Uncategorized


http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/alfathri-adlin/shalat-dan-transformasi-fitrah-diri/10150227422078922

 

Zamzam A. J. Tanuwijaya & Kuswandani Yahdin

 

Bismillahirrahmânirrahîm.

 

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Muhammad Saw bersabda bahwa, “Shalat adalah mi‘raj-nya mu‘minin.” Istilah mi‘raj di sini secara spesifik dihubungkan dengan peristiwa isra-mi‘raj Nabi Saw pada tanggal 27 Rajab tahun ketiga belas dari Nubuwwah, saat beliau berusia 53 tahun. Peristiwa isra, yang artinya perjalanan malam, adalah peristiwa diperjalankannya Nabi Saw secara horizontal dari Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsha Yerussalem (lihat Al-Isra [17]: 1). Dan peristiwa mi’raj adalah peristiwa diperjalankannya beliau Saw secara vertikal dari Masjidil Aqsha naik ke Sidratul Muntaha. Di tempat tertinggi ini secara khusus Nabi Saw menerima perintah kewajiban menjalankan ibadah shalat bagi beliau Saw beserta umatnya sebanyak 5 kali (17 rakaat) dalam sehari semalamnya.

 

Secara umum, makna mi‘raj dalam hadis tersebut dihubungkan dengan “tangga” spiritual, yakni suatu perangkat ibadah yang dapat menaikkan derajat si mu‘min menjadi lebih dekat kepada Rabb-nya. Maka, di dalam kata shalat tersirat suatu dinamika atau proses perjalanan yang sifatnya menaik (‘uruj), dan secara eksplisit bentuk ibadah shalat yang dicontohkan Nabi Saw mengisyaratkan adanya perubahan bertahap dari suatu state ke state yang lain secara tertib. Serangkaian kalimah takbir yang diucapkan dalam ibadah shalat menunjukkan suatu proses kenaikan (mi‘raj) bertahap. Takbir sebagai ungkapan yang menyatakan suatu proses naik, tercermin pada saat Nabi Saw sedang mendaki sebuah bukit, di sana beliau Saw mendzikirkan kalimat takbir. Berbeda dengan ketika Nabi Saw sedang turun dari sebuah bukit, maka beliau mendzikirkan kalimat tasbih. Dalam 17 rakaat pada lima waktu shalat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap bentuk sikap (state) dalam shalat. Berarti dalam sehari semalam seharusnya terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah Swt.

 

Istilah shalat melampaui dari sekadar nama suatu ibadah mahdlah terpenting di dalam agama Islam. Makna spiritual dari kata shalat mencerminkan suatu proses “pengorbitan” setiap ciptaan Allah. Secara spesifik terhadap poros dari suatu amr Allah Swt . Ini diisyaratkan oleh An-Nûr [24]: 41,

 

Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang ada di petala langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS An-Nuur [24] : 41 )

 

Tasbih mencerminkan mengalirnya setiap ciptaan dalam suatu proses penyerahan diri (aslama) yang bersifat umum, dan shalat dalam hal ini mencerminkan suatu pengaliran dengan modus atau bentuk tertentu, yang secara spesifik tidak sama dari satu ciptaan ke ciptaan yang lainnya. Sebagai contoh, shalatnya seekor burung telah ditentukan ada di dalam bentuk membuka sayapnya ketika ia terbang, dan shalatnya seekor ikan telah ditentukan ada di dalam kondisi saat ia berenang di dalam air. Dalam pandangan para “pejalan” (salik), seekor burung yang terbang bebas menggambarkan jiwa (nafs) yang telah terbebas dari perangkap sangkar dunia, dan dua sayap burung yang terkembang melambangkan berfungsinya dua akal insan secara sinergis, yakni akal bawah (pikiran) dan akal atas (lubb). Sebagaimana Allah Swt mengungkapkan peringkat akal para malaikat dengan pernyataan bersayap dua, bersayap empat dan seterusnya, ini menunjukkan hierarki kemuliaan dari para malaikat. Maka shalat adalah seperti sepasang sayap, merupakan perangkat untuk terbang (mi‘raj) ke “atas”, sehingga afdhal-nya suatu shalat sangat ditentukan oleh pengetahuan lahiriahnya (hukum fiqh) dan pengetahuan batiniahnya (hakikat shalat)

 

Secara umum aspek praktis shalat, sebagai suatu ibadah mahdlah yang paling pokok, wajib ditegakkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Dalam aspek praktis shalat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan: pada saat berdiri posisi akal ada di atas qalb, pada saat ruku’ posisi akal sejajar qalb, dan pada saat sujud posisi akal ada di bawah qalb. Dan Nabi Saw mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan shalat adalah pada saat sujudnya, dan beliau Saw memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada saat bersujud, yaitu pada saat akal diletakkan di belakang qalb (akal yang tunduk kepada qalb yang dirahmati Allah Swt).

