Konsep dan terminologi musik, seperti lembut dan keras, nada tinggi dan rendah, beat teratur dan tidak teratur, datar dan tidak datar, dapat menjadi bagian dari kosa kata dan pemahaman anak-anak dalam nyanyian, gerakan, bermain alat musik, mencipta lagu, puisi, dan gerakan. Ketika anak-anak belajar menyanyi, mereka harus diberi kesempatan untuk melatih tangga nada suara mereka. Latihan dan kematangan belajar akan menolong untuk  mengetahui tangga nada suara mereka sesungguhnya.

Perkembangan Musik Anak Usia 7 Tahun

Boleh saja  melakukan kegiatan yang dilakukan untuk anak usia 4 – 7 tahun, namun lebih sering langsung bereksplorasi dengan alat musik untuk permainan yang lebih serius dan menuntut konsentrasi.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Buku “MUSIC: A Way of Life for The Young Child”, Bayless and Ramsey.

Buku “Teaching Music in Today´s Secondary Schools”, Bessom, Tatarunis, and Forcucci, 1980 .

Bismillaahirrahmaanirraahiim.

SENI SEBAGAI PENDIDIKAN (DASAR & AWAL) BAGI ANAK


Plato mengatakan, bahwa pendidikan awal untuk anak adalah: SASTRA, MUSIK, dan GYMNASTIK. Mirip dengan Plato, Aristoteles juga menekankan  pendidikan dasar bagi anak kepada ketiga hal tersebut, ditambah dengan melukis, membaca dan menulis.

Musik dan Sastra dapat menyetir emosi manusia; keduanya dengan kuat menggerakkan setiap orang,  dengan kuat  mempengaruhi tingkah laku, bahkan karakter tertentu manusia. Karena itu, maka seni, khususnya musik sebagai seni murni dan paling agung, bersama dengan sastra, harus menjadi bagian dari pendidikan anak-anak, dengan  ‘catatan’ mensensor bagian model yang jeleknya dengan memberikan model yg baik (Confucius dan Plato).

1. SASTRA (KISAH)


QS. 11 : 120

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ [١١:١٢٠]
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan fuaadmu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran (haqq) serta pengajaran (mau’idzhoh) dan peringatan (zikr) bagi orang-orang yang beriman (al-Mukminiin).”

QS. 12 : 111

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ [١٢:١١١]
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran (‘ibroh) bagi orang-orang yang mempunyai ‘aql (uliil al-baab). Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (tashdiq) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk (hudan) dan rahmat bagi kaum yang beriman (kawm yukmin).

Bahan cerita harus – bahkan hanya – yang mengandung unsur positif dengan tidak mendua makna, hal ini agar anak-anak dapat mengetahui nilai-nilai ideal dalam kehidupan; kebahagiaan sebenarnya itu seperti apa, kesederhanaan, tolong-menolong, keberanian, kejujuran, cinta kasih, keinginan belajar, meminta maaf, mengalah, dll. Melakukan semuanya dengan patriotism. Anak-anak belum dapat diberikan pilihan baik-buruk karena memang tidak tahu. Tingkat kesulitan atau tingkat masalah suatu cerita yang diberikan kepada tiap anak berbeda-beda, tergantung tingkat kebutuhan anak-anak, juga kemampuan dan minatnya. Intinya dalam suatu cerita ada pesan moral yang disampaikan, jangan hanya sekedar pengetahuan saja. Anak yang mempunyai rasa ingin tahu, keberanian, dan imajinasi yang terlalu tinggi mempunyai resiko tinggi untuk melakukan agresi ketika mendengarkan cerita berbau kekerasan.

Penanaman nilai tentang buruk dan salah bisa menjadi bencana, karena anak belum tahu penempatannya secara benar. Begitupun dengan pemberian hukuman. Hati-hati. Jika tidak tepat akan bahaya. Ada anak tertentu yang semua aspek psikologisnya sensitive sehingga mengolah pikir dan rasa dengan begitu berlebihan. Anehnya kenapa orang lebih mudah teringatkan oleh hal-hal buruk/ salah daripada hal baik/ benar. Lebih baik beri hadiah atas setiap kebaikannya (bukan hanya materi). Untuk setiap kata dan perilaku buruknya dinasehati terus sambil kita pun istighfar. Memang proses nasehat akan lebih lama daripada pemberian hukuman, tampaknya tidak ada hasilnya. Pemberian hukuman tampaknya lebih cepat, efektif. Memang, efektif untuk waktu yang cepat, tapi jangka panjangnya hasilnya mungkin tidak mengenakkan. Kelak ia pun akan menghukum orang lain dengan cara yang lebih daripada yang didapatkannya.

