بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sekumpulan Nyamuk – 1 : 200 – 201 oleh Bahauddin, Ayah dari Jalaluddin Rumi.

<Photo 1>

Aku usai membaca awal sebuah surat.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ [١١٣:١]

Membuatku ingin menangisi seorang Turkis yang melewati sepanjang harinya dengan melakukan pekerjaan sambil marah-marah.

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ [١١٣:٣]

Bodoh, laki-laki malam yang tidak memiliki kesadaran,

pemabuk, dan tidak mengikatkan dirinya dengan Tuhan Pencipta cahaya.

Aku takut nantinya kecerobohan muncul dan menggoyangnya.

Dalam samudra cahaya subuh, barangkali kita akan bertemu seekor buaya

Atau seekor anjing laut yang seramah anjing rumahan.

Barangkali kita akan menemukan sebutir mutiara atau cangkang kerang tanpa isi.

Sebagaimana hari-hari dibangun dan terbagi-bagi,

datangnya akibat karena adanya sebab.

Seseorang bertanya, “Mengapa Tuhan menyebabkan jalan yang satu adalah jalan keberhasilan, namun sebaliknya?”

Kujawab, “Kita tidak tahu atau tidak dapat mencampuri urusan itu. Kita hanya tahu bahwa ada sebuah jalan yang selalu kita bisa tempuh, yaitu “’Alhamdulillah’. Jalan itu adalah perpanjangan dari apa-apa yang kita rencanakan. Semua kejadian dan kehendak akan berjalan sebagaimana mestinya. Seorang gembala membiarkan sekumpulan ternaknya menyebar merumput dan menjelang malam digiring semuanya ke kandang. Sebagaimana sekawanan nyamuk tidak memilih darah yang akan dihisapnya dan sibuk kembali ke sarangnya di air, jadi engkau dan aku juga sudah ditetapkan untuk dikumpulkan pada al-kiamat (Qs. 4 : 87).”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

THE DROWNED BOOK ECSTATIC AND EARTHY REFLECTIONS OF BAHAUDDIN,

THE FATHER OF RUMI

Translated into english by COLEMAN BARKS and JOHN MOYNE.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Sunyi di Antara Kilat – Jalaluddin Rumi (the Music and the Silence of the Heart)


Ketika seekor singa ingin meminum darah kami, kami biarkan saja.

Setiap saat kami menawarkan satu jiwa baru.

Seorang datang untuk mengumpulkan sorban dan sepatu.

Sunyi  di antara kilat,

bergantunglah kepada Penyebabnya.

Jalan yang kulihat begitu rapuh,

dan ia sebagai jaminan keabadian.

Seekor ular menggelandang mencari sebuah samudra.

Apa yang akan dilakukannya dengan samudra itu?

Jika untuk menebus dosa engkau memeras anggur, minumlah perasanmu.

Kau bayangkan bahwa para sufi tua

memiliki batu endapan hitam dalam cangkir-cangkir mereka.

Tidak masalah apapun yang kau pikirkan.

Bunga tidak tersenyum

kepada cabang yang mengagumkan.

Syams Tabris bersinar seperti matahari. Sekarang.

Apakah yang sebenar menjadi tujuan dari menghitung bintang-bintang?

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Pembicaraan – Jalaluddin Rumi (the Music and the Silence of the Heart)

Aku datang ke sini

untuk merebahkan kepalaku di Kaki-Mu,

untuk memohon ampun,

untuk duduk di singgasana mawar

dan membakar semak belukarku.

Apapun yang kupikir untuk kulakukan,

manakala aku di sini bersama-Mu, itu tak berarti apa-apa.

Aku datang untuk menangis.

Tak ada tempat bersembunyi dari duka.

Di luar aku diam.

Di dalam, Kau tahu, betapa menjeritnya aku.

Buatlah wajahku milik-Mu.

Puisi ini akan aku perpendek.

Baca saja di dalamku.

Pecinta tanpa kata, malangnya engkau,

kau tak punya siapa-siapa untuk diajak bicara?

Tapi pikiran-pikiranmu mendesak ke luar bagai letusan senapan seorang tentara.

Sendiri, setiap orang tetap tak  mengajakmu bicara.

– Tak seorangpun berbicara untuk mendekati sebuah pintu.

Tapi kau yakin bahwa sekarang kau telah kehilangan teman-teman terbaikmu.