 

لــَهُمْ قُلُوْبٌ يَعْقِلُونَ بِهــَا ….

Mereka memiliki qalbu yang dengannya mereka menggunakan aql-nya.” (QS Al-Hajj [22]:46)

 

Serangkaian shalat praktis tersebut wajib ditegakkan untuk membangun suatu keadaan dzikir kepada Allah Swt (lihat QS Thaaha [20]:14). Dzikir di sini bukan sebatas mengulang-ulang memuji Allah Swt dengan lisan ihwal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, tetapi suatu dzikir mencakup suatu keadaan totalitas jiwa (nafs) akibat sentuhan rahmat-Nya, sehingga insan tersebut baqa dalam tasbih, doa, kesyukuran dan sebagainya. Dan jika dzikir ini menjadi sebuah maqam, maka menjadi tidak berbatas waktu. Jadi serangkaian shalat praktis yang berbatas waktu wajib ditegakkan untuk membangun dan memelihara suatu keadaan shalat yang tidak berbatas waktu, dzikrullah. Petala langit dan bumi dan segala isinya “yang berserah diri dengan suka cita” (QS Fushilat [41]: 11) berada dalam keadaan shalat dengan cara “mengorbit” pada poros amr masing-masing, “Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan tasbihnya” (QS An-Nuur [24]: 41).

 

Tujuan sejati dari suatu suluk (tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan kodrat diri, merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat/misi hidup yang harus dimanifestasikan. Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkan ad-diin dalam dirinya.

 

Maka tegakkanlah wajahmu kepada ad-dîn secara hanif. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah diin yang tegak, namun sebagian besar manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Ruum [30]:30).

 

Jika seseorang merealisasikan fitrah dirinya, maka sebagaimana petala langit dan bumi, ia hidup dalam energi minimalnya, dan akan mengalirkan suatu kekaryaan suci yang berguna untuk masyarakat. Apa yang ia lahirkan tak lain merupakan harta terpendam (kanzun makhfi)-Nya yang merahmati alam semestanya. Seorang insan yang telah berhasil merealisasi fitrah dirinya adalah seorang yang telah berhasil menegakkan ad-dîn dalam dirinya, dan ini berarti ia telah berjalan dalam shirath al-mustaqim-nya.

 

Shalat itu adalah tiangnya ad-diin” ( Rasulullah Saw)

 

Ad-Dîn di atas mencakup tiga komponen: al-Islam, al-Iman dan al-Ihsan. Ketiga aspek tersebut harus ditegakkan secara utuh di dalam diri insan. Jika satu dari ketiga aspek tersebut belum terbangun, maka ia belum termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah mendirikan ad-Dîn di dalam dirinya. Jadi rangkaian shalat itu merupakan proses untuk menegakkan ketiga pilar ad-dîn tersebut. Dan tentang pilar ketiga ad-dîn yakni al-ihsan, Nabi Saw pernah berkata, “Engkau mengabdi kepada-Nya seolah-olah engkau melihat-Nya” adalah pilar yang paling halus dan paling sulit untuk ditegakkan kecuali oleh mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh, berharap bertemu (liqa’) Allah dengan kerinduan yang mendalam.

 

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya (liqa’) dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah [2]: 45-46).

 

Bagian akhir dari ayat di atas berkaitan dengan ke-ihsan-an sebagai tanda dari hadirnya kekhusyuan di dalam shalat. Dan jika suatu shalat tidak mencapai pilar ihsan, maka ibadah shalat akan dipandang sebagai sesuatu yang memberatkan, sehingga bangunan ad-dîn dalam diri orang tersebut sulit untuk didirikan. Jika seseorang tidak dapat menegakkan ad-dîn dalam dirinya, maka shalatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan fakhsya’ dan munkar.

 

“…sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fakhsya dan munkar. Dan sungguh dzikrullah itu adalah yang terbesar…..” (QS Al-Ankabut [29]:45)

 

Keihsanan dalam shalat hanya menjadi milik mereka yang berharap berjumpa (liqa’) Allah, dan ini sebagai salah satu tanda penting dari tumbuhnya benih kecintaan dari Allah Azza wa Jalla.