2. MUSIK

Kisah-kisah dan imej-imej memang terlihat nyata dapat membentuk karakter, namun bagaimana hal itu dapat terlihat pada musik? Plato menjelaskannya melalui teori Pythagoras dan nomor mistisnya. Rhythm (irama) dan pitch (ketukan) mampu diekspresikan sebagai formula matematika; dan musisi mengetahui teknik-teknik untuk menghasilkan suara tertentu. Rasio geometri merupakan bagian yang terinspirasi oleh rangkaian dari nada-nada yang berhubungan dengan getaran sebuah string (senar/ dawai). Suara-suara yang dihasilkan oleh pemain string akan benar-benar menjadi indah apabila mereka bermain dengan “harmonis”. Musik yang baik akan menolong jiwa menjadi harmonis. Tapi itu berarti kita harus menentukan model-model musik tertentu yang boleh ada di dalam Negara; yang kondusif untuk keharmonisan jiwa. Hanya ketika anak-anak muda benar-benar siap, yang memiliki karakter kuatlah yang sudah dapat dibukakan gambaran tentang keburukan dan kejahatan, dan pencampuran pelbagai model musik.

Plato menyatakan,  “Aku bisa mengetahui watak anak muda yang mempengaruhi peradaban sekarang melalui jenis musik yang sedang trend.”

Musik sangat memberikan pengaruh, hal itu dapat dibuktikan dengan banyak cara, salah satunya adalah nyanyian Olympus ketika dikumandangkan. Musik mampu menginspirasi antusiasme manusia dan antusiasme tersebut merupakan emosi bagian etika jiwa. Ritme dan melodi merepresentasikan kelembutan dan amarah, keberanian dan kesabaran, serta berbagai kualitas karakter yang sebaliknya, yang hampir menyerupai perasaan yang sesungguhnya, karena dengan mendengarkan music jiwa kita mengalami perubahan. Musik yang benar, juga melukis merupakan objek imitasi dari alam idea (kalau dalam lagu gending sriwijaya terletak pada bait “kuciptakan kembali dari kandungan maha kala”). Musik cocok bagi anak-anak karena mereka menikmati keindahan yang lebih alami (karena merupakan objek imitasi dari alam idea). Tentunya akan berbeda pengaruhnya bagi yang menjadi pelaku musik (memainkan alat musik atau bernyanyi) dengan yang hanya menjadi pendengar. Aristoteles meyakini bahwa anak-anak harus diajari bermain musik atau bernyanyi. Tentunya keduanya harus dalam hal yang benar.

Musik dapat mengembangkan kecintaan akan keindahan, dan menyediakan disiplin mental dan moral yang diperlukan untuk menghasilkan pengetahuan secara filosofi. Ia berperan sebagai ‚benteng‘ dari suatu negara karena itu penting untuk menjaga kualitas musik yang masuk ke suatu negara agar tetap baik, karena musik yang didengar akan mempengaruhi stamina moral dan mental pendengar.


“Musik tertentu dapat berbahaya untuk keseluruhan masyarakat, dan harus dilarang penggunaannya. Ketika model musik berubah, maka dasar hukum negara pun turut mengalami perubahan sesuai dengan model musiknya.”

(Aristotle, The Politics, translated by T. A. Sinclair, revised by T. J. Saunders, London: Penguin, 1981, book 8, section 5, page 466)

Menurut Zhu Guangqian 朱光潛, Confucius memberikan dua dasar dari musik, yaitu :
1. Spirit dari musik (berbentuk harmoni)
2. Spirit dari ritual-ritual (berbentuk aturan)

Untuk setiap individu, harmoni berguna untuk menjaga dan menajamkan pikiran, emosi, dan tingkah laku dalam pencapaian inner peace, sementara ritual keagamaan (syariat/ aturan-aturan) melatih seseorang untuk berperilaku tepat sesuai ajaran agama.

Pergerakan nada dan irama dalam musik sesuai dengan aktivitas psikologis manusia. Pelatihan musik merupakan instrumental potensial dan lebih efektif daripada jenis seni lainnya karena rhythm dan harmoninya akan merasuki sisi bathin terdalam dan pikiran terindah manusia, masuk ke dalam jiwa; dengan cepat dan begitu kuat. Disamping itu, musik merupakan refleksi dari pergerakan hukum alam semesta, yang,  terdapat harmoni di dalamnya.

Skala pentatonik, yang biasa ditemukan pada lagu-lagu tradisional/ rakyat, begitu umum dan alami bagi anak-anak. Anak-anak seharusnya memang lebih banyak dilatih untuk bernyanyi dan memainkan musik dalam skala pentatonik, karena kefamiliaran nada tersebut bagi mereka. Dalam skala pentatonik terdapat nada-nada yang membuat jiwa tak harmoni menjadi berusaha untuk diharmonikan. Ketenangan dan kedataran nada-nadanya membuat kita menyusuri sebuah negri kedamaian. Mungkin, lagu-lagu harian berisi pesan-pesan moral dan semangat kepahlawan juga memiliki makna.