Barangkali, kau sekarang berada di dalam dunia murni,

kekurangan teman dan sifat-sifat. Tidak ada keraguan sama sekali tentang hal itu.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rumi : Bridge to The Soul,

JOURNEYS INTO THE MUSIC AND SILENCE OF THE HEART

Translations into english by Coleman Barks, with A. J. Arberry and Nevi.

Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh Dwi Afrianti.

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata kepada Mu’adz bin Jabal, “Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat halus serta dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?”

Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan aku ceritakan…” Tiba-tiba Mu’adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, “Emh, sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau…”. Kemudian Mu’adz melanjutkan:

Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, “Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu’adz….!

Labbaik, wahai penghulu para rasul….!

Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla….!

Wahai Mu’adz…

Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa’I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut dan

mensucikannya.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah… Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini….!!”

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, “Berhenti kalian…! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka (‘aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!” Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka….”

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit

pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat ‘ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur ‘ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari.

Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, “Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya…!”

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, ‘Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan

si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya…!’

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’ (berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum’ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini

berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya’, dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya’ tersebut….!’

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta’ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, ‘Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku…! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar….. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku….!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, ‘Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, ‘Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras…Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, “Wahai Rasulullah……Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi…??”

Rasulullah bersabda, “Oleh karena itu wahai Mu’adz…..Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan…”.

Dengan suara yang bergetar Mu’adz berkata, “Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin Jabal….Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua…??”

Nabi yang suci bersabda, “Baiklah wahai Mu’adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya…” (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang……..

Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu’adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, “Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua….??”

“Wahai Mu’adz…! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala…. Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya…..!!”

Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.

Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, “Setelah kalian mendengar hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya, atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh dengan huru-hara yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian Alam. Berdiam diri di ujung sebuah pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebab itu semua adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak akan selamat darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat Allah Ta’ala semata.

Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata. Bangunlah kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-benar diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan yang menakutkan ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama orang-orang yang celaka. Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala, kapan saja dan dalam kadaan bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong dengan sebaik-baiknya…

Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah…

Diambil dari Kitab “Minhajul Abidin” karya Imam Al Ghazali

http://anitarinizblog.blogspot.com/2011/05/tujuh-langit-tujuh-malaikat-penjaga-dan.html

on Friday, 25 February 2011 at 09:25

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

Futuuhaat al-Makkiyyah Jilid I  – Muhyiiddiin ‘Ibn ‘Arabi

 

JALAN KESUCIAN

Bab 130 (1), Maqom Pengabdian (‘Ubuuda)

 

Kugambarkan tentangku kepada diriku sendiri; dan setahuku, tidak pernah sempurna gambaran kita tentang Tuhan.

Bahwa apakah Dia harus menjadi sebuah Sebab (‘illa) bagi ciptaan, tidak diketahui karena ketinggian Derajat-Nya.

Sama sekali tiada  kebergantungan-Nya kepada siapapun: tiada faqir – Dia melimpahkan Rahmat-Nya kepada hamba yang faqir.

 

Demikianlah, aku telah menyebutkan secara umum penjelasan-penjelasan qur’an. Pelajarilah: di dalamnya engkau akan melihat penjelasan yang lebih detil sebagai berikut:

 

214.5 “Kepengabdian” (‘ubuudiyyah) bermakna sebuah pertalian/ hubungan (nasab) kepada “pengabdian” (‘ubuuda); “pengabdian” adalah hal murni, tanpa gambaran apapun, baik tentang Tuhan maupun pengabdi sendiri. Kata tersebut tidak berakhiran –iyy.

 

214.6 Terendah dari yang rendah (andhall al-adhillaa’),  disematkan kepada sesuatu yang rendah  dimana ketinggian (iftikhaar) melampauinya.

 

Qs. 67 : 15

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [٦٧:١٥]

 

Dialah Yang menjadikan bumi itu sangat rendah (dzaluul = sangat rendah -> tafsir Ibn ‘Arabi) bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

 

Dzaluul = sangat rendah, merupakan bentuk kata dari fa’ul yang menunjukkan ketersangatan kerendahan; terdapat hal rendah di atasnya (di atas bumi), sehingga lebih berlebih-lebihan kerendahan yang ada pada mereka (hal yang berada di atas bumi).