 

“ …Barangsiapa mengharap berjumpa dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apa pun dalam beribadat kepada-Nya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110)

 

Dalam Al-Quran, aspek amal shalih diletakan setelah keimanan. Dalam pernyataan iman dan amal shalih, tercermin ketiga pilar ad-diin. Keimanan, dengan banyak tahapannya, merupakan suatu proses penegakkan pilar al-iman. Kemudian ketaatan mengamalkan setiap perintah Allah dan menjauhi larangannya, dengan ikhlas, merupakan proses penegakkan pilar al-islam. Adapun keshalihan (ketidakrusakkan) yang dilekatkan pada kata amal, merupakan suatu persoalan yang mengkualifikasi derajat amal-amal. Keshalihan diukur dari kemurnian tauhid, ini tidak dapat dicapai kecuali dengan jalan membangun pengetahuan untuk mengenal-Nya, dan ini merupakan pokok dari pilar al-ihsan. Nabi Saw bersabda bahwa, “Seutama-utama amal adalah yang disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala. Amal yang banyak tanpa disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah tidak berguna, dan amal yang sedikit jika disertai dengan ilmu tentang Allah Ta’ala adalah bermanfaat.”

 

Kemudian Nabi Saw bersabad pula, “Siapa yang mengenal Allah maka pasti mencintai-Nya”, pada maqam ini pilar ketiga dari ad-dîn terbangun. Bagaimana agar keihsanan dan kecintaan kepada Allah dapat tumbuh, maka hanya dengan cara mengikuti semua langkah Nabi Saw dengan ikhlas, baik lahiriahnya maupun batiniahnya.

 

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian, dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS Ali Imran [3]:31)

 

Dan Nabi Saw bersabda, “Amal yang paling Allah cintai adalah shalat pada awal waktu, kemudian Berbakti kepada orang tua, dan setelah itu jihad fisabilillah.”  

 

Para mu‘min sejati adalah para pecinta Allah Swt, maka ad-dîn tegak dalam dirinya, sehingga tidak ada perbuatan fakhsya’ dan kemungkaran yang keluar dari dirinya.

 

Alhamdulillahi Rabbil-‘aalamin

Wallahu a’lam bish-shawaab.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Al-Ghuruur… (Tertipu..)  – Hatim Al-Asham

Hatim Al-Asham berkata,

“1. Jangan engkau terperdaya oleh tempat yang baik, karena tidak ada tempat yang terbaik selain surga. Dan Nabi Adam AS telah mendapatkan di dalam surga apa yang telah ia dapatkan (buah kuldi, yang membuatnya bersama Hawa diturunkan ke bumi).

2. Dan engkau jangan terperdaya dengan banyak ibadah, sesungguhnya iblis sesudah lama ia beribadah maka ia dapatkan apa yang telah ia dapatkan (yaitu dijauhkan dari الله تعالى).

3. Dan jangan engkau terperdaya oleh banyak ilmu, sesungguhnya Bal’am (1) mengetahui dengan baik Al-Asmaaul Husna (nama-nama الله Yang Maha Agung), maka perhatikanlah apa yang telah ia dapatkan (mati dalam kekufuran).

4. Dan janganlah engkau terperdaya dengan melihat orang-orang salih.  Tiada seorangpun yang lebih besar tingkatannya di sisi الله selain Nabi Muhammad SAW yang terpilih, dan tidak dapat diambil manfaat oleh keluarganya dan musuhnya dengan menemuinya (diantara keluarga seperti abu Jahal dan Abu Lahab, meskipun mereka bertemu dan melihat رسول الله SAW akan tetapi mereka tidak dapat mengambil manfaat / beriman kepada رسول الله SAW).

Keterangan:

(1) Bal’am bin Baura adalah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah2nya ia telah mencapai posisi tinggi dan mengenal Asma Allah yang Agung dan doa2nyapun selalu dikabulkan. Ketika Musa as. diutus sebagai Nabi, ia terjangkiti rasa sombong dan iri. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan2nya sendiri. Dan dia mencari pendukung kepada Fir’aun.

Copas dari statusnya Mbak Anita Rini, yang di copas ke Notes http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=10150194733082300#!/note.php?note_id=10150194733082300&notif_t=like

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata kepada Mu’adz bin Jabal, “Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat halus serta dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?”