3. GYMNASTIK

Gymnastik bertujuan untuk latihan pengendalian diri terhadap pelbagai hal yang menjadi kesenangan tubuh (syahwat) dan hawa nafsu (bangga diri, malas, dll), pembentukan karakter dan perkembangan fisik yang baik. Adanya pengendalian diri terhadap hal-hal di luar adab agama/ budaya, melakukan ritual agama seperti berwudhu dan shalat. Ada aturan-aturan yang mengikat berkaitan dengan waktu, urutan, tata cara, dan lain-lain yang dilakukan dengan penuh perhatian/ terfokus pada yang satu. Ritual-ritual/ syariat keagamaan memiliki pendidikan moral, dan terikat erat dengan pendidikan estetika. Plato juga percaya bahwa pendidikan estetika dan pendidikan umum saling mengisi satu sama lain, dan terdapat sebuah keseluruhan yang homogen.

Adanya pengaturan makanan dan latihan-latihan motorik juga dapat memberikan keuntungan bagi jiwa raga. Untuk mengurangi sifat tamak, maka makanan sebaiknya dimakan secara bersama-sama dengan orang lain dengan menu yang sederhana. Selalu berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, makan-minum duduk, mengambil makanan dalam porsi kecil, bersikap sportif, melakukan syariat agama dan kesopanan. Latihan fisik dapat mengembangkan keberanian, kesabaran, ketabahan, dan keuletan; Olahraga yang dapat dilakukan misalnya berenang, senam, anggar, memanah, lempar lembing, dan mengendarai kuda. Kombinasi dari musik dan gymnastik (co. Drama musical, play pretend) akan menghasilkan sebuah keseimbangan harmonis antara jiwa dan jasad.

4. MELUKIS/ MENGGAMBAR

5. MEMBACA DAN MENULIS

Membaca dan menulis penting untuk mencari dan menerima pengetahuan.

Confucius maupun Plato sangat menekankan pentingnya pendidikan seni ini, bahkan mereka berpendapat bahwa setiap warga negara harus memiliki pendidikan seni yang harus menjadi dasar hukum suatu Negara. Pemberian pendidikan seni dapat dikombinasikan dengan pendidikan dalam area lain seperti matematika, ilmu alam, ilmu sosial dan lain sebagainya.

Referensi:
Aristotle II, “Politics (Politica)”
Aristotle II, “on Poetics (De poetica)”
Plato, “The Republic”
Plato, “Timaeus”
Pythagoras
Confucius
Ornstein, Levine, “Foundations of Education”

Salaam.
Dwi Afrianti.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

MUSIK (suara yang teratur)

Pendahuluan

Suara musik adalah suara yang dihasilkan dari keteraturan getaran
dalam udara, dan diterima ketika si pendengar menyukainya. Banyak
budaya memiliki dongeng-dongeng yang bercerita bahwa pada zaman dahulu
kala ada suatu bunyi atau getaran yang menciptakan segala sesuatu dari
kehampaan. Para cendekiawan Hindu kuno berkeyakinan bahwa alam semesta
pada mulanya muncul berupa bunyi; selanjutnya bunyi menjadi cahaya,
dan cahaya menjadi zat. Dari kawasan Timur Tengah berkeyakinan bahwa
awal semua ini adalah Sabda, bunyi yang berasal dari atau perwujudan
Allah. Musik merupakan unsur mendasar, yang mencerminkan hukum-hukum
pengatur alam semesta. Musik dapat mengubah nasib seluruh peradaban.
Secara fisiologis, dalam perkembangan otak dan pikiran di dalam rahim,
sistem pendengaran terbentuk pada tahap sangat dini (usia kehamilan 5
bulan).