 

214.7 Maqom kepengabdian merupakan sebuah maqom kerendahan dan kefaqiran (iftiqaar); bukan merupakan atribut Ilaahi (na’t Ilaahi). Abu Yazid al-Bistami menyatakan bahwa tiada sebab yang membuat ia memperoleh kedekatan (taqorrub) kepada Rabb. Ia melihat bahwa Ketuhanan (al-uluuhiyyah) masuk ke dalam setiap atribut tempat melekatnya kedekatan. Manakala ia menemukan dirinya tak berdaya, ia bermunajah, “Duhai, Rabb, melalui apa aku bisa dekat kepada-Mu?” Rabb menjawab munajahnya melalui para Sahabat-Nya (awliyaa), “Raihlah kedekatan dengan-Ku melalui dua hal yang tidak melekat pada-Ku, yaitu kerendahan dan kefaqiran.”

 

214.13 Makna dari “abdi” adalah “rendah” (dhaliil).

 

Qs. 51 : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [٥١:٥٦]

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

 

 

Ayat di atas memberikan  penjelasan kepada kita, memberikan perhatian lebih, bahwa tiada ciptaan-Nya yang memiliki sifat takabur kecuali dua makhluk (jin dan manusia) tersebut. Selain keduanya, setiapnya selalu beriman bahwa “tiada Rabb selain Allah” dan tiada sedikitpun ketakaburan .

 

Ibn ‘Abbas menyampaikan,

“Makna kalimat ‘melayaniku’ adalah ‘mengenalku’.”

 

Ibn ‘Abbas tidak menafsirkan kalimat di atas dalam konteks realitas yang bagaimana kemunculannya. Penjelasannya hanya: “untuk mendekati-Ku, merendahlah”; tetapi seseorang tiada  bisa ‘rendah’ hingga mengenal-Nya, sehingga kebutuhan pertama kita adalah mengenal-Nya, lalu mendapatkan bukti bahwa Dia Maha Kuasa (‘izza). Berikut Ibn ‘Abbas mengalihkan penjelasannya lebih jauh tentang ilmu “pengabdian”:

 

214.17 Tidak seorang pun menyadari (tahaqquq) maqom pengabdian sesempurna kesadaran para Utusan-Nya. Abdi sempurna (‘abd mahd), adalah mereka yang melepaskan (zaahid) kondisi-kondisi penyebab lepasnya mereka dari derajat kepengabdian. Rabb memberikan bukti bahwa mereka merupakan abdi-Nya dengan cara : mereka senantiasa memanggil-Nya dengan kesadaran dan selalu menyadari keter-Dia-an.

 

Contoh ayat memanggil-Nya:

 

Qs. 72 : 19

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [٧٢:١٩]

 

Dan bahwasanya tatkala abdi Allah (‘abdu Allaah) berdiri memanggil-Nya, hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Contoh ayat keter-Dia-an:

 

Qs. 17 : 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [١٧:١]

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 

Dia membawanya pada malam hari sebagai seorang abdi.

 

214.20 Ketika ia diperintahkan untuk memperhatikan kondisinya pada saat Hari Kebangkitan nanti, ia mampu. Pernyataannya, “Aku adalah Rabb dari anak-anak Adam, tanpa rasa bangga.” Pernyataan senada, “Aku menunjukkan Ketuhananku tanpa ada tujuan berbangga kepadamu.” Tapi ada pernyataan lawannya, “Aku berkehendak untuk memerintahkanmu, dan itu merupakan kabar gembira bagimu, sejak awal mula engkau diperintah untuk mentaati-Ku.” “Tanpa keterusterangan”, “Aku tidak menyatakan hal tersebut dengan terus-terang; Aku tidak seperti itu,” seperti berbangga terhadap kesalahan seolah-olah benar.

 

214.23 Hubungan abdi dengan Rabb dalam kondisi pengabdian bagaikan sebuah bayangan dengan orang (yang menggerak-gerakkannya) di depan sebuah lampu: semakin dekat ia bergerak menuju lampu, semakin besar bayangan; tiada kedekatan dengan Rabb melalui lebih dengan atribut kemakhlukan (akhass) mu, bukan atribut-Nya. Semakin menjauh engkau dari lampu, semakin kecil bayangan; tiada engkau bergerak jauh dari Rabb melainkan dengan kau tinggalkan atribut-atribut kemakhlukanmu demi untuk menjadi perkasa (al-‘aziiz) dan mulia (al-kariim). Engkau menghendaki Atribut-atribut yang hanya layak dikenakan-Nya.

 

Qs. 40 : 35

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ [٤٠:٣٥]

 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman (aamanu). Demikianlah Allah mengunci mati qalb orang yang sombong (mutakabbiir) dan sewenang-wenang.

Qs. 44 : 49

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ [٤٤:٤٩]

 

Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa (al-‘aziiz) lagi mulia (al-kariim).