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan aku ceritakan…” Tiba-tiba Mu’adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, “Emh, sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau…”. Kemudian Mu’adz melanjutkan:

Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, “Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu’adz….!

Labbaik, wahai penghulu para rasul….!

Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla….!

Wahai Mu’adz…

Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa’I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut dan

mensucikannya.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah… Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini….!!”

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, “Berhenti kalian…! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka (‘aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!” Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka….”

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit

pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat ‘ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur ‘ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari.

Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, “Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, ‘Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan

si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya…!’

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’ (berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum’ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini

berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya’, dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya’ tersebut….!’

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta’ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, ‘Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku…! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar….. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku….!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, ‘Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, ‘Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras…Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, “Wahai Rasulullah……Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi…??”

Rasulullah bersabda, “Oleh karena itu wahai Mu’adz…..Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan…”.

Dengan suara yang bergetar Mu’adz berkata, “Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin Jabal….Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua…??”

Nabi yang suci bersabda, “Baiklah wahai Mu’adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya…” (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang……..

Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu’adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, “Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua….??”

“Wahai Mu’adz…! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala…. Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya…..!!”

Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.

Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, “Setelah kalian mendengar hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya, atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh dengan huru-hara yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian Alam. Berdiam diri di ujung sebuah pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebab itu semua adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak akan selamat darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat Allah Ta’ala semata.

Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata. Bangunlah kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-benar diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan yang menakutkan ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama orang-orang yang celaka. Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala, kapan saja dan dalam kadaan bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong dengan sebaik-baiknya…

Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah…

Diambil dari Kitab “Minhajul Abidin” karya Imam Al Ghazali

http://anitarinizblog.blogspot.com/2011/05/tujuh-langit-tujuh-malaikat-penjaga-dan.html

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=904580092#!/notes/paramartha-channel/download-pedoman-kesiapsiagaan-menghadapi-gempa-bumi-buku-saku/118288191557036

Indonesia merupakan satu-satunya negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng bumi: lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik (lihat Gambar 1). Disadari atau tidak, area pertemuan lempeng tektonik bagaikan ‘tungku raksasa’ yang terus bergejolak (lihat Gambar 2). Pada satu sisi, dapat memicu gempa dan tumbuhnya gunung berapi. Tetapi disisi lain, merupakan ‘tungku’ produksi mineral berharga, dan itu sebabnya Indonesia merupakan daerah yang kaya akan emas, perak, mangan dan bahan tambang lainnya.

Gempa tidak terjadi tiba-tiba dan bukan tanpa sebab, tetapi lahir dari proses alam. Karena itu sudah saatnya kita semakin mengenali negeri yang kita tinggali ini, memahami segala potensi dan tantangannya, serta memiliki mental siapsiaga terhadap segala ancamannya. Buku saku “Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi”, merupakan satu sumbangan kecil bagi masyarakat Indonesia untuk semakin mengenal, dan bersiap hidup dalam fitrah alamnya yang unik.

Download E-Book (PDF)

Versi Cetak v.s. Versi E-Book

Divisi Managemen Bencana (DMB Paramartha) sedianya akan mencetak buku ini dalam waktu dekat. Buku ini nantinya dapat disebarluaskan ke kalangan umum. Namun karena masih terus diperbaiki dan disempurnakan, untuk versi ebook ini baru diumumkan di lingkungan salik Kadisiyah.

Divisi Managemen Bencana – Paramartha

  • Primary Email: mitigasi@paramartha.org (http://mitigasi.paramartha.org/)
  • Contact Person: Tubagus Furqon Sofhani (ketua), Ahmad Shalahuddin Zulfa, Danny Daud Setiana

Bila sahabat-sahabat memiliki kritik dan saran, silahkan tuangkan dalam comment di bawah atau melalui email: mitigasi@paramartha.org.

Gambar 1: Lempeng-Lempeng Utama di Dunia
Lempeng Eurasia bergerak ke arah selatan; lempeng Pasifik bergerak ke arah Barat; dan Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah timur-laut.
Gambar 2: Subduksi Lempeng
Subduksi lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia membentuk Palung Jawa yang dalam di Samudra Hindia, dan rangkaian gunung berapi di sepanjang Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara (re-drawing from indiaeng.com).