Penelitian telah menunjukkan bahwa otak bayi baru lahir bahkan janin
telah dikaruniai kemampuan penuh untuk mengenali elemen-elemen musik
seperti kunci nada (key), titinada (pitch), dan tempo. Sistem-sistem
yang digunakan oleh otak untuk memproses musik entah identik atau pada
dasarnya saling terkait dengan sistem-sistem yang digunakan dalam
persepsi, daya ingat, dan bahasa. Seorang psikolog, Dr. Jamshed
Bharucha mengajukan teori bahwa pola musik pada dasarnya mencerminkan
struktur pengorganisasi pada otak manusia yang terus berkembang.
Dengan begitu ia menyimpulkan bahwa mengapa musik sangat menyenangkan.
Bukan hanya sekedar menyenangkan. Musik memberikan lebih daripada hal
itu. Melalui penelitiannya, Don Campbell mengatakan bahwa sesungguhnya
musik merupakan salah satu kecerdasan bawaan utama manusia, dan
merupakan sebuah dasar sangat penting yang memungkinkan lahirnya
orang-orang berkecerdasan lebih tinggi. Rudolf Steiner sendiri
mengakui bahwa musik sebagai landasan kecerdasan otak, kreativitas,
kemampuan matematika, dan perkembangan rohani, selain sebagai bentuk
seni yang paling agung. Sementara itu, Jean Piaget (ahli perkembangan
dan pendidikan anak) mengakui musik sebagai suatu kecerdasan bawaan
yang siap untuk terungkap pada saat seorang anak berusia 3 hingga 4
tahun.

Fisikawan David Bohm (murid Einstein), mengatakan, bahwa zat adalah
cahaya yang beku, sedangkan musik adalah keterurutan dengan
keterkaitan sangat tinggi. Keterurutan ketika energi kuantum secara
hampir tak terasa mengawali semua pengalaman kita. Einstein sendiri
memiliki kisah cinta yang panjang dengan biolanya. Seorang ilmuwan
syaraf penerima Nobel, David Hubel, sewaktu ditanyai tentang minat
lain selain bidang kesyarafan mengatakan bahwa banyak ia menghabiskan
hidupnya untuk bermain piano.

Plato mengatakan bahwa andaiakata ia dapat mengetahui musik yang
didengarkan dan dimainkan oleh kaum muda, maka ia dapat memprediksi
masyarakat apa yang akan dibentuk oleh mereka. Plato juga berkeyakinan
bahwa selain musik, kurikulum pendidikan dasar bagi anak-anak harus
memasukkan sastra yang baik dan gymnastik (Bukan hanya dalam
pengertian olahraga, tapi juga semisal ritual agama, adab agama dan
budaya). Pendidikan sastra memiliki kekuatan besar dalam pembentukan
karakter, maka hanya kisah-kisah penguat fuad-lah yang harus
dibacakan/ diberikan kepada anak-anak. Sementara gymnastik bertujuan
sebagai pengendalian diri terhadap kesenangan-kesenangan, juga
merupakan pembentukan karakter dan fisik yang baik.

Nada dan irama dalam musik sesuai dengan aktivitas psikologi manusia.
Pelatihan musik yang baik merupakan instrumental potensial, karena
irama dan harmoninya akan merasuki sisi bathin terdalam dan pikiran
terindah manusia, masuk ke dalam jiwa, dengan cepat dan begitu kuat.
Musik, bersama matematika merupakan refleksi dari pergerakan hukum
alam semesta, dan terdapat harmoni yang berguna untuk menjaga rasa,
pikiran, dan tingkah laku dalam pencapaian harmoni jiwa raga.
Pythagoras menemukan sistem matematika di dalam interval-interval
titinada dalam musik melalui percobaan dengan tabung-tabung/ string.
Tiap nada memiliki frekuensinya masing-masing. Mungkin setiap orang
juga memiliki frekuensi, karena tiap orang memiliki nada dasarnya
masing-masing. Frekuensi juga bisa berhubungan dengan warna-warna yang
ada di alam semesta.

Kebanyakan musik barat menggunakan 7 nada (skala diatonik) dalam
musiknya, dengan menambah nada-nada kromatis (pake kress/ mol) jika
dibutuhkan. Sementara Wagner dan Debussy sendiri (susah banget
musiknya) sudah sedari dulu banyak menggunakan nada-nada kromatis
dalam musiknya. Kebanyakan musik tradisional seperti China, Afrika,
Asia (termasuk Indonesia) menggunakan 5 nada (skala pantatonik).
Nada-nadanya datar, terasa berulang-ulang. Seperti memberikan
penekanan, penguatan, dan pengingatan. Yang pasti pengarahan/
pemfokusan pada Satu. Yang gak biasa, akan ngantuk atau bosan
mendengarkan musiknya.

Bersambung, insya Allah selanjutnya pembahasan
tentang elemen-elemen musik (sistem dasar musik): rhythm, melodi, key,
harmony, counterpoint, dan color (dinamika) yang tentu saja ikut andil
dalam memberi perubahan pada kehidupan manusia. Karena itu mengapa
tidak semua musik mampu memberikan pengaruh yang baik. Juga ingin
sekali membahas karakter-karakter yang dimiliki oleh beberapa
instrumen musik.. seperti piano, biola, alat musik dari bambu dll sehingga
setiap orang bisa meraba alat musik yang pas baginya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Salaam…