 

Atribut Rabb yang hanya layak dimiliki oleh-Nya, yaitu: Takabbur, al-‘Aziiz dan al-Kariim.

 

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

“Aku mencari perlindungan di Dalam-Mu dari Diri-Mu Sendiri.”

 

214.26 Maqom pengabdian tidak diberikan kepadamu dengan atribut yang secara eksklusif dan semata-mata hanya milik-Nya dan tiada kau dibagi dari yang menjadi semata milik-Nya – tanpa sebenar mengetahui  kepemilikan maqom tersebut. Tetapi , Rasa (dzawq) kepemilikan itu jarang; saat ketika engkau menyadari dan berdiri teguh di dalam atribut-atribut khusus  (al-wasf al-akhass) dirimu, dan saat engkau menyerap Rabb melalui atribut-atributmu.  Dia menghadapimu (maqaabala) hanya dengan Atribut-atribut khusus-Nya, yang tak boleh engkau miliki. Namun manakala engkau datang dengan atribut-atribut-Nya yang boleh, terlebih khusus untukmu, maka Dia muncul kepada-Mu dengan atribut-atribut-Nya yang sama; sehingga kenallah engkau dengan rahasia akan Hubungan-Nya (nisbah) denganmu  melalui hubunganmu dengan-Nya. Sungguh pengetahuan menakjubkan; kau pun akan menemukan segelintir mereka yang menemukan-Nya. Ya, tergantung kepadamu, terbanyak atribut khusus mana yang melekat kepadamu. Mengetahui atributmu dan menyadari maqom ketakaburan (juga rasa ingin perkasa dan mulia), merupakan jalan yang akan membimbingmu kepada maqom kepengabdian.

 

214.31 Pada maqom pengabdian, kau tidak akan mengenal ilmu-ilmu tempat kau melaksanakan pengabdianmu, yang, di dalamnya engkau berlepas dari penggambaran tentang-Nya dan untuk memun culkan wujuud. Merupakan maqom yang teramat langka, dimana  wujuud harus hidup, muncul dalam kemungkinannya tanpa penggambaran apapun, karena tidak dapat dipisahkan (bi’l-dhaat) “kebutuhan melalui Yang Lain” (waajib bi’l ghayr). Hal itu yang menjadikan seseorang selalu waspada dan siaga pada maqom ini, merupakan bukti bahwa, di dalam lokus manifestasi (mahzar), Sang Mannifes (al-Zaahir) digambarkan oleh atribut-atribut sang abdi,  yang dengannya Sang Manifest menjadi diwarnai oleh realitas dari lokus manifestasi, apapun hal itu. Tetapi Sang Manifes tidak menjejakkan kemurniannya kepada kepengabdian, karena tiada apa-apa yang lebih rendah daripada akhirnya, dan karena menjejaki kemurniannya kepada sesuatu yang lebih rendah derajatnya. Tetapi Sang Manifes hanya menjejaki kemurnian-Nya kepada sesuatu yang tergambarkan, sejak akibat (athar) menyadari bahwa entitas dari lokus manifestasi bukanlah apa-apa dibandingkan Sang Manifes itu Sendiri.

 

“Tiada Tujuan selain Rabb. “

 

Sebab itulah, maka “pengabdian” tidak memiliki –iyy dari penggambaran. Dikatakan, “Seorang manusia antara kepengabdian dan pengabdian,” hakikatnya manifest, tapi gambarannya tidak diketahui, sehingga ia tidak tergambar, sehingga tiada “untuk menjadi-dan-menjadi”, Jadi, ia adalah seorang abdi/ bukan abdi (‘abd laa ‘adb).

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sumber:

The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.

on Sunday, 27 February 2011 at 12:10

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Futuuhaat al-Makkiyah Jilid I

Bab 351 Rela Mati (Mawt Iraadii)

Kerelaan (suka rela) seorang hamba kembali kepada Tuhannya, merupakan suatu hal yang sangat disyukuri.

Allah berfirman dalam Qs. 11 : 123

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ [١١:١٢٣]

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit (as-Samaawaat) dan di bumi (al-Ardh) dan kepada-Nya-lah dikembalikan (yurja’) al-Amr semuanya, maka mengabdilah kepada Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Berdasarkan ayat di atas, ketika kau datang pada-Nya dengan suka rela, maka kau tak akan datang dengan cara dipaksa. Tiada tempat bersembunyi dari-Nya, dank au pasti akan bertemu dengan-Nya, baik dengan cara suka rela ataupun dengan (terpaksa) melawan kehendakmu. Dia bertemu denganmu dalam (bentuk) atribut-atribut, tiada cara selain dengan cara itu – jadi, silakan periksa dirimu, sahabatku!