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Terima kasih banyak untuk Teman-teman sekalian…

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diambil dari:

http://www.facebook.com/?ref=home#!/notes/prihastri-septianingsih/nasihat-nasihat-dalam-hadits-qudsi/452800206583

Allohummashooli’alaasayyidinal Musthofaa

Salam Sahabat,

Diriwayat dalam Hadits Qudsi Rosulullaah Saw. bersabda, Allaah berfirman:

“Wahai anak Adam! Aku heran kepada orang yang meyakini hisab, namun ia semakin tamak mengumpulkan harta. Aku heran kepada orang yang meyakini adanya akhirat, namun ia bersantai. Aku heran kepada orang yang meyakini adanya kesirnaan dunia, namun ia menggantungkan ketenangan kepadanya. Aku heran kepada orang yang pandai bersilat lidah, tapi jiwanya kosong. Aku heran kepada orang yang bersuci dengan air, tapi ia tidak pernah membersihkan hatinya. Aku heran kepada orang yang sibuk megurusi ‘aib orang lain, sementara lupa pada ‘aib dirinya. Aku heran kepada orang yang mengetahui bahwa Allaah melihatnya, namun ia mendurhakai-Nya. Orang yang percaya ia akan mati, sendiri dalam kuburnya, namun ia tidak senang bergaul atau berbuat baik dengan sesama. Tiada Tuhan selain Aku, Muhammad adalah hamba dan rosul-Ku.”

“Wahai anak Adam! Janganlah kalia melaknat suatu makhluk, sebab laknat tersebut akan kembali kepadamu. Langit berdiri tanpa tiag hanya karena nama ari nama-nama-Ku. Tetapi hatimu bengkok, walaupun seribu nasihat dari kitab-Ku sampai kepadamu.”

“Wahai manusia! Batu itu tidak akan lunak karena berada di air, sebagaimana nasehat tidak mampu mempengaruhi hati yang keras.”

“Wahai anak Adam! Kamu telah bersaksi bahwa kamu adalah hamba-hamba Allaah, tetapi kamu masih mendurhakai-Nya. Bagaimana kamu meyakini bahwa mati adalah kenyataan, sementara kamu membencinya. Kamu megatakan hal yang tidak kamu ketahui dan menganggapnya remeh, padahal yang demikian itu besar di hadapan Allaah.”

“Wahai manusia! Telah datang kepadamu nasihat dan pelipur hati dari Tuhanmu, [QS.10. Yunus: 57]” Mengapa kamu tidak berbuat baik kecuali terhadap orang yang berbuat baik kepadamu; kamu hanya menyambung silaturrahiim kepada orang yang menyambungmu; kamu hanya berbicara dengan orang yang mengajamu bicara; memberi makan kepada orang yang memberimu makan; dan hanya menghormati orang yang menghormatimu.

Tidak ada seorang pun yang mempunyai kelebihan atas yang lain. Orang Mu’min adalah orang yang beriman kepada Allaah dan Rosul-Nya. Mereka berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya; menyambung tali silaturrahiim kepada orang yang memutuskan hubungan dengannya; mema’afkan orang yang tidak memberinya ma’af; menunaikan amanah terhadap orang yang mendurhakainya; mengajak bicara orang yang menyeterunya; dan menghormati orang yang merendahkannya. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui atas kamu sekalian.”

shodakalloohul ‘adziim
semoga berkenan dan bermanfa’at buat kita semua.

wassalaam

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaykum wr.wb.
Diterjemahkan dari teks Inggris ke Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Hippocrates bersumpah
,

“Demi Tuhan, aku bersumpah atas nama-Nya, dalam kemampuan dan kebenaran pekerjaanku, serta kewajiban-kewajiban didalamnya, bahwa:

1. Aku akan senantiasa menganggap guruku setara dengan orang tuaku. Menjadikannya sebagai sahabat, menjaga, dan memenuhi kebutuhannya. Mengabdikan diriku selain kepada dirinya, juga kepada keluarganya. Mengajari keluarganya pengobatan, jika mereka memintanya, dengan pelayanan yang baik. Memberikan pelajaran-pelajaran yang diperlukan dalam pengobatan praktis kepada anak-anakku, anak-anak guruku dan kepada murid-muridku, yang berada pada jalan pengobatan ini.

2. Aku akan menolong manusia sesuai dengan kemampuan dan keahlianku, dengan tidak pernah bermaksud untuk membahayakan keselamatan orang lain.