Rasulullah Muhammad saw. bersabda,

“Barangsiapa yang menyukai bertemu Rabb, maka Rabb pun menyukai bertemu dengannya; dan barangsiapa enggan bertemu  Rabb, maka Rabb pun enggan bertemu dengannya…”

Kita bisa bertemu Rabb hanya melalui kematian, dan dikarenakan kematian memiliki makna bathin , maka kita harus bersegera membawa makna tersebut dalam kehidupan kita saat ini di dunia: dalam setiap apa-apa yang menjadi fokus, kegiatan, dan keinginan-keinginan kita, sehingga ketika kematian mendatangi kita – sepanjang kehidupan, kita menghabiskan hidup dengan mengagungkan dan memuji-Nya  – kita bertemu Rabb dan Dia bertemu kita. Dan barangsiapa yang senang bertemu dengan-Nya, maka Dia juga senang bertemu kita.

Lalu ketika datang apa yang selama ini kita ketahui tentang kematian fisik:

(lihat) Qs. 50 : 22

….فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ [٥٠:٢٢]

“………… maka Kami singkapkan daripadamu tutup matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam,”

ahwal kita tidak akan berubah dan tidak ada yang lebih besar kepastiannya daripada yang selama ini pernah kita alami selain dalam pengalaman kematian. Yang kita rasakan sekarang bukanlah mati, tapi kematian pertama, yang, kita telah mati dalam kehidupan kita selama ini di dunia, karena:

(Lihat) Qs. 44 : 56 – 57

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا الْمَوْتَ إِلَّا الْمَوْتَةَ الْأُولَىٰ ۖ وَوَقَاهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ [٤٤:٥٦]

mereka tidak akan merasakan mati (al-mawt) di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka (56),

َضْلًا مِنْ رَبِّكَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٤٤:٥٧

sebagai karunia dari Tuhanmu. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar (al-fauzul ‘adzhiim) (57).

Untuk orang seperti itu, kehidupan di dunia (dengan mati sebelum mati fisik) sama saja dengan kamtian fisik. Digambarkan oleh Sayyidina Ali ra. berikut,

“Bahkan jika singkap diangkat pun, tidak akan menambah sedikitpun keyakinanku.”

Manusia yang datang kepada Rabb dalam keadaan ayat di atas, sungguh telah diberkati. Dia bahkan tidak memaknai bahwa kematian itu adalah suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindarkan, dan suatu keterpaksaan, karena kematian, bermakna datang, kembali kepada Tuhan; dengan kematian, ia telah berada di sana dengan Rabb. Baginya, kematian juga bermakna kembali terjaganya jiwanya bersama Rabb, dan menjaga jiwanya dari kekuasaan raga. Sama halnya dengan kondisi ketika raga kembali kepada asal mulanya, debu (asal mula ciptaan adalah debu (al-haba): fut. Al-Makkiyyah I.1).

Qs. 3 : 59

إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [٣:٥٩]

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Kun, faya kun.

Jiwa kembali ke rumahnya setelah melakukan perjalanan yang jauh; lalu Raja membawanya bersama-Nya ke sebuat tempat/ posisi yang kokoh.

Qs. 54 : 55

فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ [٥٤:٥٥]

di tempat yang kokoh (صِدْقٍ = kokoh, kuat, tetap – > tafsir Ibn ‘Arabi) di sisi Maliik Yang Berkuasa.

Qs. 23 : 100

إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ [٢٣:١٠٠]

“…. sampal hari mereka dibangkitkan.

Dan kondisinya ketika ia dibangkitkan akan seperti itu: tidak akan berubah sejauh mana ia membawa Rabb dalam kehidupannya atau tergantung pemberian Rabb pada saat-saat tertentu.

Kondisinya juga akan tetap seperti itu hingga saat al-hasr al-‘aamm (Hari Kebangkitan), di tempat  kediamannya di Surga nanti, dan dalam realitas (nash’a) tempatnya tinggal. Di sana ia melihat sebuah realitas tanpa bentuk, sebuah realitas sebagai manifestasi dari realitas apa yang dihadirkan dalam bathin dan khoyaal (form, ide: Plato, alastu???) nya sewaktu di dunia. Mengendalikan dimensi bathin, merupakan jalannya untuk mengendalikan dimensi lahirnya nanti di kehidupan setelah mati. Terbaik adalah menikmati semua yang ia miliki (baik – buruk) dalam setiap saat. Tiada apapun yang sebenar menjadi miliknya, baik istrinya atau apapun itu, adalah hal terpisah darinya, begitupun ia terpisah dari mereka; gampangnya, ia hanya sedang berada di antara mereka melalui keinginan kemakhlukannya, dan mereka bersamanya juga sedang berada bersamanya melalui keinginan kemakhlukan mereka.

Dunia lain (kematian) merupakan sebuah tempat persinggahan yang harus kita sikapi dengan bersegera untuk bertaubat, tanpa ada penundaan dengan melewatkan kekhawatiran yang ada dalam dimensi bathin dunia sekarang ini. Selain itu, perkembangan bathin seseorang selama di dunia akan dilanjutkan ke dunia lain setelah mati, sehingga dimensi bathinnya secara terus-menerus membentuk dirinya di alam lain – seperti dimensi lahirnya – sementara bentuk-bentuk dimensi lahirnya akan mengalami transformasi yang cepat seperti dimensi bathinnya di alam lain.

Qs. 26 : 227

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا ۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ [٢٦:٢٢٧]

kecuali orang-orang  yang beriman (aamanuu) dan beramal saleh (‘amilu ash-shoolihaat) dan banyak mendzikiri Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika kita mengalami transformasi di dunia, tidak ada sesuatu yang akan bertambah saat kematian nanti selain transformasi itu sendiri. Jadi pahamilah…

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sumber:

Bab 351. The Voluntary Death, The Meccan Revelations – Ibn ‘Arabi, Volume I. Terjemahan Arab ke Inggris oleh William C. Chittick dan James W. Morris, dietitorin oleh Michel Chodkiewicz.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

(Hadits Qudsi) Tiga Kelompok Pertama yang Akan Masuk Api Neraka – collected by Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi


Hr. ath-Thirmidzi.

Rasulullaah Muhammad saw. bersabda,

Ketika Hari Perhitungan tiba, Allah Ta’ala turun kepada manusia untuk mengevaluasi mereka. Setiap anggota kelompok spiritual akan berlutut dalam ketakberdayaan. Manusia pertama yang dipanggil adalah mereka yang mengajarkan al-quran. Manusia kedua adalah mereka yang mati di jalan Allah, sedangkan ketiga adalah mereka yang melimpah ruah hartanya. Allah pun mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada yang tiga pertama.

Kelompok Pertama

“Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu hikmah-hikmah dan pengetahuan yang berasal dari qalb para utusan-Ku?”

“Ya, Tuhanku.”

“Adakah perilaku lahir batinmu sesuai dengan hikmah dan pengetahuan yang telah engkau ketahui itu?”

“Aku melaksanakannya selalu, Tuhan.”

“Kau berdusta kepada-Ku, dan para malaikat pun akan melaporkan, ‘Kau berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau suka dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Orang ini pengajar al-quran’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.“

Kelompok Kedua

“Bagaimana engkau mati di jalan-Ku? Dengan cara seperti bagaimana?”

“Wahai, Tuhan, Engkau perintahkan aku untuk berperang dan aku mati karena mengikuti perintah-Mu.”

“Kau berdusta, dan para malaikat pun akan melaporkan, ‘Kau telah berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau suka dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Orang ini begitu luar biasa keberaniannya’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.”

Kelompok Ketiga

“Apakah telah Aku berikan kepadamu harta yang sangat banyak sehingga tiada pernah engkau meminta-minta kepada orang lain?”

“Benar, Tuhanku.”

“Lalu, apa yang telah kau lakukan dengan pemberian-Ku itu?”

“Aku menguatkan ikatan/ hubungan kekeluargaan (silaturahiim menurut umum) dan berinfaq.”

“Kau berdusta, dan para malaikat akan melaporkan, ‘Kau telah berdusta’.”

Allah melanjutkan, “Kau senang dengan kata-kata semua orang tentangmu, ‘Betapa dermawannya orang ini’. Dan ketahuilah, hadiah bagimu dicukupkan dengan hal demikian.”

Rasulullaah Muhammad saw. memukul lututku dan berkata kepadaku, “wahai, Abu Hurayrah, ketiga kelompok ini adalah mereka pertama yang akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

sumber: 101 Diamonds from the Oral Tradition of the Glorious Messenger Muhammad, collected by Muhyiiddiin Ibn ‘Arabi. Translated to english by Lex Hixon and Fariha al-Jerrahi.