3. Aku tidak akan pernah memberikan suatu racun kepada orang lain walaupun ia sendiri yang memintanya, bahkan sama sekali aku tidak akan pernah memberikan saran tentang pemberian racun. Aku tidak akan pernah menyarankan seseorang untuk melakukan aborsi. Aku akan menjaga kesucian hidupku dan pekerjaanku.

4. Aku tidak akan dengan gampang menyarankan seseorang untuk melakukan operasi selama masih bisa dilakukan dengan cara lain.

5. Siapapun yang aku kunjungi, kaya maupun miskin, aku akan mengabdikan diriku dengan baik kepada siapapun yang sakit. Aku akan memberikan bantuan tanpa mengharapkan imbalan atau maksud apapun dari tiap pasienku.

6. Apapun yang aku dengar atau lihat yang berkaitan dengan pekerjaanku atau hal lain di luar, aku akan menjaga kerahasiaannya dengan ketat.

Jika aku menjalankan pekerjaanku dengan benar dan memegang dengan taat sumpahku ini, semoga aku memperoleh hidup yang baik dan semoga kemurnian dan kehormatanku berlangsung selamanya. Namun jika aku tidak taat, maka biarkanlah hal kebalikannya terjadi kepadaku.”

Alhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Wassalaamu’alaykum wr. wb.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Death and Dying


Death belongs to life as birth does
The walk is in the rising of the foot as in the laying of it down.

(Tagore)

Kematian dan kelahiran selalu ada setiap hari, silih berganti dan bersamaan. Tak sadar, hanya menjadi sesuatu yang biasa, seperti makan dan minum. Apalagi dikarenakan tak seorangpun tahu saat tiba ajalnya, kecuali orang-orang tertentu yang diberi pengetahuan oleh Allah.
Anak kecil riang gembira bermain, kebanyakan tak tahu bagaimana itu mati. Apa yang akan dibawa pada kematian dan apa yang akan ditinggalkannya di dunia. Remaja merasa lebih baik mati jika pacarnya direbut sahabatnya sendiri, tanpa ia sadar bahwa kehidupan sebenarnya adalah mati itu sendiri. Kematian tidak akan menyelesaikan masalahnya di dunia. Sementara si 20 tahun tidak mau mati karena sedang asyik mengejar cita-cita setinggi dan sebanyak gugusan bintang di langit dunia. Si 30 tahun terkadang suka teringat mati jika merasa berbuat kesalahan, tapi lebih memilih hidup 1000 tahun lagi dengan segala kesenangan duniawinya. Si 40, ketika masa kecil, remaja dan dewasa mudanya lebih banyak dikelilingi dengan penderitaan, mungkin sudah terbiasa dekat dengan kematian sehingga sudah lebih siap didatangi malaikat maut walaupun ketakutan mati terkadang menghampiri karena memikirkan dosa yang banyak atau karena sayang meninggalkan segala kemapanan: relasi sosial, pekerjaan, jabatan, dan barang-barang yang dicintainya. Si usia tua yang selama hidupnya banyak mengabdikan diri kepada Tuhan mungkin menghadapi kematian lebih efektif dibandingkan dengan yang sepanjang hidupnya lebih banyak mementingkan diri sendiri.

Tampak bahwa orang-orang yang belum siap mati berada dalam rentang usia 20 – 39 tahun. Menurut Kalish (1976), hal itu dikarenakan orang yang lebih tua memiliki aspirasi dunia lebih rendah daripada orang muda. Mereka sudah lebih mau menerima takdir-takdir yang menimpa dirinya, tidak ngoyo terhadap yang dicita-citakan. Orang lebih tua juga sudah lebih mempersiapkan diri akan kehidupan masa tuanya dengan memperbanyak beribadah. Sementara anak muda masih lebih senang memenuhi ambisinya dibanding beribadah. Anak muda juga masih belum banyak mengalami penderitaan, merasakan hal-hal berbau kematian, dan melihat kematian orang lain.

Dari semua usia di atas, secara umum masyarakat beranggapan bahwa kebanyakan manusia akan meninggal di usia tua (Bengston, Cuellar & Ragan, 1977; Kalish & Johnson, 1972; Kalish & Raynolds, 1976; Riley, 1970). Jadi tidak aneh juga jika banyak sekali manusia yang memuas-muaskan dirinya dengan segala kesenangan yang dengan gampang diperolehnya, mumpung belum tua. Jika pada usia 40 tahun belum bertaubat, lalu kapan memperbaiki dirinya? Banyak qisash yang harus dibayar untuk menebus kesalahannya selama hidup, jika tidak akan dibayar nanti di alam setelah mati. Padahal rata-rata usia orang Indonesia hanya 65 tahun. Rasulullah saw. pun bersabda, “Jika orang belum bertaubat pada saat usianya 40 tahun, maka bersiaplah untuk menemui neraka.”

Jangan pula yang masih 30 tahun apalagi yang 20an merasa masih banyak waktu untuk memperbaiki diri. Jangan-jangan ia termasuk yang akan meninggal sebelum berusia 30 atau 40 tahun. Atau mungkin satu jam ke depan. Ataukah hitungan detik? Menit?

Sikap Menghadapi Kematian

Ada orang-orang yang dikehendaki dan diizinkan sang pemilik ruh untuk ‘menikmati’ aroma kematian; berjalan-jalan sejenak di alam barzakh melalui mimpi atau yang namanya mati suri, lalu kembali ke dunia untuk selanjutnya berusaha keras menjadi orang baik yang sangat hati-hati memiliki rasa, bertuturkata, bersikap, dan bertingkah laku. Setiap hendak melakukan dosa segera tersadar langsung istighfar. Ketika melakukan kesalahan, memohon ampunnya teramat dalam. Memang Rasulullah juga bersabda bahwa “Obat tidak berkaratnya hati ada dua, yaitu mengingat mati dan membaca al-quran.” Mungkin akan beda derajat keyakinan akan kematian orang yang hanya mengingat mati dengan yang diperlihatkan kematian atau alam kematian. Sama halnya dengan orang yang hanya membaca al-quran dengan yang benar-benar diperlihatkan tujuh lapis makna al-quran. Tetapi dengan mengingat mati dan membaca al-quran saja bisa mengobati karat hati, apalagi jika diperlihatkan kematian dan mempelajari al-quran dengan benar. Atau maksud dari hadits tersebut sebenarnya adalah membaca dengan pemahaman dan pemaknaan.

Mengingat mati pun bukan sekedar mengingat saja. Selain dengan cara memandikan jenazah, menshalatinya, menziarahi kuburnya, mendoakan jenazah, mengingat mati juga bisa dilakukan dengan banyak berkunjung dan memberi ke panti asuhan. Bagi orang tua seperti diingatkan mumpung belum mati sebenar-benarnyalah memberikan pengasuhan kepada anak, berusaha keras memberikan terbaik kepada mereka. Begitupun suami terhadap istri dan sebaliknya. Penuhi amanah selagi masih diberi kesempatan hidup oleh Allah. Berikan anak-anak bekal kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan taqwa, sebagaimana Qs…. “Takutlah engkau jika meninggalkan anak-anak yang lemah.” . Bagi anak-anak semakin sayang dan hormat kepada orang tuanya. Bayangan menjadi yatim piatu seperti anak-anak panti yang mereka kunjungi membuat mereka sedih, rasanya ingin segera memeluk kedua orang tua dan berterima kasih atas segala kasih sayang mereka selama ini. Kematian juga membuat mereka takut berbuat kesalahan. Bisa dimengerti, bahwa orang yang mengingat mati dan membaca al-quran hatinya tidak berkarat karena sering diupayakan untuk digosok dengan kebaikan dan pengendalian diri dari melakukan salah dan dosa.

Tetapi tidak semua orang mampu secara efektif menghadapi kematian. Ada yang begitu ketakutan hingga paranoid, sehingga merusak aktivitas sehari-harinya. Tidak berani kemana-mana karena takut maut men jemput tatkala ia sedang tidak bersama keluarga misalnya. Ada lagi yang lebih banyak mencari-cari atau lebih tepatnya mengada-ada pertanda daripada melakukan sesuatu sebagai upaya pensucian dirinya. Terasa fisiknya sakit sedikit merasa ruhnya sedang proses dicabut. Tercekatnya kerongkongan menandakan ruhnya sudah hampir keluar. Dingin yang dirasakan ia tandai sebagai ruhnya tak lama lagi akan berpisah dari tubuhnya. Kicau burung dirasakan sebagai pertanda akan ada yang meninggal di rumahnya, yaitu dirinya. Lantai kamar mandi yang licin pun dicurigai sebagai penyebab kematiannya, sehingga untuk wudhu pun minta ditemani orang. Detak jarum jam pun menjadi sensitive baginya kini. Sepertinya kematian hanya tinggal membalik sebelah telapak tangan. Betapa tak enaknya dihantui seperti itu. Betul-betul hanya akan menyusahkan diri sendiri. Apalagi jika sampai menyusahkan orang lain, misalnya suaminya atau anaknya tidak boleh berangkat kerja, anggota keluarganya tidak boleh tidur agar jangan sampai membiarkan ia sendiri pada saat sakaratul maut. Biarlah ia masih menikmati keduniaannya dengan ditemani cinta kasih sayang orang-orang terdekatnya. Saking ketakutan meninggalkan yang ia cintai, ia bahkan tidak mengira-ngira apa yang akan ditemuinya di alam sesudah kematiannya yang lebih abadi. Harapannya hanya segala yang dicintainya yang ada di dunia seyogyanya ada pula di alam barzakh nanti.

Menurut Simpson (1979), orang takut mati bisa disebabkan oleh proses kematian itu sendiri, yang berhubungan dengan masalah biologis seperti kesakitan fisik, dan masalah sosial seperti perasaan ketergantungan, kesepian dan ditinggalkan pada saat akan mengalami kematian; takut kehilangan eksistensi diri; takut akan kehilangan hal-hal yang sudah direncanakan; ketidakpastian akan hal-hal yang ditemukan setelah mati; takut kehilangan orang-orang yang dicintai.

Namun tidak seperti tokoh-tokoh yang disebutkan namanya di atas, CG. Jung mempunyai pendapat yang berbeda. Ia menemukan, kebanyakan neurosis pada remaja dikarenakan takut pada hidup, sementara orang yang lebih tua bersembunyi dari kematian. Hal itu dikarenakan labilitas emosi yang dimiliki para remaja, apalagi pada zaman sekarang, apapun segalanya tersedia dengan gampang tanpa usaha lebih keras untuk mencapainya. Mendapatkan masalah sedikit saja sudah merasa menjadi orang termalang di dunia. Penelitian di Indonesia juga membuktikan bahwa beberapa tahun belakangan ini banyak anak-anak sampai remaja yang melakukan bunuh diri. Alasannya macam-macam: aspirasi orang tua terlalu tinggi terhadap prestasi anaknya, ditinggal pacar, kalah bersaing dalam bidang akademis di sekolah, orang tua bertengkar terus, merasa sangat malu dengan teman sekolah karena merasa miskin, tidak mempunyai teman, tidak mampu menghadapi masalah karena biasa dimanja, dan lain sebagainya.

Pada orang yang lebih tua (40 tahun ke atas), pengetahuan tentang diri yang banyak dosa, amal yang tak banyak dan kehidupan sesudah mati membuat mereka takut akan kematian. Neurosis pada masa tua lebih banyak tentang berita kematian. Mereka takut tatkala mati tidak membawa amal apapun kecuali dosa yang bertumpuk. Mereka pun takut orang-orang yang mereka cintai tidak lagi mencintai mereka sehingga lupa mendoakan keselamatan mereka di alam barzakh. Mereka pun takut orang-orang yang pernah mereka zalimi terus-menerus mengingat dosa mereka dan tak henti menjerit kepada Tuhan untuk memberikan balasan setimpal atas dosa yang pernah mereka perbuat. Kalau diizinkan, Tuhan mengutus malaikat maut kepada mereka biarlah pada saat mereka telah benar-benar bertaubat, meminta maaf kepada yang pernah dizalimi dan memohon ampun kepada Allah. Juga mereka menginginkan telah banyak melakukan kebaikan berupa amal shaleh pada saat maut itu menjemput.

Memikirkan kematian, hanya sekedar sebuah transisi belaka – satu bagian dari proses kehidupan. Manusia mungkin akan lebih siap meninggalkan dunia ketika mereka meyakini bahwa di alam barzakh ada klon suami atau istri dan anak-anaknya. Tetapi bisakah kita, haruskah kita, mencoba meyakinkan diri untuk percaya bahwa ada yang lebih baik di sana? Merasa sudah selamatkah kita?

Setidaknya, ada sebuah doa yang harus dipanjatkan,

وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا ۚ رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ

“Ya, Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslimiin) kepada-Mu.” (QS. Al-A’raaf : 126). Amiin, ya, Robbal ‘aalamiin.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Pelbagai sumber yang terbaca dan terdengar, namun tak tercatat..

Salaam.
Dwi Afrianti. Jum’at, 23 Januari 2009, Pk. 16.31 wib.

Laman Berikutnya »